Di SMA Bhakti Nusantara, dua nama selalu jadi pembicaraan—Reina dan Kenzo. Reina adalah ketua OSIS yang disiplin, teliti, dan selalu mengutamakan aturan. Sedangkan Kenzo adalah kapten tim sepak bola sekolah yang populer, tapi sering mengabaikan peraturan dan membuat masalah.
Mereka saling membenci sejak awal tahun ajaran, ketika Kenzo sengaja merusak dekorasi acara pembukaan yang sudah Reina susun dengan teliti. Sejak itu, setiap pertemuan mereka selalu berujung pada argumen dan perselisihan. Reina menganggap Kenzo sombong dan tidak bertanggung jawab, sementara Kenzo menyebut Reina pelit dan terlalu serius.
Namun, takdir membawa mereka bersama ketika sekolah mengadakan program "Pasangan Tugas" untuk lomba ilmiah tingkat nasional. Mereka terpaksa bekerja sama, dan perlahan-lahan menemukan sisi lain satu sama lain. Reina melihat bahwa Kenzo sebenarnya memiliki hati yang baik dan selalu siap membantu teman, sedangkan Kenzo menyadari bahwa ketegasan Reina datang dari rasa peduli.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elvandem Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gema di Bawah Langit Kembang Api
Berita tentang insiden lampu panggung dan aksi heroik Kenzo menyebar secepat kilat di seluruh penjuru SMA Garuda. Gosip tentang sang Kapten Basket yang menggendong "Ibu Ketua" yang kaku ke UKS menjadi topik paling hangat, mengalahkan antusiasme pameran seni itu sendiri.
Di dalam UKS yang tenang, hanya terdengar suara detak jam dinding dan gemericik air dari keran yang bocor. Reina duduk di pinggiran kasur putih, matanya terpaku pada Kenzo yang sedang meringis kecil saat perawat sekolah membersihkan luka di lengannya.
"Pelan-pelan, Sus. Dia itu memang sok kuat, tapi sebenarnya manja," sindir Reina, meski nada suaranya jauh dari ketus. Ada getaran perhatian yang tidak bisa ia sembunyikan.
Kenzo terkekeh, menoleh ke arah Reina dengan tatapan yang kini seratus persen lembut. "Manja cuma sama kamu, Rein. Kalau sama yang lain, aku tetap predator di lapangan."
Setelah perawat keluar, keheningan yang canggung namun manis menyelimuti mereka. Reina meraih kapas bersih, mencoba merapikan plester di lengan Kenzo yang sedikit miring.
"Ken..." panggil Reina lirih.
"Hmm?"
"Kenapa kamu berani banget? Kamu bisa saja celaka gara-gara aku."
Kenzo meraih tangan Reina yang sedang memegang lengannya, menghentikan gerakan gadis itu. Ia menatap mata Reina dalam-dalam. "Karena bagiku, festival ini nggak ada artinya kalau arsiteknya nggak ada di sini. Aku bisa bangun seribu panggung, Rein, tapi aku nggak bisa nemuin orang yang bisa bikin aku jadi lebih baik selain kamu."
Reina tertegun. Kalimat itu menghantam pertahanannya yang terakhir. Ia tidak lagi memalingkan wajah. Ia justru membiarkan tangannya tetap berada dalam genggaman Kenzo.
Malam Puncak: Antara Gengsi dan Pengakuan
Pukul tujuh malam. Halaman sekolah sudah penuh sesak. Lampu lampion yang mereka beli bersama kini menyala sempurna, menciptakan atmosfer magis yang romantis. Aris, si cowok dari sekolah sebelah, tampak berdiri di sudut panggung dengan wajah lesu—ia sadar posisinya sudah tergeser jauh.
Reina berdiri di balik tirai, mengenakan kebaya modern berwarna putih tulang yang dipadukan dengan kain batik, membuatnya tampak sangat anggun dan berbeda dari "Reina yang kaku" di hari-hari biasa.
"Ehem. Cantik banget."
Reina menoleh. Kenzo berdiri di sana, mengenakan kemeja batik yang senada dengan corak kain Reina. Rambutnya yang biasa berantakan kini disisir rapi, memperlihatkan dahi dan garis rahangnya yang tegas.
"Kamu... rapi juga ternyata," balas Reina, pipinya merona merah di bawah cahaya lampu remang.
"Waktunya pengumuman pemenang stan terbaik, Rein. Kamu yang naik ke panggung?" tanya Kenzo.
"Kita. Kita yang naik, Ken. Ini proyek kita berdua," tegas Reina.
Saat mereka melangkah ke tengah panggung, seluruh siswa bersorak. Riuh rendah tepukan tangan menyambut pasangan yang selama dua tahun ini hanya dikenal karena pertengkaran mereka yang legendaris.
Reina memberikan pidato penutup yang menyentuh tentang bagaimana perbedaan pendapat justru bisa menciptakan sesuatu yang indah—sebuah sindiran halus bagi hubungan mereka sendiri.
Hadiah Terakhir di Bawah Kembang Api
Setelah acara resmi selesai, musik akustik mulai dimainkan. Para siswa mulai berdansa dan menikmati suasana malam. Kenzo menarik tangan Reina, membawanya menjauh dari kerumunan, menuju atap gedung sekolah (rooftop) yang biasanya terkunci, namun Kenzo tentu punya "cara" untuk membukanya.
Di atas sana, angin malam berembus tenang. Seluruh lampu kota Jakarta terlihat seperti hamparan permata di kejauhan.
"Rein," Kenzo berdiri di tepi pagar pembatas, menatap langit. "Ingat waktu aku bilang kalau cacat sedikit itu yang bikin sesuatu jadi indah?"
Reina berdiri di sampingnya. "Ingat."
Kenzo merogoh kantong celananya, mengeluarkan sebuah kotak kecil. Bukan berisi cincin emas yang mahal, melainkan sebuah lencana perak berbentuk logo OSIS dan Bola Basket yang menyatu—hasil tempahan khusus yang ia pesan diam-diam.
"Dua tahun kita jadi lawan. Saling menjatuhkan, saling menghina. Tapi ternyata, di balik semua kebencian itu, kamu adalah satu-satunya orang yang bikin aku pengen bangun tiap pagi cuma buat denger omelanmu," Kenzo terkekeh pelan. "Reina Calista, mau nggak berhenti jadi lawanku dan mulai jadi... masa depanku?"
Tepat saat itu, kembang api besar meluncur ke langit, meledak menjadi ribuan percikan cahaya warna-warni yang menerangi wajah mereka.
Reina menatap lencana itu, lalu menatap Kenzo. Air mata bahagia perlahan jatuh di pipinya. Ia tidak menjawab dengan kata-kata, melainkan dengan tindakan. Reina berjinjit, lalu memeluk leher Kenzo dengan erat, menyembunyikan wajahnya di dada bidang cowok itu.
"Itu artinya apa, Bu Ketua? Aku butuh jawaban verbal," bisik Kenzo, tangannya melingkar posesif di pinggang Reina.
Reina mendongak, tersenyum dengan binar mata yang paling jujur yang pernah ada. "Iya, Kenzo. Aku mau. Tapi jangan harap aku berhenti mengomel kalau kamu berantakan."
Kenzo tertawa lepas, suara tawanya menyatu dengan suara kembang api di atas sana. Ia mendekatkan wajahnya, mengecup dahi Reina dengan lembut dan lama.
"Janji. Karena omelanmu adalah lagu favoritku."
Di bawah langit yang penuh cahaya, dua hati yang dulunya saling tolak-menolak itu kini akhirnya menemukan frekuensi yang sama. Perang telah usai, digantikan oleh kedamaian yang disebut dengan cinta sejati.
Epilog: Satu Tahun Kemudian
Di mading sekolah yang sama tempat kisah ini bermula, terpampang sebuah foto baru. Foto Reina dan Kenzo yang memakai toga kelulusan, saling merangkul dengan senyum lebar. Di bawahnya tertulis sebuah kutipan pendek dalam tulisan tangan Reina:
"Kadang, orang yang paling ingin kamu hindari adalah orang yang paling kamu butuhkan untuk melengkapi jiwamu."
Gisel yang lewat di depan mading itu hanya tersenyum sambil memakan keripik singkongnya. "Sudah kubilang, benci itu cuma cinta yang lagi malu-malu," gumamnya, lalu berjalan pergi meninggalkan kenangan manis di koridor SMA Garuda.