NovelToon NovelToon
Lentera Di Balik Luka

Lentera Di Balik Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Bagi Jati, kesetiaan adalah harga mati. Namun, sebuah kecelakaan tragis merenggut kejantanannya, membuat pernikahan yang ia bangun bersama Mila berubah menjadi neraka dingin tanpa suara tangis bayi. Di tengah kehampaan itu, Mila memilih jalan pintas yang menyakitkan: berselingkuh dengan Andre demi mendapatkan keturunan yang tak bisa diberikan Jati.
Puncak kehancuran Jati terjadi saat Mila dengan terang-terangan memamerkan pengkhianatannya di depan mata, bahkan menghina kekurangan fisik Jati demi uang belanja. Di titik terendah hidupnya, saat ia merasa bukan lagi seorang lelaki, Jati bertemu dengan Lintang.
Lintang hanyalah seorang janda yang bekerja sebagai tukang pijat keliling untuk menyambung hidup. Pertemuan yang diawali dengan ketidaksengajaan di taman itu perlahan membuka mata Jati. Di balik sentuhan tangan Lintang yang sederhana, Jati menemukan penawar luka yang tak terduga—sebuah harapan bahwa harga diri seorang pria tidak hanya ditentukan oleh fisik, melainkan oleh ketulusan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

"Iya mas, mandilah dulu setelah itu mas makan malam"

Jati mengembuskan napas panjang, melepaskan sisa ketegangan dari kantor yang masih menggelayut di pundaknya.

"Baiklah. Tunggu sebentar ya, Lintang."

Ia melangkah masuk ke kamar utama. Di bawah kucuran air hangat, Jati memejamkan mata.

Bayangan wajah Mila yang menangis histeris kemarin sore sempat melintas, namun dengan cepat ia usir.

Anehnya, yang lebih banyak muncul di benaknya justru senyum tulus Lintang dan bagaimana wanita itu dengan telaten menyiapkan segalanya untuknya.

Sepuluh menit kemudian, Jati keluar dengan pakaian yang lebih santai—kaos katun tipis dan celana kain yang nyaman.

Ia berjalan menuju meja makan, tempat Lintang sudah berdiri menunggunya dengan sopan.

"Harum sekali aroma sop ayamnya sampai ke kamar mandi," puji Jati tulus saat ia duduk di kursi utama.

Lintang segera mengambilkan nasi hangat ke piring Jati.

"Ini pindang kecapnya, Mas. Lalu ini ada perkedel dan sop ayam kampung biar badannya segar. Mas seharian pasti cuma minum kopi di kantor, kan?"

Jati terkekeh kecil, merasa seperti seorang anak yang sedang diperhatikan oleh ibunya, atau lebih tepatnya, seperti seorang suami yang baru pulang ke rumah yang sesungguhnya.

Ia mulai menyuap pindang kecap itu. Rasa manis gurihnya langsung memanjakan lidahnya.

"Kamu benar, Lintang. Di kantor tadi rasanya sangat panas. Kepalaku hampir pecah mengurus berkas-berkas itu," ucap Jati di sela makannya.

"Tapi begitu sampai di sini dan mencium bau masakanmu, rasanya separuh bebanku hilang."

Lintang hanya tersenyum tipis sambil memperhatikan Jati makan dengan lahap.

"Habiskan ya, Mas. Oh iya, setelah makan nanti, Mas harus minum ramuan yang di gelas itu. Itu jamu dari jahe, sere, dan kunir yang saya campur kuning telur ayam kampung. Bagus untuk melancarkan aliran darah Mas."

Jati melirik gelas yang masih tertutup rapat itu. Ia tahu Lintang sedang berusaha mengobatinya dengan caranya sendiri.

Ada rasa haru yang menyelusup di hatinya; Lintang tidak hanya memijat fisiknya, tapi juga memperhatikan kesehatannya hingga ke hal sekecil ini.

"Terima kasih, Lintang. Kamu benar-benar tahu apa yang aku butuhkan," ucap Jati lembut.

Setelah beberapa suapan lagi, Jati menatap Lintang dengan serius.

"Mila sudah pergi dari rumah itu. Hari ini aku juga sudah menginstruksikan orang-orangku untuk mengosongkan semuanya. Aku sudah benar-benar bebas, Lintang."

Suasana di ruang makan itu mendadak hening, hanya menyisakan suara denting sendok yang beradu dengan piring porselen.

Jati menatap Lintang dengan pandangan yang dalam, seolah sedang mencoba menyelami jiwa wanita di hadapannya yang selalu tampak tegar itu.

"Semoga, Mas bisa hidup lebih baik setelah ini. Aamiin," ucap Lintang tulus, menutup doanya dengan senyuman kecil yang menenangkan.

Jati meletakkan sendoknya, ia merasa kenyang bukan hanya karena makanan yang lezat, tapi karena kedamaian yang dibawakan Lintang.

Rasa penasaran yang sejak kemarin ia pendam akhirnya memberanikan diri untuk keluar.

"Lintang, boleh aku bertanya sesuatu?" Jati menjeda sejenak.

"Tentang masa lalumu. Bagaimana ceritanya wanita sepertimu bisa menjadi janda dan memilih jalan hidup sebagai pemijat?"

Lintang tertegun, tangannya yang sedang merapikan serbet terhenti.

Ia menarik napas panjang, menatap kosong ke arah gelas jamu di meja seolah sedang memutar kembali kaset lama yang sudah berdebu.

"Mantan suamiku berselingkuh, Mas," jawab Lintang pelan, suaranya tetap tenang meski ada getaran luka di sana.

"Dia pergi karena aku dianggap tidak bisa memberikan anak. Padahal saat itu kami baru dua bulan menikah. Dia tidak sabar, atau mungkin memang hatinya sudah tidak ada di rumah."

Jati tersentak. "Hanya dua bulan? Itu sangat tidak adil."

"Begitulah hidup, Mas. Dia memilih wanita lain yang katanya langsung bisa memberinya keturunan. Akhirnya kami berpisah," lanjut Lintang.

"Soal memijat, saya belajar dari almarhum kakek di desa. Beliau dulu pemijat saraf yang cukup dikenal. Beliau selalu bilang, tangan kita ini pemberian Tuhan untuk meringankan beban orang lain. Jadi, setelah sendiri, saya memutuskan ke Jakarta dan mencari nafkah dengan cara ini."

Jati terdiam seribu bahasa. Ironi ini terasa begitu menyesakkan.

Jati dikhianati karena kondisi fisiknya yang tak lagi berdaya, sementara Lintang ditinggalkan karena dianggap tidak sempurna secara biologis dalam waktu yang sangat singkat.

Mereka berdua adalah dua jiwa yang sama-sama dibuang oleh orang yang seharusnya menjadi pelindung.

"Ternyata kita tidak jauh berbeda, Lintang. Sama-sama dianggap 'tidak cukup' oleh orang yang salah," bisik Jati parau.

Kemudia ia meraih gelas berisi ramuan jahe, serai, dan telur ayam kampung yang disiapkan Lintang.

Jati meminumnya perlahan. Rasa hangat yang tajam dari jahe dan gurihnya telur menyapu tenggorokannya, menjalar hingga ke dadanya.

Namun, kali ini sensasinya berbeda.

Mungkin karena doa Lintang atau mungkin karena sarafnya yang mulai bereaksi, Jati merasakan sebuah desiran hangat yang tidak biasa menjalar ke bawah tubuhnya—sebuah sengatan kecil yang sudah berbulan-bulan tidak pernah ia rasakan.

Jati terpaku dengan gelas yang masih menempel di bibirnya.

Matanya sedikit membelalak, bukan karena rasa getir rempah yang kuat, melainkan karena sebuah kejutan listrik yang tiba-tiba menyambar di bagian bawah tubuhnya.

Desiran hangat itu mengalir deras, menciptakan sensasi "kesemutan" yang sangat nyata di area yang selama ini terasa mati dan dingin.

Lintang yang memperhatikan perubahan ekspresi Jati menjadi khawatir.

Ia segera mendekat, wajahnya menunjukkan kecemasan yang tulus.

"Mas ada apa? Pahit ya?" tanya Lintang lembut sambil menyodorkan segelas air putih.

"Maaf ya Mas, memang jahe merah dan kunirnya saya pakai yang tua supaya khasiatnya maksimal."

Jati meletakkan gelasnya dengan tangan yang sedikit gemetar.

Ia menatap Lintang, lalu beralih menatap kakinya sendiri di bawah meja.

"Bukan, Lintang. Ini bukan karena pahit."

"Lalu kenapa Mas? Apa Mas mual?"

Jati menggeleng pelan. Ia menarik napas panjang, mencoba menguasai dirinya yang mendadak emosional.

"Aku merasakan sesuatu, Lintang. Barusan, di sini," Jati menyentuh paha bagian atasnya.

"Ada sengatan kecil, seperti aliran listrik yang lewat. Sudah berbulan-bulan aku tidak bisa merasakan apa-apa di area ini, tapi setelah minum jamu ini dan pijatanmu kemarin siang, rasanya seperti ada yang bangun."

Mendengar itu, mata Lintang berbinar. Ada rasa syukur yang tak terhingga terpancar dari wajahnya.

Ia menyatukan kedua tangannya di depan dada.

"Alhamdulillah. Gusti Allah Maha Baik, Mas," ucap Lintang dengan suara parau menahan haru.

"Itu tandanya saraf Mas Jati belum mati, cuma sedang tidur karena trauma dan stres. Jamu itu fungsinya memang untuk memicu aliran darah supaya oksigen sampai ke sana."

Lintang tanpa sadar memegang lengan Jati dengan lembut.

"Mas harus optimis. Kalau saraf sudah mulai merespons, itu artinya kesembuhan Mas cuma masalah waktu. Jangan menyerah ya, Mas."

Jati menatap tangan Lintang di lengannya, lalu menatap wajah wanita itu.

Di tengah kemewahan apartemennya yang dingin, ia merasa seolah Lintang adalah satu-satunya cahaya yang benar-benar hangat.

Sentuhan Lintang tidak hanya menyembuhkan fisiknya, tapi juga perlahan-lahan menjahit kembali hatinya yang telah hancur berkeping-keping.

"Terima kasih, Lintang. Kamu benar-benar dikirim untuk menyelamatkanku," bisik Jati tulus.

Suasana di ruang makan yang mewah itu mendadak sunyi, hanya menyisakan suara detik jam dinding dan rintik hujan yang mulai membasahi kaca jendela apartemen.

Jati menatap Lintang dengan intensitas yang berbeda—bukan lagi sebagai pasien kepada terapisnya, melainkan sebagai seorang pria yang telah menemukan pelabuhannya.

"Lintang..." Jati membuka suara, memecah keheningan.

"Pindah lah ke sini. Tinggallah di apartemen ini agar kamu tidak perlu lagi bolak-balik dari rumah kontrakan ke apartemenku. Aku tidak ingin kamu kelelahan di jalan setiap hari hanya untuk mengurusku."

Lintang tersentak. Tangannya yang sedang merapikan botol jamu seketika terhenti.

Ia menatap Jati dengan tatapan tidak percaya.

"Tapi Mas, kita ini bukan suami istri," jawab Lintang dengan suara rendah, kepalanya sedikit menunduk.

"Nanti apa kata orang? Tetangga atau orang-orang di gedung ini pasti akan berpikiran buruk tentang saya. Saya tidak ingin menambah beban pikiran Mas dengan kabar miring."

Jati menarik napas panjang. Ia memajukan kursinya, sedikit lebih dekat ke arah Lintang.

Keberanian yang selama ini terkubur di bawah rasa rendah dirinya kini muncul ke permukaan.

"Bagaimana kalau kita menikah?" tanya Jati dengan nada yang sangat tenang, namun tegas tanpa keraguan.

Lintang terpaku. Jantungnya berdegup kencang hingga terasa menyakitkan.

Ia menatap Jati, mencoba mencari tanda-tanda bahwa pria di depannya sedang mengigau atau mungkin terpengaruh ramuan jahe yang ia berikan tadi.

"Mas, jangan bercanda!" Lintang terkekeh gugup, mencoba mencairkan suasana yang terasa menyesakkan.

"Mas ini seorang CEO, pemilik perusahaan besar. Sedangkan saya? Saya cuma tukang pijat keliling, Mas. Masih banyak wanita di luar sana yang lebih pantas mendampingi Mas daripada saya."

Jati menggeleng perlahan. Ia meraih tangan Lintang—tangan yang terasa kasar karena kerja keras namun memberikan kehangatan yang tak pernah ia dapatkan dari Mila yang selalu bersolek.

"Aku tidak sedang bercanda, Lintang. Kecantikan Mila hanya menyisakan luka, tapi kesederhanaanmu justru menyembuhkan," ucap Jati dengan tatapan tulus.

"Aku tidak butuh status atau gelar. Aku butuh seseorang yang bisa melihatku sebagai manusia, bukan sebagai mesin uang. Dan orang itu adalah kamu."

Lintang merasa matanya mulai memanas. Seumur hidupnya, belum pernah ada pria yang menatapnya dengan rasa hormat setinggi ini. Namun, bayangan masa lalunya yang kelam dan perbedaan kasta sosial di antara mereka masih menjadi tembok besar yang menghalangi hatinya.

Lintang terdiam cukup lama, mencoba mengatur napasnya yang terasa sesak karena tawaran yang begitu mendadak.

Ia menarik tangannya perlahan dari genggaman Jati, lalu menatap pria itu dengan tatapan penuh pertimbangan.

"Mas, tolong beri saya waktu untuk berpikir ya? Ini bukan keputusan yang mudah bagi saya," ucap Lintang lirih.

"Besok, saya akan memberikan jawabannya kepada Mas."

Jati melihat ada keraguan sekaligus harapan di mata Lintang.

Ia tidak ingin memaksakan kehendak, karena ia ingin Lintang menerimanya dengan hati yang bebas, bukan karena merasa berutang budi atau terdesak keadaan.

Jati menganggukkan kepalanya dengan lembut.

"Baiklah. Aku akan menunggu jawabanmu besok. Aku tidak akan memaksamu, Lintang."

Malam semakin larut dan hujan mulai mereda menjadi gerimis tipis.

Jati bangkit dari duduknya dan mengambil kunci mobil di atas meja.

"Ayo, malam ini aku sendiri yang akan mengantarmu pulang ke rumah kontrakan. Aku ingin memastikan kamu sampai dengan aman."

Lintang sempat ingin menolak karena merasa tidak enak hati, namun melihat ketegasan di wajah Jati, ia akhirnya menurut.

Di dalam mobil yang mewah dan harum itu, keheningan menyelimuti mereka berdua.

Hanya ada suara mesin yang halus dan lampu jalanan yang membias di kaca jendela.

Saat mobil hampir sampai di depan gang rumah Lintang, wanita itu menoleh ke arah Jati.

"Besok, Mas mau dimasakkan apa?"

Jati tersenyum tipis, sebuah senyuman yang terlihat sangat tulus dan lepas.

Ia menoleh sekilas ke arah Lintang sebelum kembali fokus ke jalan.

"Terserah kamu, Lintang. Aku akan makan apa saja yang kamu masak. Karena bagiku, masakanmu selalu punya rasa yang tidak bisa kutemukan di tempat lain—rasa peduli," jawab Jati pelan.

Mobil berhenti tepat di depan rumah sederhana Lintang.

Lintang turun setelah berpamitan, namun sebelum ia menutup pintu mobil, ia sempat melihat Jati menatapnya dengan binar yang berbeda.

Malam itu, di bawah temaram lampu jalan, dua orang yang pernah patah hati ini sama-sama membawa sebuah tanya yang akan terjawab esok hari.

1
tiara
sabar papa Jati demi si buah hati 🤭🤭🤭
tiara
selamat pa Jati dan Lintang atas kehamilan Lintang sehat selalu bumil
my name is pho: 🥰🥰 terima kasih kak
total 1 replies
tiara
nikmatilah hasilnya Mila, menyesal pun sudah tiada arti semua orang meninggalkanmu termasuk pacarmu
tiara
ceriitanya menarik tidak terlalu menguras emosi
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
tiara
rasain kamu Mila gatau diri sih, masih syukur dikasih uang masih aja kurang
Dessy Lisberita
bukan emas tpi logam mas kawinya
tiara
lanjuut thor
Dessy Lisberita
kenapa masih nungu unk membuang baju kotor
Dessy Lisberita
semoga normal kembali kejantanan jati
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Sweat/ "dramanya pasti akan semakin intens"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Hey/ "cowok sejati emang harus berani untuk bertanggungjawab"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Scare/ "tanda-tandanya nih..."
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Cry/ "sebagai cowok kami faham seberapa sakit kamu sebenarnya Wak huhuhu"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Puke/ "udahlah hubungan kayak gini mendingan gak usah dipertahanin"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Shame/ "aku dibuat tak bisa berkata-kata"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Panic/ "buta matanya sampai gak sadar"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Angry/ "ini kembarannya Jule kah?"
my name is pho: 🤭🤭 hehehe
total 1 replies
tiara
bagus tinggalkan saja baju kotormu karena sudah tidak bisa dipakai lagi
tiara
mampir thor mulau membaca ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!