lanjutkan Jek adalah seorang yang terlahir di keluarga
kurang mampu namun ia memiliki kecerdasan dan kejeniusan tentang dunia apa saja karena ia memiliki
sistem yang dapat membuat ia kaya mendadak dalam percintaan ia menemukan ratu yang mencintainya dengan tidak kenal kondisi suka maupun duka bagaimana kelanjutan langsung ajaaa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 25
Gidion melemparkan sekantong kecil beras ke tanah dengan kasar, matanya masih tak lepas dari Jek yang sedang sibuk menjilati sisa busa sabun di tangannya (sebuah akting yang membuat Rara hampir muntah di tempat).
"Ambil itu," desis Gidion. "Tapi jangan pikir ini selesai. Keberuntungan punya batasnya, Gembel. Dan bau sabunmu itu mulai tercium seperti kebohongan."
Begitu Gidion dan para penjaga menghilang di balik keremangan hutan jati, Jek langsung tegak. Ia meludah ke samping, wajah bodohnya lenyap berganti dengan tatapan tajam yang dingin. "Dia akan kembali malam ini."
"Aku tahu," sahut Rara sambil memungut kantong beras itu. "Dia tidak akan puas sampai dia melihat apa yang ada di dalam gubuk ini. Maya, sembunyikan semua sisa peralatan teknismu. Jangan sampai ada satu pun baut yang terlihat terlalu 'modern'."
"Sudah kulakukan sejak tadi siang, Kak," Maya masuk ke gubuk dan mulai menata tumpukan kain kusam di atas lantai kayu yang berlubang. "Tapi Jek, tendanganmu tadi... itu berisiko tinggi. Katup udara itu seharusnya tidak terbuka hanya dengan satu hantaman kaki manusia biasa."
"Aku tidak punya pilihan," Jek duduk di sudut ruangan, mengusap mur kusam di jarinya. "Kalau mesin itu tidak menyala, dia akan terus menahanku di sana sampai aku melakukan kesalahan bicara. Setidaknya sekarang dia pikir aku hanya orang gila yang punya kekuatan fisik kasar."
Malam turun dengan sangat pekat. Tidak ada lampu jalan, tidak ada pendar satelit. Hanya suara jangkrik yang bersahut-sahutan dengan detak jantung mereka sendiri. Mereka bertiga tidak tidur. Mereka duduk dalam kegelapan, menunggu.
Sekitar tengah malam, suara gesekan halus terdengar dari balik dinding belakang gubuk. Seseorang sedang mencoba mencungkil papan kayu yang longgar. Jek memberi isyarat pada Rara dan Maya untuk tetap diam.
Sebuah tangan masuk melalui celah kayu, meraba-raba ke dalam. Gidion. Dia tidak menggunakan lampu senter agar tidak memancing perhatian warga kamp lain. Dia sedang mencari sesuatu—mungkin sisa memori chip, atau alat komunikasi rahasia yang ia yakini disembunyikan oleh sang mantan "Setan Perak".
Jek memberi isyarat pada Maya. Dengan sangat perlahan, Maya meletakkan sesuatu di jalur tangan Gidion: sisa ubi kayu yang sudah membusuk dan sangat lembek.
Saat tangan Gidion menyentuh benda lembek dan berbau itu, Jek tiba-tiba mengerang keras dalam tidurnya yang dibuat-buat. "Jangan... jangan ambil ubi saya... Setan... pergilah..."
Gidion menarik tangannya dengan jijik, terdengar suara umpatan pelan dari luar.
"Masih mau mencari harta karun di gubuk miskin ini, Tuan Teknisi?" Rara tiba-tiba bersuara dari kegelapan, membuat Gidion tersentak di luar sana.
Gidion terdiam sejenak, lalu suaranya terdengar dari balik dinding. "Kalian sangat meyakinkan. Tapi aku tahu bau kekuasaan, Jek. Kau bisa memakai baju goni dan makan sampah, tapi caramu berdiri... itu bukan cara berdiri seorang pecundang."
"Kau terlalu banyak menonton film lama, Gidion," sahut Jek datar. "Pergilah. Besok aku harus mencangkul lagi. Berasmu tadi hanya cukup untuk tenaga dua hari."
Langkah kaki Gidion terdengar menjauh, tapi mereka tahu ini hanya jeda. Di dunia yang hancur ini, kecurigaan adalah mata uang yang paling berharga, dan Gidion merasa dirinya sedang menjadi orang kaya.
"Dia tidak akan berhenti," bisik Maya setelah memastikan suara langkah kaki Gidion benar-benar hilang ditelan malam. "Orang seperti dia punya insting pemangsa. Dia tidak butuh bukti logis, dia hanya butuh pembenaran atas egonya yang terluka karena dikalahkan oleh 'orang gila'."
Jek berdiri, melepaskan kain kusam yang melilit kepalanya. Dalam kegelapan gubuk, matanya yang berwarna cokelat gelap tampak berkilat. "Dia adalah variabel yang tidak bisa kubiarkan tetap ada. Kalau dia melapor ke pemimpin kamp, mereka akan membakar gubuk ini hanya untuk memastikan aku bukan ancaman."
"Lalu apa rencanamu?" Rara bangkit, tangannya sudah menggenggam gagang belati. "Kita tidak bisa membunuhnya. Itu akan memicu investigasi besar-besaran."
"Aku tidak akan membunuhnya," jawab Jek dingin. "Aku akan melakukan apa yang paling dia takuti: memberikan apa yang dia cari."
Jek melirik Maya. "Maya, kau masih menyimpan sisa motherboard yang sudah gosong dari pemancar Ares itu? Yang sudah benar-benar hancur dan tidak bisa terbaca?"
Maya menyeringai, ia mengerti arah pembicaraan ini. "Ada di bawah tumpukan kayu bakar. Chip-nya sudah hangus, tapi secara visual, itu terlihat seperti teknologi tingkat tinggi yang sangat rahasia."
"Bagus," Jek mengambil papan sirkuit hitam yang sudah meleleh itu. "Rara, besok pagi saat aku pergi ke ladang, pastikan kau 'tidak sengaja' menjatuhkan benda ini di dekat sumur saat Gidion sedang mengawasi. Biarkan dia melihatnya. Biarkan dia mencurinya."
Keesokan harinya, rencana itu berjalan dengan presisi yang menyakitkan. Saat matahari mulai naik, Rara berjalan menuju sumur umum dengan langkah yang terburu-buru, berpura-pura cemas. Saat Gidion terlihat sedang berpura-pura memperbaiki pipa di kejauhan, Rara merogoh sakunya, dan klunting—papan sirkuit hitam itu jatuh ke tanah. Rara segera memungutnya dengan panik, menoleh ke kiri dan ke kanan, lalu menyembunyikannya di balik tumpukan batu besar sebelum pergi mengambil air.
Gidion tidak membuang waktu. Begitu Rara menjauh, dia berlari kecil dan mengambil benda itu. Matanya membelalak melihat kerumitan sirkuit di tangannya. "Aku tahu itu! Kau menyembunyikan sesuatu, Jek!" gumamnya penuh kemenangan.
Namun, Gidion tidak tahu bahwa Jek telah mengoleskan sisa uap fosfor dari baterai bekas di permukaan chip tersebut.
Malam harinya, Gidion mencoba "membedah" temuannya itu di tendanya sendiri. Ia menyalakan lampu minyak, menggunakan kaca pembesar kuno untuk meneliti jalur-jalur emas yang tersisa. Namun, saat ia menyentuh bagian tengah chip, uap fosfor yang bereaksi dengan panas lampu minyak mulai mengeluarkan asap perak tipis.
Gidion terpekik, mengira itu adalah aktifasi sinyal. Tapi yang terjadi adalah hal yang jauh lebih sederhana. Asap itu hanya memicu reaksi kimia kecil yang membakar habis sisa-sisa logam di papan itu, membuatnya hancur menjadi abu di depan matanya dalam hitungan detik.
Tiba-tiba, Jek sudah berdiri di ambang pintu tenda Gidion. Kali ini, Jek tidak berpura-pura bodoh. Ia berdiri tegak, auranya sangat mengintimidasi meskipun ia memakai baju goni yang sobek.
"Kau mencari ini, Gidion?" tanya Jek dengan suara berat yang membuat Gidion merinding.
"J-jek... aku... aku punya bukti kalau kau—"
"Bukti apa?" Jek menunjuk tumpukan abu di meja Gidion. "Yang kau punya hanyalah sampah terbakar. Dan sekarang, kau baru saja menghancurkan barang milik 'Setan Perak'. Kau tahu apa yang terjadi pada orang yang mencoba meretas sistemku?"
Jek melangkah maju, tatapannya begitu tajam seolah-olah mata peraknya kembali muncul. Gidion mundur hingga terpojok ke tiang tenda.
"Dengarkan aku baik-baik," bisik Jek tepat di telinga Gidion. "Aku ingin hidup miskin. Aku ingin hidup tenang. Jika kau terus mengusikku, aku akan memastikan seluruh kamp tahu bahwa kaulah yang mencoba membangkitkan kembali teknologi Ares secara diam-diam. Dengan abu itu di mejamu, siapa yang akan mereka percayai? Teknisi ambisius seperti kau, atau orang gila malang yang hanya ingin makan ubi?"
Gidion menelan ludah, wajahnya pucat pasi. Ia menyadari bahwa Jek telah menjebaknya dalam posisi di mana dialah yang terlihat seperti pengkhianat.
"Sekarang, bersihkan abu itu," perintah Jek kembali ke nada bicaranya yang datar. "Dan besok, kau akan bilang pada pemimpin kamp bahwa aku benar-benar hanya orang bodoh yang beruntung. Mengerti?"
Gidion mengangguk cepat, tangannya gemetar.
Jek keluar dari tenda, kembali ke kegelapan malam. Di luar, Rara dan Maya sudah menunggu.
"Sudah selesai?" tanya Rara.
"Sudah," Jek tersenyum tipis, lalu kembali membungkukkan bahunya, memasang wajah melasnya lagi. "Sekarang, bisakah kita pulang? 'Kuli Pingsan' ini sangat butuh tidur."
Maya tertawa pelan. "Luar biasa. Menakut-nakuti orang dengan sampah terbakar. Benar-benar gaya kemiskinan yang efektif."