"Garis ini adalah batas antara hakmu dan dosamu. Melangkah satu senti saja, kau kehilangan segalanya."
Sepuluh tahun lalu, Sasmita Janardana diusir dalam keadaan hancur. Fitnah keji dari Rena, sang ibu tiri, membuatnya kehilangan kasih sayang ayah dan haknya sebagai putri tunggal. Ia dibuang ke luar negeri, sementara Rena dan putranya, Vano, berpesta di atas penderitaan mendiang ibu Sasmita.
Kini, Sasmita kembali setelah kematian misterius ayahnya. Ia tidak datang untuk menangis. Ia datang dengan sebuah wasiat kuno yang sah secara hukum: Rumah mewah Janardana harus dibagi dua secara mutlak.
Sasmita tidak mengusir mereka. Ia justru melakukan penyiksaan yang lebih lambat: Memaksa musuh-musuhnya hidup di bawah atap yang sama, namun terpisah oleh garis merah yang tidak boleh dilintasi.
Di sisi kiri, Rena mulai kehilangan kewarasannya. Di sisi kanan, Sasmita mulai membongkar brankas rahasia yang menyimpan bukti pembunuhan ibunya. Di tengah persaingan panas itu, muncul Bramasta, pengacar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1: GARIS MERAH DI ATAS MARMER
Malam itu, Jakarta diguyur hujan yang tidak biasa. Petir menyambar silih berganti, seolah-olah langit sedang mengamuk, mencoba meruntuhkan angkuhnya tembok-tembok beton di kawasan elite Menteng. Di depan gerbang besi raksasa dengan ukiran huruf 'J' yang berlapis emas, seorang wanita berdiri mematung. Namanya Sasmita Janardana. Sepuluh tahun lalu, di bawah hujan yang sama, ia diseret keluar dari gerbang ini oleh satpam rumahnya sendiri atas perintah ayahnya.
Hari ini, ia kembali. Bukan sebagai pengemis, bukan pula sebagai peminta maaf.
"Nona, apakah kita harus menunggu pengacara pihak lawan hadir dulu?" suara Bramasta, pria yang selama tiga tahun ini menjadi tangan kanan Sasmita di luar negeri, memecah kesunyian di dalam mobil mewah yang terparkir di depan gerbang.
Sasmita memperbaiki letak kacamata hitamnya, meski hari sudah gelap. Matanya yang tajam menatap lurus ke arah balkon lantai dua—kamar utama yang dulu milik ibunya. "Tidak perlu, Bram. Penjahat tidak perlu diberi peringatan sebelum eksekusi dimulai. Buka gerbangnya."
Bramasta mengangguk. Ia menempelkan sebuah kartu akses khusus ke mesin sensor. Seketika, gerbang raksasa itu berderit, terbuka perlahan seolah menyambut kepulangan sang pemilik sah yang telah lama hilang.
Mobil melaju pelan menyusuri jalanan paving blok yang panjang, melewati taman-taman yang tertata rapi namun terasa mati. Di ujung jalan, mansion keluarga Janardana berdiri megah dengan lampu-lampu kristal yang menyala terang dari balik jendela besar. Di dalam sana, Sasmita tahu, sebuah pesta kecil atau mungkin peringatan kematian ayahnya sedang berlangsung.
Begitu pintu mobil terbuka, Sasmita tidak menunggu dipayungi. Ia melangkah dengan sepatu hak tinggi berwarna merah darah, membelah rintik hujan dengan dagu tegak. Ia mendorong pintu jati utama dengan kedua tangannya.
BRAKK!
Suara dentuman pintu yang menghantam dinding membuat seisi ruangan yang tadinya dipenuhi gumaman doa dan isak tangis palsu mendadak senyap. Puluhan pasang mata menoleh ke arah pintu. Di tengah ruangan, duduk seorang wanita paruh baya dengan gaun hitam berbahan brokat mahal. Itu adalah Rena Janardana, wanita yang dulu merupakan sekretaris ibunya, namun berhasil merangkak naik ke tempat tidur ayahnya.
"Siapa yang berani mengacaukan acara peringatan tujuh hari kematian Mas Wirya?!" teriak Rena sambil berdiri dengan wajah merah padam.
Sasmita melangkah masuk. Setiap ketukan sepatunya di atas lantai marmer terdengar seperti detak jam kematian bagi Rena. Ia melepaskan kacamata hitamnya, memperlihatkan tatapan mata yang sedingin es kutub.
"Lama tidak berjumpa, Tante Rena. Sepertinya kursi nyonya rumah sangat nyaman bagimu, sampai-sampai kamu lupa siapa yang membangun pondasi rumah ini," suara Sasmita mengalun rendah namun menusuk.
Rena terkesiap. Wajahnya yang penuh riasan tebal itu mendadak pucat pasi. "Sasmita? Kamu... bagaimana bisa kamu masuk ke sini? Kamu sudah dibuang! Kamu tidak punya hak lagi atas nama Janardana!"
Dari sudut ruangan, seorang pemuda seumuran Sasmita berlari mendekat. Itu adalah Vano, putra kesayangan Rena yang selalu dimanja. "Heh, perempuan jalang! Pergi dari sini! Ini rumah kami! Jangan harap kamu bisa mengemis harta Papa!"
Sasmita hanya melirik Vano sekilas, seolah pemuda itu hanyalah debu yang mengganggu pandangannya. Ia kemudian menoleh ke arah Bramasta yang masuk membawa koper kulit hitam.
"Bram, bacakan poin utamanya. Aku tidak ingin membuang waktu mendengarkan gonggongan anjing," ujar Sasmita dingin.
Bramasta membuka koper tersebut dan mengeluarkan sebuah dokumen tebal dengan segel merah resmi dari pengadilan dan notaris negara. "Perhatian semuanya. Saya Bramasta, kuasa hukum Nona Sasmita Janardana. Berdasarkan Surat Wasiat Tambahan yang dibuat oleh almarhum Tuan Wirya Janardana dua bulan sebelum beliau meninggal, serta didukung oleh Sertifikat Hak Milik No. 001 yang tercatat atas nama almarhumah Ibu Ratna Pratiwi—ibu kandung Nona Sasmita—maka diputuskan hal-hal sebagai berikut."
Rena mencoba merebut kertas itu, namun Bramasta dengan sigap menghindar.
"Poin pertama," lanjut Bramasta, suaranya bergema di seluruh ruangan. "Seluruh aset tanah kediaman Janardana adalah milik sah Sasmita Janardana sebagai pewaris tunggal dari garis keturunan Pratiwi. Namun, karena Tuan Wirya memberikan hak guna bangunan kepada Saudara Rena selama ia masih menyandang status janda, maka rumah ini tidak bisa disita sepenuhnya saat ini."
Rena bernapas lega sesaat, ia tersenyum sinis. "Dengar itu? Aku tetap berhak tinggal di sini!"
"Belum selesai, Tante," potong Sasmita. Ia mengambil sebuah gulungan besar lakban berwarna merah mencolok dari dalam koper Bramasta. "Karena rumah ini milikku, tapi kamu punya hak guna, maka pengadilan memberikan solusi yang adil. Pembagian Wilayah secara Mutlak."
Sasmita berjongkok di tengah ruang tamu yang luas itu. Dengan gerakan yang pasti, ia menempelkan ujung lakban merah ke lantai marmer yang mengilap, tepat di garis tengah yang membagi pintu utama dengan tangga besar.
Sreeeeeeeeeeet!
Bunyi lakban yang ditarik panjang itu merobek keheningan ruangan. Sasmita menarik garis lurus yang membelah ruang tamu, melewati karpet Persia seharga ratusan juta, hingga berakhir di dinding pembatas dapur.
"Apa-apaan ini?! Kamu sudah gila?!" teriak Rena histeris melihat lantai marmer mahalnya dikotori oleh lakban merah.
Sasmita berdiri, menatap garis merah itu dengan tatapan puas. "Garis ini adalah batas hukum. Mulai detik ini, sisi kanan rumah—termasuk ruang kerja Ayah, kamar utama di lantai dua, balkon sayap barat, dan perpustakaan—adalah wilayahku. Sisi kiri—dapur, ruang makan, dan kamar-kamar tamu—adalah wilayah kalian."
Ia melangkah mendekat ke arah Rena, melewati garis merah itu hanya untuk membisikkan sesuatu di telinganya. "Jika ada satu pun dari kalian, atau pelayanmu, yang berani melintasi garis ini tanpa izin tertulis dariku, aku akan menganggapnya sebagai invasi wilayah pribadi. Dan sanksinya bukan cuma denda, Tante... tapi penghapusan hak guna bangunan ini secara instan. Kalian akan tidur di jalanan malam ini juga."
Rena gemetar hebat. Kemarahan dan ketakutan bercampur aduk di wajahnya. "Kamu tidak bisa melakukan ini! Ini tidak manusiawi! Bagaimana caranya kami hidup jika rumah ini terbelah?"
"Sama seperti caraku hidup sepuluh tahun lalu, Tante," Sasmita menarik diri, menatap Rena dengan senyum tipis yang mematikan. "Aku tidur di emperan toko di London saat musim dingin karena fitnahmu. Sekarang, kamu setidaknya masih punya atap di sisi kiri rumah. Seharusnya kamu berterima kasih."
Vano mencoba maju, hendak menginjak garis merah itu untuk menantang Sasmita. "Aku tidak peduli dengan lakban bodoh ini!"
"Silakan, Vano," tantang Sasmita, sambil mengangkat ponselnya yang sudah terhubung dengan kamera pengawas yang baru saja dipasang Bramasta di sudut ruangan secara sembunyi-sembunyi. "Satu injakan, dan pengacara di belakangku ini akan menelepon polisi untuk menyeretmu atas pasal pelanggaran hak milik pribadi. Mau coba?"
Vano menghentikan langkahnya tepat di depan garis merah. Ia mengepalkan tinju dengan wajah merah padam, namun tidak berani melangkah lebih jauh.
Sasmita kemudian berbalik ke arah para tamu yang masih terpaku. "Maaf, acara peringatan ini sudah selesai. Sisi kanan rumah ini sudah ditutup untuk umum. Silakan kalian keluar melalui pintu samping di wilayah sisi kiri."
Satu per satu tamu undangan pergi dengan wajah bingung dan ketakutan. Mereka tahu, drama besar baru saja dimulai di keluarga Janardana.
Setelah ruangan sepi, Sasmita menoleh ke arah tangga lantai dua. Ia tahu di atas sana, di ruang kerja ayahnya yang kini menjadi wilayahnya, tersimpan sebuah rahasia besar. Rahasia tentang bagaimana ibunya benar-benar meninggal. Bukan karena sakit seperti yang diberitakan, tapi karena sesuatu yang lebih gelap.
Sasmita menaiki anak tangga satu per satu. Setiap langkahnya terasa berat namun mantap. Dari bawah, ia bisa mendengar teriakan histeris Rena yang mulai meratapi nasibnya dan maki-maki Vano yang frustrasi.
Sasmita berhenti di tengah tangga, menoleh ke bawah, ke arah garis merah yang membelah rumah itu menjadi dua dunia yang berbeda.
"Selamat datang di neraka kecilmu, Rena," gumam Sasmita pelan. "Ini baru permulaan. Aku tidak hanya akan membagi rumah ini... aku akan memastikan kamu memohon untuk keluar dari sini karena tidak kuat menanggung rasa bersalah."
Sasmita melangkah masuk ke dalam kamar utama yang dingin. Ia menutup pintu dan menguncinya rapat. Di dalam kegelapan kamar itu, ia menyandarkan tubuhnya ke pintu, napasnya mulai terengah-engah. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh satu per satu. Bukan karena sedih atas kematian ayahnya, tapi karena beban dendam yang selama sepuluh tahun ini ia pikul sendirian akhirnya mulai ia tumpahkan.
Rumah ini sekarang terbagi dua. Dan di tengah perpecahan itu, Sasmita bersumpah akan menemukan kebenaran, meski ia harus membakar seluruh isi rumah ini hingga menjadi abu.