NovelToon NovelToon
Lagu Hit Kehidupan Ini Adalah Balas Dendam

Lagu Hit Kehidupan Ini Adalah Balas Dendam

Status: tamat
Genre:Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Tamat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Estrellaaya_

Su Qing meninggal dunia. Ia diberi obat oleh sahabatnya hingga kehilangan kemampuan bernyanyi, karyanya dicuri oleh kekasihnya, wajahnya rusak akibat kecelakaan, dan akhirnya meninggal sendirian di rumah sakit tanpa ada yang mengurusnya.

Saat ia membuka mata kembali, ia telah terlahir kembali sebagai peserta pelatihan yang tidak dikenal, berusia 19 tahun, dan tidak memiliki apa-apa.
Namun, ia masih mengingat setiap nada, setiap baris lirik, dan setiap orang yang bertanggung jawab atas kematiannya.

Di kehidupan ini, ia tidak lagi sekadar menciptakan lagu — ia menyematkan kode balas dendam ke dalam melodi, dan menyembunyikan petunjuk bukti di balik liriknya. Ia mengikuti program kompetisi, memperebutkan sumber daya produksi, dan melakukan serangan balik yang tepat sasaran lewat serangkaian “lagu balas dendam”.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Estrellaaya_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dua Puluh

Pagi hari hari Kamis pukul delapan, babak kesempatan kedua dimulai tepat waktu di ruang siaran.

Dua belas peserta bersaing memperebutkan enam tempat kelolosan. Aturannya sangat sederhana — setiap orang menyanyikan satu lagu, para juri memberikan nilai secara langsung, enam peserta dengan nilai tertinggi lolos, dan enam sisanya tersisihkan. Tidak ada penangguhan, tidak ada kesempatan tambahan, keputusan ditetapkan seketika.

Su Qing sebenarnya bukan peserta yang harus tampil, namun ia tetap datang ke sana. Bukan karena diwajibkan panitia, tapi karena ia ingin mengetahui apakah He Siyu dan Cheng Yinuo bisa lolos atau tidak.

Suasana ruang persiapan di belakang panggung jauh lebih hening dibandingkan hari-hari biasa. Dua belas peserta duduk di kursi masing-masing, tidak ada yang mengobrol, tidak ada yang bercanda, dan udara di ruangan itu terasa kaku dan berat.

He Siyu duduk di sudut ruangan, memegang kertas berisi lirik lagu di tangannya, bibirnya terus bergerak seolah sedang membaca dalam hati. Wajahnya terlihat lebih baik dibandingkan kemarin, namun jari-jarinya masih tetap gemetar.

Cheng Yinuo duduk di ujung ruangan yang lain, memeluk gitarnya sambil memejamkan mata, seolah sedang bermeditasi. Ia adalah peserta peringkat kedua di kelompok dua — bukan, peringkat pertama kelompok dua adalah Zhao Ruoruo, dan ia berada di urutan kedua. Namun dengan kemampuannya, lolos dari babak ini seharusnya sudah pasti terjamin.

Su Qing berdiri di ambang pintu ruang persiapan, tidak masuk ke dalam. Karena bukan peserta, kehadirannya di dalam hanya akan menambah beban pikiran He Siyu.

“Su Qing?” Sebuah suara terdengar dari belakang.

Ia berbalik dan melihat Sun Yizhou berdiri di lorong sambil membawa botol minum berpenutup.

“Bukannya kamu sudah lolos? Kok masih ada di sini?” tanya Sun Yizhou.

“Hanya mau melihat-lihat saja,” jawab Su Qing. “Kalau kamu sendiri?”

“Sama sepertimu,” Sun Yizhou bersandar ke dinding sambil meneguk air. “He Siyu itu temanmu ya?”

“Iya.”

“Bagaimana persiapannya?”

Su Qing melirik sekilas ke arah He Siyu di dalam ruangan. “Tidak tahu. Semuanya tergantung usahanya sendiri.”

Sun Yizhou mengikuti arah pandangannya, diam sejenak, lalu berkata, “Semalam aku berpikir semalaman, nanti di babak akhir nanti, sebaiknya aku katakan laguku itu buatanmu atau tidak?”

“Tidak perlu,” jawab Su Qing. “Kalau kamu bicara sekarang, tidak ada untungnya buat kita berdua.”

“Kenapa?”

“Karena Zhao Ruoruo sedang berusaha mencari kesalahanku. Kalau sampai ketahuan aku membuatkan lagu untuk peserta lain, meskipun tujuanku baik untuk menolongmu, hal itu tetap akan dibilang kecurangan. Hak kelolosanmu bisa dicabut, dan aku pun akan diperiksa serta dituduh.”

Ekspresi wajah Sun Yizhou berubah. Jelas sekali ia belum pernah memikirkan hal sejauh itu.

“Lalu bagaimana? Nanti di babak akhir pasti ada yang bertanya.”

“Jawab saja itu karya buatanmu sendiri. Kalau ada yang tidak percaya, suruh saja mereka datang menemuiku,” Su Qing menatapnya lekat-lekat. “Setelah kompetisi ini selesai, kau boleh bercerita apa saja semaumu.”

Sun Yizhou diam beberapa detik, lalu mengangguk setuju.

“Su Qing.” Ia memanggil nama gadis itu.

“Ya?”

“Kau menolongku, tapi kau sendiri yang harus menanggung risiko. Kenapa kau mau melakukan itu?”

Su Qing tidak langsung menjawab, hanya berkata, “Karena di dunia hiburan ini, seseorang tidak akan bisa melangkah jauh sendirian. Aku butuh orang yang bisa kupercaya.”

Sun Yizhou menatap manik mata gadis itu, seolah ingin memastikan sesuatu. Lalu ia tersenyum, senyum yang tipis namun sangat tulus.

“Aku mengerti sekarang.”

Babak kesempatan kedua pun dimulai.

Peserta pertama yang tampil adalah seorang pemuda yang tidak terlalu dikenal Su Qing. Ia menyanyikan lagu beraliran musik keras, dengan nada tinggi yang cukup hebat, namun pengaturan napasnya kurang stabil sehingga di bagian akhir nyanyiannya terdengar sumbang. Para juri memberikan nilai dengan wajah datar tanpa ekspresi. Saat hasilnya dibacakan, wajah pemuda itu langsung jatuh lesu — nilainya enam puluh tujuh, dan saat itu menempati posisi paling bawah.

Peserta kedua adalah Cheng Yinuo.

Hari ini ia mengenakan kemeja putih, lengan bajunya digulung sampai siku, lalu naik ke panggung sambil memeluk gitarnya. Tidak ada iringan musik tambahan, tidak ada grup musik pendukung, hanya seorang diri dengan satu alat musik.

Ia menyanyikan lagu beraliran rakyat ciptaannya sendiri berjudul Angin Utara. Liriknya menceritakan seorang pemuda dari daerah utara yang pergi merantau ke selatan, dan saat musim dingin tiba rasa rindu kampung halaman terasa sangat kuat, namun ia tidak berani pulang karena belum mencapai kesuksesan apa pun.

Su Qing mendengarkannya dari belakang panggung, dan harus mengakui bahwa kemampuan Cheng Yinuo menulis lirik jauh lebih hebat dibandingkan dugaannya. Gambaran yang ditulisnya sangat jelas dan nyata — bukan sekadar kalimat umum seperti “aku rindu rumah”, tapi hal-hal spesifik seperti “baju hangat yang dikirim ibu terlalu kecil, tidak muat dipakai, tapi aku sayang untuk membuangnya”. Hal-hal mendetail seperti itu, mustahil ditulis oleh orang yang tidak pernah merasakannya sendiri.

Para juri memberinya nilai delapan puluh enam. Nilai tertinggi sementara waktu.

Saat Cheng Yinuo turun dari panggung, dahinya penuh keringat, namun wajahnya terlihat lega dan tenang. Ia menatap sekilas ke arah Su Qing yang berdiri di lorong, mengangguk pelan tanpa bicara, lalu pergi ke pinggir untuk minum air.

Peserta ketiga, keempat, kelima… Nilai yang didapatkan beragam tinggi rendah, namun tidak ada satu pun yang melebihi angka delapan puluh enam milik Cheng Yinuo.

Peserta keenam adalah He Siyu.

Saat ia berjalan naik ke panggung, Su Qing menyadari ritsleting di samping gaunnya belum tertutup rapat. Itu kesalahan kecil, tapi di atas panggung dengan sorot lampu yang terang benderang, cacat sekecil apa pun akan terlihat sangat jelas.

Su Qing ingin memperingatkannya, tapi sudah terlambat. He Siyu sudah sampai di tengah panggung.

Lagu yang dipilihnya berirama lambat, ditulis khusus untuk neneknya, berjudul Foto Lama. Nadanya sederhana, liriknya jujur apa adanya, tidak banyak teknik menyanyi yang rumit, namun rasa sayang yang terkandung di dalamnya sangat nyata dan menyentuh hati.

Saat memasuki bagian paduan suara, suaranya sedikit bergetar, bukan karena gugup, tapi karena emosinya tersentuh dan meluap keluar. Su Qing bisa merasakan bahwa gadis itu tidak sedang tampil atau berakting, melainkan sedang berbicara dengan hatinya sendiri.

Setelah selesai bernyanyi, He Siyu berdiri diam di panggung dengan mata yang memerah, namun ia tidak meneteskan air mata.

Ibu Liu adalah orang pertama yang memberikan komentar. “Kelemahan teknis vokalmu masih ada, nada tinggimu kurang terang, dan di bagian pergantian napas pun masih ada masalah. Tapi lagu ini, kau nyanyikan tepat di lubuk hatiku. Sudah lama sekali aku tidak mendengar lagu yang sejujur ini.”

Nilai yang didapatkan: delapan puluh empat.

Saat mendengar angkanya, He Siyu langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan.

Delapan puluh empat, menempati posisi kedua sementara, tepat di bawah Cheng Yinuo. Selama tidak ada lebih dari empat orang di enam peserta selanjutnya yang nilainya lebih tinggi darinya, ia pasti lolos.

Saat turun dari panggung, kakinya terasa lemas dan hampir jatuh, ia harus berpegangan ke dinding agar tetap berdiri. Su Qing berjalan mendekat dan memapahnya sebentar.

“Delapan puluh empat, aman kok,” kata Su Qing.

He Siyu mengendus hidungnya, tidak bicara apa pun, namun menggenggam tangan Su Qing dengan sangat erat.

Dari enam peserta terakhir, ada tiga orang yang mendapatkan nilai lebih tinggi dari delapan puluh empat. Namun setelah penghitungan akhir selesai, urutan He Siyu berada di posisi kelima, tepat masuk ke dalam batas kelolosan.

Cheng Yinuo di urutan pertama, He Siyu di urutan kelima, dan Sun Yizhou di urutan ketujuh… Tunggu, Sun Yizhou ketujuh?

Su Qing mengerutkan kening. Ia menatap papan pengumuman hasil, nama Sun Yizhou tertera di urutan ketujuh dengan nilai delapan puluh dua, hanya terpaut setengah poin dari peserta urutan keenam.

Setengah poin saja.

Sun Yizhou berdiri diam di depan papan pengumuman, menatap namanya sendiri tanpa bergerak sedikit pun.

Su Qing berjalan ke sampingnya, berdiri diam.

“Setengah poin,” suara Sun Yizhou terdengar datar, seolah sedang membicarakan hal yang tidak ada hubungannya dengan dirinya. “Hanya kurang setengah poin saja.”

1
Murni Dewita
👣
Estrellaaya_: terima kasih banyak ya sygkuu, semoga suka ❤️❤️
total 1 replies
Nur Atika Hendarto
lanjut thor penasaran sangat 😭😭😭😭
Estrellaaya_: siapp sygkuuu ditunggu yaaa, terima kasih banyak udh baca karyakuu❤️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!