Ryan adalah seorang mekanik yang sangat mencintai Arini namun karena status yang sangat jauh sehingga arina tak mau membuat Ryan kecewa karena Arini sudah di jodohkan dengan pemuda lain pilihan orangtuanya.Bagaimana kisah lengkapnya,ayo kita simak bersama perjuangan Ryan !
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anto Sabar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan di Bengkel Tua
Pagi itu,langit menggantung rendah dengan warna abu abu yang begitu pekat.Awan awan tebal seakan menahan hujan yang sejak tadi mengancam hendak mau turun namun belum juga jatuh.
Udara terasa lembab,sedikit pengap dan dipenuhi aroma khas kota.Debu,asap kendaraan serta kehidupan yang terus berjalan tanpa peduli siapa yang Tertinggal.
Di sudut jalan yang terlalu ramai,berdiri sebuah bengkel kecil dengan papan nama yang catnya mulai terkelupas.Tulisan diatasnya sudah samar,nyaris tak terbaca jika dilihat sekilas.Namun bagi orang orang sekitar,tempat itu cukup dikenal.
Bukan karena besar atau mewah.
Tapi karena hasil kerjanya.
Di dalam bengkel itu,suara dentingan besi,gesekan alat dan deru mesin bercampur menjadi satu irama yang kasar namun akrab.
Beberapa pekerja terlihat sibuk,tapi diantara mereka semua,ada satu sosok yang paling menonjol.Bukan karena penampilannya melainkan karena caranya berkerja.
Dan dia adalah Ryan.
Ryan berdiri di samping sebuah mobil dengan kap terbuka.Tubuhnya sedikit membungkuk,fokus penuh pada mesin yang sedang ia tangani.Tangannya bergerak cepat dan pasti,seolah olah setiap bagian sudah ia hafal diluar kepala.
Keringat mengalir di pelipisnya kemudian mengalir ke rahang lalu jatuh ke lantai yang penuh noda oli.kaos yang ia kenakan sudah tidak bisa lagi di sebut bersih namun ia tetap tidak peduli karena baginya kenyamanan adalah hal mewah.
Tiba tiba,Yan "jangan lama lama! Itu mobil harus selesai sebelum siang!" suara pak Darto terdengar dari depan bengkel.
Ryan tidak langsung menjawab ia masih memutar sebuah baut dengan hari hati dan memastikan posisinya benar benar pas.Setelah yakin,iya berkata"Sudah bos".
Nada suara datar,namun bukan tidak sopan tapi itulah karakternya yang tegas.
Ryan menarik napas dalam dalam.lalu menyalakan mesin mobil itu dan terdengar
brum brum brum...
suara mesin yang tadinya kasar kini berubah menjadi halus dan stabil.
Ryan menatapnya beberapa detik,memastikan semuanya berjalan normal.setelah itu,ia mengangguk kecil,kebiasaan yang selalu ia lakukan setiap kali menyelesaikan sesuatu.
Tidak ada senyum lebar,tidak ada rasa bangga yang berlebihan.Hanya kepuasan dalam diam.Ia hendak berdiri namun tiba tiba suara lain memecah suasana.
suara mesin yang berbeda,lebih halus lebih mewah dan jelas bukan kendaraan biasa.
Semua orang dibengkel otomatis menoleh kearah sumber suara.Sebuah mobil mewah perlahan berhenti di depan bengkel itu.
Kontrasnya terasa begitu jelas,seolah dua dunia yang berbeda yang tiba tiba bertabrakan dengan satu titik.
Ryan ikut melirik sekilas, matanya menyipit sedikit.Mobil itu bukan mobil sembarangan.
Bahkan tanpa melihat logo pun ia tahu itu adalah kendaraan kelas atas.
Pintu mobil terbuka dan waktu seakan melambat.Tiba tiba seorang gadis yang ayu rupawan keluar dari dalam mobil itu.
Langkahnya pelan dan sedikit ragu namun tetap anggun.Ia mengenakan pakaian yang sederhana,tapi kualitasnya tak bisa di sembunyikan.Rambutnya tertata rapi,wajahnya tenang namun matanya menyimpan sesuatu yang sulit di jelaskan Arini.
Beberapa pekerja bengkel langsung saling pandang.ada yang berbisik pelan,ada yang hanya diam,memperhatikan.
Pak Darto cepat cepat menghampiri dengan sikap lebih sopan dari biasanya.
Permisi nona,ada yang bisa di bantu?
Arini sedikit mengangguk."mobil saya perlu di service berkala.Suaranya lembut tapi tidak terdengar manja.
Pak Darto langsung menoleh " yan!.
Ryan menghela napas pelan lalu berjalan mendekat.Ia tidak terlihat gugup,juga tidak berusaha terlihat berbeda.Sikapnya tetap sama seperti biasanya.
Namun saat ia berdiri di depan Arini,mata mereka bertemu untuk sesaat dan entah kenapa ada keheningan aneh di antara mereka.
Ryan adalah orang yang terbiasa di pandang sebelah mata.ia tahu bagaimana tatapan orang orang kaya biasanya merendahkan,jijik
atau sekedar tidak peduli.
Tapi tatapan Arini berbeda,tidak ada penilaian
Tidak ada jarak.hanya rasa ingin tahu.
Ryan memalingkan pandangannya lebih dulu.
"Boleh saya lihat mobilnya?"tanya Ryan singkat.Arini pun setuju.
Ryan membuka kap mobil,lalu langsung tenggelam dalam pekerjaannya.Dunia di sekitar seakan menghilang.Yang ada hanya mesin,suara napasnya dan pikirannya yang bekerja cepat.
Namun disisi lain,Arini justru tidak bisa mengalihkan pandangan darinya.Ia memperhatikan setiap gerakan Ryan.Cara ia menyentuh mesin,cara ia berfikir,cara ia diam dan tidak ada kesan ingin pamer.
Tidak ada usaha untuk Terlihat hebat.semua terasa tulus.Dan itu adalah hal yang jarang ia temui.
"masalah kecil,"ucap Ryan akhirnya.Ada bagian yang longgar.Ia mengambil alat,lalu memperbaikinya dengan cepat
Arini sedikit mendekat,tanpa sadar ingin melihat lebih jelas."memang sering seperti ini? Tanyanya pelan.Ryan tidak langsung menjawab"."Tergantung pemakaian."
Jawaban singkat namun tidak dingin.Arini tersenyum tipis.Percakapan kecil tapi terasa berbeda.
Beberapa menit kemudian,Ryan menutup kap mobil."sudah".
Arini terlihat lega."terima kasih banyak".
Ia lalu mengambil tasnya.Berapa biayanya?
Ryan diam sebentar.lalu menggeleng."ngga usah".cuma hal kecil."seketika suasana dibengkel berubah.Beberapa orang langsung menoleh lagi.Arini terlihat terkejut."Serius"?
Ryan hanya mengangkat bahu."iya".
Tidak ada alasan panjang.Tidak ada basa basi dan justru itu yang membuat Arini semakin terdiam.Ia terbiasa dengan orang orang yang selalu mengincar sesuatu darinya.
Uang dan status salah satu contohnya.
Untuk pertama kalinya senyum Arini berubah.
Bukan senyum formal dan bukan senyum sopan tapi senyum yang benar benar tulus.
"kalau begitu saya jadi berutang".
Ryan tidak menjawab. Ia sudah kembali ke pekerjaannya seolah pertemuan itu tidak berarti apa apa namun justru sikap itu yang membuat hati Arini bergetar pelan.
Arini kembali ke mobilnya,tangannya memegang stir namun ia tidak langsung menyalakan mesin.Matanya masih tertuju ke arah bengkel.ke arah seseorang yang bahkan tidak melihatnya lagi.
Ia menghela napas kecil lalu tersenyum. Senyum yang aneh,senyum yang baru."Ryan" gumamnya pelan,mengingat nama yang ia lihat di seragam lusuh itu.
Mobil itu akhirnya pergi.meninggalkan debu tipis di jalanan namun tidak dengan pikirannya karena sesuatu telah tertinggal di tempat yang seharusnya tidak pernah ia datangi.
Sementara itu Ryan tetap bekerja seperti biasa namun entah kenapa fokusnya sempat terpecah.Bayangan mata gadis itu muncul sesaat di benaknya.Ia menggeleng pelan dan mencoba mengabaikannya.
"cuma pelanggan",gumamnya tapi jauh di dalam hatinya ia tahu bahwa ada sesuatu yang berbeda dari pertemuan itu dan tanpa mereka sadari takdir mulai bergerak menyatukan dua dunia yang seharusnya tidak pernah bersinggungan.