Cinta tidak selalu datang dengan gemuruh.
Kadang ia tumbuh perlahan—seperti pucuk kecil yang bertahan di antara badai.
Arga adalah pria yang belajar mencintai melalui tanggung jawab. Ia percaya pernikahan bukan tentang romantika yang riuh, melainkan komitmen yang dijaga diam-diam, hari demi hari. Sementara Nara adalah perempuan yang membawa harapan di balik luka masa lalu—ia ingin dicintai sepenuhnya, tanpa ragu dan tanpa setengah hati.
Pertemuan mereka sederhana, namun keputusan untuk menikah mengubah segalanya. Di balik janji suci, ada perbedaan cara berpikir, ketakutan yang tak terucap, dan realitas hidup yang tak selalu sejalan dengan harapan. Mereka belajar bahwa cinta setelah pernikahan bukan hanya tentang saling memiliki, tetapi tentang saling memahami—bahkan ketika kecewa, bahkan ketika lelah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Satu Atap, Dua Dunia
Lobi kantor yang megah itu menyambut mereka dengan hiruk-pikuk yang kontras dengan keheningan di dalam mobil tadi. Begitu kaki mereka melangkah keluar dari kendaraan, sebuah dinding tak kasat mata seolah jatuh di antara mereka. Arga kembali menegakkan bahunya, wajahnya mengeras menjadi topeng otoritas yang dingin, sementara Nara menarik napas dalam-dalam untuk memanggil kembali sisi profesionalnya yang sempat luluh oleh aroma parfum di bantal.
Mereka berjalan beriringan menuju lift direksi, namun jarak di antara mereka kini selebar jurang. Di mata para karyawan yang berlalu-lalang, mereka adalah CEO dan vendor desain interior yang sedang menuju rapat teknis. Tidak ada yang tahu bahwa beberapa jam lalu, mereka berbagi kehangatan di bawah selimut yang sama.
"Ingat, Nara," bisik Arga sangat rendah sebelum pintu lift terbuka. "Di sini, kita kembali ke posisi masing-masing."
Nara hanya mengangguk tanpa menoleh. "Tentu, Pak Arga."
---
Dunia Arga adalah dunia angka, logika, dan kontrol. Saat ia duduk di kursi kebesarannya, pikirannya bekerja seperti mesin yang presisi. Namun, hari ini, fokusnya terganggu. Setiap kali ia melihat draf desain di layar tabletnya—draf yang ia setujui semalam—ia tidak hanya melihat garis dan material. Ia melihat Nara yang begadang dengan kacamata di hidungnya. Ia merasakan sensasi tangan Nara yang membantu memasangkan kancing mansetnya.
Bagi Arga, perasaan adalah distraksi yang tidak diinginkan. Ia benci bagaimana aroma vanila Nara seolah masih tertinggal di lengan kemejanya, mengaburkan prinsip kaku yang selama ini menjadi kompas hidupnya. Di dunianya, segalanya harus bisa dijelaskan secara rasional, tapi ia tidak punya penjelasan rasional mengapa ia merasa begitu panas saat melihat Rio masuk ke ruang kerja Nara di lantai bawah.
Sementara itu, dunia Nara adalah dunia estetika, emosi, dan kenyamanan. Namun di kantor ini, dunianya terasa sempit. Ia duduk di mejanya, mencoba fokus pada pemilihan kain sofa untuk executive lounge, tapi pikirannya terus melayang ke meja makan tadi pagi. Ia merasa seperti hidup di dua dimensi yang berbeda secara bersamaan. Di satu sisi, ia adalah perempuan yang mulai merasakan getaran aneh setiap kali mencium bau parfum Arga. Di sisi lain, ia adalah tawanan kontrak yang harus menjaga jarak agar tidak terluka.
"Mbak Nara?" Suara Rio membuyarkan lamunannya. "Kok bengong? Ini kain contoh yang kita pesan sudah datang."
Nara mendongak, mencoba tersenyum. "Oh, iya Rio. Taruh saja di sana."
Rio memperhatikannya dengan teliti, lalu sedikit mendekat. "Mbak Nara... kok hari ini kelihatannya beda? Lebih... apa ya, lebih banyak melamun tapi matanya kayak lagi mikirin sesuatu yang bikin senyum-senyum sendiri?"
Nara tersentak, refleks meraba wajahnya. "Masa sih? Mungkin karena kurang tidur saja, Rio."
"Kurang tidur karena kerja, atau karena Pak Arga?" tanya Rio dengan nada bercanda yang tajam.
Nara terdiam. Pertanyaan itu menghantamnya tepat di ulu hati. Di kantor ini, Arga adalah dunia yang tak terjangkau, pemimpin yang kaku dan tanpa cela. Tapi di rumah, Arga adalah pria yang membawakannya kopi dan mencarinya dalam tidur. Dua dunia ini mulai bertabrakan di dalam hati Nara, membuatnya ragu: manakah Arga yang sebenarnya? Dan manakah perasaan yang sebenarnya sedang ia bangun?
---
Sore itu, mereka dijadwalkan untuk meninjau progres lobi bersama. Saat mereka berdiri di tengah-tengah kerangka lobi yang masih berantakan, Arga berdiri di samping Nara. Secara profesional, mereka mendiskusikan penempatan lampu. Namun, saat tangan Arga tanpa sengaja menyentuh tangan Nara ketika menunjukkan titik di denah, keduanya terdiam.
Dunia kantor yang bising seolah memudar selama beberapa detik. Di tengah debu konstruksi dan suara bor, hanya ada mereka berdua. Getaran itu kembali, lebih kuat dari sebelumnya.
"Titik ini... harusnya lebih hangat," ujar Arga, suaranya sedikit serak. Ia tidak langsung menarik tangannya.
Nara menatap tangan mereka yang bersentuhan. "Iya. Seperti yang aku bilang, sedikit kehangatan tidak akan menghancurkan prinsipmu, Arga."
Arga menoleh, menatap Nara dengan tatapan yang tidak lagi robotik. Di mata itu, Nara melihat keraguan yang sama besarnya dengan yang ia rasakan. Mereka hidup di satu atap, berbagi rahasia yang sama, namun perasaan mereka masih terperangkap di dua dunia yang berbeda—dunia yang ingin mendekat, dan dunia yang takut untuk mengakui bahwa ini bukan lagi sekadar kontrak.
---
Sentuhan di tengah debu konstruksi itu terlepas begitu Rio mendekat dengan membawa beberapa sampel material. Arga segera menarik tangannya, kembali menegakkan punggung dengan wajah sedingin marmer. Ia memberikan beberapa instruksi teknis yang sangat tajam, seolah ingin menghapus momen singkat tadi dari udara lobi yang pengap.
"Saya tunggu laporan akhirnya besok pagi," ucap Arga formal, lalu melangkah pergi tanpa menoleh lagi, membiarkan Nara berdiri di sana dengan jantung yang masih berisik.
---
Perjalanan pulang sore itu terasa lebih berat. Tidak ada lagi percakapan tentang desain atau jadwal kantor. Arga fokus menyetir dengan rahang yang terkatup rapat, sementara Nara hanya menatap lampu-lampu jalanan yang mulai menyala di sepanjang jalan protokol Jakarta. Dunia mereka yang berbeda kini sedang menuju satu titik temu yang sama: sebuah rumah yang tak lagi terasa seperti sekadar properti investasi.
Begitu mobil memasuki garasi, aroma masakan yang lebih kuat dari pagi tadi kembali menyambut. Kali ini bau harum bumbu kacang dan sate yang dibakar di halaman belakang menyeruak masuk hingga ke ruang tamu.
"Kalian sudah pulang!" Tante Sarah muncul dengan wajah semringah, namun ada kilat jenaka di matanya. "Cepat ganti baju. Ibu kalian punya kejutan di atas."
Nara dan Arga saling berpandangan dengan kening berkerut. "Kejutan apa lagi, Tante?" tanya Nara waswas.
"Sudah, naik saja dulu. Nanti juga tahu," Tante Sarah tertawa kecil sambil menggiring mereka menuju tangga.
Dengan perasaan tak menentu, mereka menaiki tangga dan membuka pintu kamar utama. Begitu pintu terbuka, Nara hampir saja menjatuhkan tas kerjanya, sementara Arga mematung di ambang pintu.
Kamar mereka telah berubah.
Bukan secara struktural, melainkan atmosfernya. Widya telah menata ulang beberapa sudut kamar. Ada lilin aromaterapi yang menyala di atas nakas, menyebarkan wangi jasmine yang lembut. Seprai abu-abu kaku milik Arga telah diganti dengan seprai sutra berwarna putih tulang yang jauh lebih lembut. Dan yang paling mengejutkan adalah tumpukan kelopak bunga mawar merah yang membentuk hati kecil di tengah ranjang, lengkap dengan dua handuk yang dilipat menyerupai sepasang angsa.
"Ibu benar-benar serius dengan ini," bisik Nara, wajahnya merah padam sampai ke telinga.
Arga melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya dengan bunyi klik yang terasa sangat final. Ia berjalan menuju ranjang, menatap angsa handuk itu dengan ekspresi yang sulit ditebak. "Beliau sepertinya baru saja menonton drama romantis terlalu banyak."
"Arga, ini keterlaluan. Aku harus bicara sama Ibu," Nara berbalik hendak keluar, namun Arga mencekal pergelangan tangannya.
"Jangan," cegat Arga. Suaranya rendah, bergema di ruangan yang kini berbau bunga dan lilin. "Kalau kamu protes sekarang, beliau akan tahu kita merasa terganggu. Dan kalau kita terganggu oleh hal seperti ini, itu tanda bahwa ada yang tidak beres dengan pernikahan kita di mata mereka."
Nara menoleh, menatap Arga yang kini berdiri sangat dekat dengannya di bawah cahaya temaram lilin. "Tapi ini... ini terlalu intim, Arga. Aku nggak tahu gimana caranya tidur di sini dengan semua... semua hiasan ini."
Arga melepaskan cekalannya, namun ia tidak menjauh. Di bawah satu atap ini, dua dunia perasaan mereka kini sedang bertabrakan hebat. Dunia Arga yang berusaha keras menjaga kendali, dan dunia Nara yang mulai merasa kewalahan oleh kedekatan ini.
"Kita hanya perlu melewatinya," ujar Arga pelan. Ia menatap lilin yang bergoyang tertiup angin AC. "Satu malam lagi, Nara. Hanya satu malam lagi."
Namun, saat Arga bergerak untuk mengambil handuknya, tangannya tanpa sengaja menyenggol vas bunga kecil yang baru diletakkan Widya, membuat vas itu goyah. Secara refleks, mereka berdua bergerak untuk menangkapnya. Tangan mereka bertindihan di atas meja nakas, tepat di samping lilin yang menyala.
Mata mereka bertemu. Di dalam kamar yang kini terasa begitu panas meski AC menyala, Nara menyadari bahwa kejutan dari ibunya bukan sekadar hiasan bunga. Itu adalah cermin yang memaksa mereka melihat bahwa dinding pemisah di antara mereka sudah runtuh sepenuhnya, menyisakan dua orang yang kini tak lagi tahu bagaimana cara berpura-pura.
---
Nara merasakan jemari Arga yang dingin namun tegas menindih tangannya. Jantungnya berdegup kencang, seirama dengan tarian nyala lilin di depan mereka. Vas bunga itu berhasil diselamatkan, namun suasana di antara mereka justru semakin berbahaya.
"Biarkan saja," bisik Arga, suaranya terdengar lebih parau dari biasanya. Ia tidak menarik tangannya. Sebaliknya, ibu jarinya bergerak perlahan, mengusap punggung tangan Nara dengan gerakan yang hampir tidak terasa, namun efeknya seperti sengatan listrik bagi Nara.
Nara menahan napas. "Arga, bunga-bunga ini... baunya terlalu kuat."
"Bukan bunganya, Nara. Kamu yang terlalu tegang," balas Arga. Ia akhirnya melepaskan tangan Nara, namun hanya untuk beralih mengambil sehelai kelopak mawar yang terjatuh di atas bantal. Ia memutar kelopak itu di antara jarinya. "Ibu ingin kita bahagia. Setidaknya, itulah yang beliau lihat dari luar."
"Dan dari dalam?" tanya Nara berani, menantang tatapan Arga.
Arga terdiam. Ia meletakkan kelopak mawar itu kembali ke atas seprai sutra. "Dari dalam, kita adalah dua orang yang terjebak dalam rencana kita sendiri. Tapi malam ini... bisakah kita berhenti menjadi CEO dan desainer?"
Nara mengerutkan dahi. "Lalu kita jadi apa?"
"Hanya dua orang yang berbagi satu ranjang karena kedinginan," jawab Arga datar, namun matanya memancarkan sesuatu yang jauh dari kata dingin.
Belum sempat Nara menjawab, ketukan pelan terdengar di pintu.
"Nara? Arga? Ibu masuk sebentar ya," suara Widya terdengar dari balik pintu.
Sontak, Nara melompat ke arah ranjang, duduk di atas hamparan kelopak mawar dengan canggung. Arga dengan sigap berdiri di sampingnya, satu tangannya bersandar di kepala ranjang, menciptakan kesan mereka baru saja sedang asyik berbincang mesra.
Pintu terbuka sedikit. Widya masuk membawa nampan berisi dua gelas susu hangat yang mengepulkan aroma madu dan kayu manis. Matanya langsung berbinar melihat lilin dan bunga-bunga yang masih tertata rapi.
"Aduh, Ibu ganggu ya?" Widya meletakkan nampan itu di meja nakas. "Ini, diminum dulu susunya biar tidurnya nyenyak. Jamu yang tadi Ibu bilang sudah Ibu campur di sini. Bagus buat stamina."
Nara merasa wajahnya kembali terbakar. "Terima kasih, Bu. Ibu nggak perlu repot-repot."
Widya mengelus kepala Nara dengan sayang, lalu menatap Arga. "Arga, jaga istrimu baik-baik malam ini. Jangan cuma kerja saja yang ada di otak kamu. Kamar sudah Ibu bikin cantik begini, masa mau didiamkan saja?"
Arga berdeham, mencoba menjaga wibawanya. "Iya, Bu. Arga tahu."
"Ya sudah, Ibu keluar dulu. Selamat istirahat, Pengantin Baru!" Widya menutup pintu dengan kedipan mata jenaka.
Begitu pintu tertutup, Nara langsung ambruk ke bantal, menutupi wajahnya dengan kedua tangan. "Aku mau menghilang saja rasanya. Stamina? Ibu pikir kita mau maraton apa?"
Arga mengambil salah satu gelas susu, menyesapnya perlahan. "Susu ini enak. Kamu harus minum."
Nara mengintip dari balik sela jarinya. "Kamu nggak takut itu benar-benar jamu 'aneh'?"
Arga duduk di tepi ranjang, tepat di samping kaki Nara. "Paling-paling cuma jahe dan madu. Ibu hanya ingin kita rileks." Ia mengulurkan gelas satunya pada Nara. "Minumlah. Kita butuh ini supaya tidak saling membunuh karena canggung."
Nara akhirnya duduk dan menerima gelas itu. Mereka duduk bersisian di atas ranjang yang dipenuhi kelopak mawar, menyesap susu hangat dalam keheningan yang kini terasa lebih cair. Di bawah cahaya lilin, dunia luar seolah benar-benar menghilang. Tidak ada kantor, tidak ada Rio, tidak ada kontrak. Yang ada hanya aroma kayu manis, wangi melati, dan keberadaan satu sama lain yang semakin sulit untuk diabaikan.
Nara melirik Arga, menyadari bahwa pria kaku ini telah melakukan banyak kompromi dalam dua hari terakhir. Dan saat Arga menoleh padanya dengan sisa busa susu di bibir atasnya, Nara tak tahan untuk tidak tersenyum kecil.
"Kenapa?" tanya Arga bingung.
"Ada kumis susu," Nara tertawa pelan, lalu secara spontan mengusap bibir Arga dengan ibu jarinya.
Gerakan itu hanya berlangsung satu detik, namun waktu seolah berhenti berputar. Sentuhan jari Nara pada bibir Arga membuat suasana kembali memanas. Arga menangkap tangan Nara, menahannya tepat di depan wajahnya. Matanya yang hitam pekat menatap Nara dalam-dalam, seolah sedang mencari jawaban atas keraguan yang selama ini mereka simpan rapat-rapat.
---
Arga tidak melepaskan tangan Nara. Sentuhan ibu jari Nara di bibirnya tadi seperti memicu arus pendek pada sirkuit logika yang selama ini ia banggakan. Di bawah temaram cahaya lilin, garis rahang Arga yang biasanya kaku tampak sedikit melunak, namun tatapannya justru semakin tajam—menembus langsung ke dalam keraguan yang sedang berkecamuk di dada Nara.
"Nara," panggil Arga, suaranya kini lebih rendah, hampir menyerupai bisikan yang menggetarkan udara di antara mereka.
"Ya?" Nara menjawab dengan suara yang nyaris hilang. Ia ingin menarik tangannya, tapi jemari Arga yang menggenggam pergelangan tangannya terasa begitu hangat dan kokoh.
"Tentang Rio," Arga menjeda kalimatnya. Ia meletakkan gelas susunya yang masih setengah penuh ke meja nakas tanpa melepaskan pandangannya dari Nara. "Saya tidak suka cara dia menatapmu di lobi tadi."
Nara tertegun. Ia tidak menyangka Arga akan membawa nama Rio ke dalam kamar yang penuh kelopak mawar ini. "Dia cuma rekan kerja, Arga. Dia cuma memastikan desain kita berjalan lancar."
"Bagi dia mungkin begitu," Arga menarik tangan Nara sedikit lebih dekat ke arah dadanya, membuat Nara terpaksa condong ke depan hingga aroma parfum Arga kembali menguasai indra penciumannya. "Tapi bagi saya, dia melewati batas. Dan yang membuat saya lebih tidak suka adalah... kamu membiarkannya."
"Aku nggak membiarkan apa pun!" protes Nara, meski suaranya terdengar tidak yakin. "Kita punya kontrak, Arga. Kamu sendiri yang bilang kehidupan pribadi bukan urusan masing-masing."
Arga melepaskan pergelangan tangan Nara, namun bukannya menjauh, ia justru memajukan wajahnya hingga jarak di antara mereka hanya tersisa beberapa sentimeter. "Kontrak itu dibuat di kafe, dalam keadaan dingin. Tapi malam ini, di ruangan ini, kontrak itu terasa seperti selembar kertas yang sangat mudah terbakar, Nara."
Nara bisa merasakan hembusan napas Arga yang berbau kayu manis di wajahnya. "Apa maksudmu?"
"Maksud saya adalah..." Arga menatap bibir Nara sejenak sebelum kembali ke matanya. "Saya mungkin kaku, tapi saya tidak buta. Saya tahu kapan saya ingin menjaga apa yang menjadi milik saya—meskipun itu hanya dalam sebuah kesepakatan sementara."
Hening seketika menyelimuti kamar itu. Hanya suara rintik hujan di luar yang terdengar konsisten. Nara merasa oksigen di sekitarnya menipis. Pengakuan Arga—meskipun dibungkus dengan nada posesif yang khas—terasa jauh lebih jujur daripada semua kalimat profesional yang pernah ia ucapkan di kantor.
Arga akhirnya menarik diri sedikit, memberikan ruang bagi Nara untuk bernapas. Ia merebahkan tubuhnya di atas seprai sutra, mengabaikan kelopak mawar yang kini berantakan tertindih tubuhnya. Ia menatap langit-langit kamar dengan tangan terlipat di bawah kepala.
"Tidurlah," ucap Arga, kembali ke nada datarnya, namun kali ini terdengar lebih lelah daripada otoriter. "Besok kita punya hari yang panjang. Dan pastikan besok di kantor, kamu tetap menjaga jarak dengan 'rekan kerja' itu. Anggap saja itu revisi terbaru dari kontrak kita."
Nara masih terduduk mematung, menatap punggung tangan yang tadi digenggam Arga. Ia perlahan ikut merebahkan tubuhnya di sisi ranjang yang lain, membelakangi Arga. Kelopak mawar di bawahnya terasa lembut, namun pikirannya jauh lebih berantakan dari hiasan tempat tidur itu.
Di balik pintu yang terkunci, di tengah aroma melati dan sisa susu hangat, Nara menyadari satu hal yang menakutkan: Arga bukan lagi sekadar robot kaku yang ia benci. Pria itu adalah magnet yang perlahan namun pasti mulai menarik dunianya masuk ke dalam poros yang sama.
Malam itu, mereka tidur dengan punggung yang saling berdekatan, tidak bersentuhan namun bisa merasakan panas tubuh satu sama lain. Satu atap, dua dunia, namun perlahan perasaan mereka mulai menemukan frekuensi yang sama di dalam gelap.