Di SMA Bhakti Nusantara, dua nama selalu jadi pembicaraan—Reina dan Kenzo. Reina adalah ketua OSIS yang disiplin, teliti, dan selalu mengutamakan aturan. Sedangkan Kenzo adalah kapten tim sepak bola sekolah yang populer, tapi sering mengabaikan peraturan dan membuat masalah.
Mereka saling membenci sejak awal tahun ajaran, ketika Kenzo sengaja merusak dekorasi acara pembukaan yang sudah Reina susun dengan teliti. Sejak itu, setiap pertemuan mereka selalu berujung pada argumen dan perselisihan. Reina menganggap Kenzo sombong dan tidak bertanggung jawab, sementara Kenzo menyebut Reina pelit dan terlalu serius.
Namun, takdir membawa mereka bersama ketika sekolah mengadakan program "Pasangan Tugas" untuk lomba ilmiah tingkat nasional. Mereka terpaksa bekerja sama, dan perlahan-lahan menemukan sisi lain satu sama lain. Reina melihat bahwa Kenzo sebenarnya memiliki hati yang baik dan selalu siap membantu teman, sedangkan Kenzo menyadari bahwa ketegasan Reina datang dari rasa peduli.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elvandem Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cemburu yang Tak Diakui
Tumpahan cokelat panas di atas map biru itu seolah menjadi garis batas peperangan yang baru saja ditarik. Aris menatap noda tersebut dengan rahang yang mengeras, sementara Kenzo tetap berdiri kokoh, memutar bola basket di ujung jarinya dengan tatapan menantang yang tidak berkedip sedikit pun.
Kantin SMA Garuda – Pukul 10.30 WIB
Keheningan di kantin terasa mencekam, hanya suara kipas angin tua yang berderit di langit-langit. Reina berdiri di antara dua kutub yang saling tolak-menolak ini, napasnya memburu karena rasa malu dan amarah yang bercampur aduk.
"Kenzo! Apa yang kamu lakukan? Itu dokumen penting!" teriak Reina, suaranya melengking memecah kesunyian. Ia segera menarik beberapa lembar tisu untuk menyeka tumpahan cokelat di meja, namun noda itu sudah meresap ke dalam kertas proposal Aris.
Aris menarik napas panjang, mencoba mempertahankan topeng ketenangannya. Ia mengeluarkan sapu tangan sutra dari saku celananya dan mengelap ujung sepatunya yang terkena percikan. "Tidak apa-apa, Reina. Orang yang tidak terbiasa dengan etika profesional memang cenderung menggunakan otot daripada otak."
Kenzo tertawa pendek, jenis tawa yang sarat akan ejekan. "Etika? Datang ke sekolah orang saat mereka sedang kesulitan dan menawarkan 'sedekah' sambil modus itu namanya etika? Di tempatku, itu namanya menghina, Ris."
Kenzo melangkah maju, memangkas jarak hingga ia dan Aris berdiri berhadapan. Perbedaan tinggi mereka hampir sama, namun aura Kenzo yang liar terasa lebih mendominasi dibandingkan Aris yang kaku. "Dengar ya, Si Paling Juara Olimpiade. Reina itu partnerku. Apapun masalah yang dia hadapi, itu masalahku juga. Dan aku nggak butuh pahlawan kesiangan dari SMA Bakti Bangsa buat beresin urusan rumah tanggaku."
"Kenzo, cukup!" Reina menyela, wajahnya merah padam. Ia menoleh ke Aris dengan tatapan penuh permohonan maaf. "Aris, maafkan Kenzo. Dia sedang... emosional. Tolong tinggalkan kami dulu. Aku akan menghubungimu nanti sore."
Aris menatap Reina dalam-dalam, mengabaikan kehadiran Kenzo seolah pria itu hanya udara kosong. "Aku harap kamu cukup bijak untuk membedakan mana bantuan tulus dan mana ego kekanak-kanakan, Rein. Proposal itu masih berlaku, meski sudah kotor. Kabari aku."
Aris berbalik, berjalan pergi dengan langkah tenang menuju sedan putihnya yang berkilau di bawah terik matahari.
Belakang Aula – Pukul 10.45 WIB
Setelah Aris menghilang dari gerbang, Reina langsung menarik lengan Kenzo menuju area belakang aula yang sepi. Ia melepaskan pegangannya dengan kasar dan berbalik menghadap Kenzo.
"Apa maksudmu tadi, Ken? Kamu tahu kan posisi keuangan OSIS sekarang? Kita butuh uang itu untuk sewa panggung dan sound system!" suara Reina bergetar.
Kenzo melempar bola basketnya ke tumpukan matras bekas. "Kita butuh uang, bukan butuh dibeli, Rein! Kamu nggak lihat cara dia menatapmu? Dia nggak peduli sama festival kita. Dia cuma mau pamer kalau dia punya segalanya yang nggak aku punya!"
"Ini bukan soal kamu atau dia, Kenzo! Ini soal kerja keras panitia!" Reina berteriak, air mata mulai menggenang di sudut matanya karena frustrasi. "Kamu sendiri yang bilang ayahmu menyita semuanya. Kamu nggak punya apa-apa sekarang. Terus kita mau cari dana pakai apa? Pakai bola basketmu itu?"
Kenzo terdiam. Kata-kata Reina telak menghantam titik terlemahnya. Kenyataan bahwa ia memang tidak memiliki dukungan finansial dari keluarganya saat ini adalah luka yang coba ia tutupi dengan sikap angkuh.
Ia melangkah mendekati Reina, memojokkan gadis itu ke dinding bata aula. Tangannya bertumpu di samping kepala Reina, mengunci pergerakan gadis itu. "Kenapa kamu membela dia? Apa karena dia tipe cowok idealmu? Pintar, kaya, dan punya masa depan yang jelas?"
"Ini bukan soal itu..." bisik Reina, jantungnya berdegup kencang karena jarak mereka yang terlalu dekat.
"Jawab aku, Reina Calista," suara Kenzo merendah, serak dan penuh tekanan. "Apa kamu lebih percaya sama dia daripada sama aku? Apa aku cuma pengganggu yang nggak sengaja menyelamatkanmu di gudang semalam?"
Reina menelan ludah. Ia bisa merasakan kehangatan tubuh Kenzo dan aroma keringatnya yang bercampur dengan bau matahari. Di mata Kenzo, ia tidak melihat amarah, melainkan ketakutan yang dalam—ketakutan akan kehilangan satu-satunya hal yang membuatnya merasa berarti.
"Aku nggak bilang aku percaya dia," ucap Reina pelan, matanya menatap kancing kaos Kenzo. "Tapi aku takut festival ini gagal, Ken. Aku nggak mau mengecewakan semua orang."
Kenzo menghela napas, dahinya bersandar di dahi Reina sejenak. "Aku bakal cari uangnya, Rein. Aku janji. Beri aku waktu sampai besok sore. Kalau aku gagal, kamu boleh terima tawaran si Aris itu. Tapi sampai detik itu tiba... jangan balas pesannya."
Reina terpaku. Ia merasakan jemari Kenzo menyelipkan sehelai rambut di belakang telinganya dengan gerakan yang sangat lembut, sangat kontras dengan keributan yang ia buat di kantin tadi.
"Jangan pernah raguin aku lagi," bisik Kenzo sebelum akhirnya berbalik dan pergi meninggalkan Reina yang masih mematung dengan perasaan yang kini benar-benar berantakan.