NovelToon NovelToon
SALDO ISTRI, NAFKAH SUAMI

SALDO ISTRI, NAFKAH SUAMI

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Single Mom / Mengubah Takdir
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

"Uangku adalah uang kita, tapi uangmu adalah uang keluargamu."

​Kalimat itu menjadi pahit yang Arumi telan setiap hari. Membesarkan dua anak yang beranjak dewasa sendirian di bawah atap yang sama dengan seorang suami, Arumi merasa seperti single parent berstatus menikah. Sementara sang suami tampil necis dan loyal di luar sana, Arumi harus berjuang dengan wajah kusam di depan laptop demi biaya sekolah anak-anak.

​Sampai kapan Arumi harus mengalah? Apakah pernikahan sepuluh tahun ini layak dipertahankan jika keberadaannya hanya dianggap sebagai 'mesin penghasil uang' yang tak berhak bahagia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SALDO ISTRI, NAFKAH SUAMI

​Malam telah larut, dan suasana di dalam rumah sederhana peninggalan almarhum orang tua Arumi terasa begitu senyap. Jarum jam dinding tua di ruang tamu sudah berdentang menunjukkan pukul sepuluh malam. Namun, pintu depan rumah masih terkunci rapat. Tidak ada tanda-tanda deru mesin motor sport mengkilap milik Pras akan memasuki halaman.

​Arumi yang duduk di tepi tempat tidur kamarnya sama sekali tidak merasa cemas. Ia tidak perlu lagi mondar-mandir di depan jendela atau mengecek ponselnya berulang kali seperti beberapa tahun lalu. Ia sudah sangat hafal tabiat suaminya itu. Setiap kali mereka terlibat pertengkaran hebat terutama jika ego Pras terluka karena tidak bisa membantah kebenaran Pras pasti akan memilih untuk melarikan diri. Pria itu akan pulang ke rumah ibunya, bernaung di bawah ketiak sang bunda yang selalu siap menghujani dirinya dengan pembelaan dan memanjakan egonya sebagai anak laki-laki kebanggaan keluarga.

​Bagi Arumi, ketidakhadiran Pras malam ini bukanlah sebuah musibah, melainkan sebuah momentum emas yang sudah ia tunggu-tunggu. Ini adalah waktu yang tepat untuk berbicara dari hati ke hati dengan kedua putranya.

​Arumi melangkah keluar kamar, menuju ruang tengah tempat Bintang dan si Adik sedang membereskan buku pelajaran mereka di atas meja kayu yang sudah mulai lapuk. Arumi menarik napas panjang, mencoba mengusir rasa gugup yang tiba-tiba menyergap dadanya. Mengajak anak-anak yang masih di bawah umur untuk berbicara tentang perceraian mungkin terdengar seperti keputusan yang sangat egois bagi sebagian orang. Namun, Arumi tahu, membiarkan anak-anaknya terus-menerus menyaksikan ibunya ditekan, difitnah, dan diperas secara emosional adalah bentuk keegoisan yang jauh lebih merusak masa depan mereka.

​Lagi pula, selama sepuluh tahun pernikahan ini berjalan, Arumi selalu merasa hidup layaknya seorang janda. Statusnya saja yang bersuami, namun pundaknya memikul seluruh beban kehidupan sendirian.

​"Kak, Dek... sini sebentar, duduk dekat Ibu," panggil Arumi lembut sambil menepuk sofa ruang tamu.

​Bintang dan si Adik langsung menghentikan aktivitas mereka. Melihat wajah serius namun teduh dari ibunya, kedua bocah itu langsung mendekat dan duduk di sisi kanan dan kiri Arumi. Si Adik yang masih polos langsung bersandar di lengan ibunya, sementara Bintang menatap Arumi dengan pandangan dewasanya yang selalu berhasil membuat hati Arumi bergetar.

​Arumi mengusap rambut kedua anaknya secara bergantian. "Ibu mau tanya sesuatu sama kalian. Tapi, Ibu minta kalian jawab dengan jujur ya?"

​"Tanya apa, Bu?" suara Bintang terdengar tenang, namun jemarinya meremas pelan ujung kaus tidurnya.

​Arumi menelan ludah, kerongkongannya terasa sangat kering. "Kalau... kalau suatu hari nanti, Ibu dan Ayah nggak tinggal bareng lagi... kalau Ibu dan Ayah memutuskan untuk pisah saja, bagaimana menurut Kakak dan Adik? Apakah kalian akan benci sama Ibu?"

​Pertanyaan itu meluncur begitu saja, memecah keheningan malam. Arumi menahan napas, bersiap jika salah satu dari mereka akan menangis atau mengamuk memohon agar keluarga mereka tetap utuh seperti anak-anak pada umumnya.

​Namun, reaksi yang ia dapatkan justru membuat pertahanan air mata Arumi kembali goyah.

​Bintang tidak menangis. Bocah kelas 6 SD itu justru menarik napas panjang, seolah sebuah beban berat yang selama ini menghimpit dadanya akhirnya terangkat. Ia memegang tangan ibunya yang mulai kapalan.

​"Kakak nggak akan pernah benci Ibu," jawab Bintang dengan suara yang sangat mantap, tanpa ada keraguan sedikit pun di dalamnya. "Malah... Kakak setuju kalau Ibu pisah saja sama Ayah."

​Arumi tertegun, matanya membelalak menatap putra sulungnya. "Kak..."

​"Kakak capek lihat Ibu nangis terus setiap subuh," potong Bintang, air matanya mulai menggenang di sudut mata tapi ia tahan agar tidak jatuh. "Kakak tahu semuanya, Bu. Dari dulu, sebelum Ibu mulai nulis novel dua tahun lalu, Kakak ingat Ibu kerja apa saja buat cari uang. Ibu pernah ikut tetangga cuci gosok, Ibu pernah bikin kue sampai malam buat dititip di warung, Ibu bahkan pernah ikut jualan baju di pasar. Semua itu Ibu lakukan karena uang dari Ayah nggak pernah cukup, kan?"

​Mendengar penuturan Bintang, ingatan Arumi seketika terlempar ke masa lalu. Air matanya mengalir tanpa bisa dibendung lagi. Apa yang dikatakan Bintang adalah lembaran sejarah kelam yang selama ini ia coba tutupi.

​Sebelum dua tahun terakhir ini Arumi menemukan jalan keluar lewat dunia kepenulisan online yang menghasilkan saldo mandiri, ia memang telah melakukan pekerjaan apa pun demi menutupi kekurangan yang ditinggalkan oleh kepala keluarga mereka yang bernama Pras. Dulu, Arumi selalu mencoba memaklumi suaminya. Ia adalah saksi hidup perjalanan karier Pras dari bawah.

PArumi menemani Pras saat pria itu masih menjadi karyawan kontrak biasa dengan gaji yang sangat pas-pasan, sering dicaci maki atasan, hingga akhirnya Pras berhasil merangkak naik menjadi staf dan kini berstatus sebagai karyawan tetap di kantornya.

​Dulu, Arumi selalu membela Pras di dalam hatinya sendiri. "Wajar kalau Mas Pras belum bisa royal, posisinya masih susah di kantor," batinnya kala itu. Arumi bahkan rela memotong jatah makannya sendiri agar Pras tetap bisa tampil rapi dan wangi di depan rekan-rekan kerjanya.

​Namun, kesetiaan dan permakluman Arumi justru dibalas dengan ketidaktransparan yang menyakitkan. Selama sepuluh tahun menikah, Arumi tidak pernah sekali pun tahu berapa nominal pasti dari jumlah gaji yang diterima Pras setiap bulannya. Pras selalu menyimpan rapat-rapat slip gajinya di dalam dompet yang selalu dikunci atau disimpan di tempat yang tidak bisa dijangkau Arumi. Setiap bulan, Pras hanya memberikan uang jatah yang sudah ditentukan sendiri nominalnya, seolah-olah Arumi adalah orang asing yang sedang meminta sumbangan.

​Apakah Arumi senang saat jabatan suaminya naik beberapa tahun lalu? Di luar, ia tersenyum dan bersyukur. Namun di dalam rumah, kenaikan jabatan itu tidak lebih dari sekadar lelucon yang pahit. Jatah uang bulanan yang diberikan Pras memang naik, tapi kenaikannya sangat tidak manusiawi hanya naik seratus ribu rupiah per tahun!

​Pras menutup mata bahwa harga beras terus melonjak, biaya listrik terus naik, dan anak-anak mereka tumbuh besar dengan kebutuhan sekolah yang semakin menuntut. Kenaikan seratus ribu rupiah itu dianggap Pras sudah sangat cukup untuk membuat Arumi tutup mulut, sementara sisa dari seluruh biaya operasional hidup dan pendidikan anak-anak dipaksa jatuh ke pundak Arumi untuk memikirkannya sendiri. Pras melupakan fakta bahwa sisa gajinya yang besar itu habis mengalir ke rekening ibunya dan untuk membiayai gaya hidup adik-adiknya yang malas bekerja.

​"Adik gimana?" Arumi menoleh ke arah putra bungsunya, suaranya parau karena emosi yang meluap. "Adik nanti sedih nggak kalau nggak ada Ayah di rumah?"

​Si Adik yang sejak tadi mendengarkan dengan saksama, mengusap air mata di pipi ibunya dengan tangan kecilnya. "Adik juga nggak apa-apa kalau nggak ada Ayah, Bu. Ayah kan kalau pulang selalu malam banget, pas Adik sudah tidur. Ayah juga jarang main sama Adik. Kalau Ayah ada di rumah, Ayah cuma main HP terus marah-marah sama Ibu karena makanannya nggak enak. Adik lebih suka bertiga saja sama Ibu dan Kakak, rumah kita jadi lebih tenang, nggak ada suara bentakan lagi."

​Mendengar jawaban dari kedua anak kandungnya, runtuh sudah seluruh keraguan yang sempat tersisa di dalam hati Arumi. Sepuluh tahun pengabdiannya yang berakhir dengan fitnah keji subuh tadi telah dibayar lunas oleh pemikiran dewasa kedua anaknya malam ini. Mereka tidak menuntut keluarga yang utuh tapi hancur di dalam mereka hanya menginginkan seorang Ibu yang bahagia dan rumah yang damai.

​Arumi mendekap kedua putranya itu dengan sangat erat ke dalam dadanya. Isak tangis mereka bertiga kembali memenuhi ruang tamu yang sunyi, namun kali ini bukan lagi tangisan karena kepasrahan atau ketakutan. Ini adalah tangisan pembebasan.

​"Terima kasih ya, Kak, Dek... Terima kasih sudah mengerti Ibu," bisik Arumi di tengah tangisnya. "Mulai besok, kita akan mulai hidup baru. Ibu janji, Ibu akan kerja lebih keras lagi lewat novel Ibu untuk jamin masa depan kalian. Kita nggak akan memohon-mohon lagi pada orang yang nggak pernah menghargai kita."

​Bintang membalas pelukan ibunya tak kalah erat. Di dalam hatinya yang paling dalam, bocah itu bersumpah untuk selalu menjadi garda terdepan pelindung ibunya. Malam itu, di bawah temaram lampu ruang tamu rumah peninggalan orang tuanya, Arumi memantapkan hati. Momentum hilangnya Pras malam ini adalah titik awal di mana ia menyusun rencana untuk mengusir pria parasit itu dari hidupnya dan dari rumah warisan suci ini, seratus persen tanpa ada rasa penyesalan lagi.

1
Uthie
rasain tuhh mereka 😡
Suanti
setelah selesai bangun rmh 3 lantai rmh arumi mantan ibu mertua langsung stroke🤭🤣🤣🤣
Uthie
Maaff Thor . koq rasanya ada penggambaran soal bonceng 3 naik motor Matic aga kurang masuk di akal sy yaa 😁🙏🙏

kenapa juga gak naik taksi online atau apa gtu, walau cerita nya mereka masih akting susah sekali pun🙏🙏😁
blcak areng: siap kak 😁😁
total 1 replies
Uthie
dasar manusia - manusia culas 😡😡😡
Uthie
Mantap nii Bu RT dan Bu Ida 👍😁
Suanti
jgn sampai tukang renovasi rmh arumi bocor blg arumi mau renovasi rmh bertingkat 3🤭
Uthie
Maju terus Arumi 👍👍😍
Uthie
kebahagiaan dan Rizki selain materi adalah, memiliki Tetangga yg baik dan saling Peduli satu sama lain 👍👍😍
Suanti
uang 200jt arumi bisa renovaai rmh nya jdi tingkat 2 . uang dlm tabungan arumi bisa buka, usaha 🤭
Uthie
dikira Arumi malah akan ada keluarga yg akan terus melindungi nya, tau nya cuma nitipin jatah warisan ayahnya dulu tohhh... 😁
padahal harusnya hubungan keluarga jangan sampai putus begtu saja, kalau sdh ada penyesalan terdalam dan niat baik untuk memperbaiki nya....
memang menyakitkan, namun mikir untuk kedepannya saja 🙏🙏😁
Uthie
Maaf Thor....itu bagaimana yaa? koq Arumi naik ke boncengan motor pak RT?? lahh Bu RT nya di kemanain?? 😂😂
bukannya Arumi juga punya motor sendiri walau sdh tua yaa peninggalan bapak nya yg suka antar jemput sekolah??? maaf... tolong di jelaskan 😁🙏🙏
blcak areng: udah biarin aja.. ini pak polisi nya mikir" mau nilang Arumi kak🤣🤣
total 3 replies
Uthie
Maju dan sukses 👍👍👍
Uthie
Seharusnya demikianlah bertetangga itu.. saling menjaga satu sama lain seperti keluarga sendiri... ikut bahagia jika ada yg bahagia, ikut sedih jika ada yg sedih dan terluka 👍👍😍
Uthie
Biar sumpah nya berbalik untuk dirinya dan keluarga nya sendiri itu 😡
Suanti
sumpah serapah ibu nya pras buat arumi semoga aja kebalikkan nya senjata mkn tuan 🤣🤣🤣🤣
Uthie
Good Choice Arumi 👍👍👍😡
Uthie
Mantappp ituuu 👍👍😡😡
Uthie
Bagusssss Arumi 👍😡
Uthie
Balas terus Arumi 👍😡😡
Uthie
dasar manusia2 Toxic 😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!