NovelToon NovelToon
Dimanfaatkan Mantan, Dirangkul Bad Boy Tampan

Dimanfaatkan Mantan, Dirangkul Bad Boy Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Idola sekolah
Popularitas:987
Nilai: 5
Nama Author: Nona Jmn

Rania keras kepala memilih balikan dengan mantannya, Adrian, meskipun sahabat-sahabatnya sudah memperingatkan bahwa pria itu tidak baik. ia terlalu percaya pada perasaannya sendiri, sampai akhirnya menyadari bahwa Adrian hanya memanfaatkannya. Di saat Rania mulai bangkit dari luka itu, seseorang yang tak terduga justru datang mendekat—Revano, pria dingin yang perlahan mengubah hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dibalik ilalang

“Revano.”

Semua orang yang ada di ruang tamu langsung menoleh ke arah suara itu. Rania berjalan menghampiri mereka dengan ekspresi terkejut yang masih terlihat jelas di wajahnya.

“Ngapain lo kemari?” tanya Rania terus terang.

Namun sebelum Revano sempat menjawab, Radit sudah lebih dulu menyela.

“Dia teman kamu?”

Rania mengangguk pelan.

“Iya, Dad.”

“Revano mau ngajak kamu jalan, Ran. Sana ganti baju,” ucap Raisa dengan nada antusias.

Mata Rania melotot, lalu menatap Revano.

Tatapan itu seolah bertanya apa yang sebenarnya dia lakukan di sini. Revano sendiri hanya menatap Rania dengan ekspresi datar seperti biasanya.

“Lo serius datang ke sini?” tanya Rania tidak percaya.

Revano mengangguk singkat. “Gue sudah bilang, kan. Gue bakal jemput lo.”

Rania menghela napas pelan sambil memijat pelipisnya.

“Ran, kasihan Revano sudah datang jauh-jauh,” ucap Raisa lembut. “Sana ganti baju dulu.”

Rania langsung menoleh ke arah ibunya. “Mom, sejak kapan Mommy semangat banget nyuruh Rania pergi?”

Raisa tersenyum manis. “Mommy cuma senang kamu punya teman yang sopan. Dia saja sampai datang minta izin ke Daddy kamu.”

Rania kembali menatap Revano dengan mata menyipit.

“Lo bener-bener nekat ya,” gumamnya pelan.

Revano hanya memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.

“Gue tunggu,” ucapnya singkat.

Rania mendengus kecil. Ia lalu menatap kedua orang tuanya yang terlihat sama sekali tidak keberatan.

“Ya sudah, gue ganti baju dulu,” ucapnya akhirnya sebelum berbalik menuju tangga.

Sementara itu, Raisa tersenyum kecil melihat putrinya pergi, sedangkan Radit masih memperhatikan Revano dengan tatapan tenang namun penuh penilaian.

“Jaga kepercayaan saya,” ucap Radit dengan nada tegas.

Revano mengangguk hormat. “Iya, Om.”

“Minum tehnya, Nak. Nanti keburu dingin,” ucap Raisa dengan senyum ramah.

“Iya, Tante,” balas Revano.

~~

Di dalam kamar, Rania menutup pintu sedikit lebih keras dari biasanya.

Ia menghela napas panjang sambil menjatuhkan tasnya ke atas tempat tidur.

“Benar-benar nekat tuh, bocah,” gumamnya kesal.

Rania berjalan ke arah lemari pakaiannya lalu membukanya. Deretan baju rapi tergantung di sana. Ia menatapnya beberapa detik, lalu menghela napas lagi.

Biasanya Rania tidak pernah seribet ini. Kalau mau keluar, dia hanya asal ambil baju, ganti, lalu selesai.

Namun kali ini berbeda.

Tangannya sempat mengambil sebuah kaus, lalu berhenti di tengah jalan.

“Ah, yang ini terlalu santai,” gumamnya.

Ia menggantungkan kembali baju itu lalu mengambil yang lain. Kali ini sebuah blouse dengan rok pendek.

Rania menatapnya di depan cermin beberapa detik sebelum akhirnya menggeleng.

“Kenapa jadi ribet gini sih,” keluhnya pelan.

Ia kembali membuka lemari dan mengacak beberapa gantungan baju. Wajahnya terlihat sedikit kesal, tapi juga bingung.

“Gue cuma diajak jalan, bukan mau ke pesta,” gumamnya lagi.

Akhirnya Rania mengambil sebuah outfit yang menurutnya cukup nyaman—tidak terlalu santai, tapi juga tidak berlebihan.

“Ya sudah, yang ini saja,” ucapnya pada dirinya sendiri sebelum mulai berganti pakaian.

Setelah Rania selesai berkemas, ia keluar dari kamarnya. Saat hendak menuruni tangga, ia berpapasan dengan Bibi Maya yang sedang berjalan di lorong.

“Nona muda cantik banget,” puji Bibi Maya sambil tersenyum.

“Makasih, Bi. Oh ya, Bi, jangan lupa beresin kamar aku ya. Berantakan soalnya,” ucap Rania sambil tercengir.

“Siap, Non. Nanti Bibi beresin. Sekarang Non samperin pangeran Nona muda. Nanti dia bosan nunggu princess-nya,” goda Bibi Maya.

Setelah mengatakan itu, Bibi Maya langsung meninggalkan Rania.

“Bibi!” seru Rania, sedikit kesal namun juga malu.

Rania menghela napas pelan, lalu kembali melangkah menuju ruang tamu. Saat sampai di sana, ia melihat Daddy-nya terlihat cukup akrab mengobrol dengan Revano.

“Hem…”

Rania melangkah masuk ke ruang tamu.

Langkahnya langsung membuat tiga pasang mata di ruangan itu menoleh ke arahnya.

Raisa tersenyum lebar melihat putrinya. “Nah, itu dia.”

Radit hanya melirik sekilas, lalu kembali duduk santai di kursinya.

Sementara itu Revano yang sejak tadi duduk tegak perlahan berdiri. Tatapannya tertuju pada Rania yang kini sudah berpakaian rapi.

Beberapa detik ia hanya diam menatapnya.

“Udah?” tanyanya singkat.

Rania menaikkan alis. “Emang kelihatan belum?”

Revano tidak menjawab. Ia hanya mengambil jaketnya yang tadi diletakkan di samping kursi.

Raisa menatap mereka bergantian dengan senyum kecil. “Hati-hati di jalan, ya.”

“Iya, Tante,” jawab Revano singkat.

Rania lalu menoleh ke arah kedua orang tuanya.

“Rania pergi dulu, Dad, Mom.”

Radit mengangguk pelan. “Jangan pulang terlalu malam.”

“Siap, Dad.”

Revano sedikit menundukkan kepala ke arah Radit dan Raisa sebagai tanda pamit, lalu berjalan lebih dulu menuju pintu.

Rania mengikuti di belakangnya.

Begitu mereka keluar dari mansion, Rania langsung menatap Revano dengan ekspresi kesal bercampur heran.

“Lo benar-benar datang ke rumah gue cuma buat ngajak jalan?” tanyanya.

“Gue sudah bilang,” ucapnya datar.

Ia menoleh ke arah Rania.

“Gue akan jemput lo.”

Revano berjalan ke arah motornya yang terparkir di halaman mansion. Ia membuka jok motor sebentar, lalu mengambil satu helm dari dalamnya.

Tanpa banyak bicara, ia menyerahkan helm itu ke arah Rania.

“Pakai,” ucapnya singkat.

Rania menatap helm itu beberapa detik sebelum akhirnya mengambilnya.

“Lo sudah siap segala?” gumamnya.

Revano tidak menanggapi. Ia hanya mengenakan helmnya sendiri lalu duduk di atas motor.

Rania menghela napas kecil sebelum akhirnya memakai helm itu juga.

Baru saja ia hendak naik ke motor, suara mobil yang memasuki halaman mansion terdengar.

Sebuah mobil hitam berhenti tidak jauh dari mereka.

Pintu mobil itu terbuka, dan seorang wanita keluar dari dalamnya.

Rhea.

Rhea yang baru pulang kerja langsung menghentikan langkahnya saat melihat Rania dan seorang pria di depan mansion.

Ia melepas kacamata hitamnya perlahan.

“Rania?” ucapnya heran.

Rania yang mendengar itu langsung menoleh.

“Kak Rhea.”

Rhea berjalan mendekat dengan langkah tenang, tatapannya kini beralih kepada Revano yang duduk di atas motor.

“Dan ini siapa?” tanyanya sambil menatap ke arah Revano.

Belum sempat Rania menjawab, Revano sudah lebih dulu menyela.

“Revano, Kak.”

“Teman Rania?” tanya kakaknya.

“Calon adik ipar Kakak.”

Rania melototi Revano.

“Lo ngomong apaan sih!” desisnya kesal.

Rhea yang mendengar itu justru menaikkan alis, lalu melipat kedua tangannya di dada. Tatapannya bergantian antara Rania dan Revano.

“Oh?” gumamnya pelan.

Ia melangkah sedikit mendekat ke arah mereka.

“Berani juga kamu,” ucap Rhea sambil menatap Revano dengan senyum tipis yang sulit ditebak.

Rania langsung memijat pelipisnya. “Kak, jangan didengerin. Dia emang suka ngaco.”

Namun Rhea justru terlihat tertarik.

“Kamu yang jemput Rania?” tanyanya.

Revano mengangguk singkat. “Iya, Kak.”

Rhea menatapnya beberapa detik, seolah sedang menilai sesuatu.

“Hmm… sopan, berani datang ke rumah, bahkan ketemu Daddy,” gumamnya.

Rania langsung menoleh cepat. “Kak!”

Rhea terkekeh kecil.

“Ya sudah, sana pergi. Kasihan sudah datang jauh-jauh,” ucapnya santai.

Rania masih terlihat tidak percaya. “Kak serius?”

Rhea mengangguk. “Iya. Tapi ingat—”

Tatapannya kini beralih tajam ke arah Revano.

“Kalau adik saya pulang telat, kamu yang saya cari.”

Revano tidak terlihat gentar. Ia hanya mengangguk pelan.

“Baik, Kak.”

Rhea lalu menepuk bahu Rania pelan.

“Pergi sana.”

Rania mendengus kecil, lalu akhirnya naik ke motor di belakang Revano.

Mesin motor menyala beberapa detik kemudian.

Rhea berdiri di tempatnya sambil memperhatikan mereka pergi, senyum tipis masih terukir di wajahnya. Namun beberapa detik kemudian, ekspresinya berubah seolah sedang mengingat sesuatu.

“Kenapa rasanya Revano itu tidak asing, ya…” gumamnya pelan.

Rhea sedikit mengernyit, mencoba mengingat.

“Kayaknya gue pernah lihat dia… tapi di mana?”

~~

Di atas motor, hanya ada keheningan yang menemani perjalanan mereka. Angin sore berhembus lembut, membuat suasana terasa tenang. Revano sesekali menatap Rania melalui kaca spion di motornya. Senyum tipis terukir di wajahnya, terlebih saat rambut Rania yang terurai tertiup angin, membuat pesona gadis itu terlihat semakin memikat.

Beberapa menit kemudian, Revano akhirnya menghentikan motornya.

Rania langsung menatap sekeliling. Keningnya berkerut melihat tempat yang mereka datangi. Di depannya hanya ada hamparan rumput ilalang yang tinggi, terlihat sepi dan sedikit jauh dari keramaian.

“Lo jangan aneh-aneh ya, Van,” ucap Rania sambil menatap tajam ke arah Revano.

“Turun.”

Rania mendengus pelan sebelum akhirnya turun dari motor. Saat ia hendak membuka helmnya, Revano sudah lebih dulu membukanya.

Rania sedikit terkejut saat tangan Revano lebih dulu menyentuh helmnya.

Dengan gerakan tenang, Revano membuka pengait helm itu lalu mengangkatnya perlahan dari kepala Rania. Rambut Rania yang tadi tertekan helm langsung jatuh lembut di bahunya, beberapa helainya tertiup angin sore.

Rania yang sejak tadi menunduk kini mendongak.

Tanpa sengaja, tatapannya langsung bertemu dengan mata Revano yang berdiri cukup dekat di depannya.

Untuk beberapa detik, mereka hanya saling menatap.

Angin sore berhembus pelan, membuat ilalang di sekitar mereka bergerak perlahan. Suasana di tempat itu terasa sunyi.

Rania mengernyit kecil.

Revano menatapnya dengan sorot mata yang sulit ditebak.

“Lo sadar gak?” ucapnya pelan.

Rania mengerutkan kening. “Sadar apa?”

Revano tidak langsung menjawab. Ia hanya sedikit memiringkan kepalanya, masih menatap wajah Rania.

“Lo cantik.”

Kalimat itu keluar begitu saja, datar seperti biasa, tapi cukup membuat Rania terdiam.

Mata Rania sedikit melebar.

“Lo lagi demam?” balasnya cepat, berusaha terlihat santai.

Sudut bibir Revano terangkat tipis.

Ia lalu berbalik dan berjalan beberapa langkah ke arah ilalang yang tinggi itu.

“Ayo.”

Rania masih berdiri di tempatnya beberapa detik sebelum akhirnya menyusul.

“Lo belum jawab pertanyaan gue,” ucapnya sambil berjalan di belakang Revano. “Ngapain kita ke tempat kayak gini?"

Revano berhenti di tengah jalan setapak kecil di antara ilalang. Ia lalu menyingkirkan beberapa rumput ilalang yang tinggi, kemudian menoleh ke arah Rania.

“Masuk.”

Rania langsung menggeleng cepat.

“Nggak mau! Lo mau ngapa-ngapain, kan,” ucapnya curiga.

Revano menghela napas pelan mendengar tuduhan itu. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia memegang tangan Rania dengan lembut, lalu kembali membuka ilalang yang tinggi di hadapan mereka.

“Lihat.”

Mata Rania langsung melebar.

Di balik hamparan rumput ilalang yang tinggi itu, terbentang sebuah pantai yang sangat indah. Laut biru terlihat luas dengan ombak kecil yang menyapu bibir pantai. Suasananya tenang dan jauh dari keramaian.

Rania langsung melangkah mendekat. Angin sore dari laut langsung menyambutnya, membuat rambutnya kembali tertiup lembut.

“Makanya jangan suudzon,” ucap Revano santai.

Namun Rania tidak menggubris ucapan itu. Ia justru memejamkan mata sejenak, menikmati angin sore yang berhembus di pantai tersebut.

Tenang.

Damai.

Itulah yang dirasakan Rania saat itu.

Revano tersenyum tipis saat melihat ekspresi Rania. Ia lalu mengeluarkan ponselnya dari saku, diam-diam memotret Rania yang sedang berdiri menikmati angin pantai.

“Lo suka?” tanyanya setelah selesai memotretnya.

“Suka banget. Pantai ini cantik banget,” jawab Rania jujur. Lalu ia menoleh ke arah Revano. “Oh ya, lo tahu tempat ini dari mana?”

“Ini milik keluarga gue,” jawab Revano santai.

Mata Rania langsung melebar.

“Buset, sultan nih.”

Revano hanya mengangkat bahunya santai.

“Biasa saja,” ucapnya datar.

Rania menoleh cepat ke arahnya.

“Biasa apanya? Punya pantai pribadi itu bukan biasa, Van,” protesnya.

Revano tidak menanggapi lagi. Ia hanya berjalan pelan mendekati bibir pantai, lalu berdiri di sana sambil memandang laut yang mulai berkilau terkena cahaya senja.

Langit perlahan berubah warna menjadi jingga keemasan.

Rania ikut berjalan mendekat. Kakinya menginjak pasir lembut yang terasa hangat.

“Serius ini punya keluarga lo?” tanyanya lagi, masih tidak percaya.

Revano mengangguk singkat.

“Jarang dipakai.”

Rania langsung menoleh padanya dengan ekspresi heran.

“Jarang dipakai katanya… orang lain aja mungkin harus bayar mahal buat ke pantai beginian.”

Revano hanya tersenyum tipis, lalu duduk di atas pasir.

Rania memperhatikannya beberapa detik sebelum akhirnya ikut duduk tidak jauh darinya.

Angin laut berhembus lembut, membuat rambut Rania kembali berantakan tertiup angin.

Beberapa saat mereka hanya diam.

Tidak ada suara selain deburan ombak yang datang bergantian.

Rania menatap laut di depannya.

“Tempat ini enak banget,” gumamnya pelan. “Sepi, tapi malah bikin tenang.”

Revano meliriknya sekilas.

“Itu sebabnya gue bawa lo ke sini.”

Rania menoleh.

“Kenapa?”

Revano tidak langsung menjawab. Ia mengambil sebuah batu kecil di dekatnya lalu melemparkannya ke arah laut.

“Lo kelihatan capek akhir-akhir ini.”

Rania mengerutkan kening.

“Capek?”

Revano mengangguk pelan.

“Di sekolah lo kelihatan terus mikir.”

Rania sedikit terdiam.

Ia tidak menyangka Revano memperhatikan hal sekecil itu.

Rania lalu mengalihkan pandangannya kembali ke laut.

“Lo terlalu sering merhatiin gue,” gumamnya.

“Emang kenapa?” balas Revano santai.

Rania mendengus kecil.

“Gak kenapa-napa.”

Beberapa detik kemudian Rania menoleh lagi ke arah Revano.

“Tapi… makasih.”

Revano menatapnya.

“Makasih apa?”

Rania menunjuk ke sekeliling pantai itu.

“Sudah bawa gue ke sini.”

Revano tidak langsung menjawab. Ia hanya memandang Rania beberapa detik, lalu kembali menatap laut.

“Kalau lo suka, kita bisa ke sini lagi.”

Rania menaikkan alis.

“Sering-sering?”

Revano mengangguk ringan.

“Pantai ini kosong.”

Rania terkekeh kecil.

“Enak banget hidup lo.”

Revano menoleh padanya lagi.

“Lo juga bisa.”

Rania langsung menatapnya heran.

“Bisa apa?”

Revano tersenyum tipis, sorot matanya terlihat sedikit jahil.

“Kalau gue jadi adik ipar Kak Rhea.”

Rania langsung melotot.

“REVANO!”

Revano tertawa kecil untuk pertama kalinya sejak tadi.

Sementara Rania hanya bisa menatapnya kesal, meski tanpa sadar sudut bibirnya ikut terangkat sedikit.

“Rania?”

“Hmm?”

“Selamat.”

“Selamat apaan?”

“Lo udah bikin gue tertarik... dan terus ada di pikiran gue.”

Rania langsung menoleh. Ia melihat wajah Revano yang tampak serius, tidak seperti biasanya.

“Sejak di galeri seni, sampai sekarang lo ada di pikiran gue.”

Revano menatap Rania dengan tatapan yang intens.

“Rania Aluna Kim Valkon... mulai hari ini, lo adalah milik gue.”

Mata Rania langsung melotot.

“Gue belum jawab, ya.”

“Gue gak terima penolakan, Rania,” ucap Revano, nadanya kini terdengar lebih lembut. “Mulai sekarang lo punya gue, gue punya lo.”

“Van…”

Revano melangkah mendekat pada Rania. Ia lalu menggenggam tangan Rania dengan lembut.

“Gue tahu lo belum ada perasaan sama gue, Ran. Tapi izinkan gue mengisi hati lo sampai perasaan itu tumbuh.”

Rania menatap tangan Revano yang menggenggam tangannya.

Hangat.

Entah kenapa sentuhan itu membuat dadanya terasa sedikit aneh.

Ia perlahan menarik napas, lalu menatap wajah Revano yang masih menunggunya menjawab.

“Van…” ucapnya pelan.

Revano tetap menatapnya, sorot matanya serius seperti tidak sedang bercanda sedikit pun.

Rania mengalihkan pandangannya ke arah laut.

Deburan ombak terdengar pelan, seolah memberi jeda pada suasana yang tiba-tiba berubah canggung.

“Lo ini aneh,” gumam Rania akhirnya.

Revano sedikit mengernyit.

“Aneh?”

Rania mengangguk kecil.

“Iya. Tiba-tiba datang ke rumah gue, ngajak gue ke tempat beginian, terus ngomong kayak barusan.” Ia menoleh lagi ke arah Revano. “Siapa juga yang langsung nyatakan orang itu milik dia?”

Sudut bibir Revano terangkat tipis.

“Gue.”

Rania langsung memutar bola matanya.

“Percaya diri banget.”

Revano tidak membantah.

Ia justru sedikit mengeratkan genggamannya pada tangan Rania, meski tetap lembut.

“Gue cuma bilang apa yang gue rasain.”

Rania terdiam beberapa detik.

Ia tidak menarik tangannya lagi, tapi juga belum membalas genggaman itu.

“Lo bahkan gak nanya dulu apa gue suka lo atau nggak,” ucapnya pelan.

Revano menatapnya.

“Kalau gue nanya, jawaban lo apa?”

Rania langsung membuka mulut, tapi tidak ada kata yang keluar.

Ia sendiri tidak tahu jawabannya.

Revano memperhatikan reaksi itu, lalu tersenyum tipis.

“Tuh kan.”

Rania mendengus kesal.

“Jangan sok tahu.”

Revano tertawa kecil.

Kemudian perlahan ia melepaskan tangan Rania, memberi ruang padanya.

“Tenang saja,” ucapnya santai. “Gue gak maksa lo harus langsung suka sama gue.”

Rania menoleh.

“Tapi?”

Revano menatapnya lagi.

“Tapi gue bakal bikin lo suka.”

Rania mengangkat alis.

“Gimana caranya?”

Revano berdiri dari duduknya lalu menepuk sedikit pasir di celananya.

“Lihat saja nanti.”

Rania ikut berdiri, lalu menyilangkan kedua tangannya di dada.

“Kalau ternyata gue tetap gak suka?”

Revano berjalan beberapa langkah mendekati garis ombak, lalu menoleh ke arah Rania.

Sorot matanya terlihat yakin.

“Mustahil.”

••••

Mohon maaf lahir dan batin para reader 🥰😊🙏🫶

Kalau Author punya salah, maafkan ya🥰

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!