NovelToon NovelToon
Clean Off

Clean Off

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Nomella Kamiyama, mahasiswi pindahan dari New York, tiba di California dengan satu misi: mempertahankan kesempurnaan hidupnya—mulai dari penampilan, kecerdasan, hingga kontrol diri yang absolut.
Namun, panggung sempurnanya terusik oleh kehadiran Zeus Sterling, pria paling populer di kampus yang dikenal sangat hangat, narsis, dan gemar menebar pesona.
Di mata Nomella, Zeus hanyalah gangguan visual yang "sok ganteng," sementara bagi Zeus, Nomella adalah tantangan bagi egonya yang setinggi langit.
Namun, di balik senyum menawan dan keramahan yang luar biasa, Zeus menyimpan rahasia kelam. Ia adalah pria yang aslinya dingin dan hancur, yang kini hidup dalam "identitas" kakaknya, Zayn, yang tewas dalam kecelakaan balap tragis. Zeus menolak semua wanita dan hanya ingin langsung menikah, sebuah bentuk duka ekstrem yang ia jalani demi memenuhi ekspektasi orang tuanya dan dunia.
Ketegangan memuncak saat Nomella mulai membongkar topeng Zeus, memicu sisi gelap sang pria yang berbahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Antara Nyaman Dan kewarasan

​Malam di lantai teratas penthouse itu terasa sunyi yang ganjil. Nomella terbaring menatap langit-langit yang dihiasi bayangan lampu kota. Pikirannya berkelana jauh melampaui tembok kamar mewah ini.

Sebulan sudah mereka terikat. Sebulan penuh drama kehamilan yang mereka bangun bersama—awalnya sebagai senjata untuk saling menghancurkan, lalu berubah menjadi sandiwara publik, dan kini menjadi tempat perlindungan bagi jiwa Zeus yang retak.

​Nomella merenung. Di tengah semua kemesraan palsu di kampus, panggilan "Sayang" dan "Hubby" yang mengalir lancar, serta malam-malam panas yang melelahkan, ada satu hal yang hilang. Sebuah kekosongan yang nyata. Zeus belum pernah sekalipun mengucapkan kata "Cinta" padanya.

​Begitu pula dirinya. Nomella sadar, perasaan yang ia miliki untuk Zeus bukanlah cinta romantis yang ada di novel-novel drama yang sering ia rancang. Ini adalah kenyamanan yang aneh. Rasa nyaman yang lahir dari frekuensi debat yang sama, dari persentuhan kulit yang intens, dan dari fakta bahwa hanya mereka berdua yang tahu betapa busuknya kebohongan yang mereka jalani. Ia nyaman karena Zeus adalah satu-satunya orang yang bisa mengimbangi lidah tajamnya, namun ia juga takut karena kenyamanan ini dibangun di atas pondasi yang rapuh.

​Lalu ada masalah obat itu.

​Kekhawatiran mulai merayap di hati Nomella. Ia teringat suara psikiater di telepon: obat penenang dan obat delusi. Zeus sudah sebulan tidak menyentuhnya. Secara medis, penghentian obat secara mendadak bisa memicu ledakan emosional atau bahkan psikosis yang lebih dalam. Nomella memutuskan, besok ia harus bertemu dokter itu secara rahasia. Ia perlu tahu apa efek sampingnya jika Zeus terus-menerus membiarkan delusinya tumbuh tanpa kendali kimiawi.

​Tiba-tiba, tubuh di sampingnya tersentak hebat.

​Zeus terbangun dengan napas yang tersengal-sengal, seperti seseorang yang baru saja ditarik dari kedalaman air yang gelap. Tubuhnya gemetar, keringat dingin membasahi kausnya. Mimpi tentang Zayn, tentang api, dan tentang janji yang mencekik itu kembali datang menyerangnya.

​"Zeus..." Nomella segera bangkit dan memeluknya erat dari samping. Ia bisa merasakan jantung Zeus berdegup liar di balik rusuknya. "Tenanglah. Kau di sini. Kau bersamaku."

​Zeus tidak menjawab, ia hanya terengah-engah, mencoba mengorientasikan dirinya kembali ke dunia nyata.

​"Kau menakuti anak kita, Zeus," bisik Nomella pelan, suaranya lembut namun penuh penekanan. Ia sengaja menggunakan senjata itu untuk membawa Zeus kembali. "Lihat, dia bisa merasakan ketakutanmu."

​Mendengar kata "anak kita", napas Zeus perlahan mulai melambat. Ia seolah menemukan pegangan. Dengan tangan gemetar, ia meraih gelas air di atas nakas dan meneguknya hingga habis. Ia menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan, lalu perlahan menoleh menatap Nomella.

​Tanpa memedulikan sisa-sisa trauma dari mimpi buruknya, Zeus segera mengulurkan tangan. Ia meraba perut rata Nomella di balik jubah sutranya dengan gerakan yang sangat posesif namun penuh kasih.

​"Hey, jagoan..." suara Zeus serak, namun kini terdengar jauh lebih stabil. "Jangan membuat Mommy khawatir, Nak. Daddy baik-baik saja. Tidurlah kembali, Daddy mencintaimu."

​Nomella tertegun. Kalimat itu meluncur begitu saja. Daddy mencintaimu. Zeus bisa mengatakan cinta pada sosok yang bahkan belum tentu nyata, menurut pemikiran Nomella. Namun, ia tidak pernah mengatakannya pada wanita yang sedang memeluknya.

​Nomella tidak lagi membalas dengan kata-kata "kau gila" atau "itu hanya delusi". Ia tidak ingin merusak ketenangan rapuh yang baru saja kembali. Ia melihat rahang Zeus yang mengeras, tanda bahwa pria itu sedang menahan beban mental yang luar biasa.

​Nomella mengulurkan tangannya, mengelus rahang Zeus dengan ibu jarinya, menghapus sisa keringat yang menempel di sana. Matanya menatap Zeus dengan sorot yang kini lebih banyak berisi empati daripada kebencian.

​"Kemarilah," ujar Nomella lembut. Ia mengatur posisi duduknya, bersandar pada bantal yang ditumpuk. "Tidur di pangkuanku saja, Zeus. Biar kamu tenang. Jangan pikirkan mimpi itu lagi."

​Zeus menatap Nomella sejenak, seolah tidak percaya dengan kelembutan yang ditawarkan istrinya. Namun rasa lelah di jiwanya mengalahkan egonya. Ia merebahkan kepalanya di pangkuan Nomella, memposisikan dirinya senyaman mungkin.

​Tangan Nomella mulai menyisir rambut Zeus dengan gerakan ritmis. Ia merasakan tubuh Zeus yang perlahan mulai rileks. Di bawah lampu remang kamar mereka, Nomella menyadari betapa rumitnya hubungan mereka. Mereka berdua adalah sepasang pembohong yang saling membutuhkan untuk tetap waras.

​"Tidurlah," bisik Nomella lagi. "Aku tidak akan membiarkan siapa pun mengganggumu."

​Zeus memejamkan mata, tangannya masih melingkar di pinggang Nomella, dengan telapak tangan yang tetap setia menempel di perut istrinya. Dalam posisi itu, Zeus merasa aman. Ia merasa seolah-olah janji pada Zayn akhirnya terpenuhi melalui keluarga kecil yang ia bayangkan ini.

​Namun Nomella tetap terjaga. Sambil mengusap rambut suaminya, ia menatap ke arah jendela. Besok ia akan mencari dokter itu. Ia harus menyelamatkan Zeus, meski itu berarti ia harus menghancurkan dunia indah yang sedang Zeus tempati saat ini.

​"Kau mencintai anak ini, Zeus," batin Nomella pedih. "Tapi apakah kau sanggup mencintaiku jika suatu saat kau sadar bahwa akulah yang membawa kenyataan pahit itu kembali padamu?"

​Malam itu, di dalam kamar yang sunyi, Nomella akhirnya menerima bahwa perannya bukan lagi sekadar lawan debat. Ia telah menjadi penjaga bagi seorang pria yang hatinya hancur, terikat oleh benang merah kehamilan yang entah nyata atau hanya rekayasa, namun kini terasa begitu berat untuk diputuskan.

🌷🌷🌷🌷

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!