Balas dendam adalah hidangan paling nikmat, tapi juga yang paling memabukkan.
Lima tahun lalu, Zara dijual, dihina, dan diinjak harga dirinya oleh kerabat sendiri. Diselamatkan sekaligus ditempa oleh Garda, ia berubah menjadi Zevana Ardhani—wanita cerdas, berkuasa, dingin, dan mematikan yang hidupnya hanya punya satu tujuan: Balas Dendam.
Namun segalanya goyah saat Arka hadir. Pemuda tulus dan polos—anak musuh terbesarnya—mencintainya tanpa syarat, perlahan mencairkan hati beku yang ia bangun bertahun-tahun.
Di tengah pusaran kebencian yang memberi kepuasan sesaat layaknya efek dopamin… Zevana dihadapkan pada pilihan terberat yaitu antara terus memburu kehancuran, atau berani berhenti demi cinta yang menawarkan kesembuhan sejati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Key Kastara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Strategi
Melewati lorong, menuruni tangga, merekapun tiba di garasi. Dari belakang, Bani mengikuti mereka dengan langkah cepat.
"Maaf Pak, untuk bimbingan sebaiknya hany dilakukan di ruangan saja," ucap Bani sembari menatap Zara dengan tatapan menuntut.
"Bos sudah memberi saya wewenang untuk memberikan materi dalam segala bentuk, dengan berbagai cara." Rendra membuka pintu mobil seolah tak peduli dengan ucapan Bani.
Grep!
Bani mencekal tangan Rendra lalu menatapnya tajam.
"Perintah Bos adalah mutlak. Saya harap anda mengikuti aturan," tekan Bani.
Gret!
Cekalan tangan Bani begitu kuat hingga Rendra sedikit meringis.
"Itulah alasan kenapa Bos cuma ngasih tugas kamu di sampingnya. Karena kamu hanya kacung yang hanya melakukan jika disuruh. Kamu bocah yang gak bisa diandalkan dan gak punya inisiatif!" desis Rendra tepat di depan wajah Bani.
"Ha? Bicara apa orang tua yang gak bisa dipercaya ini?" kekeh Bani tanpa melepaskan cekalannya.
"Apa kamu gak penasaran soal gosip betina mainan Bos? Kira-kira, mampu tidak ya, serigala betina menggantikan posisi anjing gila kepercayaan Bos Garda?" tanya Rendra sarkas dengan khas senyum miringnya.
Perlahan cekalan Bani pun melonggar, ia melepaskan Rendra lalu melirik Zara yang berada cukup jauh di belakang Rendra.
Tanpa mengatakan sepatah kata pun, Bani mengangguk ke arah Zara dan membiarkan mereka pergi.
Klap!
Pintu mobil ditutup, Zara pun menghela nafas pasrah. Seolah ingin di tahan oleh Bani, Zara diam-diam meliriknya dari balik kaca mobil yang baru saja ditutup dari luar oleh pria itu. Namun mobil langsung melaju begitu dinyalakan oleh Rendra, seolah ia tak mau menbuang waktu lagi.
***
Tok! Tak!
Tok! Tak!
Suara sepatu pentofel memenuhi koridor ruang. Kaki jenjangnya yang terbalut celana kulot hitam berjalan dengan ritme teratur, dan langkah yang anggun. Sedangkan tubuh rampingnya terbalut crop top dan blazer combo.
"Selamat pagi Bu CEO," ucap dua orang petugas kebersihan sembari mengangguk ke arah perempuan yang sedang berjalan itu.
"Selamat pagi Pak Burhan, Pak Arya, sudah makan?" tanyanya dengan senyuman kecil tersungging di bibir tipisnya.
"Su-sudah Bu, terimakasih kantin gratisnya," ujar dua pria itu dengan senyum semringah.
"Sama-sama, semoga bermanfaat ya," jawabnya sembari melengos pergi setelah mengangguk dengan senyuman.
"Wih! Dia kenal saya Pak! Lihat kan? Barusan dia sebut nama saya!" teriak Burhan kegirangan.
"Gila ya! Sudah cantik, baik hati, ramah, tidak sombong pula! Bener kata orang-orang, dia hafal semua nama karyawan dan pekerja di kantornya!" teriak Arya tak kalah histeris.
"Tapi kayaknya usianya masih muda banget loh Pak, rasanya canggung saya kalo harus panggil Ibu. Tapi mau panggil Nona juga kayak gak sopan soalnya dia CEO," ujar Burhan sembari memeluk sapu ijuk di tangannya.
"Wah, kamu gak tahu istilah pewaris ya? Zaman sekarang itu banyaknya anak-anak muda yang sukses itu dapat warisan perusahaan orang tuanya Han," terang Arya sembari mengangkat-angkat tangannya.
"Lah? Bapak emang gak tahu gosipnya? Bu Zevana itu yatim piatu yang merintis bisnisnya sendiri dari nol," jelas Burhan.
"Oh ... hebat ya! Emang kecantikan itu berkah ya, orang cantik bisa jadi apa aja," ucap Arya.
"Lah si Bapak, gak semua orang cantik bisa sukses kali pak. Butuh usaha dan ada proses yang panjang," bela Burhan sembari menarik gagang sapu lidinya memposisikannya memanjang.
Desas desus bisikan kekaguman, keirihatian, hingga segala macam prasangka selalu mengikuti langkah perempuan itu. Auranya yang menyala bahkan saat dirinya hanya berdiam diri, hingga karismanya yang menekan saat orang-orang memandangnya, membuat siapapun yang bertemu tatap dengannya seketika terpesona begitu saja.
Dialah Zevana Ardhani. CEO perempuan termuda yang usianya bahkan belum genap 22 tahun. Wanita karir tersukses di tahun 2026, yang wajahnya mengisi hampir semua majalah dan surat kabar setiap bulannya. Kecantikannya yang memukau, tatapannya yang tajam, serta kecerdasannya dalam berbisnis, menjadi daya tarik utama yang membuat dirinya digandrungi para bujang konglomerat yang mengenalnya.
Satu hal yang tak pernah orang tahu tentang dirinya, adalah latar belakang identitas dirinya yang sebenarnya. Meski semua orang tahu bahwa dia adalah seorang motivator bisnis yang berhasil menaklukan istilah perintis dalam dunia bisnis, namun di balik gemilangnya rekam jejak bisnis yang ia jalani, tak satupun peduli soal bayangan gelap di balik tubuhnya yang bersinar itu.
Kenyataan yang tersembunyi rapat-rapat itu, hanya Garda seoranglah yang tahu tentang siapa dirinya sebenarnya. Gadis malang yang 5 tahun lalu dibelinya dengan selembar kertas pelunasan hutang–Zara si serigala betina yang kini telah benar-benar ia jinakkan sepenuhnya.
Di bawah naungan perusahaan besar GZ Corporation, Zevana Ardhani terlahir.
Ceklek!
Kriet....
Tak! Tok! Tak!
Hap!
Zevana duduk di atas kursi kantornya seolah itu merupakan singgasana kebesaran yang memberi makan egonya. Ia duduk bertumpang kaki sembari menatap papan nama bertuliskan 'CEO–Zevana Ardhani'. Senyum tipis tersirat di bibirnya. Dalam sorot mata yang menerawang, pikirannya berkelana kembali ke lima tahun yang lalu. Masa di mana dirinya berada dalam ujian yang begitu berat dan cukup menguras tenaga dan pikirannya.
Saat itu Rendra berperan sebagai mentor baginya untuk mengenalkan dunia bisnis dan segala pengetahuan yang berhubungan dengan perusahaan. Bermodalkan tekad membalas dendam, ia pun terjun ke dunia yang sangat asing dengan kehidupan sebelumnya.
Kesulitan itu tidak datang dari luar, bukan juga dari dirinya sendiri. Melainkan dari orang-orang dalam Garda sendiri, seperti Rendra, Bani, dan para antek Garda yang merasa kehadirannya mengancam posisi mereka. Yang perlu dihadapi olehnya, bukan hanya perang saham, maupun persaingan bisnis–namun keselamatan nyawanya juga.
Pertama kali Rendra membawanya keluar, ia dihadapkan dengan survei langsung di lapangan. Zara di bawa ke salah satu pusat hiburan malam di bawah akusisi Garda. Di sana, ia merupakan orang asing. Begitu masuk, ia langsung menjadi pusat perhatian publik karena wajah rupawannya serta tatapannya yang mempesona.
"Berapa harganya semalam?" tanya seorang Nyonya pemilik bisnis–kepada Rendra yang membawa Zara duduk di sudut bar di bawah keremangan.