NovelToon NovelToon
Jurig Jarian

Jurig Jarian

Status: sedang berlangsung
Genre:Roh Supernatural / Horor
Popularitas:339
Nilai: 5
Nama Author: Pena Lullaby

Di sebuah kampung tua di pinggiran Jawa Barat, muncul teror mengerikan dari sosok makhluk yang dipercaya sebagai Jurig Jarian — hantu penghuni tempat sampah yang lahir dari kebencian, keserakahan, dan sampah manusia yang menumpuk selama puluhan tahun. Siapa pun yang membuang sesuatu sembarangan pada malam tertentu akan mendengar suara garukan dari tong sampah… sebelum akhirnya menghilang tanpa jejak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Lullaby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ketakutan Yang Mulai Menghantui

Braakk!

Bagas membanting pintu depan rumah dan langsung menguncinya dari dalam dengan tangan yang gemetar hebat. Napas ketiganya memburu, memutus keheningan rumah kolonial yang kini terasa seperti satu-satunya benteng pertahanan mereka. Adrian bersandar pada tembok tegel, mencoba mengatur napasnya yang putus-putus, sementara Dinda langsung terduduk lemas di lantai ruang tamu, masih memeluk kamera DSLR-nya dengan wajah pucat pasi.

"Gila... gila! Itu tadi apa, Yan?! kamu liat sendiri kan?! Jam tanganku, jam tangan analog biasa, kok bisa jarumnya muter kayak kipas angin? Gak masuk akal, Yan! Gak masuk akal!" Bagas berjalan mondar-mandir, memegangi kepalanya yang pusing.

"Dan yang berdiri di rumpun bambu itu. Demi Allah, di mata lensa ku, sosoknya tinggi banget, item, hitam legam kayak tanah tapi mukanya gak jelas. Kameraku langsung mati total pas aku berusaha zoom.". Dinda suaranya bergetar, air matanya mulai menetes karena syok.

"Tenang dulu, semuanya tenang. Jangan panik.". Adrian tertegun lama, menatap papan jalannya yang kosong tanpa data survei.

"Gimana bisa tenang, Adrian?! Kamu yang paling keras kepala dari tadi! Ini cuma masalah manajemen limbah, Gas. Ini cuma bakteri anaerob, Gas. Bakteri anaerob mana yang bisa bikin tanah ngeluarin darah murni dan narik meteran besi sampai melengkung?!" Bagas mulai tersulut emosi karena ketakutan.

Adrian tidak langsung menjawab. Untuk pertama kalinya, ego ilmiah mahasiswa teknik lingkungan itu runtuh. Dia berjalan ke meja, menuangkan air putih ke dalam gelas dengan tangan yang ikut bergetar, lalu memberikannya kepada Dinda.

"Aku gak tahu, Gas... Aku bener-bener gak tahu. Secara teori, cairan merah itu bisa aja merupakan pelindian (air lindi) yang tercampur dengan zat besi tingkat tinggi dan senyawa tanin dari akar bambu yang membusuk. Makanya warnanya mirip darah dan baunya amis menyengat.". Adrian duduk di kursi kayu, suaranya melembut namun terdengar berat.

"Nggak, Yan. Jangan sangkal lagi. Bau itu bukan bau kimia atau pembusukan tumbuhan. Itu bau amis daging segar yang sengaja dibusukkan. Sama persis dengan penjelasan penyakit si Maman yang diceritain warga. Dan jam tangan rantai yang tenggelam tadi? Lu liat sendiri kan, benda itu kayak sengaja ditarik masuk ke dalam tanah?". Dinda menggelengkan kepala dengan cepat, menolak penjelasan Adrian.

"Iya, Yan. Syarat kedua Pak RT. Jangan disentuh, jangan difoto, biarkan tanah menyimpan apa yang seharusnya dimilikinya. Pak RT udah tahu! Warga desa ini udah tahu kalau di bawah tanah Jarian itu ada sesuatu yang hidup dan mengonsumsi barang-barang itu!". Bagas mendekat ke meja, menurunkan kacamata dan mengusap wajahnya yang basah oleh keringat dingin.

"Sebentar... gue mau cek sesuatu. Tadi sebelum layarnya eror, gue sempat ambil satu foto struktur tanahnya." Dinda membuka memory card dari kameranya dengan tangan gemetar, mencoba memasukkannya ke laptop yang ada di meja.

Adrian dan Bagas langsung berkerumun di belakang laptop Dinda. Layar menyala, menampilkan file foto terakhir yang diambil di Jarian. Namun, apa yang mereka lihat justru membuat bulu kuduk mereka kembali berdiri.

Di layar laptop, foto tanah hitam yang digali Adrian tidak menampilkan gambar lubang tanah. Gambar itu tertutup oleh perubahan garis-garis vertikal berwarna abu-abu, dan tepat di bagian tengah di posisi galian 10 centimeter tadi tampak samar-samar bentuk siluet telapak tangan manusia yang sangat besar, dengan jari-jari panjang yang seolah-olah sedang mencengkeram dasar lubang dari arah dalam bumi.

"Astagfirullah... itu... itu tangan apa, Yan?" Bagas mundur dua langkah, wajahnya ketakutan setengah mati.

"Ini... mungkin cuma corrupted file akibat gangguan gelombang elektromagnetik di lokasi." Adrian memandangi layar laptop tanpa berkedip, tenggorokannya terasa kering.

"Yan, stop nyari alasan logis. Kita harus jujur sama diri kita sendiri sekarang. Tempat itu. Jarian. Bukan cuma tempat sampah yang kotor. Tempat itu adalah entitas. Sesuatu yang terlahir dari cara hidup manusia yang abai, seperti kata Aki Sukra yang kamu ceritain kemarin. Kita sudah ngusik ketenangannya.". Dinda menatap Adrian dengan pandangan tajam bercampur cemas.

"Sekarang gimana? Program kerja Smart Trash kita gak bakal jalan kalau lokasinya kayak begitu. Dan yang lebih horor setelah kita lari tadi, apa sesuatu di sana bakal ngikutin kita sampai ke rumah ini?" Bagas melihat ke luar jendela, matahari di luar mulai tertutup awan mendung secara mendadak

"Malam ini... kita gak boleh mencar. Kita bersihin diri, dan pas waktu sholat nanti, kita jangan biarkan rumah ini hening. Kita harus minta maaf sama apa pun yang ada di desa ini lewat Pak RT. Sore ini, kita harus balik ke rumah Pak RT dan ceritain semuanya tanpa ada yang ditutup-tutupi." Adrian perlahan menutup laptop Dinda, lalu menarik napas dalam-dalam.

Tepat setelah Adrian menyelesaikan kalimatnya, lampu bohlam berdaya tinggi di ruang tamu tiba-tiba berkedip dua kali, meredup sejenak, sebelum akhirnya kembali menyala terang—menyisakan rasa cemas yang semakin mencekik di hati mereka bertiga.

1
Heriyansah
Terimkasih kak
Khodijah
bagus ceritanya semangat ya' Thor 👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!