Demi bertemu sang ibu, Liya berlari ke portal. Akan tetapi, jiwanya malah berpindah ke dunia hewan. Di sana, dia terkejut mendapati tubuh yang dia tempati sangat gendut berbeda dengan tubuh aslinya. Tabiatnya buruk dan malah mendapatkan empat suami hewan yang ingin membunuhnya karena perjodohan dewa monster. Dengan kematian, maka perceraian bisa terjadi.
"Tidaaaaaaaaak!" Liya menjerit keras, yang dia inginkan bertemu ibunya atau kembali ke dunia asalnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rozh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8. Suami Ke-4 Yang Sopan
Hari ini, Liya tidak menangkap ikan, karena rusa yang dibawa Bayu kemarin masih banyak sisa. Bagian lemak rusa dia tumis hingga mengeluarkan minyak, beberapa daging dia iris tipis sekali, di jemur di terik panas, tulang-tulangnya di simpan dulu di ruang penyimpanan oleh Liya.
"Ck, dasar anjing kecil, habis di tolong entah kabur kemana? Semoga saja baik-baik saja gak di serang hewan lain, lukanya belum terlalu sembuh." Liya mendengus melihat rumput tempat tidur bayi anjing itu kosong.
Pria tampan dengan bola mata serta telinga ciri khas harimau datang, dia membawa satu ekor babi hutan gemuk utuh dengan sopan, melihat itu Liya cukup senang, tapi masalahnya, bagaimana dia membersihkan? Membelah dan memotong tanpa senjata? Masa pakai batu runcing lagi? Itu hanya cocok untuk ikan saja!
Ingatan tentang Pidi berputar di kepala Liya. Pidi Baigor adalah suami Liya lainnya, siluman Harimau dengan level 13, menuju level 14. Orangnya tak banyak bicara, lebih sering diam saja, namun bukan siluman yang dicintai oleh pemilik tubuh ini, jadi jarang di datangi oleh si pemilik tubuh.
"Apa kamu membutuhkan ini?" Dia mengulurkan garam dan madu.
Liya menatap sebentar, lalu mengangguk, Pidi meletakkan itu di samping, kemudian melihat Liya sibuk mengiris tipis daging rusa kemarin sambil menumis sebagian di atas kuali batu. Melihat itu, Liya berkata, "Apa kau pernah makan daging babi goreng?"
"Babi goreng? Belum," jawabnya.
"Aku tidak punya senjata untuk membersihkan babi itu, bisakah kau membantuku, agar aku bisa membuat babi goreng?" tanya Liya.
"Bisa."
"Isi perutnya jangan di buang ya, biar bisa di masak," kata Liya.
"Untuk apa memakan kotoran?" Dia bertanya dengan bingung, isi perut babi itu adalah kotoran, di dunia ini tidak ada yang memakan kotoran, bahkan monster cacat miskin pun tidak makan kotoran!
"Pokoknya jangan di buang."
"Baiklah." Pidi akhirnya dengan cepat menyeret babi ke sungai, agar lebih cepat bersihnya, di tempat Liya tidak ada air mengalir.
Pidi benar-benar cepat melakukan pekerjaan, Liya tersenyum senang, lalu mengambil bahagian badan babi yang banyak lemak. Menumis agar minyaknya keluar. Di tungku sebelah, tabung yang terbuat dari batu juga mulai di panaskan.
Setelah panas, Liya mulai menumis bumbu, harum sekali, setelahnya memasukkan daging rusa yang di iris tipis, buah tomat, daun bawang dan jahe, setelahnya menggoreng daging babi.
Satu piring daging babi dan satu sup daging rusa iris tipis di sodorkan ke arah Pidi. "Terimakasih, ini untukmu." Pidi memberikan belati tajam yang terbuat dari besi. "Itu aku dapatkan dari kota saat menukar daging buruan," jelasnya.
"Oh, kalau begitu, aku terima, terimakasih!" Liya senang sekali. Dia benar-benar butuh senjata, sangat payah memakai batu runcing, tingkat kesabaran nyaris terkikis memakai benda itu untuk memotong.
Bayu muncul dari persembunyian setelah melihat dua makanan dihidangkan untuk Pidi.
Liya langsung berkata. "Aku hanya memasak sedikit, tak ada untukmu."
Bayu mengangguk, dia paham, tak ada jatah makan jika tidak memberi bahan atau bantuan, itu jelas.
Pidi memberi sepotong babi goreng dan sedikit sup rusa ke Bayu karena kemarin dia juga bisa mencicipi makanan baru, sup ikan.
"Mmm, enaknya!" Lagi, dua orang itu berbinar, bahagianya, lidah mereka terasa menari-nari, biasanya hanya makan daging bakar sehari-hari, tak ada inovasi lain. Itu saja, di taburi garam. Tapi, masakan Liya enak sekali, ikan bakarnya enak sekali, sekarang sup ini dan goreng babi juga enak.
Enak, enak, enak sekali!
Liya menyisihkan minyak, memasukkan ke dalam wadah, lalu tangannya menyapu semua barang, barang-barang berharga lenyap masuk ke ruang penyimpanan.
Bayu dan Pidi melihat itu.
"Kau naik level Liya, bisa memiliki ruang?" Pidi bertanya masih dengan mata terbelalak, terkejut luar biasa. Bukan kah betinanya ini monster cacat? Tak pernah naik level dari level satu sejak lahir?
"Hum, sedikit!" jawab Liya singkat.
"Wah, hebat!" Di mata Pidi tampak kekaguman. Akankah betinanya menjadi betina berguna?
Usai makan, mereka berinisiatif bertanya pada Liya karena gadis gendut itu tampak mencangkul tanah dengan batuk runcing, hendak membuat lubang.
"Mau buat apa? Mau kami bantu?" tanya Bayu.
'Pasti ada daging dibalik sayur!' Liya menatap mereka. "Jika kalian bersedia, bisakah kalian mencarikan aku tanah liat, kayu dan daun untuk atap? Aku ingin membuat tungku dan dapur kecil di sini, agar mudah memasak, jika hujan tidak kebasahan. Kalau memasak di gua, akan dipenuhi asap kala musim hujan."
Bayu menoleh pada Pidi. "Aku akan mencari kayu dan daun untuk atap, kau cari tanah liat ya, kau kan ahli dalam membuat apapun!" katanya pada Pidi.
Pidi mengangguk. "Kami akan membantu kamu Liya," ucap Pidi.
"Syukurlah kalau begitu, aku akan membuat babi kriuk untuk kalian," kata Liya.
Benar saja, dua orang itu mengangguk dan langsung melesat pergi mendengar nama makanan baru akan di masak untuk mereka oleh Liya.
Kerja keras! Kerja keras, demi makanan enak! Itulah isi kepala mereka berdua, si siluman ular dan siluman harimau.
Liya mulai memilih daging babi dengan ketebalan kulit seimbang, di tusuk dengan bilah, bagian daging diberikan bumbu apa adanya, seperti jahe dan bawang merah giling, sementara kulit hanya ditaburi garam. Daging itu di ikat, di gantung di atas arang menyala, dan kulitnya di bagian atas, daging yang menghadap arang.
Kurang lebih 40 menit babi di bakar, Liya pun menyelesaikan menggali satu lubang besar persegi panjang. Lalu, mengikis kulit dan menusuknya, bagian daging juga sudah menyusut karena di bakar, Liya kembali melumuri bagian daging dengan bumbu, namun bagian kulit sudah mulai kering dan mulai merenggang memisah dari daging, dia hanya menusuk bagian kulit itu dengan bilah tanpa menaburi garam, lalu kembali membakar.
Kemudian, Liya mengeluarkan sawi, wortel, tomat dari ruang penyimpanan, menumisnya menjadi sayur dengan sedikit kuah.
"Andai saja ada cabe, dan lainnya. Aku harus berkeliling, tapi badan ini tak kuat banyak gerak!" Liya menepuk perut buncitnya yang bergelambir. "Iiih, lemak ini!" Dia mengguncang perutnya yang lembek berayun-ayun.
Tak lama, dua orang itu sudah datang membawa banyak tanah liat, kayu dan daun. Senyuman Liya lebar, tenaga dua suaminya ini laur biasa.
"Itu babi kriuknya dan sayur, aku sudah makan, sekarang aku akan membuat tungku dulu." Liya menepuk tanah liat, benar-benar sempurna, suami harimaunya memang pintar.
Liya mulai bermain tanah liat, mencetak tungku, lalu melumuri dengan pasir merah yang dia ambil tak jauh dari gua, melapisi dengan tanah liat lagi, dia melakukan itu berulang kali, agar tungku yang di cetak tak mudah retak saat di bakar, barulah terakir dia licinkan dengan tanah liat inti.
Bayu dan Pidi makan dengan lahap, tapi matanya juga terpukau melihat kelincahan betin gendutnya. Sejak kapan betinanya bisa bekerja?
"Enak sekali Liya!" puji mereka.
Bagi Liya, itu hanya enak dibawah standar, karena bumbu dan cara masaknya tidak sempurna, tidak ada tungku dan alat masak sempurna seperti milik ayah Jack. Jadi, ini hanya babi kriuk ala Liya. Tetapi bagi dua siluman yang hanya tahu makan daging bakar saja, ini harta karun langka.
Di kejauhan, tetangga angsa, Feyyi, dan lainnya nampak bergosip, lalu juga ada tetangga dari suku lain, salah satunya suku ikan.
"Abyssal, betina kamu pandai sekali memasak ya, sangat harum, tapi hanya Pidi dan Bayu yang diberi makan, apa kamu tidak mampu?" Jantan lain berkata pada Abyssal, lalu menatap diantar dua pahanya.
"Sembarangan, aku mampu!" Abyssal kesal. Dia hanya tak ingin kawin saja dengan betina seperti Liya.