NovelToon NovelToon
Hamil Tujuh Bulan, Aku Tinggal Bersama Kakak Iparku

Hamil Tujuh Bulan, Aku Tinggal Bersama Kakak Iparku

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: Shalema

Suami Ishani telah pergi, meninggalkan satu janji yang tidak pernah sepenuhnya ia pahami.

Kini Ishani berada di bawah satu atap dengan Langit, pria yang memiliki wajah yang sama seperti mendiang suaminya, tetapi tidak dengan hatinya.

Tatapan Langit selalu dingin.
Sikapnya penuh jarak.
Seolah kehadiran Ishani dan bayi di rahimnya adalah pengingat akan sesuatu yang ingin ia lupakan.

Ishani hanya ingin melahirkan dengan tenang.

Namun semakin lama ia tinggal di rumah itu, semakin ia menyadari bahwa yang sedang ia hadapi bukan sekadar hubungan ipar.

Ada luka lama.
Ada pengorbanan yang tak pernah benar-benar diterima.

Dan ada kecemburuan yang tumbuh diam-diam sejak mereka masih kecil.
Di antara bayi yang tak bersalah dan masa lalu yang belum selesai…

Ishani terjebak di tengah dua saudara yang dipisahkan oleh takdir.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shalema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25: Janji yang Dibayar

Dokter menutup map rekam medis di tangannya dan tersenyum kecil. “Kalau melihat kondisinya sekarang, Ibu sudah boleh pulang hari ini.”

Ishani menatap dokter itu beberapa detik, seolah memastikan ia tidak salah dengar. “Benar, Dok?”

“Benar,” jawab dokter. “Lukanya bagus, tekanan darah juga stabil. Bayinya juga sehat.”

Ishani menoleh ke arah box bayi di samping ranjang. Iyan sedang tertidur dengan tangan kecil terangkat di dekat pipinya. Perasaan lega mengalir pelan di dadanya.

Selama beberapa bulan terakhir, kata “risiko” selalu mengikuti kehamilannya. Sekarang dokter mengatakan semuanya baik-baik saja. Ia akhirnya bisa bernapas lebih tenang.

Dokter berdiri. “Tapi tetap jangan terlalu lelah. Istirahat cukup dan kontrol dua minggu lagi.”

“Iya, Dok. Terima kasih.”

Setelah dokter keluar, ruangan kembali hening. Langit berdiri di dekat jendela. Bu Maura sedang merapikan beberapa barang di meja.

Ishani memandang mereka berdua sebelum akhirnya berkata pelan, “Kak… Bu…”

Keduanya menoleh menatap Ishani. 

“Kalau sudah boleh pulang… aku ingin kembali ke rumah.”

Langit langsung menatapnya.

“Rumah yang dulu…?” tanya Bu Maura.

Ishani mengangguk. “Rumah yang aku tempati bersama Mas Biru.”

Ishani terdiam beberapa saat. Ia menunduk. “Selama ini aku tinggal bersama Kak Langit karena kehamilanku berisiko,” lanjutnya pelan. Ada kekhawatiran Langit akan tersinggung. “Sekarang dokter bilang semuanya sudah aman.”

Tangannya menyentuh lembut selimut Iyan. “Aku ingin menghabiskan sisa masa iddahku di sana.”

“Lang…?” Bu Maura bertanya pada Langit. 

Langit terdiam. Pandangannya lurus menatap Ishani. Ekspresinya tidak terbaca. Ia menghela napas sebelum berkata, “Baiklah. Kalau itu memang keinginanmu, Shani.”

Ishani mengangkat kepalanya. Pandangan mereka bertemu untuk beberapa detik. 

Langit mengalihkan pandangannya pada Bu Maura. “Bu, aku titip mereka berdua.”

Bu Maura mengangguk sambil tersenyum. 

Keesokan harinya, Sore hari, Langit berdiri di depan pintu rumah kecil itu. Rumah itu tidak berubah. Ishani berdiri di sampingnya, menggendong Iyan yang masih terlelap di pelukannya.

Ishani menatap rumah itu lama. Dadanya terasa sesak oleh sesuatu yang sulit dijelaskan. Dua bulan lalu ia meninggalkan rumah ini sebagai seorang istri yang kehilangan suaminya. Hari ini ia kembali sebagai seorang ibu. Namun kenangan di tempat ini masih sama. Masih terasa hidup.

Matanya berhenti pada kursi kayu di dekat jendela. “Mas Biru biasanya duduk di situ,” katanya pelan.“Kalau sore… dia suka minum kopi sambil dengerin suara anak-anak main di gang.”

Langit menoleh sebentar ke arah kursi itu. 

Ia tidak berkata apa-apa. Namun dalam diamnya, ia bisa membayangkan Biru duduk di sana.

Tertawa.

Hidup dengan sederhana, jauh dari keluarga yang pernah menolaknya.

Ishani menoleh ke arah kamar. “Terima kasih, Kak. Sudah mengizinkanku kembali ke sini dulu sebelum kita menikah.”

Langit mengangguk.

“Aku juga ingin menikah di sini,” lanjut Ishani pelan.

Langit tidak terlihat terkejut. “Baik,” jawabnya singkat.

Ishani merasa lega.

Langit berjalan ke arah pintu.

“Aku langsung pulang ke Jakarta. Kalau ada apa-apa, telepon aku.”

Ishani terkejut. “Kak Langit… tidak mau menginap dulu?” tanyanya pelan. 

Entah kenapa, saat Langit akan pergi, ada rasa takut yang tiba-tiba muncul di dadanya. Selama ini pria itu selalu ada di dekatnya.

“Ada pekerjaan yang harus kuselesaikan.”

Ishani menunduk, mengiggit bibir bawahnya. “Baiklah,” ucapnya pelan. 

“Aku pamit.”

“Kak…”

“Iya.”

“Jangan terlalu keras pada diri sendiri.”

Langit berhenti sejenak sebelum keluar.

Ia tidak menjawab, tapi ada sesuatu di wajahnya yang terlihat lebih tenang.

🥀🥀🥀🥀🥀

Rumah keluarga Wicaksana sore itu terasa sedikit mencekam.  Meilina berdiri di depan Nenek Haura dengan wajah merah menahan marah. “Apa Nenek tahu apa yang sudah Langit lakukan?”

Nenek Haura duduk tegak di kursi besarnya. Tangannya memegang tongkat seperti biasa. Wajahnya tenang. “Dia sedang menepati janji.”

Meilina tertawa tidak percaya. “Janji?” ulangnya tajam. “Dia mempermalukan keluarga saya!”

Di sudut ruangan, Zaka menyandarkan tubuhnya ke meja dengan santai. “Kalau kamu mau,” katanya ringan, “Kita masih bisa lanjut.”

Meilina menoleh padanya dengan tatapan dingin. “Aku tidak butuh pengganti.”

Zaka mengangkat bahu. “Sayang sekali.”

Pak Rama berdiri di dekat jendela, wajahnya tegang. “Masalahnya bukan hanya pernikahan,” katanya akhirnya. “Ada kesepakatan bisnis antara keluarga kita.”

Meilina langsung menoleh pada Nenek Haura. “Itu yang ingin saya dengar.”

Namun Nenek Haura tidak terlihat terganggu sedikit pun. “Kalau keluarga Anda merasa dirugikan,” katanya pelan, “kita batalkan saja kerja samanya.”

Ruangan itu langsung hening.  Bahkan Zaka yang biasanya santai terlihat terkejut.

Pak Rama menatap ibunya. “Bu…”

Nenek Haura mengangkat tangannya, menghentikan semua protes. “Perjanjian bisnis bisa dibuat lagi,” lanjutnya dingin. “Tapi janji tidak.”

Meilina mengepalkan tangannya. Ia tidak menyangka wanita tua ini benar-benar bersedia mengorbankan kerja sama bisnis besar hanya untuk keputusan Langit.

Tanpa berkata apa-apa lagi, ia membalikkan badan dan berjalan keluar. Ia menutup pintu depan dengan keras. 

Zaka menghela napas panjang. “Sayang sekali.” Lalu ia ikut pergi.

Malamnya, Langit menemukan neneknya di ruang kerja. Wanita tua itu duduk di balik meja besar dari kayu tua, membaca setumpuk dokumen  dengan teliti.

Langit berhenti di depan meja. “Nek.”

Nenek Haura tidak langsung menoleh. “Kamu sudah dengar tentang Meilina?”

Langit mengangguk pelan. “Kenapa nenek melakukan itu?”

Nenek Haura mengangkat kepalanya. Tatapannya tetap tajam seperti biasa, menembus lurus ke arah cucunya. “Aku orang yang menepati janji, Langit.”

Ia menutup map dokumen di depannya dengan tenang, lalu menyandarkan punggungnya pada kursi. “Anggap saja sekarang kita impas.”

Langit mengernyit.

Namun sebelum ia sempat bertanya, neneknya melanjutkan, “Bukankah dulu kau juga berkorban saat aku memintamu tinggal di sini… dan meninggalkan ibu serta adikmu?”

Langit membeku. Kalimat itu seperti membuka kembali luka lama yang selama ini ia paksa untuk dilupakan.

Ia masih ingat hari itu dengan sangat jelas.

Hari ketika ia mencoba pergi dari rumah Wicaksana. Ia ingin kembali pada ibunya. Pada Biru. Namun Nenek Haura menghentikannya di depan pintu.

Wanita tua itu berkata dengan suara dingin yang tidak pernah ia lupakan. Jika ia memilih pergi bersama ibu dan adiknya, maka operasi Biru yang akan dilakukan keesokan harinya akan dibatalkan. Namun jika ia tetap tinggal di keluarga Wicaksana, operasi itu akan tetap dilakukan. Biru akan diselamatkan. Dan ibunya tidak akan pernah kekurangan apa pun.

Saat itu Langit masih terlalu muda untuk menghadapi pilihan seperti itu. Tapi ia tahu satu hal… ia tidak bisa kehilangan Biru. Jadi ia memilih tinggal.

Sejak hari itu, Langit membiarkan hidupnya diatur oleh keluarga Wicaksana. Ia tidak pernah melawan. Tidak pernah membantah. Karena setiap kali ia mencoba memberontak, ancaman yang sama selalu kembali diucapkan. Ibu dan Biru bisa disakiti kapan saja. Karena itu ia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak pernah mempermalukan nama Wicaksana.

Namun di balik semua itu, ada satu permintaan yang pernah ia ajukan pada neneknya. Permintaan yang tidak diketahui siapa pun. Suatu malam bertahun-tahun lalu, Langit berdiri di ruangan yang sama dan berkata pada neneknya, bahwa suatu hari nanti, jika ia menemukan seorang wanita yang ingin ia nikahi,  maka keluarga Wicaksana tidak boleh menentangnya.

Dan Nenek Haura menyanggupi permintaan itu. Dengan satu syarat. Selama Langit tetap membawa nama Wicaksana di pundaknya.

“Sejak itu,” lanjut Nenek Haura, “kau menjadi cucu yang baik.”

Langit menunduk sedikit. Perasaan di dadanya terasa aneh. Antara marah. Dan kosong.

“Jadi ini… balasan nenek?” tanyanya pelan. 

Nenek Haura tidak menjawab langsung. Ia hanya menatap cucunya lama. “Kau menepati janjimu dulu,” katanya akhirnya. “Sekarang aku menepati janjiku. Dalam keluarga ini, janji selalu dibayar mahal.”

Langit tidak tahu harus merasa apa. Ia berdiri beberapa detik sebelum akhirnya keluar dari ruangan itu.

Langit berdiri di balkon rumah.  Angin malam terasa dingin. Rumah ini selalu terasa besar. Terlalu besar. Dan terlalu sepi.

Langit memandang langit malam. Di suatu tempat, Ishani mungkin sedang mencoba menenangkan Iyan yang menangis. Di rumah kecil yang penuh kenangan Biru.

Langit menghela napas pelan.

“Biru…” Ia bergumam pelan. “Aku sudah menepati janjiku.”

Langit menutup matanya sejenak.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tidak merasa sendirian.Karena sekarang  ada seseorang yang menunggunya pulang. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Langit merasa rumah bukan lagi tempat yang harus ia tinggali. Tapi tempat yang ingin ia tuju.

1
🍾⃝ʙͩᴜᷞʟͧᴀᷠɴͣ sᴇᴘᴀʀᴜʜ
langit cuma ga pede aja, bukan benci sama permintaan tolong si biru. yakin
🍾⃝ʙͩᴜᷞʟͧᴀᷠɴͣ sᴇᴘᴀʀᴜʜ
yang penting kacamata yaudalah maaaa ... 😭 maaf reflek ingat meme itu
🍾⃝ʙͩᴜᷞʟͧᴀᷠɴͣ sᴇᴘᴀʀᴜʜ
laki2 pujaan, bertanggungjawab atas milik sahabatnya. kelak akan menjadi bapak tiri yang sayangnya bukan kepalang. aamiin
🍾⃝ʙͩᴜᷞʟͧᴀᷠɴͣ sᴇᴘᴀʀᴜʜ
semoga tekad ini akan berjalan sebagaimana yang terniatkan 👍
༺⬙⃟⛅MULIANA ѕ⍣⃝✰
karena ishani sadar diri. langit hanya saudara suaminya, tapi bukan siapa-siapa baginya
Mentariz
Biru pasti udah tenang di sana, langit pasti akan jaga kamu dan bayimu, ishani
Mentariz
Biru udah punya firasat sejak awal 😭
PrettyDuck
semoga menjadi lebih baik
walaupun keras, langit orangnya bertanggung jawab, dan kayaknya dia beneran sayang sama kamu dan baby kamu ishanii /Slight/
PrettyDuck
apa ini berarti ishani setuju nikah sama langit??
PrettyDuck
Biru udah punya ketakutan ini dari awal 🥲
Filan
Nanti juga Langit akan dipandang sebagai Langit yang mengisi hati Ishani. Bukan pengganti Biru.
Semangat!
Filan
Itu toh alasannya?
Miu Nuha.
hidup terus dijalanin ish, Allah sudh atur semuany untuk kamu. semangat ya, masih banyk yg sayang sama kamu ❤
Miu Nuha.
bener, hiks 🤧
Miu Nuha.
baru kabar hamil aja udh bilang gitu, emang udh dapet tanda ya kalo bakal pergi 😫
Three Flowers
nyesek membayangkan perasaan Ishani... tapi apa daya, takdir berkata lain. mungkin jodohnya dengan biru memang sudah selesai, dan kemungkinan langit lah jodoh ishani berikutnya
Three Flowers
waduh... laki-laki mana yang tidak tertarik pada wanita cantik? yakin deh langit yang bucin duluan 😄
@dadan_kusuma89
Ishani, sesuatu yang mendesak terkadang tak perlu butuh banyak berpikir, tapi yang dibutuhkan adalah tindakan segera.
@dadan_kusuma89
Ingat, Ishani! semua demi kebaikan kamu dan janin dalam kandunganmu. Siap nggak siap, harus dipaksa.
@dadan_kusuma89
Ishani, langkah yang diputuskan Langit insya Allah sudah tepat. Kau tak perlu banyak mikir, ikuti saja.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!