Eleanor Lichtenzell adalah pewaris takhta bisnis raksasa kedua di Inggris, namun baginya, kemewahan adalah penjara. Setelah merusak sepuluh kencan buta dengan lidahnya yang tajam, ia memilih melepaskan marga dan kekayaannya demi sebuah kebebasan. Namun, dunia luar lebih kejam dari yang ia duga. Di bawah bayang-bayang pengaruh ayahnya yang mencoba memutus jalannya, Eleanor berakhir menjadi pelayan di sebuah kafe eksklusif pinggir laut.
Disana, ia bertemu dengan Edward Zollern, sang penguasa ekonomi Inggris yang dingin, perfeksionis, dan memiliki segalanya. Ketertarikan Edward yang awalnya hanya karena rasa penasaran berubah menjadi obsesi yang gelap saat ia menyadari bahwa Eleanor adalah teka-teki yang tak bisa ia pecahkan. Edward tidak tahu bahwa gadis tanpa asal-usul yang ingin ia tundukkan itu sebenarnya adalah putri dari pebisnis yang setara dengannya. Sebuah permainan kekuasaan dimulai, di mana cinta bukanlah tentang kasih sayang, melainkan tentang siapa yang lebih dulu berlutut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayang-Bayang Masa Lalu
Pagi itu, menara Zollern Group tampak seperti biasanya—sibuk, presisi, dan tanpa cela. Namun, di lantai teratas, di dalam ruang kerja yang dindingnya terbuat dari kaca anti-peluru, suasana mendadak mencekam.
Edward Zollern duduk diam di balik meja mahoninya. Di depannya, seorang wanita dengan gaun merah menyala dan aroma parfum yang terlalu kuat baru saja memaksa masuk setelah menampar salah satu staf keamanan. Namanya Lyodra. Lima tahun lalu, dia adalah alasan mengapa Edward menutup pintu hatinya rapat-rapat. Dia adalah wanita yang kabur dengan pria lain tepat saat Edward sedang menyiapkan cincin pertunangan, meninggalkannya hanya dengan sebuah nota singkat yang menghina ketulusannya.
"Edward... Sayang," suara Lyodra terdengar mendayu, mencoba membangkitkan memori lama yang ia pikir masih tersimpan. Ia melangkah perlahan, jemarinya yang lentik menyentuh pinggiran meja kerja Edward. "Aku kembali. Aku tahu aku salah, tapi pria itu... dia hanya memanfaatkan kepolosanku. Aku baru sadar bahwa hanya kaulah yang benar-benar mencintaiku."
Edward tidak bergerak. Ia bahkan tidak mengangkat kepalanya dari dokumen yang sedang ia baca. Pena di tangannya terus bergerak, menggoreskan tanda tangan yang bernilai miliaran Poundsterling seolah-olah wanita di depannya hanyalah pajangan dinding yang tak bernyawa.
"Edward, lihat aku," rengek Lyodra, kini ia memberanikan diri untuk condong ke depan, mencoba menarik perhatian Edward. "Aku sudah tahu segalanya sekarang. Aku tahu kau bukan sekadar pria tampan, tapi kau adalah pria terkaya di Inggris. Bayangkan jika kita bersama lagi, kita akan menjadi pasangan paling berkuasa."
Mendengar kata terkaya, Edward akhirnya berhenti menulis. Ia meletakkan penanya dengan denting pelan yang entah kenapa terdengar seperti vonis mati. Perlahan, ia mengangkat kepalanya. Matanya yang abu-abu menatap Lyodra dengan ketajaman yang bisa menguliti harga diri seseorang dalam sekejap.
"Kau kembali karena kau tahu aku kaya, atau karena kau sudah kehabisan uang dari selingkuhanmu itu, Lyodra?" Tanya Edward. Suaranya datar, tanpa emosi, namun sangat dingin.
Lyodra tersentak. "Bukan begitu! Aku—"
"Cukup," potong Edward tajam. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi kebesarannya, menatap Lyodra seperti sedang melihat serangga yang mengganggu. "Lima tahun lalu, aku menganggap cinta adalah segalanya. Kau mengajariku bahwa cinta hanyalah komoditas yang bisa dijual kepada penawar tertinggi. Dan hari ini, kau datang ke sini untuk mencoba menjual dirimu lagi padaku?"
"Edward, aku mencintaimu!"
"Sembilan puluh sembilan persen wanita yang datang ke ruangan ini mengatakan hal yang sama, dan mereka semua memiliki label harga di dahi mereka. Termasuk kau," Edward menyeringai sinis, sebuah ekspresi yang sangat tajam. "Tapi kau tahu apa yang menarik? Saat ini, perhatianku sepenuhnya tersita oleh satu persen sisa wanita di dunia ini. Seorang wanita yang bahkan tidak melirik hartaku, yang lebih memilih bekerja di kafe pinggiran daripada duduk di sampingku, dan yang menyebutku menyebalkan setiap kali aku membuka mulut."
Lyodra membelalakkan matanya. "Siapa? Siapa wanita murahan yang kau maksud itu?"
"Dia tidak murahan, Lyodra. Dia tidak sama seperti mu," ucap Edward, tanpa menyebut nama itu dengan nada penuh kebanggaan. "Dan dibandingkan dengannya, kau hanyalah salinan palsu yang sudah usang. Dia adalah satu-satunya wanita yang membuatku harus berburu dengan sungguh-sungguh, bukan hanya menunggu seperti yang kau lakukan sekarang."
Lyodra gemetar karena amarah dan malu. Ia tidak menyangka Edward yang dulu begitu memujanya kini menatapnya dengan rasa jijik yang murni.
Edward menekan tombol interkom di mejanya tanpa melepaskan pandangan dari Lyodra. "Rey, ada sampah yang lupa dibuang oleh tim kebersihan pagi tadi. Pastikan dia tidak pernah bisa melewati gerbang depan gedung ini lagi, atau kau tahu konsekuensinya."
Rey masuk dalam hitungan detik, wajahnya tanpa ekspresi saat ia memberi isyarat agar Lyodra keluar.
"Edward! Kau akan menyesal! Wanita itu pasti hanya memanfaatkanmu!" Teriak Lyodra saat ia diseret keluar oleh petugas keamanan.
Edward hanya diam. Begitu pintu tertutup rapat, ia menghela napas panjang. Pikirannya tidak lagi tertuju pada Lyodra, melainkan pada Eleanor. Ia membayangkan bagaimana reaksi Eleanor jika tahu bahwa ia baru saja dibandingkan dengan mantan kekasihnya.
"Dia pasti akan memakiku lagi," gumam Edward dengan senyum tipis yang tulus muncul di wajahnya.
Ia mengambil ponselnya, mengetik sebuah pesan singkat untuk toko bunga langganannya. "Kirimkan seribu mawar putih ke Lichtenzell Group. Tanpa kartu ucapan. Biarkan dia menebak sendiri siapa yang mengirimnya."
Edward tahu, Eleanor benci kejutan yang berlebihan, dan itulah alasan mengapa ia akan terus melakukannya. Karena di dunia Edward yang penuh dengan orang-orang yang mengejar hartanya, hanya amarah Eleanor yang terasa seperti sebuah kejujuran.