NovelToon NovelToon
Sahabat Jadi Suamiku.

Sahabat Jadi Suamiku.

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: erinaCalistaAzahra

Raia dan Arlan adalah dua kutub yang tak terpisahkan sejak kecil. Tumbuh besar berdampingan, rahasia mereka tersimpan di bawah pohon mangga belakang rumah dan di dalam kotak bekal yang selalu mereka bagi. Bagi Raia, Arlan adalah pelindung sekaligus pengganggu nomor satu. Namun, bagi Arlan, Raia adalah satu-satunya alasan ia selalu ingin pulang.
Garis persahabatan mulai kabur saat kedewasaan menyapa. Ketakutan akan merusak kenyamanan membuat keduanya memilih bungkam, menyimpan perasaan masing-masing di balik candaan kasar dan perhatian kecil yang tersirat.
Puncaknya, sebuah perpisahan besar harus terjadi. Arlan memutuskan mengejar mimpi dan kariernya ke Jerman, meninggalkan Raia dengan sebuah kalung perak dan janji yang menggantung di bandara. Jarak sepuluh ribu kilometer dan perbedaan zona waktu menjadi ujian sesungguhnya. Di Jakarta, Raia harus belajar berdiri sendiri sambil menepis godaan pria lain yang menawarkan kepastian, sementara di Munich, Arlan berjuang keras demi masa depan y

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon erinaCalistaAzahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

seseorang dibalik balkon

bagus baru saja hendak menginjak pedal gas, namun matanya tak sengaja melirik ke arah balkon lantai dua rumah Arlan. Ia mengernyitkan dahi, membuat Raia ikut menoleh mengikuti arah pandangannya.

Di balik pagar pembatas balkon yang gelap, terlihat siluet seseorang yang sedang berdiri mematung.

"Ra, bukannya itu... Arlan?" bisik bagus ragu.

Jantung Raia mencelos. Ia menyipitkan mata.

Sosok itu mengenakan jaket tebal yang sangat ia kenali, berdiri dengan ponsel yang layarnya masih menyala di genggaman. Arlan tidak sedang di London. Arlan ada di sana, di balik balkon kamarnya, menyaksikan seluruh adegan di halaman rumah tadi.

Raia membeku. Rasa kecewa yang tadi mulai mengendap kini naik kembali ke permukaan, bercampur dengan rasa muak. Arlan pulang tanpa memberi kabar, bersembunyi di balik balkon seperti pencuri, dan membiarkan ibunya mengira dia masih di luar negeri hanya agar tidak perlu menghadapi Raia.

"Dia sudah pulang, bagus . Dia di sana," ucap Raia dengan suara bergetar karena amarah yang tertahan.

bagus hendak membuka pintu mobil. "Mau aku samperin?"

"Jangan," cegah Raia cepat. Ia menatap siluet di balkon itu untuk terakhir kalinya. Arlan tampak menunduk, bahunya merosot, seolah baru saja mendengar dengan jelas pengakuan Raia kepada ibunya bahwa Raia tidak pernah punya perasaan padanya.

"Kalau dia punya keberanian, dia pasti sudah turun dari tadi. Tapi dia tetap di sana, sembunyi di balik balkon," lanjut Raia dingin. "Biarkan saja. Dia ingin melihatku pergi, kan? Maka tunjukkan padanya kalau aku pergi dengan orang yang jauh lebih baik daripada dia."

bagus mengangguk paham. Ia menjalankan mobilnya perlahan. Di spion, Raia melihat siluet itu perlahan mundur dan menghilang ke dalam kegelapan kamar.

Ternyata, Arlan bukan hanya seorang pengecut yang lari ke pelukan orang lain karena kesepian, tapi juga seorang pengecut yang tidak berani menampakkan batang hidungnya bahkan saat "sahabatnya" berada tepat di depan matanya.

Raia mengalihkan pandangannya dari balkon itu. Ia tidak ingin lagi memberikan panggung bagi seseorang yang bahkan tidak berani menampakkan diri.

"Jalan, bagus ," ucap Raia datar. Suaranya tidak lagi bergetar, hanya ada ketegasan yang dingin.

bagus mengangguk, perlahan menginjak pedal gas. Mobil itu mulai bergerak meninggalkan deretan rumah yang menyimpan sepuluh tahun kenangan pahit-manis mereka. Dari kaca spion, Raia sempat melihat siluet di balkon itu tetap mematung, seolah terkunci dalam penyesalannya sendiri. Arlan membiarkan kesempatan terakhirnya menguap begitu saja tanpa sepatah kata pun.

Di dalam mobil, udara terasa jauh lebih ringan. Raia membuka sedikit kaca jendela, membiarkan angin sore menerpa wajahnya dan menghapus sisa-sisa aroma parfum Arlan yang tadi sempat menyesakkan dadanya.

"Kamu nggak mau dia ngejar?" tanya bagus pelan, memastikan perasaan wanita di sampingnya.

Raia menggeleng mantap. "Buat apa? Seseorang yang cuma berani melihat dari balik balkon saat orang yang katanya 'sahabatnya' datang, nggak layak untuk dikejar atau ditunggu lagi. Dia sudah memilih untuk jadi penonton dalam hidupku, bagus. Dan sekarang, aku sudah menutup tirainya."

Raia merogoh tasnya, mengambil ponsel, lalu menghapus semua foto lama dan memblokir permanen nomor Arlan. Tidak ada tangisan. Yang ada hanyalah rasa lega yang luar biasa. Ia menyadari bahwa kekecewaan ini adalah cara semesta untuk memberitahunya bahwa ia layak mendapatkan seseorang yang berani berdiri di sampingnya, bukan bersembunyi di balik bayangan.

"Kita makan sate di tempat biasa ya?" ajak Raia sambil tersenyum ke arah bagus.

bagus membalas senyum itu dengan tulus. "Apapun buat kamu, Ra."

Mobil itu terus melaju, menjauh dari masa lalu yang pengecut, menuju masa depan yang jauh lebih nyata dan berani.

Asap pembakaran sate yang mengepul di pinggir jalan menyambut kedatangan mereka. Aroma bumbu kacang dan daging yang terbakar seolah menjadi penawar ampuh bagi sesak di dada Raia.

"Pak, sate ayam dua porsi, bumbunya dipisah ya," ujar bagus, hafal dengan kebiasaan Raia yang tidak suka sate yang terlalu basah.

Mereka duduk di bangku kayu panjang yang sedikit goyang. Di sana, di tengah keriuhan orang-orang yang kelaparan dan bunyi kipas sate yang beradu, Raia merasa hidup kembali. Tidak ada lagi suasana kamar dingin Arlan yang menyesakkan, tidak ada lagi bayangan balkon yang penuh kepalsuan.

"Makasih ya, bagus," ucap Raia tiba-tiba, sambil menatap potongan lontong di piringnya.

bagus menoleh. "Buat satenya?"

"Buat semuanya. Buat kesabaran kamu nunggu aku sadar kalau selama ini aku cuma ngejar bayangan yang bahkan nggak berani nunjukin diri," jawab Raia tulus.

bagus tersenyum, menyodorkan segelas teh hangat ke arah Raia. "Kadang kita perlu melihat yang palsu dulu, Ra, biar bisa menghargai yang nyata."

Malam itu, di bawah lampu jalan yang kekuningan, Raia makan dengan lahap. Rasa kecewa itu masih ada sisa-sisanya, tapi tertutup oleh rasa syukur karena ia tidak lagi terjebak dalam penantian sia-sia. Arlan mungkin masih diam di balik balkonnya yang sepi, tapi Raia sudah jauh melangkah, menikmati hangatnya sate dan kehadiran seseorang yang benar-benar ada di sampingnya.

Setiap tusuk sate yang ia nikmati malam itu seolah menjadi simbol bahwa hidup harus terus berjalan, dan kebahagiaan terkadang datang dari hal-hal sederhana yang selama ini ia abaikan demi seseorang yang jauh.

Di teras yang sunyi, Ibu Arlan masih berdiri mematung menatap mobil bagus yang perlahan menghilang di tikungan jalan. Beliau menghela napas berat, lalu membalikkan badan dan melangkah masuk ke dalam rumah.

Alih-alih kembali ke dapur, beliau langsung menaiki tangga menuju lantai dua. Pintu balkon terbuka lebar, membiarkan angin malam masuk ke dalam kamar yang gelap. Di sana, Arlan masih berdiri mematung, tangannya mencengkeram besi pembatas balkon hingga buku-bukunya memutih.

"Sudah puas, Lan?" tanya Ibunya dengan suara rendah namun tajam.

Arlan tersentak, namun ia tidak berani menoleh. "Ma..."

"Kamu pulang diam-diam, sembunyi di kamar ini seperti pengecut, sementara Raia datang dengan niat baik," lanjut Ibunya, melangkah mendekat.

"Tante dengar sendiri apa yang dia bilang tadi kan? Dia bilang dia nggak punya perasaan apa-apa sama kamu. Dia bilang kalian cuma sahabat."

Arlan akhirnya menoleh, matanya merah dan wajahnya tampak kuyu. "Tadi itu... Raia beneran bilang gitu, Ma? Dia nggak... nggak nunggu Arlan?"

Ibunya tersenyum getir, menggelengkan kepala melihat kenaifan putranya. "Kamu pikir cinta itu kayak barang yang bisa kamu simpan di gudang, lalu kamu ambil lagi saat kamu bosan main di luar negeri? Raia itu manusia, Lan. Dia punya batas sabar. Saat kamu sibuk pamer kebahagiaan sama orang lain di London, dia belajar buat membunuh rasanya ke kamu."

Arlan terduduk di kursi rotan balkon, menutupi wajahnya dengan kedua tangan. "Arlan cuma bingung, Ma. Arlan takut pulang dan jelasin semuanya..."

"Ketakutan kamu itu yang bikin kamu kehilangan dia selamanya," potong Ibunya telak. "Laki-laki yang tadi jemput dia, dia nggak sembunyi di balkon. Dia ada di sana, di depan mata Raia, nungguin dia dengan nyata. Sekarang, jangan tanya kenapa Raia pergi. Tanya sama diri kamu sendiri, kenapa kamu baru pulang saat semuanya sudah terlambat."

Ibunya meninggalkan Arlan sendirian di balkon yang dingin itu. Arlan menunduk, melihat layar ponselnya yang menampilkan foto profil Raia yang kini sudah tidak bisa ia hubungi lagi.

Kecewa yang dirasakan Raia tadi, kini berpindah sepenuhnya ke pundak Arlan, menjadi penyesalan yang akan menghantuinya di setiap sudut rumah itu.

Suasana di balkon seketika memanas. Ibu Arlan tidak lagi menahan diri. Beliau melangkah mendekat, menatap tajam putranya yang tertunduk lesu.

"Jawab Mama, Lan! Kenapa kamu harus pura-pura punya pacar di sana? Kenapa kamu buat foto-foto sandiwara itu di Instagram?" suara Ibu Arlan meninggi, bergetar karena amarah dan kekecewaan.

Arlan meremas rambutnya frustrasi. "Arlan... Arlan cuma takut, Ma. Arlan merasa nggak layak buat Raia. Di London Arlan merasa kesepian, merasa gagal, dan Arlan pikir kalau Arlan kelihatan bahagia sama orang lain, Raia bakal benci Arlan dan berhenti nungguin Arlan yang nggak jelas kapan pulangnya."

"Bodoh!" potong Ibunya telak. "Kamu pikir itu cara yang laki-laki? Kamu mau kelihatan pahlawan dengan cara bikin dia sakit hati? Kamu justru jadi pengecut paling besar yang pernah Mama kenal!"

Ibu Arlan menunjuk ke arah jalanan yang sudah kosong. "Tadi dia ada di sini, Lan. Raia ada di depan mata kamu. Dan dia bilang dengan lantang kalau dia nggak punya perasaan apa-apa lagi sama kamu. Kamu tahu kenapa? Karena kebohongan kamu berhasil. Kamu berhasil membunuh rasa hormat dia ke kamu."

Arlan tertegun, air mata mulai menggenang. "Dia beneran bilang gitu, Ma? Dia nggak sayang lagi sama Arlan?"

"Nggak ada perempuan yang mau sayang sama bayangan, apalagi bayangan yang tukang bohong," sahut Ibunya dingin. "Sekarang kamu lihat kan hasilnya? Dia pergi sama laki-laki yang berani ada buat dia. Laki-laki yang nggak perlu pakai sandiwara buat dapetin hatinya."

Ibu Arlan berbalik pergi, meninggalkan Arlan yang tersungkur di kursi balkon. Penyesalan itu datang terlambat. Kebohongan yang ia ciptakan untuk "melindungi" Raia justru menjadi senjata yang mematikan seluruh harapan yang pernah ada. Di kejauhan, Raia mungkin sedang tertawa menikmati satenya, sementara Arlan terjebak dalam kegelapan yang ia buat sendiri.

Arlan melangkah gontai meninggalkan balkon, masuk ke dalam kamarnya yang gelap. Ia tidak menyalakan lampu, membiarkan kesunyian menyergapnya. Namun, matanya tertuju pada meja belajar.

Ia menyadari ada yang berbeda. Bingkai foto mereka berdua yang biasanya berdiri tegak, kini dalam posisi tertelungkup.

Dengan tangan gemetar, Arlan mengangkat bingkai itu. Di bawahnya, ia menemukan surat yang ia tulis minggu lalu—surat yang seharusnya tidak pernah dibaca Raia karena itu hanyalah draf pelariannya. Surat itu tampak sedikit lecek, tanda seseorang telah meremasnya dengan penuh rasa sakit.

"Dia sudah baca..." bisik Arlan parau.

Penyesalan itu menghantamnya lebih keras dari hantaman ombak. Kebohongannya tentang memiliki pacar di London hanyalah tameng karena ia merasa tidak cukup sukses untuk pulang menemui Raia. Ia pikir dengan berpura-pura bahagia, Raia akan membencinya dan pelan-pelan melupakannya tanpa rasa sakit yang berkepanjangan.

Melihat foto itu tertelungkup, Arlan sadar bahwa Raia bukan hanya membencinya, tapi sudah selesai dengannya. Tidak ada air mata di atas meja itu, tidak ada pesan kemarahan. Hanya sebuah foto yang dibalikkan—simbol bahwa bagi Raia, wajah Arlan bukan lagi sesuatu yang ingin ia lihat.

Arlan duduk di tepi tempat tidur, memandangi ponselnya yang menampilkan ruang obrolan mereka yang kini hanya berisi satu centang abu-abu. Ia baru saja kehilangan satu-satunya orang yang tulus menunggunya, hanya karena ia terlalu pengecut untuk jujur pada perasaannya sendiri.

Di luar, suara mobil bagus mungkin sudah menjauh, tapi di dalam kamar itu, gema suara ibunya terus terngiang: "Kamu baru pulang saat semuanya sudah terlambat."

Arlan terduduk lemas di tepi tempat tidur yang dingin. Keheningan kamar itu seolah menghakimi setiap kebohongan yang ia bangun dari London. Dengan tangan gemetar, ia merogoh ponselnya. Cahaya layar yang terang menyilaukan matanya yang sembap.

Ia membuka kolom obrolan dengan Raia. Jemarinya ragu, namun rasa sesak di dadanya jauh lebih besar daripada rasa malunya.

"Ra, maafkan aku. Semua foto itu... gadis itu... itu semua bohong. Aku cuma nggak mau kamu terus nunggu aku yang merasa gagal di sini. Aku takut kamu kecewa kalau tahu aku di sana cuma kesepian dan nggak sesukses yang kamu bayangkan. Aku baru saja sampai di rumah, Ra. Aku lihat kamu dari balkon tadi. Tolong, kasih aku waktu buat jelasin semuanya."

Arlan menekan tombol kirim dengan jantung berdegup kencang. Ia menunggu. Satu detik, sepuluh detik, satu menit.

Namun, pesan itu tetap berstatus centang satu abu-abu.

Ia mencoba menekan tombol telepon. Suara operator yang datar segera menyambutnya: "Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan."

Arlan mencoba lagi, dan lagi. Hingga akhirnya ia sadar, Raia tidak sedang kehilangan sinyal. Raia telah memutus jembatan yang selama sepuluh tahun ini mereka bangun. Pengakuan jujur Arlan yang terlambat itu hanya menggantung di ruang hampa, tidak akan pernah sampai ke layar ponsel Raia yang saat itu sedang tertawa kecil mendengar cerita lucu bagus di kedai sate.

Arlan melempar ponselnya ke kasur, menutupi wajah dengan kedua telapak tangan. Benar kata Ibunya, kejujuran yang datang setelah kepercayaan mati hanyalah sebuah kebisingan yang tidak berarti. Raia sudah pergi, bukan karena dia tidak sayang, tapi karena dia sudah terlalu lelah menghadapi bayangan yang hobi bermain teka-teki.

Malam itu, di kamar yang pernah penuh dengan mimpi mereka berdua, Arlan akhirnya menangis sendirian dalam penyesalan yang paling sunyi.

1
Tamirah Spd
Kenapa Arlan menyalahkan Raia dgn laki laki lain selama diluar negeri gak ada komunikasi dgn alasan sibuk kuliah.Tiba tiba jadi atasan dan tiba tiba dia bantu kesembuhan Ayah Raia dan Pendidikan, dimana alur cerita nya Thor....????
Heni Ratna
Hubungan Raia dan Bagus,apa kabar?semakin penasaran dengan konfliknya
Tamirah Spd
Cerita nya masih datar belummm ada konflik lanjut Thor.
Tamirah Spd
Sahabat tapi mesra lanjut Thor belum tahu alur cerita nya masih mukadimah.
Ganendra Dimitri
kok q jadi tambah bingung ma ceritanya thor
Heni Ratna: anda tidak sendirian,,,sy jg demikian lini masa nya yg agak bias,,,tapi tetap penasaran dengan kelanjutan konfliknya
total 3 replies
Alfina Rosa
Seperti.a cerita.a bagus, aku terusin baca.a ea thour...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!