Penyatuan dua dinasti bisnis raksasa melalui pernikahan mendadak Fank Manafe dan Renata Batistuta memaksa Ezzvaro dan Gabriel terjebak dalam satu atap sebagai saudara tiri.
Namun, di balik status formal itu, tersimpan sejarah kelam: mereka adalah mantan kekasih yang berpisah dengan luka menganga akibat pengkhianatan dan kecemburuan fatal tiga tahun lalu.
Ketika gairah terlarang dan dendam masa lalu mulai membakar batasan moral, mereka terseret ke dalam konspirasi bisnis yang berbahaya.
Di tengah desingan peluru dan pengkhianatan keluarga, Ezzvaro harus memilih antara melindungi wanita yang paling ia benci atau membiarkan dunia menghancurkannya.
Di dunia di mana "cinta adalah kelemahan dan kekuasaan adalah segalanya," kelebihan/melampaui batas akan memaksa mereka menghadapi pilihan tersulit: bersatu dalam kehancuran atau saling menghancurkan demi bertahan hidup 🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#Bab 34
Udara di dalam basement itu semakin pekat. Aroma keringat, kulit sarung tinju, dan sisa-sisa adrenalin yang mengendap menciptakan atmosfer yang menyesakkan. Di sudut ruangan, di bawah lampu gantung yang bergoyang pelan, sosok pria yang tadi pagi dihina oleh Zendaya sebagai "hama berantai anjing" akhirnya membuka suara.
Dare, pria dengan tato iblis yang merambat hingga ke lehernya, menyalakan sebatang rokok. Asapnya mengepul, menutupi ekspresi wajahnya yang sinis. Ia sejak tadi hanya menyimak perdebatan antara Rex dan Lucas, namun kini ia merasa perlu memberikan "solusi" yang lebih instan dan merusak.
"Kenapa tidak ditiduri saja, Rex?" ucap Dare dengan nada santai, seolah-olah sedang membicarakan strategi bisnis biasa.
Hening sejenak. Suara samsak yang tadi dipukul Rex berhenti seketika.
Dare terkekeh, memperlihatkan deretan giginya yang tidak rata. "Kujamin gadis sesombong dia langsung nangis darah kalau harga dirinya direnggut. Gadis seperti Zendaya Manafe... dia merasa berkuasa karena dia pikir tubuh dan martabatnya tidak tersentuh. Lebih baik dibuat mendesah saja, Rex. Hancurkan dia dari dalam. Buat dia memohon padamu di atas ranjang, lalu buang dia seperti sampah. Itu cara tercepat untuk melihat Ratu London itu merangkak di kakimu."
Rex mematung. Tangannya yang masih terbungkus kain handwrap mengepal kuat. Matanya menatap Dare dengan intensitas yang sulit dibaca. Ada bagian dari dirinya yang merasa muak dengan saran murahan itu, namun ada bagian gelap lainnya—bagian yang selama ini ditekan oleh aturan kakeknya—yang mulai mempertimbangkan betapa efektifnya kehancuran total seperti itu.
Lucas, yang sejak tadi bersandar di ring, terdiam. Ia tidak langsung menolak atau menyetujui. Matanya beralih dari Dare menuju Rex, mengamati reaksi sahabatnya. Sebagai orang yang memiliki fobia sentuhan, saran Dare terdengar seperti neraka bagi Lucas. Namun, ia tahu bagaimana cara kerja dunia mereka. Di lingkaran elit ini, kehancuran sosial seringkali dimulai dari skandal di balik pintu tertutup.
"Rencana sempurna," gumam Lucas tiba-tiba. Suaranya datar, namun ada nada dingin yang menyayat.
Rex menoleh cepat ke arah Lucas. "Rencana sempurna? Kau baru saja bilang kau mual berada di dekatnya, Lucas. Sekarang kau setuju dengan saran kotor Dare?"
Lucas menegakkan tubuhnya. Ia berjalan mendekati Rex, langkahnya seringan predator. "Aku tidak bilang aku yang akan melakukannya, Rex. Tapi aku setuju bahwa kehancuran Zendaya harus bersifat personal. Jika kau ingin dia bertekuk lutut, kau tidak bisa hanya menggunakan nilai sekolah atau ancaman skorsing. Kau harus menghancurkan apa yang dia banggakan: kendali atas dirinya sendiri."
Rex menyipitkan mata. "Lalu apa rencanamu, Lucas? Kau bilang kau punya cara?"
Lucas tersenyum miring—sebuah senyuman yang jarang ia perlihatkan, senyuman yang menandakan bahwa sang Raja Pesta sudah menemukan "permainan" baru yang menarik.
"Ikut saja rencananya, Rex," sahut Lucas misterius. "Kau ingin dia hancur, bukan? Kau ingin dia kehilangan keangkuhannya? Aku akan mengatur panggungnya. Pesta dansa musim gugur nanti bukan hanya soal musik dan gaun mahal. Itu akan menjadi malam di mana Zendaya Manafe-Batistuta menyadari bahwa namanya tidak bisa melindunginya dari kegelapan yang kita ciptakan."
"Apa maksudmu?" tuntut Rex.
"Kujamin dia akan bertekuk lutut," lanjut Lucas tanpa menjawab pertanyaan Rex secara langsung. "Aku akan masuk ke wilayahnya. Aku akan membuatnya merasa bahwa dialah yang memegang kendali, padahal sebenarnya dia sedang berjalan menuju lubang buaya. Dan saat saatnya tiba... kau yang akan memberikan pukulan terakhirnya, Rex. Kau yang akan melihat air matanya."
Dare tertawa puas dari sudut ruangan. "Nah, itu baru namanya rencana. Aku suka gaya mainmu, Lucas. Jangan lupa rekam sedikit jika dia mulai memohon."
"Tutup mulutmu, Dare," bentak Rex dengan nada yang tiba-tiba meninggi. "Ini bukan soal video murahan. Ini soal keadilan bagi semua orang yang dia injak-injak."
Rex mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa motifnya murni. Bahwa ia ingin menjatuhkan Zendaya demi mengembalikan ketenangan sekolah. Namun, di dalam kepalanya, bayangan Zendaya yang tersenyum tulus pada nenek tua di lampu merah tadi pagi terus berputar-putar, merusak fokusnya. Ada pertentangan batin yang hebat; ia membenci keangkuhan gadis itu, namun ia juga merasa terusik oleh misteri yang menyelimutinya.
"Kau terlalu tegang, Rex," Lucas menepuk bahu Rex—sebuah sentuhan yang sangat singkat karena Lucas langsung menarik tangannya kembali dengan wajah yang sedikit kaku. "Biarkan aku yang bekerja. Kau cukup berdiri di atas singgasana dan saksikan bagaimana ratu itu jatuh ke tanah."
...----------------...
Matahari London menggantung terik di atas cakrawala, menyinari lapangan olahraga Saint Jude’s Elite Academy yang luasnya menyamai stadion profesional.
Pagi itu, jadwal olahraga kelas Zendaya digabungkan dengan kelas Rex karena renovasi gimnasium utama. Dua kutub yang saling bertolak belakang kini dipaksa berbagi oksigen di bawah pengawasan satu guru olahraga yang lebih sibuk mencatat waktu lari daripada memperhatikan dinamika sosial yang bergejolak.
Zendaya berdiri di pinggir lapangan dengan seragam olahraga bermerek yang pas di tubuhnya, tampak tetap elegan meski keringat tipis membasahi pelipisnya. Di sampingnya, Cristin dan Blora tertawa melengking, suara mereka membelah udara dan menarik perhatian semua orang.
Sasaran mereka hari ini adalah seorang siswi beasiswa dari kelas Zendaya bernama Maya. Gadis malang itu berdiri mematung di dekat gawang, wajahnya pucat pasi sementara tangan gemetarnya mencoba menutupi bagian belakang celana olahraga putihnya yang kini ternoda merah pekat.
"Oh my God, lihat itu!" Cristin berseru sambil menunjuk dengan jari yang dipoles kuku merah muda. "Apa dia baru saja membunuh seseorang di balik celananya? Baunya sampai ke sini, menjijikkan!"
Blora menimpali dengan tawa mengejek. "Itu bukan darah pahlawan, Cristin. Itu darah kemiskinan. Apa kau tidak mampu membeli pembalut yang layak, Maya? Atau kau memang suka memamerkan 'kebocoran' itu pada semua pria di sini?"
Zendaya tidak tertawa sekeras kedua temannya, namun ia berdiri di sana dengan senyum sinis yang merendahkan. Ia memutar-mutar peluit di jarinya, menatap Maya seolah gadis itu adalah serangga yang mengganggu pemandangan estetikanya.
"Singkirkan benda itu dari lapangan, Maya," ucap Zendaya dingin. "Kau merusak kebersihan rumput ini dengan kotoranmu."
Maya mulai terisak, air mata jatuh di pipinya yang merah padam karena malu. Ia ingin lari, namun kakinya terasa seperti terpaku di tanah.
Di sisi lain lapangan, Rex Hernandez baru saja menyelesaikan sesi lari estafetnya. Napasnya stabil, namun matanya yang tajam langsung menangkap kerumunan di pojok gawang. Ia melihat Maya yang hancur dan Zendaya yang berdiri seperti ratu kejam di atas penderitaan orang lain.
Rex melangkah maju. Kehadirannya seketika membuat suasana mendingin. Teman-teman sekelasnya yang tadi ikut menonton dalam diam mulai memberikan jalan bagi sang cucu pemilik sekolah.
"Menjijikkan," desis Rex saat ia sudah berdiri hanya beberapa meter dari geng Zendaya.
Cristin dan Blora langsung terdiam, sedikit terintimidasi oleh aura Rex. Namun Zendaya tetap tenang. Ia menaikkan satu alisnya, menatap Rex dari atas ke bawah.
"Kau dengar itu, Maya? Bahkan Pangeran Rex pun merasa kau menjijikkan," ucap Zendaya, memutarbalikkan kata-kata Rex.
"Bukan dia yang menjijikkan, Zendaya. Tapi kalian," sahut Rex dengan suara berat yang penuh penekanan. Ia menatap Zendaya dengan kebencian yang murni. "Menakjubkan... bagaimana kau bisa menertawakan sesuatu yang merupakan kodratmu sendiri. Kau juga seorang wanita, bukan? Atau hatimu sudah membatu sampai kau lupa bagaimana rasanya menjadi manusia?"
Zendaya tertegun sejenak, namun dengan cepat ia menguasai diri. Ia membalikkan badannya secara perlahan, melangkah mendekati Rex hingga jarak mereka hanya tersisa satu jengkal.
"Apa maksudmu, Pangeran Rex?" tanya Zendaya dengan nada menantang. Suaranya lembut namun mengandung racun. "Kenapa kau begitu emosional? Apa kau sedang bosan dengan citra 'Anak Baik' milikmu? Mau bergabung dengan kegiatan kami dan belajar cara mendisiplinkan orang-orang kelas bawah ini?"
Rex tidak bergeming. Tatapannya tetap mengunci mata Zendaya. "Kegiatanmu bukan disiplin. Itu sampah."
Zendaya tersenyum lebar—senyum yang tidak mencapai matanya. Tiba-tiba, dengan gerakan yang sangat tidak terduga dan kasar, ia mengangkat tangannya dan memberikan jari tengah tepat di depan wajah Rex.
"Simpan khutbah mu untuk gereja hari Minggu, Rex. Di sini, aku yang menentukan siapa yang boleh berdiri tegak dan siapa yang harus merangkak," desis Zendaya.
Cristin dan Blora memekik kaget, tak percaya Zendaya berani melakukan hal sevulgar itu pada Rex Hernandez. Namun Rex tidak marah. Ia justru memberikan sebuah smirk—senyum miring yang sangat tipis dan penuh arti.
Rex menatap jari tengah Zendaya, lalu beralih kembali ke mata gadis itu. Di dalam kepalanya, ia membayangkan rencana yang sudah ia susun bersama Lucas di markas tadi malam. Kata-kata Dare tentang "menghancurkan harga diri" Zendaya kembali terngiang, dan untuk pertama kalinya, Rex merasa saran itu terdengar sangat masuk akal.
Tunggu saja waktu yang tepat, Manafe, batin Rex sambil terus menatap Zendaya dengan senyum miringnya. Aku akan membuatmu menangis hebat. Kau sangat sombong karena merasa tidak ada yang bisa menyentuhmu, tapi kau tidak tahu siapa yang akan menghancurkan hidupmu nanti. Saat kau jatuh, aku akan memastikan tidak ada satu orang pun di London ini yang mau memegang tanganmu.
"Kau benar-benar butuh bantuan, Zendaya," ucap Rex pelan, lebih seperti sebuah vonis daripada nasihat.
Ia kemudian melepas jaket olahraganya yang mahal dan melemparnya ke arah Maya. "Pakai ini untuk menutupi bagian belakangmu. Pergilah ke UKS, aku akan bicara pada guru agar kau diizinkan pulang."
Maya menangkap jaket itu, menatap Rex dengan tatapan penuh rasa syukur sebelum akhirnya lari meninggalkan lapangan.
Zendaya mendengus, memutar bola matanya dengan bosan. "Pahlawan kesiangan," gumamnya. Ia kembali berbalik ke arah teman-temannya. "Ayo pergi. Pemandangannya sudah tidak menarik lagi sejak ada bau-bau kemunafikan di sini."
Zendaya, Cristin, dan Blora kembali berjalan menjauh, sesekali masih melontarkan hinaan pada siswi-siswi lain yang mereka lewati. Zendaya tertawa keras, seolah ingin menunjukkan pada Rex bahwa kata-katanya tidak berpengaruh sedikit pun padanya.
Rex berdiri di tengah lapangan, menatap punggung Zendaya yang menjauh. Ia merasa muak hingga ke ulu hati. Setiap tawa Zendaya terasa seperti paku yang menusuk telinganya. Ia meraba ponsel di sakunya, mengirimkan pesan singkat pada Lucas Leiva.
[Rex: Jalankan rencananya. Aku ingin dia hancur.]
Rex tahu, dengan mengirim pesan itu, ia telah memulai sebuah kehancuran yang tidak akan bisa ditarik kembali. Ia akan menguliti semua keangkuhan Zendaya, satu per satu, sampai gadis itu menyadari bahwa di balik nama besar Manafe-Batistuta, dia hanyalah seorang manusia yang rapuh dan bisa dihancurkan.
Angin berhembus kencang, menerbangkan debu lapangan. Di antara dua kubu yang saling membenci ini, sebuah badai besar sedang bersiap untuk meluluhlantakkan segalanya. Zendaya tidak sadar bahwa pangeran yang baru saja ia beri jari tengah itu adalah orang yang sedang memegang kunci menuju neraka pribadinya.
🌷🌷🌷