Tujuh belas tahun hidup sederhana, Haena mendadak mendapati dirinya adalah putri kandung yang tertukar dari Keluarga Dirgantara, dinasti konglomerat terkaya. Namun, kepulangannya ke istana megah itu justru disambut dingin oleh sang ibu, Nyonya Rosalind, serta intrik busuk dari Vanya, anak angkat yang takut posisinya tergusur.
Bukannya tumbang oleh intimidasi dunia elite, gadis jenius bermental baja ini justru menarik perhatian Kaelen Arkananta, pewaris tunggal yang terkenal dingin dan tak tersentuh. Bersama Kaelen, Haena tidak hanya menemukan cinta sejati, tetapi juga mulai membongkar konspirasi gelap masa lalu yang sengaja membuangnya saat bayi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Haena_Llulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 Badai Barikade Halim
Peringatan merah pada layar utama kokpit jet pribadi Arkananta Group berkedip tak keruan, memantulkan pendar intermiten yang menyinari wajah tegap Haena. Sisa waktu penanganan krisis di pergelangan tangan kirinya kini tak lagi relevan; fokusnya telah beralih sepenuhnya pada wajah Komisaris Utama Sudirman yang memar dan ketakutan di layar transmisi siber. Suara bisikan pria tua itu yang memperingatkan tentang jebakan maut di Bandara Halim Perdanakusuma Jakarta terus berdenging, sebelum akhirnya sinyal tersebut diputus paksa oleh gelombang interferensi asing.
Haena tetap duduk dengan posisi yang sangat tegun dan anggun di kursi eksekutifnya. Setelan blazer formal desainer berwarna hitam pekat yang dipadukan dengan kemeja sutra putih murni tetap melekat rapi pada siluet tubuh tingginya yang memiliki proporsi hourglass figure sempurna. Dari balik kacamata dengan bingkai transparan yang bertumpu di hidung mancungnya, sepasang matanya yang jernih menatap dingin ke arah peta topografi digital wilayah udara Jakarta yang diselimuti titik-titik merah tanda barikade pertahanan udara ilegal milik musuh. Jari telunjuk tangan kirinya kembali mengetuk pelan tahi lalat kecil di bawah dagunya dengan ritme yang sangat konstan. Komputasi taktis di dalam otaknya sedang bekerja melampaui batas normal untuk memetakan skenario pendaratan darurat.
"Faksi The Second Elder tidak lagi bermain di balik meja komisi," suara Haena terdengar teramat jernih, dingin, dan beraura tegas memecah keheningan kabin jet yang mencekam.
"Mereka tahu 'Protokol Phoenix' yang kuaktifkan dari udara telah melumpuhkan otentikasi hak veto ilegal mereka. Untuk mengaktifkannya kembali, mereka membutuhkan kehadiran fisikku di Jakarta di bawah paksaan senjata. Bandara Halim telah diubah menjadi sangkar besi."
Kaelen Arkananta yang berdiri di samping konsol navigasi utama terkekeh rendah sebuah tawa karismatik yang sarat akan bahaya dan kepuasan mutlak atas kegilaan situasi ini. Sepasang mata elangnya berkilat penuh murka yang luar biasa masif menatap taktik pengecut dari faksi tetua kedua. Langkah kakinya yang kokoh bergerak maju, menumpu kedua tangannya di atas lengan kursi Haena, mengurung gadis itu dalam jarak yang sangat dekat dengan aura protektif yang teramat kental.
"Mereka mengira bisa mendikte tempat kita mendarat, Haena," ucap Kaelen, suara baritonnya yang berat terdengar sangat rendah, intim, namun penuh dengan getaran otoritas predator puncak.
"Mereka lupa bahwa wilayah udara barat tidak sepenuhnya dikendalikan oleh otoritas sipil yang bisa mereka suap. Gavin! Alihkan rute penerbangan. Kita tidak akan memberi mereka kemewahan untuk menyambut kita di Halim."
Gavin yang berdiri sigap di ambang pintu kokpit langsung memberikan penghormatan militer dengan nada patuh yang teramat dalam.
"Tuan Kaelen, Nona Haena, interupsi radar menunjukkan bahwa tiga helikopter serbu tanpa identitas telah mengudara dari pangkalan swasta di koridor Bekasi, bergerak untuk melakukan intersepsi paksa jika kita mengubah haluan menuju Soekarno-Hatta."
Clarissa yang jemarinya menari secepat kilat di atas papan ketik superkomputer portabel langsung menyela, "Waktu tempuh jet kita menuju ruang udara Jakarta tersisa dua puluh menit! Sinyal jammer aktif yang kita lepas landas dari Changi tadi hanya mampu mengaburkan posisi kita dari radar komersial, tetapi helikopter militer mereka menggunakan pemindai termal inframerah spektrum luas!"
Haena mendongak sedikit, menatap langsung ke dalam manik mata elang Kaelen tanpa ada riak keraguan sedikit pun di wajah cantiknya yang bersinar sehat dengan riasan Douyin glass skin. Mental bajanya menolak untuk tunduk pada ancaman fisik.
"Jika mereka menginginkan panggung konfrontasi di landasan pacu, Kaelen, maka kita akan memberikannya," sahut Haena dengan seulas senyuman sinis yang teramat menawan namun mematikan di bibir cantiknya.
"Namun, bukan di bawah syarat yang mereka tentukan. Clarissa, hubungi Pak Baskara melalui jalur frekuensi satelit maritim yang melompati menara pengawas Jakarta."
Sementara itu, di dalam sebuah mobil sedan mewah yang melaju kencang di bawah pengawalan ketat paramiliter swasta menuju Bandara Halim, Nyonya Rosalind duduk bersandar pada kursi kulit dengan keangkuhan yang telah pulih sepenuhnya. Meskipun pakaian penjaranya baru saja diganti dengan gaun sutra mewah yang terburu-buru, sisa memar di pergelangan tangannya akibat rantai besi tidak mampu menghapuskan binar kegilaan distorsi kebencian yang mendalam di matanya.
Di sampingnya, Vanya duduk merapatkan tubuhnya pada pintu mobil, memeluk jaket denim longgarnya yang kusam dengan tangan yang bergetar hebat. Wajahnya pucat pasi menahan rasa syok yang luar biasa masif akibat eskalasi konflik yang kini melibatkan senjata militer.
"Ibu... apakah ini tidak terlalu jauh?" Vanya berbisik dengan suara parau penuh ketakutan.
"Mereka mengerahkan helikopter tempur di tengah ibu kota. Jika pemerintah pusat turun tangan, kita semua akan dieksekusi atas tuduhan makar!"
"Tutup mulutmu, Vanya penakut!" bentak Nyonya Rosalind, matanya melotot tajam dengan urat leher yang menegang.
"Pemerintah sipil tidak akan berani bergerak selama The Second Elder memegang kendali atas pasokan likuiditas perbankan internasional! Haena mengira dia bisa mengunci aset Dirgantara Corp dengan protokol digitalnya? Malam ini, begitu jetnya menyentuh aspal Halim, para serdadu itu akan menyeretnya berlutut di hadapanku! Aku sendiri yang akan mematahkan jari-jari jeniusnya yang sombong itu! Hahaha!"
Nyonya Rosalind tertawa melengking tinggi, sebuah tawa penuh kemenangan semu yang menggema mengerikan di dalam kabin mobil yang kedap suara, mengabaikan fakta bahwa mereka hanyalah bidak catur yang sewaktu-waktu bisa dikorbankan oleh para tetua dunia.
Kembali ke markas komando darat Jakarta, suasana di dalam ruang perawatan VIP rumah sakit pusat tidak kalah menegangkan. Seluruh peralatan medis elektronik di ruangan itu sempat berkedip tidak stabil akibat denyut sisa gelombang EMP sebelumnya.
Pak Baskara berdiri di dekat jendela dengan gawai komunikator militer yang terus menempel di telinganya, dahinya dipenuhi butiran keringat dingin saat mengoordinasikan sisa-sisa pengawal setia Dirgantara Corp. Di atas tempat tidur perawatan, Tuan Bramasta memaksakan tubuhnya untuk tetap tegak meskipun pelipisnya yang dibalut kain kasa tampak meremboskan darah segar akibat tekanan darah yang melonjak. Sepasang matanya yang bengkak berkilat penuh kecemasan mutlak sekaligus kebanggaan yang masif terhadap putri kandungnya.
Ibu Aminah yang duduk di kursi roda medis di samping tempat tidur tidak pernah melepaskan tasbihnya. Jemarinya yang keriput bergerak cepat, bibirnya tiada henti merapalkan doa keselamatan untuk Haena.
"Ya Allah, lindungi putriku... dia anak yang baik, jangan biarkan orang-orang zalim itu menyentuhnya..."
"Baskara..." suara Tuan Bramasta terdengar berat dan serak, namun sarat akan sisa-sisa otoritas penguasa lama.
"Aktifkan seluruh jaringan legiun veteran maritim kita di Tanjung Priok. Jika anakkku membutuhkan jalur evakuasi darat, pastikan seluruh barikade musuh di jalan tol hancur total."
"Laksanakan, Tuan Bramasta," jawab Pak Baskara tegas, matanya berkilat penuh loyalitas tanpa batas.
Tepat pada saat itu, suara jernih Haena menembus pengeras suara komunikator Pak Baskara melalui enkripsi maritim. Pak Baskara, jangan gerakkan legiun maritim ke jalan tol. Itu adalah jebakan umpan agar faksi The Second Elder bisa mengklaim bahwa aliansi kita melakukan pemberontakan bersenjata. Saya ingin Anda melakukan hal yang sebaliknya: kosongkan seluruh personel kita dari Bandara Halim dalam radius dua kilometer sekarang juga."
Pak Baskara terbelalak, menahan napasnya sesaat karena syok.
"Tapi Nona Haena! Jika kami mundur, landasan pacu akan dikuasai sepenuhnya oleh paramiliter musuh! Anda akan mendarat langsung di tengah kepungan moncong senapan mereka!"
"Kosongkan saja, Pak Baskara," perintah Haena taktis tanpa ada keraguan sedikit pun.
"Biarkan mereka membawa seluruh kekuatan mereka ke tempat terbuka. Semakin banyak mereka berkumpul di satu titik, semakin mudah bagi kita untuk menyapu mereka dari atas langit."
Di dalam kokpit jet pribadi yang kini mulai menembus awan hitam di atas langit Jawa Barat, Gavin telah mengambil alih kursi asisten pilot dengan wajah yang dipenuhi kesiagaan tempur tingkat tinggi.
"Nona Haena, tiga helikopter serbu musuh telah mengunci posisi kita! Mereka berada di ketinggian empat ribu kaki, tepat di bawah jalur penurunan kita!" seru Gavin dengan nada patuh yang teramat dalam namun sarat akan urgensi taktis.
Haena berdiri dari kursi eksekutifnya, berjalan mendekati meja konsol Clarissa dengan langkah kaki yang mantap dan punggung yang sangat tegap. Riasan wajah Douyin glass skin miliknya memantulkan cahaya merah dari layar monitor, memancarkan pesona dingin seorang dewi perang intelektual yang siap menjatuhkan hukuman mutlak.
"Clarissa, apakah sirkuit jam tanganku sudah terhubung dengan sistem kendali defensif otomatis jet ini?" tanya Haena datar.
"Sudah seratus persen tersinkronisasi, Nona!" Clarissa mengangguk cepat, jemarinya melakukan ketukan eksekusi akhir.
Haena membetulkan letak kacamata transparannya dengan gerakan yang sangat elegan, lalu mengetuk tahi lalat di bawah dagunya untuk terakhir kali seiring dengan selesainya penyusunan kalkulasi balistik di otaknya.
"Jet pribadi Arkananta Group ini dilengkapi dengan sistem penangkas rudal berbasis laser taktis (Directed Energy Weapon), bukan begitu, Kaelen?"
Kaelen Arkananta melangkah di sampingnya, seulas senyuman bangga yang teramat maskulin terukir di wajah tampannya.
"Tentu saja, Haena. Jet ini dirancang untuk menembus zona perang paling pekat di dunia."
"Bagus," ucap Haena, matanya berkilat penuh kecerdasan mutlak.
"Gavin, pertahankan kecepatan konstan dan arahkan jet ini lurus menembus formasi ketiga helikopter tersebut. Clarissa, lepaskan suar sekunder (chaff) untuk membutakan pemindai termal mereka, lalu aktifkan laser taktis untuk membakar baling-baling utama helikopter musuh secara simultan saat kita melintas di atas mereka."
Jet pribadi tersebut menukik tajam membelah kegelapan malam dengan kecepatan luar biasa. Tiga helikopter serbu faksi The Second Elder yang mengira jet tersebut akan menyerah mendadak panik ketika layar radar mereka mendadak mengalami blind-spot total akibat pelepasan suar sekunder yang dilepas Clarissa.
Sebelum pilot musuh sempat melakukan manuver menghindar, seberkas sinar laser tak kasat mata berdaya tinggi memancar dari bawah lambung jet pribadi Arkananta, memotong poros baling-baling ketiga helikopter tersebut dengan akurasi mikro-detik yang presisi.
BUM! BUM! BUM!
Tanpa perlu melepaskan satu pun amunisi ledak, ketiga helikopter serbu tersebut kehilangan kendali aerodinamisnya secara instan, berputar-putar di udara sebelum akhirnya jatuh terhempas dan meledak di area perkebunan kosong di pinggiran Jakarta, jauh dari pemukiman warga.
Di landasan pacu Bandara Halim, Nyonya Rosalind yang baru saja turun dari mobil bersama Vanya terbelalak menyaksikan tiga pendar cahaya ledakan di langit malam yang jauh. Senyuman angkuhnya seketika runtuh, digantikan oleh rasa syok yang luar biasa masif ketika jet pribadi Arkananta Group justru meluncur dengan mulus di atas aspal landasan pacu, melakukan pengereman taktis dengan keanggunan mutlak yang menantang.
Pintu hidrolik jet terbuka perlahan, menurunkan tangga lapis baja ke permukaan aspal yang basah oleh sisa hujan.
Haena melangkah turun terlebih dahulu dengan punggung yang sangat tegap, membiarkan angin malam Jakarta menerbangkan rambut lurusnya yang hitam legam. Di sampingnya, Kaelen Arkananta berjalan dengan keangkuhan seorang penguasa bayangan sejati, memancarkan aura dominan yang langsung menekan mental puluhan paramiliter musuh yang kini mengelilingi mereka dengan senjata laras panjang yang gemetar.
Haena menatap langsung ke arah Nyonya Rosalind dari balik kacamata transparannya dengan ketenangan ekstrem yang mematikan. Jari telunjuk tangan kirinya mengetuk tahi lalat di bawah dagunya, mengeluarkan seulas senyuman sinis yang teramat menawan di bibir cantiknya.
"Nyonya Rosalind," suara Haena yang jernih menggema lantang di sepanjang landasan pacu yang sunyi.
"Anda mengira telah dibebaskan oleh seorang tetua dunia. Anda tidak tahu bahwa pembebasan Anda malam ini hanyalah cara bagi saya untuk menyeret seluruh faksi The Second Elder ke dalam satu liang kubur yang sama di tanah Jakarta."
(Cliffhanger)
"Tepat setelah Haena menyelesaikan kalimatnya, sesosok pria paruh baya dengan jubah hitam formal melangkah keluar dari kegelapan hanggar di belakang Nyonya Rosalind. Pria itu memegang sebuah detonator digital yang terhubung langsung dengan sirkuit mikro-bom yang ternyata telah ditanam di dalam dada Tuan Bramasta di rumah sakit. Pria itu tersenyum dingin dan berbisik melalui mikrofon pengeras suara: "Kejeniusan hukum dan militer yang luar biasa, Nona Haena. Namun, satu langkah kaki Anda maju mendekati wanita ini, saya akan menekan tombol ini dan menghentikan jantung ayah kandung Anda untuk selamanya."