kiano nama nya, orang-orang seakan melihat seorang pangeran kejam dan dingin pada dirinya dan sifat nya tidak jauh melenceng dari tanggapan mereka.
ia hidup dengan banyaknya penghianat sisinya, membuat kepribadiannya berubah, apalagi masa lalu kelam yang ia rasakan.
semua yang ia lakukan selalu salah Dimata orang lain, orang bilang dendam yang kau simpan itu tidak ada gunanya, Dengan balas dendam apa akan membuat kau lega?, pertanyaan dari orang yang tidak pernah berada di sisi korban.
mereka hanya bisa berkata luka orang lain tidak ada apa-apanya dengan luka mereka, seakan mereka tau yang ia rasakan.
#bromance
#kejam
#dendam
#benci
#family
#luka
#penghianat
#no romance
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moonsun_09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
HAPPY READING 🫶
______
Entah sadar atau tidak tak jauh dari tempat mereka ada beberapa orang yang sedang mengawasi pergerakan salah satu dari mereka dan melaporkan nya melalui earphone ditelinga nya
"Tuan anak itu bersama seorang remaja,apa kita tetap akan melanjutkan tugas ini?"tanya pria itu pada seseorang diseberang telpon sana.
"Lakukan"
"Tapi bagaimana dengan temannya itu tuan?"
"Saya tidak peduli,bawa dia kalau temannya mengganggu bunuh saja"
"Baik laksanakan"lalu pria itu mengakhiri panggilan tersebut dan memerintahkan anak buahnya untuk bersiap.
"Bawa tuan tuan kecil Alvin,jika dia memberontak kalian boleh bermain kasar "perintahnya.
"Baik"ucap tiga anak buahnya serentak.
Sementara disisi kiano dan Alvin, mereka Masi tetap diam, kiano yang memang biasa diam dan Alvin yang Masi rada takut.
Tiba tiba datang empat orang bertopeng mengadang mereka dengan senjata berupa pisau lipat dan pistol.
"Kami tidak akan menggunakan kekerasan jika tuan kecil Alvin ikut bersama kami tanpa perlawanan"ucap salah satu dari mereka dengan datar.
Alvin yang mendengar berfikir apakah mereka orang suruhan dari keluarga algadra untuk menjemputnya, tapi dari mana mereka mengetahui ia ada disini.
"Gak mau gue,bilang aja sama si tua peot itu gue gak mau pulang"balas Alvin kepada orang yang ia kira suruhan keluarganya.
"Kalau begitu kami harus sedikit melukai anda tuan kecil"balas orang itu lalu berjalan mendekat kearah Alvin.
Kiano yang melihat itu Masi santai dengan wajah datarnya seakan tak peduli dengan masalah didepannya ini.
Orang bertopeng itu menarik lengan Alvin kasar karena ia yang terus memberontak.
"Heh anjing lepasin gue"teriak Alvin Masi dengan aksi memberontak.
"woi jancok Jan kasar Napa perih nih Tanga gue!"marahnya kembali memukul orang bertopeng itu namun percuma saja bukan nya lepas salah satu dari mereka dengan mudah menggendongnya.
Kiano yang melihat itu tiba-tiba melemparkan pisau kecil dan menggores Legan orang yang menggendong Alvin.
Tanpa aba-aba kiano meleset cepat kebelakang pemuda bertopeng itu lalu menusuk lehernya membuat darah muncrat kemana mana dan mengenai wajah tampan kiano.
Alvin yang terbebas dari orang bertopeng itu lalu menjauh kan diri,ia melihat kiano dengan rasa takut yang membuncah, mungkin lain kali ia akan berfikir dua kali untuk membuat nya marah.
Aura membunuh kiano sudah keluar Aura gelap yang mampu membuat banyak orang tercekat.
Matanya berkabut nafsu,ia sudah lama menanti mandi darah ini, kekejaman nya waktu itu belum membuat nya puas.
Tatapan nya yang setajam elang bisa membuat seorang pembunuh terkuat pun akan tunduk dan berada dibawah kendalinya tanpa ada kata membantah.
Mungkin hanya orang gila yang berani berkhianat padanya,dan itupun mereka harus siap menghadapi siksaan kejam yang tak manusiawi.
Sisi lain seorang kiano erza deovantara,sisi yang tak pernah ditunjukkan nya kepada orang lain dan yang mengetahui sifat lainnya ini hanya seseorang yang ada dimasa lalunya.
Ia benci jika ada orang lain yang menyentuh orang orang yang berada dibawah naungan nya dan Alvin salah satunya dan ia benci melihat luka ataupun hanya sekedar kemerahan di lengan Alvin tadi,dan Alvin perlahan masuk dalam kehidupan gelapnya Tanpa disadari nya
Ia menjilati darah yang berada di belati hitam nya dengan sensual, terlihat matanya sedikit berbinar bahagia tapi itu hanya terjadi beberapa saat sebelum tatapannya kembali datar dan semakin dingin dari sebelumnya.
Tiga orang bertopeng yang tersisa menyerang kiano bersamaan dengan senjata mereka.
Tapi kemampuan segitu belum cukup untuk melukainya,dan hal itu membuat nya sedikit kecewa ia fikir ini akan lebih menyenangkan dari pada orang waktu itu.
Kiano menghindari serangannya mereka dengan lihai lalu menendang dan mematahkan kaki dan tangan mereka.
Kreeek.....
"Aghhh..."
Bugh.....
Bugh.....
Suar pukulan tendangan tusukan bahkan Bunyi leher yang dipatahkan dengan santainya oleh kiano membuat satu orang yang tersisa merasa takut.
Berurusan dengan remaja ini lebih mengerikan dari pada dipasung oleh bos nya,apalagi melihat salah satu kepala rekannya yang sudah terpisah dari tubuhnya dan ada juga tangan dan kaki yang sudah putus dan remaja itu Masi asik memotong dan mencongkel mata rekannya yang sudah pindah alam itu,ini sungguh mengerikan untuk ditonton secara live.
Kiano berjalan mendekat kearah satu orang yang tertinggal itu dengan baju yang sudah dipenuhi darah dengan belati hitam dan pistol yang direbut dari pria bertopeng yang sudah mati itu.
Si pria bertopeng yang Masi selamat merasakan hawa yang sangat besar yang mampu membuatnya tercekik tanpa kontak fisik.apa ia akan mati tanpa disentuh remaja itu,hawanya saja dapat membunuhnya apalagi dirinya entah apa yang dirasakan oleh rekannya ketika diambang Kematian.
"Kau akan segera menyusul mereka jangan khawatir"ucap Kino lalu melayangkan satu peluru dan mengenai pria itu di perut.
Dor...
Dor...
Pria itu mati ditempat ketika peluru kedua meleset mengenai jantungnya,lalu ia pergi kearah mayat itu dan membersihkan belatinya dengan baju orang bertopeng yang sudah pergi ke Isekai itu.
Kiano mendekat kearah Alvin yang sedang menangis dan terduduk ditanah terlihat ketakutan dimatanya,dan itu sangat menghibur bagi kiano yang menyukai wajah ketakutan orang lain.
Kiano berjongkok didepan Alvin dan menggores lurus pipi mulus itu sepanjang telunjuknya,Alvin yang merasakan perih di pipinya semakin ketakutan dan mencoba memundurkan tubuhnya dari kiano.
Kiano menjilati darah Alvin yang berada di belati hitam kesayangannya dengan nafsu membunuh yang masih terlihat dimatanya,lalu menggendong Alvin ala koala lalu pergi meninggalkan tempat penuh darah itu.
Sayonara di bab berikutnya 👋👋