"Kamu harus menikah dengannya Daren!" lantang suara nenek Lusi berkata pada cucunya itu.
"Aku tidak mau nek, Aku punya pilihan sendiri dan nenek tidak bisa semaunya mengatur hidupku!" suara Daren pun tak kalah lantangnya dari suara nenek Lusi.
"Baiklah kalau kamu tetap menolak menikah dengan Nadia. Sekarang nenek kasih kamu pilihan, Menikah dengan Nadia atau kamu tidak akan pernah mendapatkan warisan apapun dari nenek," suara nenek Lusi merendah tapi penuh penekanan membuat kuping Daren memerah mendengarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isshabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.5 Undangan pameran kuliner
Setelah selesai mendapatkan tanda tangan proposal kerjasama pihak Sanjaya milik Elsa dengan pihak Wijaya milik Daren, Elsa mulai menyusun sebuah rencana licik untuk merayakan kemenangannya ini di acara pameran kuliner miliknya nanti yang akan di hadiri oleh kalangan elit bisnis.
Elsa meraba ponselnya, lalu mengetik sebuah pesan singkat untuk orang suruhannya.
"Siapkan semuanya untuk pameran kuliner minggu depan. Gadis kampung bernama Nadia itu akan datang. Pastikan malam itu menjadi malam paling memalukan dan tak terlupakan dalam hidupnya."
Elsa tertawa pelan, tawanya menggema dingin di dalam lift yang bergerak turun. Dia sudah tidak sabar melihat keanggunan Nadia hancur berantakan di depan semua kolega bisnis kelas atas keluarga.
Dan dia juga ingin melihat bagaimana reaksi Nenek Lusi nanti saat melihat apa yang terjadi pada perempuan pilihannya itu. Elsa kembali tersenyum menyeringai membayangkan hal buruk yang akan terjadi pada Nadia nanti.
"Aku harus pergi sendiri menemui Nadia untuk mengantarkan undangan pameran kuliner ini pada perempuan kampung itu," ucap Elsa yang kemudian keluar dari ruang lift itu dan berjalan keluar dari gedung kantor Daren menuju ke halaman gedung di mana tadi dia memarkir mobilnya di sana.
Elsa masuk ke dalam mobilnya dan dengan segera dia melajukan mobilnya keluar dari halaman gedung kantor itu. Elsa menyetir mobilnya menuju ke kediaman Nenek Lusi untuk menemui Nadia.
Selama ini Nenek Lusi memang menyuruh Nadia untuk tinggal di rumahnya karena sebentar lagi Nadia juga akan menjadi tunangan Daren.
Dan Nadia pun menyetujui permintaan Nenek Lusi itu tapi dengan syarat dia akan bekerja di rumah mewah milik Nenek Lusi, Nadia bekerja sebagai tukang bersih-bersih di rumah Nenek Lusi.
Awalnya Nenek Lusi tidak mengijinkan Nadia menjadi pelayan di rumahnya tapi karena Nadia bersikeras akhirnya Nenek Lusi pun mengijinkannya.
Di halaman rumah kediaman Nenek Lusi terlihat sebuah mobil mewah berwarna silver itu masuk ke halaman dan tak lama kemudian Elsa pun keluar dari dalam mobilnya itu, lalu dia berjalan menyusuri jalan setapak yang menuju ke pintu utama rumah Nenek Lusi yang di samping kanan kirinya terdapat taman bunga beraneka warna.
Elsa terus saja berjalan menuju ke pintu rumah utama Nenek Lusi. Dan saat tiba di depan pintu kayu jati yang berukuran sangat besar itu tiba-tiba Elsa menghentikan langkahnya dan berdiri mematung sesaat.
"Non Elsa," panggil pelayan di kediaman Nenek Lusi yang melihat Elsa sedang berdiri di depan pintu itu.
Elsa menoleh pada pelayan yang memanggil namanya tadi " di dalam ada siapa?"tanya Elsa pada pelayan itu.
Tidak ada siapa-siapa non, hanya nenek dan non Nadia tadi.
"Silahkan non Elsa," ucap pelayan tadi pada Elsa sambil membukakan pintu besar itu.
Kemudian Elsa masuk ke dalam rumah yang sangat besar itu dan berjalan ke dalam. Elsa berjalan melewati ruang tamu yang sangat luas sekali itu.
Sekilas Elsa melihat Nadia yang sedang membersihkan lantai.
"Oh ya, Nenek Lusi kemana bik?" tanya Elsa sebelum dia pergi menemui Nadia.
"Sepertinya tadi sedang tiduran di dalam kamarnya," jawab bibik.
"Hmm," Elsa menganggukkan kepalanya sambil menebarkan pandangannya ke seluruh area ruang tamu itu dan sekilas dia melihat Nadia yang sedang melintas sambil membawa sapu.
Elsa berjalan bergegas mengikuti Nadia yang ada di depannya itu, Elsa menghentikan langkahnya saat melihat Nadia berhenti dan mulai menyapu salah satu sudut ruang tengah yang terlihat berdebu.
"Hmm, sepertinya dia memang cocok di jadikan sebagai pembantu," gumam Elsa dengan senyum mencibir.
Elsa melangkah mendekat ke arah Nadia yang sedang menyapu lantai " Hai Nadia," sapa Elsa pada Nadia saat sudah berada di depan Nadia.
Nadia menghentikan menyapu lantai dan mengangkat kepalanya menatap wanita yang sedang berdiri di hadapannya itu.
"Kenalkan aku Elsa pacar Daren," Elsa tersenyum mengulurkan tangannya sambil mengangkat dagunya sedikit menatap Nadia.
"Oh, iya," jawab Nadia sedikit ragu karena dia tahu harusnya yang bertunangan dengan Daren itu Elsa bukan malah dirinya, Tapi kenapa Elsa tidak menunjukkan rasa marahnya pada Nadia dan malah Elsa bersikap manis padanya.
"Jangan sungkan begitu Nadia, aku tidak akan apa-apain kamu kok, aku tahu Nenek Lusi lebih memilih kamu untuk menjadi tunangan Daren daripada aku," Elsa tersenyum manis menyembunyikan rasa kebenciannya yang terselubung pada Nadia.
"Aku minta maaf tapi ini bukan kemauan aku untuk menerima perjodohan ini, Aku sudah berkali-kali menolaknya tapi Nenek Lusi tetap memaksa aku untuk bertunangan dengan Daren."
"Ya....aku juga sudah tahu soal itu," ucap Elsa dengan sikap setenang mungkin padahal di dalam hatinya ingin rasanya dia menjambak rambut Nadia karena kesal.
"Kamu tidak marah?" tanya Nadia serius.
"Marah. Harusnya aku memang marah ke kamu karena gara-gara kamu semua harapan aku hancur tapi....tak apa karena ini kan hanya sekedar formalitas saja tidak untuk selamanya," gumam Elsa dalam hatinya sambil menyunggingkan senyum liciknya.
"Oh ya, aku kesini untuk mengantarkan undangan jamuan makan malam di acara pameran kuliner milik aku," Elsa menyodorkan sebuah kertas undangan berwarna biru metalik pada Nadia.
Dengan ragu Nadia menerima kertas undangan itu.
"Jangan lupa kamu harus datang," ucap Elsa yang kembali menyunggingkan senyum liciknya itu.
Nadia tidak menjawab dia hanya memandang Elsa yang berlalu dari hadapannya. Nadia mengamati kertas undangan yang ada di tangannya itu, perlahan dia mulai membuka kertas undangan itu dan mulai membacanya.
Di dalam kertas undangan itu tertera kalau acara pameran kuliner akan di mulai pada jam tujuh malam dengan menggunakan dress code casual untuk semua para tamu undangan.
"Undangan apa itu Nadia?" tanya Nenek Lusi yang tiba-tiba saja sudah berdiri di hadapan Nadia.
"Emm, undangan pameran kuliner dari Elsa Nek," ucap Nadia pada Nenek Lusi.
Nenek Lusi mengerutkan keningnya menatap Nadia" Elsa sendiri yang mengantarkannya ke kamu?" tanya Nenek Lusi.
"Iya Nek tadi Elsa datang ke sini menemui aku dan memberikan surat undangan ini sendiri padaku tadi."
"Dia berkata apa saja ke kamu Nadia?"Nenek bertanya lagi pada Nadia.
"Tidak Nek, dia tidak berkata apa-apa malah dia bersikap baik sama aku meskipun aku mau Nenek jodohkan dengan tuan Daren pacarnya dia," Nadia menunduk seolah dia merasa sangat bersalah atas situasi ini.
"Hmm," Nenek Lusi mengangguk-anggukkan kepalanya pelan, Dia tahu wanita seperti apa Elsa itu dan Nadia masih terlalu polos untuk memahami sikap yang di tunjukan oleh Elsa padanya.
"Nek, lebih baik saya tidak usah datang ke acara pameran kuliner itu, Saya tidak pantas untuk datang ke acara seperti itu," ucap Nadia sambil menundukkan kepalanya ke lantai.
"Tidak Nadia, kamu harus datang," ucap Nenek Lusi tegas.
"Tapi Nek...,"
"Kamu tidak usah takut dan sungkan,kamu datang saja ke acara itu ya," Nenek mengusap pundak Nadia lembut.
"Baik Nek," ucap Nadia tanpa membantah lagi karena dia juga harus sadar diri kalau Nenek Lusi sudah menolongnya dari kehidupannya yang sangat sulit.
ayo berfikir Darren istri mu sayang banget sama nenekmu harusnya kamu lebih pintar mengunakan nenekmu untuk mendekati istri mu
jadi bar" dikit nad jangn lembek yg bisanya cuma mewek doang