NovelToon NovelToon
Susahnya Jadi Mantan Pacar

Susahnya Jadi Mantan Pacar

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / CEO
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Robby Ido Wardanny

Menceritakan tentang Novita gadis berumur 27 tahun yang bekerja di sebuah perusahaan besar PT Kencana samudra jaya. perusahaan yang sangat bagus untuk memperbaiki kehidupannya. Namun semuanya tidak berjalan sesuai keinginannya saat mantannya dulu muncul sebagai direktur di perusahaan. Andra yang dulu dia kenal sebagai Arya muncul kembali. Dia berusaha keras menghindar dari masa lalunya namun masa lalunya justru datang kepadanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 21

Andra baru saja menyelesaikan pekerjaannya ketika malam mulai turun perlahan di atas kota. Lampu-lampu jalan mulai menyala satu per satu, memantulkan cahaya kekuningan di kaca gedung-gedung tinggi. Ia berjalan keluar dari gedung kantor dengan langkah tenang, namun pikirannya penuh dengan rencana.

Beberapa hari terakhir, kecurigaannya terhadap penggelapan dana perusahaan semakin kuat. Laporan keuangan terlihat rapi di permukaan, tetapi ada pola aneh yang tidak bisa ia abaikan. Sejumlah dana kecil keluar secara berkala, seolah-olah tidak berarti. Namun jika dijumlahkan, nilainya cukup besar.

Andra tahu ia tidak bisa menyelidiki ini menggunakan perangkat pribadinya. Terlalu berisiko.

Ia membutuhkan ponsel baru. Ponsel yang tidak bisa dilacak kembali kepadanya.

Dengan pikiran itu, Andra memutuskan mampir ke sebuah toko elektronik yang berada di pusat perbelanjaan tidak jauh dari kantornya.

Begitu masuk ke dalam toko, suasananya cukup ramai. Beberapa pelanggan terlihat berdiri di depan etalase kaca yang dipenuhi berbagai jenis ponsel terbaru. Lampu putih terang memantul di permukaan layar-layar yang dipajang rapi.

Seorang pegawai toko sempat menyapanya.

"Selamat malam, Pak. Ada yang bisa kami bantu?"

Andra hanya mengangguk singkat. "Saya lihat-lihat dulu."

Pegawai itu tersenyum lalu mundur memberi ruang.

Andra berjalan perlahan menyusuri etalase. Matanya meneliti satu per satu ponsel yang dipajang. Ia tidak membutuhkan sesuatu yang terlalu mahal, tetapi cukup bagus untuk membuat akun anonim, memesan barang, dan melacak transaksi yang mencurigakan di perusahaan.

Ia sedang memperhatikan sebuah ponsel kelas menengah ketika tiba-tiba terdengar suara bentakan keras dari sudut toko.

"Kamu ini bagaimana sih?!"

Suara itu cukup keras hingga beberapa pelanggan menoleh.

Andra juga secara refleks menoleh.

Di dekat meja kasir, seorang pria berusia sekitar empat puluhan yang tampaknya adalah manajer toko sedang memarahi seorang pegawai perempuan. Di lantai, terlihat sebuah kotak ponsel terbuka dengan perangkat di dalamnya yang tampak retak di bagian layar.

"Saya... saya minta maaf, Pak..." suara gadis itu pelan dan bergetar.

Ia menunduk dalam-dalam.

Tangannya saling menggenggam erat, seolah berusaha menahan diri.

"Minta maaf?!" bentak manajer itu lagi. "Itu ponsel terbaru! Kamu tahu harganya berapa?!"

Gadis itu tidak menjawab. Kepalanya semakin tertunduk.

"Saya tidak sengaja menjatuhkannya waktu membersihkan etalase, Pak..."

Manajer itu menghela napas keras penuh kesal.

"Pokoknya saya tidak mau tahu. Barang rusak seperti ini tidak bisa dijual lagi. Kamu saya pecat mulai hari ini. Gaji bulan ini juga tidak bisa saya berikan."

Beberapa pegawai lain hanya bisa saling pandang, tidak berani ikut campur.

Gadis itu tampak panik.

"Pak, tolong jangan pecat saya..." suaranya mulai bergetar lebih jelas.

Ia masih menunduk, tetapi Andra bisa melihat dari samping wajahnya yang pucat. Bibirnya berusaha tetap tersenyum sopan, tetapi matanya sudah mulai berkaca-kaca.

"Saya akan ganti, Pak..." katanya cepat. "Saya bisa mencicil biaya ponsel itu. Tolong jangan keluarkan saya dari pekerjaan ini."

Manajer itu menggeleng dengan wajah dingin.

"Dengan gaji kamu? Bisa bertahun-tahun baru lunas. Saya tidak punya waktu menunggu. Keluar saja sekarang."

Gadis itu tampak semakin terdesak.

Ia menggigit bibirnya, menahan air mata yang hampir jatuh.

Entah kenapa, pemandangan itu membuat langkah Andra terhenti.

Awalnya ia tidak berniat ikut campur. Urusan toko bukan urusannya.

Namun ada sesuatu pada wajah gadis itu.

Ekspresi sedih yang berusaha ditahan.

Tatapan mata yang seperti sedang berjuang mati-matian agar tidak menangis di depan orang lain.

Tanpa sadar, Andra melangkah mendekat.

"Kalau ponselnya rusak karena jatuh," katanya tenang, "saya beli saja."

Semua orang di dekat situ langsung menoleh kepadanya.

Manajer toko terlihat bingung.

"Maaf?"

Andra menunjuk ponsel yang retak di lantai.

"Saya beli dengan harga normal. Jadi pegawai itu tidak perlu dipecat."

Manajer itu menatap Andra dari atas sampai bawah, seolah menilai apakah pria di depannya serius atau hanya bercanda.

"Bapak yakin?" tanyanya ragu.

Andra tidak menjawab panjang.

Ia langsung mengeluarkan dompetnya.

Beberapa lembar uang ia tarik lalu meletakkannya di meja.

"Sepuluh juta," katanya singkat. "Cukup?"

Mata manajer toko langsung melebar.

"Sepuluh... juta?"

Beberapa pelanggan bahkan mulai berbisik.

Manajer itu segera berubah sikap.

"Maaf, Pak. Saya tidak bermaksud kasar sebelumnya." katanya cepat sambil tersenyum kaku.

Ia buru-buru mengambil ponsel yang rusak itu lalu memanggil kasir.

"Buatkan nota pembelian."

Beberapa menit kemudian, sebuah kertas nota disodorkan.

"Pak, sebenarnya harga ponsel ini hanya tujuh juta sembilan ratus sembilan puluh sembilan ribu," katanya agak gugup. "Dan saat ini sedang ada diskon dua ratus ribu dari toko. Jadi totalnya tujuh juta tujuh ratus sembilan puluh sembilan ribu saja."

Andra melirik angka itu sekilas.

"Begitu?"

Ia mengambil ponsel yang rusak tersebut lalu berkata santai,

"Kalau begitu sekalian saja diperbaiki."

Ia kembali mengeluarkan uang dan menaruhnya di meja.

"Saya bayar delapan juta untuk semuanya."

Manajer itu tampak hampir tidak percaya.

"Dan dua ratus ribu ini," lanjut Andra sambil mendorong beberapa lembar uang kecil ke arahnya, "anggap saja bonus untuk Anda. Tapi dengan satu syarat."

Manajer itu langsung mengangguk cepat.

"Tentu, Pak."

"Jangan pecat dia."

Manajer itu segera tersenyum lebar.

"Tentu saja tidak! Kami sangat menghargai pegawai kami. Ini hanya kesalahpahaman kecil tadi."

Gadis itu akhirnya mengangkat wajahnya.

Matanya benar-benar sudah merah menahan tangis.

Ia menatap Andra dengan penuh rasa terkejut.

"Terima kasih, Pak..." katanya pelan.

Ia membungkuk beberapa kali.

"Saya benar-benar berterima kasih. Saya janji akan membayar ponsel itu kepada Bapak sedikit demi sedikit."

Andra langsung menggeleng.

"Tidak perlu."

"Tapi saya—"

"Saya tidak butuh uangnya."

Gadis itu terlihat semakin bingung.

"Lalu... kenapa Bapak membantu saya?"

Andra terdiam sejenak.

Sejujurnya ia juga tidak tahu.

Akhirnya ia hanya berkata singkat,

"Anggap saja saya sedang ingin membantu."

Gadis itu menatapnya beberapa detik.

Kemudian ia berkata pelan,

"Kalau begitu... setidaknya izinkan saya memberikan nomor saya. Jika suatu hari Bapak membutuhkan sesuatu, saya bisa membantu."

Andra berpikir sebentar, lalu mengangguk.

"Baik."

Gadis itu mengambil ponselnya dan menyebutkan nomor dengan suara masih sedikit gemetar.

Setelah Andra menyimpannya, gadis itu tersenyum kecil.

"Nama saya Novita," katanya.

Untuk pertama kalinya sejak masuk ke toko itu, Andra benar-benar memperhatikan wajah gadis tersebut.

Sederhana.

Tetapi entah kenapa meninggalkan kesan yang cukup kuat di pikirannya.

"Arya," jawabnya singkat.

Ia memasukkan ponsel barunya ke dalam saku.

Tanpa ia sadari, pertemuan singkat di toko elektronik itu akan menjadi awal dari sesuatu yang jauh lebih rumit di masa depan.

Sesuatu yang tidak pernah dia perhitungan dalam penyamarannya.

1
Siti Nugraheni
seneng aja bacanya, kosakatanya rapi, alur ceritanya menarik buat dibaca, dan selalu bikin penasaran lanjutan ceritanya
gaby
Resign dong. Bukannya wkt itu Novita bikin beberapa surat lamaran. Masa iya satu pun ga ada yg manggil. Atau jgn2 othornya lupa sm jalan critanya. Gimana nasib surat lamaran itu smua
Black Rascall: mengingatkan saat itu belum ada 19 JT lapangan pekerjaan jadi susah nyari dan Novita bisa kerja berkat om Danu yang merekomendasikan Novita ke HRD jadi tunggu ya kak 19 JT lapangan pekerjaannya 🙏🙏🙏
total 1 replies
falea sezi
bos kurang ajar mundur aja resain
Black Rascall: tunggu 19 JT lapangan pekerjaan dulu kak baru resain
total 1 replies
falea sezi
moga bagus ampe ending
Black Rascall: gak yakin karena baru pertama kali nulis genre seperti ini jadi mohon maklum
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!