Apakah selembar kain jilbab cukup untuk menghapus masa lalu yang dianggap cacat?
Bagi Hana, pernikahan adalah gerbang lembaran suci. Namun, kenyataan menamparnya begitu menginjakkan kaki di kediaman suami. Sebagai wanita modern, ia dinilai miskin ilmu agama dan tidak bernasab terhormat. Sang Umi pun menganggapnya sebagai perusak masa depan putra kesayangan.
Kini, Hana harus menghadapi penolakan dingin dan upaya mertua mengembalikan kekasih lama suaminya. Ia hanya ingin bertahan demi membuktikan keikhlasan berbenah diri.
Jika gagal, Hana akan kehilangan pria tercinta sekaligus merelakan kesehatan jiwanya hancur. Di tengah jepitan konflik, sang suami dipaksa memilih antara bakti orang tua atau melindungi belahan jiwanya.
Akankah ketulusan Hana melunakkan kerasnya hati sang Umi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mrs. Fmz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Tuduhan Tanpa Bukti Di Serambi Utama
Tuduhan tanpa bukti di serambi utama langsung meluncur dari bibir tajam Umi Kalsum begitu sosok Azzam melangkah melewati ambang pintu dengan tas ransel besar menggelantung pada pundaknya. Wanita paruh baya itu berdiri tegak di tengah ruangan luas yang beralas karpet hijau tebal, mengabaikan rasa nyeri pada dadanya demi menegakkan sebuah otoritas yang mulai goyah. Sarah duduk bersimpuh di dekat meja kayu kecil, menutupi wajahnya dengan selembar kain selendang yang basah akibat cucuran air mata buatan. Pandangan mata beberapa pengurus senior asrama tertuju lurus pada sang ustaz muda, menciptakan atmosfer penghakiman massal yang terasa amat menyesakkan rongga dada.
"Kamu tega mencuri berkas keuangan yayasan dari dalam lemari kerja Umi hanya demi membiayai kehidupan istrimu di kota, Azzam?" pekik Umi Kalsum dengan telunjuk yang bergetar hebat menunjuk lurus pada wajah putranya.
Azzam menghentikan langkah kaki tepat di batas ubin serambi, menatap sang ibunda dengan sepasang mata yang memancarkan kekecewaan mendalam tanpa ada rasa takut sedikit pun. "Saya tidak pernah menyentuh lemari kerja Umi, apalagi mengambil dana yang bukan menjadi hak pribadi saya dalam pengelolaan pesantren ini."
"Jangan berdusta, Ustaz, karena hanya kamulah orang terakhir yang memegang kunci cadangan ruangan sebelum melarikan diri semalam," sela ibu Sarah dengan nada suara yang meninggi penuh provokasi.
Tuduhan keji yang dilontarkan tanpa selembar pun bukti otentik itu laksana sebuah palu gadam yang menghantam sisa penghormatan Azzam terhadap lingkaran penguasa asrama. Sang ustaz muda menurunkan tas ranselnya secara perlahan, lalu membuka ritsleting wadah kain itu lebar lebar di hadapan seluruh pasang mata yang menyaksikan. Ia membalikkan tas tersebut hingga isinya yang berupa tumpukan kain jilbab lama serta beberapa potong baju muslim milik Hana berserakan di atas lantai serambi. Tidak ada tumpukan uang tunai ataupun dokumen rahasia yayasan yang selama ini dicurigai oleh pihak keluarga Sarah sebagai kompensasi pelarian batinnya.
Sementara itu, di sebuah kedai kopi kecil yang terletak di sudut strategis pusat kota, Hana sedang duduk bersama seorang wanita paruh baya pemilik jaringan butik busana muslimah terkemuka. Jemari lentik Hana bergerak lincah menjelaskan beberapa sketsa rancangan pakaian modern namun tetap menjaga kaidah syariat yang ketat di atas permukaan kertas putih. Pengalaman pahit selama menjadi menantu tersisih di lingkungan pesantren justru menempa kreativitas batinnya untuk melahirkan konsep busana yang kuat sekaligus mandiri. Wanita paruh baya pengusaha itu manggut manggut penuh kagum, melihat potensi besar yang tersimpan di balik ketenangan sikap seorang wanita muda yang baru saja terlepas dari belenggu intimidasi domestik.
"Rancangan pakaian milikmu ini memiliki karakter yang sangat kuat, Hana, terutama pada bagian kombinasi warna yang tidak mencolok namun terkesan mewah," puji sang pemilik butik dengan senyum lebar.
Hana mengembuskan napas lega, merapikan letak duduknya seraya melipat kembali lembaran sketsa kerja yang menjadi modal awal masa depannya. "Terima kasih banyak atas kesediaan Ibu melihat karya sederhana ini, saya hanya ingin membuktikan bahwa wanita juga mampu berdiri tegak di atas kaki sendiri."
"Butik milikku siap menampung seluruh hasil produksimu bulan depan, asalkan kamu mampu menjaga konsistensi mutu jahitan seperti contoh kain ini," sambung pengusaha itu seraya menepuk pelan punggung tangan Hana.
Keberhasilan awal dalam merintis jaringan kerja di kota menjadi obat penawar yang sangat mujarab bagi luka batin yang selama ini dipendam Hana di dalam surau asing. Ia menyadari bahwa dunianya yang luas tidak boleh menyempit hanya karena penolakan sepihak dari seorang mertua yang angkuh dan tidak memiliki keluasan pandangan batin. Pikirannya kini melayang pada jadwal persidangan pertama di pengadilan agama yang berkas jilidnya telah dikirimkan oleh sang ayah melalui bantuan pengacara keluarga. Hana bertekad untuk tidak akan pernah menoleh ke belakang lagi, membiarkan Azzam menyelesaikan kekacauan internal yang terjadi di dalam wilayah kekuasaan ibundanya sendiri.
Kembali ke situasi menegangkan di serambi utama pesantren, keheningan yang kaku mendadak merayap setelah kebenaran isi tas ransel Azzam terbuka secara gamblang di depan publik. Sarah menghentikan isak tangisnya sejenak, memandangi tumpukan pakaian Hana yang berserakan dengan perasaan cemas yang mulai menggerogoti rencana busuk keluarganya. Umi Kalsum terdiam seribu bahasa, menatap kain jilbab baru yang dahulu pernah ia lemparkan ke tempat sampah kini berada di tangan putra kandungnya sendiri sebagai simbol perlawanan batin. Namun, ego seorang pemimpin yayasan besar membuat wanita tua itu enggan mengucapkan kata maaf atas kekeliruan tuduhan yang terlanjur diucapkan di depan para santri senior.
"Jika bukan kamu yang mengambil dokumen keuangan itu, lalu siapa lagi yang berani mengacaukan meja kerja Umi?" tanya Umi Kalsum dengan volume suara yang mulai melemah namun tetap bernada menuduh.
Azzam melangkah mendekati meja kayu kecil, menatap lurus ke dalam sepasang mata Sarah yang mendadak bergerak gelisah mencari perlindungan batin dari sang ibunda. "Tanyakanlah pada calon menantu impian Umi ini, karena dialah orang yang paling bernafsu menguasai manajemen yayasan sejak Hana pergi meninggalkan asrama."
"Jangan memfitnah anakku, Azzam, dia adalah wanita saleh yang tidak mungkin menyentuh urusan harta duniawi," bela ibu Sarah dengan wajah yang mulai memerah menahan kepanikan.
Bukti konkrit berupa sebuah kunci duplikat kuningan yang terjatuh dari sela kain selendang Sarah saat wanita itu bergeser duduk seketika mematangkan kecurigaan semua orang yang hadir. Azzam mengambil kunci kecil itu, meletakkannya dengan dentingan keras di atas meja tepat di hadapan wajah ibundanya yang kini berubah pucat pasi laksana mayat. Sandiwara suci yang selama ini dimainkan oleh keluarga Sarah untuk menyingkirkan Hana akhirnya mulai runtuh berantakan akibat kecerobohan mereka sendiri yang tamak akan kekuasaan. Beberapa pengurus senior pesantren mulai berbisik bisik penuh kekecewaan, menyadari bahwa mereka telah menjadi alat manipulasi emosional untuk menindas seorang menantu yang tidak bersalah.
Matahari siang yang terik kini bersinar tepat di atas atap serambi utama, memancarkan hawa panas yang membakar sisa kemunafikan yang tersimpan di dalam ruangan suci tersebut. Umi Kalsum memegangi dadanya yang terasa semakin sesak, memandangi Sarah dengan tatapan mata yang dipenuhi oleh rasa tidak percaya sekaligus kemarahan yang mendalam. Kebanggaan terhadap silsilah keluarga serta penilaian sepihak mengenai kesalehan lahiriah seseorang kini berbalik menjadi cambuk yang memukul telak kesombongan batin sang penguasa yayasan. Ia menyaksikan putra kandungnya kembali mengemas pakaian Hana ke dalam tas ransel dengan gerakan yang sangat teratur tanpa memperdulikan lagi ratapan kepalsuan di sekitarnya.
"Umi, hari ini saya resmi mengundurkan diri dari seluruh posisi kepengurusan yayasan dan akan tinggal menetap di kota untuk menjemput takdir pernikahan saya," ucap Azzam seraya menyandang kembali tasnya.
Sarah bersujud di dekat kaki Umi Kalsum, berusaha meraih belas kasihan terakhir dari wanita paruh baya yang kini tampak kehilangan seluruh kekuasaan spiritualnya. "Umi, demi tuhan saya tidak bermaksud mengacaukan keuangan pesantren, saya hanya ingin merapikan berkas lama yang berserakan di bawah meja kerja."
"Diam kamu, Sarah, pergilah dari hadapanku sekarang juga sebelum aku memanggil seluruh pengurus keamanan asrama untuk mengusir keluargamu," usir Umi Kalsum dengan suara bariton yang bergetar hebat menahan murka.
Kehancuran reputasi keluarga Sarah di dalam kompleks pesantren kini sudah tidak dapat dibendung lagi setelah kebenaran sejati terungkap secara benderang di depan para saksi mata. Azzam membalikkan tubuhnya tanpa mengucap salam penutup, melangkah mantap meninggalkan serambi utama yang kini berubah menjadi medan pertempuran ego antara sesama pihak yang bersalah. Langkah kakinya terasa sangat ringan, seolah beban berat yang selama ini mengunci kebebasan jiwanya telah lenyap menguap bersama angin siang yang berembus kencang. Sang ustaz muda bertekad untuk langsung memacu kendaraannya menuju pusat kota, tidak peduli seberapa tebal benteng penolakan hukum yang kini sedang dibangun oleh keluarga Hana.
Ketika kendaraan roda dua milik Azzam meluncur keluar dari gerbang utama pesantren, sekelompok santriwati tampak memandanginya dengan tatapan mata yang dipenuhi oleh rasa haru sekaligus kehilangan. Di dalam serambi yang mulai sepi, Umi Kalsum terduduk lemas di atas kursi jatinya yang dingin, meratapi kepergian sang putra mahkota yang memilih melepaskan jubah kehormatan demi sebuah keadilan batin. Penyesalan yang teramat dalam kini mulai menggerogoti sisa sisa kekuatan batin sang penguasa yayasan, membayangkan bagaimana sepinya masa tua yang harus ia jalani tanpa kehadiran darah dagingnya sendiri. Langit siang di atas kompleks asrama putri perlahan lahan mulai tertutup oleh gumpalan awan hitam yang pekat, menandakan bahwa badai besar yang sesungguhnya baru saja dimulai menghantam dinasti mereka.
Sementara itu, di sebuah kantor pengacara yang terletak di jalan protokol pusat kota, Hana baru saja menandatangani surat kuasa mutlak untuk pelaksanaan proses persidangan perdana minggu depan. Wajahnya tampak sangat bersinar penuh ketegasan, tidak ada lagi gurat kesedihan ataupun sisa air mata yang pernah luruh di atas sajadah kamar pengantin yang asing. Sang pengacara muda yang mendampinginya tersenyum profesional, mengagumi keteguhan sikap seorang wanita yang berani mengambil langkah besar demi menyelamatkan martabat diri dari penindasan terstruktur. Hana melangkah keluar dari gedung bertingkat itu dengan kepala tegak, menyambut embusan angin kota yang membawa aroma kebebasan sejati yang selama ini ia impikan dalam sujud sujud panjangnya.
Ketika Azzam tiba di depan rumah mertuanya saat senja mulai memancarkan warna jingga di ufuk barat, ia mendapati pintu gerbang besi itu terkunci rapat dengan sebuah rantai besar. Sang ustaz muda turun dari kendaraannya, berdiri mematung di pinggir jalan raya seraya memandangi rumah beralur modern yang tampak sepi tanpa ada aktivitas kehidupan di teras depan. Dari balik saku jubahnya, ia mengambil segulung kertas catatan kecil berisi jadwal hafalan yang sempat terjatuh tadi, menggenggamnya erat laksana memegang sisa harapan pernikahan yang kian menipis. Kesunyian malam mulai turun merayap menyelimuti kompleks perumahan kota, mengunci keberadaan sang lelaki yang sedang berdiri di persimpangan dilema batin yang teramat perih.