Di Oakhaven, cinta adalah racun paling murni, dan aku baru saja meminumnya hingga tetes terakhir."
Dulu, aku adalah mesin pembunuh bagi pemerintah. Kini, aku adalah Marie Vance—seorang putri bangsawan yang dibuang untuk dijadikan boneka. Di kota yang selalu menangis di bawah hujan neon ini, aku terikat kontrak darah dengan Julius Vance, monster yang menguasai aliran Nectar di jantung kota. Dia menginginkan kemampuanku untuk mengungkap konspirasi, sementara aku menginginkan kepala setiap orang yang menghancurkan hidupku. Namun, di antara ranjang yang dingin dan pengkhianatan yang mematikan, aku menyadari satu hal: kami berdua adalah predator yang saling memangsa, hingga tak ada lagi yang tersisa kecuali dendam yang manis... dan cawan hitam yang siap menampung darah kami.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neef, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayang-bayang di Ambang Fajar
*"Apa kau pikir dengan mematikan jam beker ini, kau bisa menghentikan waktu yang terus berputar menuju kehancuranmu sendiri, Marie?"*
Suara itu berat, tenang, namun memiliki ketajaman yang mampu membelah keheningan pagi yang menyesakkan. Aku terkesiap, mematikan jam beker yang masih berbunyi nyaring, lalu menoleh ke arah jendela kamar yang sedikit terbuka. Di sana, berdiri sesosok pria dengan setelan jas hitam yang tampak terlalu kaku untuk dunia yang baru saja kupijak—atau yang kupikir adalah duniaku yang lama. Julius berdiri di sana, menatapku bukan dengan tatapan pria yang baru saja menyeberangi labirin dimensi bersamaku, melainkan dengan tatapan pria asing yang memegang kunci hidup dan matiku.
Aku meraba lenganku. Bekas luka rasi bintang itu masih ada, perih dan panas. Aku tidak sedang bermimpi. Dunia ini... dunia asalku yang dulu penuh dengan kebisingan kota, polusi, dan realitas yang membosankan, kini terasa seperti panggung teater yang dibangun di atas fondasi sihir yang tersembunyi.
*"Kau tidak seharusnya berada di sini,"* kataku, suaraku bergetar saat aku turun dari ranjang. Lantai kayu yang dingin di bawah kakiku terasa sangat nyata. *"Bagaimana kau bisa tahu di mana aku tinggal? Bagaimana kau bisa kembali ke dunia ini?"*
Julius masuk ke dalam kamar tanpa permisi, langkahnya mantap, menciptakan suara gema yang aneh di ruangan yang seharusnya sunyi. Dia membawa aroma kayu manis dan logam dingin—aroma yang selalu mengikuti Julius di setiap inkarnasi yang kami jalani. *"Ada pertanyaan yang salah, Marie. Pertanyaan yang benar bukan 'bagaimana', melainkan 'mengapa'. Mengapa kita selalu kembali ke titik nol? Mengapa setiap kali kita mencoba menghancurkan segalanya, kita justru terbangun di tempat yang sama, dengan kontrak yang sama, dan dengan kebencian yang sama?"*
Dia berhenti tepat di hadapanku. Matanya—mata obsidian yang menyimpan ribuan tahun kesedihan—menatapku dengan intensitas yang membuatku sulit bernapas. *"Kita memiliki kontrak yang harus ditandatangani hari ini. Perusahaan keluarga Vance sedang berada di ujung tanduk, dan satu-satunya cara untuk menyelamatkan warisan ayahmu adalah dengan menyatukan Syndicate dan Vance melalui pernikahan. Kau tahu itu. Aku tahu itu. Dan takdir, tampaknya, sangat menikmati lelucon ini."*
*Pernikahan.* Kata itu menggantung di udara, bukan sebagai komitmen suci, melainkan sebagai rantai besi yang dipaksakan. Aku teringat semua episode yang telah kulalui—semua pertumpahan darah, semua sihir yang terbuang, semua pengorbanan yang sia-sia. Jika ini adalah pengulangan, apakah aku akan melakukan hal yang sama?
*"Aku tidak akan menandatanganinya,"* kataku, suaraku kini lebih stabil. *"Aku tidak akan membiarkan diriku menjadi alat bisnis lagi, Julius. Tidak peduli berapa kali kau memutar balik waktu, tidak peduli berapa kali kau menghapus ingatanku. Aku bukan lagi Marie Vance yang naif yang bisa kau kendalikan dengan ancaman ekonomi."*
Julius tersenyum—sebuah senyum yang tipis, dingin, dan sangat menakutkan. *"Oh, Marie. Kau pikir kau punya pilihan? Tanpa kontrak ini, ayahmu—ayahmu yang sebenarnya, yang kau cari-cari di setiap sudut dimensi—tidak akan pernah ditemukan. Dia sedang menunggu di balik kontrak ini. Jika kau menolaknya, kau membiarkannya terkunci selamanya di ruang hampa yang kau ciptakan sendiri di Episode 18."*
Kata-katanya memukulku lebih keras daripada pukulan monster besi mana pun. Dia tahu kelemahanku. Dia tahu bahwa meskipun aku membencinya, aku lebih membenci rasa bersalah karena membiarkan ayah Marie menderita.
*"Kau monster,"* bisikku.
*"Dan kau adalah pasangan yang tepat untuk monster sepertiku,"* balasnya singkat. Dia meletakkan sebuah map kulit di meja riasku. *"Tanda tangani sebelum matahari mencapai titik tertingginya. Jika tidak, Oakhaven di dunia sana—dunia asal yang kau ingat—akan hancur total, dan setiap jiwa yang pernah kau kenal di sana akan musnah selamanya. Itu bukan ancaman, Marie. Itu adalah konsekuensi dari sejarah yang kau coba tulis ulang."*
Dia berbalik dan pergi, meninggalkan aroma dingin di belakangnya. Aku terdiam sendirian di kamar itu. Aku menatap map itu dengan tangan gemetar. *Apakah aku harus melakukannya? Apakah ini memang satu-satunya jalan?*
Aku keluar dari kamar, berniat mencari udara segar, namun rumah yang dulu kukenal sebagai tempat perlindungan kini terasa seperti museum barang-barang antik yang menyimpan kenangan penyihir kuno. Setiap lukisan di dinding, setiap perabot kayu, kini tampak memiliki ukiran sihir yang samar-samar terlihat jika aku fokus. Dunia ini... dunia asalku... sebenarnya hanyalah cangkang lain dari Oakhaven.
Aku memutuskan untuk tidak menandatangani kontrak itu sekarang. Aku melangkah keluar dari rumah, berjalan menuju taman belakang. Di sana, aku melihat sesuatu yang membuat darahku membeku. Di bawah pohon ek besar, terdapat sebuah lingkaran sihir yang digambar dengan kapur putih—lingkaran yang sama yang digunakan untuk mengeksekusi para penduduk di reruntuhan Ibukota Kuno.
Ada seseorang yang duduk di sana. Seorang wanita tua dengan mata tertutup kain hitam.
*"Kau datang terlambat, Pewaris,"* suara wanita itu terdengar sangat akrab. Dia adalah wanita dari kawah, wanita yang mengenalku sebagai Marie Vance.
*"Apa yang kau lakukan di sini?"* tanyaku, mundur selangkah.
*"Aku membawa pesan dari mereka yang sudah mati,"* katanya. *"Mereka bilang, kontrak itu bukan tentang bisnis. Itu tentang penyelarasan. Julius bukan ingin menikahimu untuk uang. Dia ingin menikahimu untuk mengunci detak jantungmu secara permanen di dunia ini, agar kau tidak bisa lagi melompat ke dimensi lain. Dia ingin memenjarakanmu dalam tubuh manusia murni ini selamanya."*
*"Kenapa dia menginginkan itu?"*
Wanita itu tertawa, suara tawa yang hampa. *"Karena dia takut, Marie. Dia takut bahwa di kehidupan berikutnya, kau akan melupakannya. Dia lebih suka kau hidup sebagai manusia biasa yang menderita bersamanya, daripada membiarkanmu menjadi entitas sihir yang tak terjangkau olehnya."*
Kepalaku kembali berdenyut. Kilasan ingatan muncul: Julius yang menangis di ruang perpustakaan, memohon agar aku tidak pergi. Julius yang bersumpah untuk mengunci takdir kami agar kami tidak akan pernah dipisahkan oleh dimensi apa pun.
*Apakah itu cinta? Atau obsesi gila yang telah berlangsung selama ribuan tahun?*
Aku tidak menunggu jawaban. Aku berlari menjauh dari wanita itu, keluar dari halaman rumah, dan berlari menuju pusat kota. Aku harus mencari jawaban yang tidak diberikan oleh Julius. Aku harus pergi ke perpustakaan tua di tengah kota—tempat di mana aku dulu sering menghabiskan waktu, sebelum aku tahu bahwa aku adalah bagian dari sesuatu yang jauh lebih besar.
Saat aku sampai di perpustakaan, tempat itu terlihat sunyi. Namun, saat aku masuk ke bagian arsip kuno, aku menemukan sesuatu yang mengejutkan. Di meja tengah, ada buku harian yang terbuka. Tulisan tangannya... itu tulisanku sendiri. Tapi aku tidak pernah menulisnya di dunia ini.
*Tanggal: Tidak diketahui.*
*Isi: Hari ini adalah pengulangan ke-1.042. Julius telah menemukan cara untuk membuatku tetap di sini. Dia telah menghapus ingatanku lagi. Tapi dia tidak tahu bahwa setiap kali aku kembali, sedikit dari ingatanku tertinggal. Aku tahu cara mematahkan kontrak itu. Aku harus menyatukan detak jantung ini dengan detak jantungnya di tempat di mana semuanya dimulai—bukan di Oakhaven, tapi di ruang antara dimensi.*
Aku menutup buku itu dengan napas tersengal. *1.042 pengulangan?* Kami telah terjebak selama itu?
Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar di belakangku. Aku berbalik, siap untuk menghadapi siapapun, namun yang kulihat adalah seseorang yang sama sekali tidak kuduga.
Seorang gadis kecil, mungkin berumur sepuluh tahun, berdiri di sana dengan mata yang bersinar emas. Dia memegang sebuah pedang pendek yang terbuat dari kaca transparan.
*"Kau salah membaca, Kakak,"* suara gadis itu terdengar sangat dewasa. *"Ini bukan pengulangan ke-1.042. Ini adalah pengulangan terakhir. Jika kau menandatangani kontrak itu hari ini, segel akan terbuka dan dunia ini akan kembali menjadi dunia sihir murni. Tapi kau... kau akan hilang."*
*"Siapa kau?"* tanyaku, mencoba meraih sesuatu untuk membela diri.
*"Aku adalah ingatanmu yang kau buang di Episode 1,"* katanya, melangkah maju. *"Aku adalah bagian dari dirimu yang tahu bahwa untuk memenangkan permainan ini, kau tidak bisa menang sebagai Marie Vance. Kau harus menang sebagai dirimu yang asli—sebelum kau terbangun di tubuh yang menyedihkan ini."*
Dia mengulurkan pedang kaca itu padaku. *"Ambil ini. Ini adalah satu-satunya senjata yang bisa memotong kontrak sihir. Tapi ingat, begitu kau menggunakannya, kau tidak akan bisa kembali ke kehidupan normalmu. Kau akan kehilangan tubuhmu, kau akan kehilangan identitasmu sebagai Marie, dan kau akan kembali menjadi dirimu yang dulu—yang tidak memiliki empati terhadap siapapun, termasuk Julius."*
Aku menatap pedang kaca itu. *Kehilangan tubuh Marie? Kehilangan empati?*
*"Jika aku tidak mengambilnya?"*
*"Maka Julius akan terus memaksamu dalam kontrak ini sampai dunia benar-benar habis terbakar oleh ketidakstabilan sihir yang kau bawa."*
Gadis itu menatapku dengan tajam. *"Kau punya waktu sepuluh menit sebelum Julius datang ke perpustakaan ini. Dia sedang dalam perjalanan. Dia sudah curiga kau tidak ada di rumah."*
Aku meraih pedang kaca itu. Dingin. Sangat dingin. Saat jemariku menyentuh gagangnya, aku merasa sensasi yang luar biasa—sihir murni yang selama ini tertahan di dalam tubuh Marie mulai mendesak keluar, mencoba mengambil alih kendali.
*BOOM!*
Pintu perpustakaan hancur. Julius berdiri di sana dengan wajah yang sangat marah. Namun, saat dia melihat pedang di tanganku, kemarahannya berubah menjadi ketakutan yang mendalam.
*"Marie, letakkan itu!"* teriaknya, langkahnya terhenti. *"Kau tidak tahu apa yang kau lakukan! Itu bukan pedang biasa! Itu adalah artefak pemutus takdir! Jika kau menggunakannya, kita tidak akan pernah bertemu lagi di kehidupan manapun!"*
*"Mungkin itu yang kita butuhkan, Julius,"* kataku, suaranya tenang, dingin, dan penuh dengan determinasi yang baru. *"Mungkin kita perlu berhenti bertemu agar dunia bisa bernapas."*
Julius berlari ke arahku, mencoba merampas pedang itu, namun gadis kecil itu—bagian dari ingatanku—menghentikannya dengan satu kibasan tangan yang menciptakan dinding cahaya.
*"Jangan ganggu dia, Julius,"* kata gadis itu. *"Dia sedang membuat pilihan. Pilihan yang seharusnya sudah dia buat sejak lama."*
Aku menatap Julius. Di matanya, aku melihat seribu tahun kenangan—cinta, kebencian, pengkhianatan, dan janji-janji yang tak terpenuhi. Aku melihat sosok yang paling kusayangi sekaligus paling kubenci di seluruh alam semesta.
*"Julius,"* bisikku, air mata jatuh ke pedang kaca itu. *"Jika ini adalah perpisahan, aku ingin kau tahu satu hal. Aku tidak menyesal pernah bertemu denganmu."*
Aku mengangkat pedang itu tinggi-tinggi. Cahaya emas menyelimuti seluruh perpustakaan. Gadis kecil itu menghilang, terserap ke dalam pedang. Julius berteriak, mencoba menerobos dinding cahaya, namun sudah terlambat.
Aku menghujamkan pedang itu ke udara, memotong benang takdir yang mengikatku dengan dunia ini, kontrak ini, dan pria di depanku.
*Krak!*
Suara itu bukan suara kaca pecah. Itu suara realitas yang terbelah.
Dunia di sekitarku mulai luruh menjadi debu. Perpustakaan, Julius, rumahku, semuanya mulai menghilang ke dalam kegelapan. Aku merasa diriku terangkat keluar dari tubuh Marie Vance, merasa diriku melayang di antara dimensi.
Untuk sesaat, aku melihat semuanya: Oakhaven, Lembah Nisan, kawah, dan reruntuhan kota. Semuanya adalah bagian dari satu siklus besar. Dan sekarang, siklus itu telah patah.
Aku terbangun di ruang yang serba putih. Tidak ada suara. Tidak ada waktu. Hanya ada kesunyian.
Di depanku, sosok ayah Marie—pria bertopeng burung hantu—berdiri dengan wajah yang tampak sangat kecewa namun juga sangat bangga.
*"Kau berhasil,"* bisiknya. *"Kau telah memecahkan segelnya. Tapi sekarang, Marie... atau siapapun dirimu yang sebenarnya... kau harus menghadapi konsekuensinya. Tanpa kontrak, tanpa tubuh, tanpa Julius, dan tanpa dunia tempat berpulang. Apa yang akan kau lakukan sekarang?"*
Aku melihat tanganku. Aku tidak lagi memiliki tubuh manusia. Aku adalah cahaya. Aku adalah energi. Aku adalah sesuatu yang bahkan tidak memiliki nama.
*"Aku akan membangun dunia baru,"* jawabku, suaraku bergema di seluruh ruang hampa itu. *"Dunia di mana tidak ada yang perlu terikat dengan kontrak. Dunia di mana sihir bukanlah alat, tapi napas."*
Ayah Marie tersenyum, dan sosoknya mulai memudar. *"Semoga berhasil. Tapi ingat, di setiap dunia yang kau bangun, selalu ada harga yang harus dibayar."*
Dan kemudian, aku merasakan tarikan yang sangat kuat. Aku tidak tahu ke mana aku pergi, tapi aku tahu satu hal: ini bukan lagi cerita Marie Vance. Ini adalah ceritaku sendiri.
Namun, di tengah-tengah kehampaan itu, aku mendengar satu suara lagi. Suara yang sangat familiar.
*"Marie... tunggu aku..."*
Itu suara Julius. Dia tidak hilang. Dia ada di suatu tempat, di antara dimensi ini, mengejarku.
*Permainan belum berakhir, besty,* bisik sebuah suara di pikiranku.
Aku terbangun di tengah padang rumput yang tak berujung, di bawah dua bulan yang bersinar merah dan biru. Aku tidak memiliki ingatan, tidak memiliki kekuatan, dan tidak memiliki Julius. Aku benar-benar sendirian di dunia yang baru.
Dan di kejauhan, aku melihat sebuah kota yang terbakar, seolah-olah perang baru saja usai di sana.