NovelToon NovelToon
DOPAMIN

DOPAMIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mafia / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Key Kastara

DIJUAL SEBAGAI PELUNAS HUTANG.
SEKARANG DIA YANG MENENTUKAN HARGA NYAWA MEREKA.

Lima tahun lalu Zara diinjak harga dirinya oleh keluarga sendiri.
Hari ini, dia kembali sebagai Zevana Ardhani.
Bukan korban lagi. Tapi sang mafia wanita yang ditakuti di dunia korporat.

Misinya satu: BALAS DENDAM.

Sampai Arka muncul.
Putra dari guru Mafianya sendiri.
Polos. Tulus. Satu-satunya yang melihat Zevana sebagai manusia, bukan monster.

Antara nyawa, racun, dan cinta.
Zevana harus memilih: Menenggelamkan mereka semua dalam kebencian,
atau hancur karena satu-satunya pria yang bisa meluluhkan hatinya?

[MAFIA WANITA] [BALAS DENDAM] [DARK ROMANCE]

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Key Kastara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Strategi

Melewati lorong dan menuruni tangga, mereka pun tiba di garasi. Dari belakang, Bani langsung mengikuti langkah mereka dengan cepat.

"Maaf, Pak. Untuk bimbingan, sebaiknya hanya dilakukan di ruangan saja," ucap Bani sembari menatap Zara dengan pandangan penuh tuntutan.

"Bos sudah memberi saya wewenang untuk memberikan materi dalam segala bentuk dan dengan berbagai cara," jawab Rendra sambil membuka pintu mobil seolah tidak menghiraukan ucapan Bani.

Grep!

Bani segera mencekal pergelangan tangan Rendra, lalu menatapnya tajam.

"Perintah Bos bersifat mutlak. Saya harap Anda mengikuti aturan yang berlaku," tegas Bani.

Gret!

Cengkeraman tangan Bani begitu kuat hingga Rendra sedikit meringis menahan sakit.

"Itulah sebabnya Bos hanya menugaskanmu untuk berada di sisinya. Kamu hanyalah pembantu yang hanya bisa bertindak jika diperintah. Kamu anak muda yang tidak dapat diandalkan dan tidak memiliki inisiatif!" desis Rendra tepat di hadapan wajah Bani.

"Ha? Apa yang dikatakan orang yang sudah tidak bisa dipercaya ini?" balas Bani sambil terkekeh, tanpa melepaskan cengkeramannya.

"Apakah kamu tidak penasaran dengan gosip mengenai gadis yang menjadi kesayangan Bos? Menurutmu, mampukah 'serigala betina' ini menggantikan posisi 'anjing gila' yang selama ini menjadi kepercayaan Bos Garda?" tanya Rendra dengan nada sarkas, disertai senyum miring khasnya.

Perlahan cengkeraman Bani mengendur. Ia melepaskan tangan Rendra, lalu melirik sekilas ke arah Zara yang berdiri agak jauh di belakang.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Bani hanya mengangguk ke arah Zara dan membiarkan mereka melanjutkan perjalanan.

Klap!

Pintu mobil tertutup rapat. Zara pun menghela napas panjang, merasa pasrah. Seolah berharap Bani akan menahannya, ia melirik diam-diam dari balik kaca jendela yang baru saja ditutup oleh pria itu. Namun mobil segera melaju begitu dinyalakan oleh Rendra, seolah ia tidak ingin membuang waktu lagi.

Sementara itu, Bani tetap berdiri di tempatnya, menatap kosong ke arah mobil yang makin menjauh hingga hilang di tikungan jalan. Tatapannya tampak hampa, namun menyimpan rasa cemburu, kecewa, dan pengertian yang bercampur jadi satu.

"Bahkan meski aku lebih setia dan mampu melaksanakan tugas apa pun dibanding gadis itu, bagi Bos dia akan selalu punya tempat yang berbeda. Yang dia miliki bukan sekadar keahlian atau manfaat yang bisa dinilai materi. Di dalam dirinya, Bos menemukan sesuatu yang tak tergantikan, yaitu kenangan yang selama ini ia rindukan," batin Bani, lalu membalikkan badan perlahan dengan langkah yang terasa lebih berat dari biasanya.

Hari demi hari pun berlalu. Waktu terus berjalan membawa perubahan besar. Lima tahun kemudian, sosok yang dulu dikenal sebagai Zara telah berubah sepenuhnya.

Tok! Tak!

Tok! Tak!

Suara ketukan sepatu pantofel bergema memenuhi koridor kantor yang megah. Kakinya yang jenjang, terbalut celana panjang berpotongan lebar berwarna hitam, melangkah dengan ritme teratur dan gerakan yang sangat anggun. Tubuhnya yang ramping dibalut atasan pendek dan jas luar yang serasi, menampilkan penampilan yang tegas namun tetap memikat.

"Selamat pagi, Bu CEO," sapa dua orang petugas kebersihan seraya mengangguk hormat ke arah wanita yang sedang berjalan itu.

"Selamat pagi, Pak Burhan, Pak Arya. Sudah sarapan?" tanyanya dengan senyum tipis yang terukir lembut di bibirnya.

"Su—sudah, Bu. Terima kasih atas fasilitas kantinnya," jawab kedua pria itu dengan wajah berseri-seri.

"Sama-sama. Semoga bermanfaat," balasnya, lalu melanjutkan langkahnya setelah mengangguk kecil.

"Wah! Dia tahu nama saya, Pak! Lihat tadi, dia menyebut nama saya secara langsung!" seru Burhan dengan wajah gembira.

"Luar biasa, ya! Cantik, baik hati, ramah, dan tidak sombong pula! Benar kata orang, dia hafal nama semua karyawan dan pekerja di kantor ini!" imbuh Arya dengan nada tak kalah kagum.

"Tapi rasanya usianya masih sangat muda, Pak. Saya jadi merasa canggung jika harus memanggilnya 'Ibu'. Kalau memanggil 'Nona', rasanya juga kurang pantas karena dia menjabat sebagai Direktur Utama," keluh Burhan sembari memeluk gagang sapu ijuk di tangannya.

"Wah, kamu belum paham soal perjalanan karier, ya? Zaman sekarang banyak anak muda yang sukses, entah karena usaha sendiri maupun dukungan yang tepat," terang Arya sambil mengangkat kedua tangannya.

"Lho? Bapak belum dengar kabarnya? Bu Zevana itu yatim piatu dan membangun posisinya sendiri dari nol," koreksi Burhan.

"Oh ... Kalau begitu, sungguh hebat! Memang benar, kecantikan bisa menjadi nilai tambah, ya?" komentar Arya.

"Lho, Bapak, tidak semua orang yang berpenampilan menarik bisa sukses begitu saja. Semua butuh perjuangan dan proses yang panjang," bela Burhan sambil membenarkan posisi gagang sapunya.

Bisikan kekaguman, rasa iri, hingga berbagai dugaan dan prasangka selalu mengikuti langkah wanita itu. Aura yang terpancar dari dirinya terasa kuat meski ia hanya berdiam diri, dan wibawanya terasa menekan setiap kali orang memandangnya. Hal itu membuat siapa pun yang bertatapan dengannya seketika terpesona.

Dialah Zevana Ardhani. Direktur Utama termuda, yang usianya belum genap dua puluh dua tahun. Wanita karir tersukses pada tahun 2026, yang wajahnya menghiasi hampir semua halaman majalah dan surat kabar setiap bulannya. Kecantikannya yang memukau, tatapannya yang tajam, serta kecerdasannya dalam berbisnis menjadi daya tarik utama yang membuatnya dikagumi banyak pengusaha muda dan konglomerat.

Namun, ada satu hal yang tidak pernah diketahui orang banyak mengenai dirinya, yakni latar belakang identitas aslinya. Meskipun ia dikenal sebagai sosok yang menginspirasi dan berhasil membangun karier gemilang, di balik kesuksesan yang terlihat, tidak ada yang mengetahui masa lalu kelam yang tersembunyi rapat di balik nama besarnya.

Kenyataan yang disimpan sedemikian rapi itu hanya diketahui oleh satu orang, yaitu Garda. Gadis malang yang lima tahun lalu ia beli dengan selembar surat pelunasan utang—Zara, si serigala betina yang kini benar-benar berhasil ia bentuk dan jinakkan menjadi sosok yang tangguh.

Di bawah naungan perusahaan besar GZ Corporation, sosok baru bernama Zevana Ardhani pun terlahir.

Ceklek!

Kriet....

Zevana berjalan memasuki sebuah ruangan, lalu duduk di kursi kerjanya seolah itu adalah takhta kekuasaan yang memuaskan egonya. Ia menyilangkan kakinya sambil menatap papan nama yang tertulis: Direktur Utama–Zevana Ardhani. Sebuah senyum tipis terbit di bibirnya. Dalam tatapan yang menerawang jauh, pikirannya melayang kembali ke masa lima tahun silam. Masa di mana ia harus melewati ujian yang sangat berat, menguras tenaga dan pikiran sepenuhnya.

Saat itu, Rendra bertindak sebagai pembimbingnya untuk mengenalkan seluk-beluk dunia bisnis dan segala pengetahuan yang dibutuhkan. Berbekal tekad yang kuat untuk membalas dendam, ia terjun ke lingkungan yang sangat asing dengan kehidupan sebelumnya.

Kesulitan yang dihadapi tidak hanya datang dari luar, melainkan juga dari orang-orang di lingkungan Garda sendiri—seperti Rendra, Bani, dan para pengikut lainnya, yang merasa kehadirannya mengancam posisi mereka. Tantangan yang harus ia hadapi bukan hanya soal persaingan saham dan strategi bisnis, melainkan juga mempertaruhkan keselamatan nyawanya sendiri.

Saat pertama kali Rendra membawanya keluar dari kediaman itu, ia langsung dihadapkan pada pengamatan langsung di lapangan. Zara dibawa ke salah satu tempat hiburan malam yang berada di bawah pengelolaan Garda. Di sana, ia hanyalah orang asing. Begitu melangkah masuk, ia langsung menjadi pusat perhatian karena wajahnya yang cantik dan tatapannya yang memikat.

"Berapa harga gadis ini untuk satu malam?" tanya seorang wanita pemilik usaha kepada Rendra, sambil menunjuk ke arah Zara yang duduk di sudut ruangan remang-remang.

 

1
jamescortis
semangat thor 🔥🔥
Key Kastara: Trimakasih kakak 🔥✨
total 1 replies
Musea
wihh semangat yaa dari sesama author
Key Kastara: Trimakasih kakak siap 🤗✨
total 1 replies
Wawan
Salam kenal buat Zara ✍️
Key Kastara: Salam kenal kakak 🤗✨
total 1 replies
꧁𖣔⃟⃝⃞𒈙᭄404᭄𒈙⃞⃝𖣔꧂
Aku mau kopi tubruk sama 76🚬🗿👍🏻
Key Kastara: Otewe, dimana 🔥
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!