Demi bertemu sang ibu, Liya berlari ke portal. Akan tetapi, jiwanya malah berpindah ke dunia hewan. Di sana, dia terkejut mendapati tubuh yang dia tempati sangat gendut berbeda dengan tubuh aslinya. Tabiatnya buruk dan malah mendapatkan empat suami hewan yang ingin membunuhnya karena perjodohan dewa monster. Dengan kematian, maka perceraian bisa terjadi.
"Tidaaaaaaaaak!" Liya menjerit keras, yang dia inginkan bertemu ibunya atau kembali ke dunia asalnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rozh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4. Bertemu Suami ke-3
Loki senang, dia segera menyampaikan kepada tiga suami Liya lainnya, jika wanita gendut itu bersedia bercerai.
"Baik, aku akan segera mengumpulkan permata dan mutiara delima hewan level 15 untuk persembahan perceraian serta harta cerai untuknya!"
"Hahaha, aku juga!"
Saat mereka masih bergembira, tak jauh dari gua tempat tinggal Liya berada mereka berkumpul, tercium aroma yang sangat harum sekali.
"Aroma apa ini, harum sekali. Mirip daging panggang tapi lebih harum 'kan. Siapa yang memasak?" Pria tampan bertelinga belang mengendus dengan hidungnya.
"Hmm, harum sekali." Hidung rubah juga mengendus mencari dari mana asal aroma yang sangat harum itu.
Bukan cuma mereka berempat yang bisa mencium aroma lezat itu, tetapi beberapa kelompok yang hidup tak jauh dari gua Liya. Tanpa sengaja, karena aroma yang membuat lapar, mereka semua sudah sampai di sekitaran Liya yang memasak di samping rumahnya, tepat di bawah pohon.
Mereka berempat saling pandang, dan juga para hewan lainnya yang tiba-tiba sampai karena tergoda aroma harum itu. Semuanya terpaku melihat Liya si gendut duduk di atas kayu sambil mengoleskan sesuatu di atas ikan bakar. 'Bumbu itu seperti nya yang sangat harum, tapi ngomong-ngomong, sejak kapan monster cacat itu bisa memasak?' Begitulah pikiran mereka semua.
Biasanya mereka yang akan membakarkan daging buruan itu untuk Liya, Abyssal sampai mengucek matanya.
"Loki, kau hanya berburu hewan kecil itu dan dia menerimanya?" Abyssal menatap si rubah.
"Tidak, aku memberikan dia kambing liar, tapi dia menolak dan berkata setuju bercerai, lalu aku membawa kembali kambing pulang ke rumahku!" jawab Loki.
"Oh begitu. Memangnya dia bisa masak? Kenapa setiap aku berburu, selalu aku yang memanggang kan untuknya!" Abyssal kesal. 'Jangan-jangan dia mengincarku dan ingin menceraikan yang lain, yang di bakar itu ikan, kemarin dia juga ingin membuat ikan bakar. Sial, dia benar-benar ingin menyiksa aku!' gerutu Abyssal dalam hati. Ekornya baru saja disembuhkan dengan pil yang sangat mahal. Tak ingin lagi dirusak oleh Liya, apalagi jika betina gendut itu meminta sesuatu dari badannya. Tidak akan!
"Sebelumnya tidak bisa," si telinga harimau menyahut.
"Kalau begitu biar aku selidiki, sekalian mau bertanya apa benar dia bersedia bercerai dengan kita, atau hanya kata emosi sesaat pada si rubah ini!" Pria tampan bertanduk merah menunjuk Loki. Kemudian dengan langkah besar berjalan mendekat ke arah Liya.
"Kamu butuh ini, untuk menambah cita rasa?" Pria itu memberikan benda kekuningan dari dalam kantong. "Ini garam, daging bakar akan lebih enak jika ditambahi garam," lanjutnya.
Liya mengangkat kepala, menatap ke atas. Luar biasa! Makhluk ciptaan Tuhan sungguh indah. Dalam ingatan tubuh yang dia pakai, pria tampan ini juga salah satu suaminya, siluman ular hitam. Matanya emerald, tanduk merah diantara rambut hitamnya yang lebat membuatnya terlihat semakin seksi.
Pandangan Liya dari wajah, kini turun ke bawah, dada dan perutnya sungguh otot yang ideal, dia suka sekali! Kulitnya bersih, mulus. Liya meneguk saliva, ini adalah favoritnya, siluman ular ini wajah dan tubuhnya bagus sekali, tapi aslinya dia sangat geli dengan ular. Mata Liya kembali turun ke bawah melihat kaki, pakaian penduduk di dunia ini sangat buruk, kebanyakan dari kain kasar dan kulit hewan. Pria tampan ini juga pakaiannya terbuat dari kulit hewan hitam, tapi mengkilat.
"Ck!" Dia berdecak dan menutupi sel4ngkangannya. "Kau masih saja mesum, Betina!" Dia merunduk, meletakkan sekantong garam.
"Kau salah sangka, aku hanya melihat pakaianmu, tidak berniat kawin denganmu! Terimakasih garamnya!" Liya segera mengambil garam kasar berwarna kekuning-kuningan itu.
'Garam kualitas buruk, di kerajaan Nerluc garam begitu putih, disaring dan diproduksi dengan hati-hati, ada yang halus dan kasar. Baiklah, tak apa-apa, ini lebih baik dari pada tanpa garam!' gumam Liya dalam hati.
Seingat tubuh yang di pakai, garam ini adalah produk mahal. Liya geleng-geleng kepala, barang tidak bagus seperti itu tapi mahal sekali.
Setelah matang, melihat suami ularnya masih duduk melihat, dia memberikan satu ekor ikan yang sudah di bakar dan ditambahi garam tadi. "Ini jatahmu, karena sudah berbagi garam padaku!"
"Ini bisa dimakan? Hewan kecil penuh duri!" Dia menatap ragu.
"Kalau tidak mau ya sudah, bawa kemari untukku!"
"Eh, hal yang sudah diberikan tidak boleh diminta lagi!" katanya. Walaupun dia tidak tahu apakah ini bisa di makan, tapi aroma harum membuat dia penasaran sekali.
Liya langsung memakan ikan bakar, membuang tulang-tulang ikan. Suami ularnya juga mengikuti. Dia menjilat sampai tulang-tulang, bahkan menyedot otak di kepala ikan. Melihat itu, tiga suami lainnya juga sangat penasaran. Mereka masih mengintip dari semak-semak dari kejauhan.
Mereka menelan ludah saat melihat siluman ular itu juga menerima minuman berwarna kuning, itu tampak lezat sekali.
"Dasar siluman ular, biasanya dia paling benci Liya, sekarang dengan tidak tahu malu menumpang makan, katanya cuma mau selidiki dan bertanya perihal setuju cerai!" Abyssal tampak kesal.
Siluman ular ini bernama Bayu Mortis, dia lupa apa tujuannya datang karena cita rasa yang menggelitik lidahnya, meletup nikmat sekali.
Melihat itu, tiga suami Liya lainnya menjadi lapar, aroma ikan bakar sangat harum. Mereka ingin makan ikan bakar dan minum air kuning kental itu. Tapi, minta ke Liya? Tidak bisa! Mereka tidak ingin menurunkan harga diri untuk meminta makanan pada betina gendut tukang ganggu hidup mereka.
"Apa nama makanan hewan berduri ini?" tanya Bayu.
"Ikan bakar," jawab Liya.
"Oh, rasanya enak, tidak masalah sedikit repot membuang durinya karena enak. Lalu, minuman kuning tadi apa?" Awalnya, Bayu jijik, tapi karena penasaran dia mencicipi, sekali cicip langsung tandas satu wadah minum yang terbuat dari bambu. Dia pikir itu kotoran sebelumnya.
"Jus buah mangga."
"Buah mangga?" Bayu memiringkan kepala, dia tidak tahu buah itu.
"Itu!" Liya menunjuk pohon besar yang tak jauh dari semak, disana banyak sekali buah mangga yang masak. Sekarang saja jika dikumpulkan akan mendapatkan lebih dari satu karung buah yang masak, di bawah pohon saja juga banyak yang jatuh-jatuh saking masak ranumnya.
"Oh, bijinya bisa hancur juga?" Bayu pernah memakan buah berwarna kuning itu, saat melihat hewan monyet memakannya, buah itu ada biji yang besar.
"Tidak. Hanya daging buah, tanpa biji. Coba saja kamu buat sendiri. Ambil daging buah lalu tumbuk dan saring dengan kain kasar ampasnya."
Bayu mengangguk, dia pasti akan mencobanya nanti setelah ini.
"Itu ... kenapa?" Bayu menatap tumpukan sampah dan selimut yang tak jauh dari posisi mereka.
"Selimutku sudah tidak layak pakai dan sangat kotor, ingin aku buah jauh-jauh, tapi aku kelelahan."
"Mau aku bantu?"
Liya menatap Bayu cukup lama. Seingat dia, suaminya tidak ada yang suka dan peduli pada dirinya, tapi melihat reaksi Bayu barusan, Liya mengerti satu hal.
"Oh, boleh. Tolong bantu aku membuang semua barang-barang kotor itu. Di dalam juga sekalian ya, masih ada banyak, aku tidak sanggup. Tolong, ya."