Di masa lalu, dunia pernah diselamatkan oleh para Grandmaster penyihir terkuat dari berbagai kerajaan yang menguasai elemen alam.
Di antara mereka, satu nama berdiri di puncak: Shiranui Akihara, Grandmaster Api dari Kerajaan Solvaria.
Setelah memimpin perang besar melawan pasukan iblis dan membawa kemenangan bagi umat manusia, ia tiba-tiba menghilang. Dunia percaya sang legenda telah gugur.
Namun kenyataannya, Akihara masih hidup.
Kini ia bersembunyi di sebuah desa terpencil, menjalani kehidupan damai sebagai orang biasa, berusaha meninggalkan masa lalu yang penuh perang dan kehilangan.
Tetapi kedamaian itu mulai runtuh ketika legenda tentang Neraka Iblis kembali muncul.
Raja Iblis Argiel Lucifer dikabarkan bangkit kembali, ditemani oleh sosok misterius bernama Railer Zernaldha.
Bersamaan dengan kebangkitan Tujuh Dosa Besar, dunia kembali berada di ambang kehancuran.
Kini Akihara harus memilih:
tetap hidup sebagai manusia biasa…
atau kembali menjadi legenda yang pernah menyelamatkan 🌏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Absonen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22 [Malam Yang Mengarah Ke Perang]
Langit di atas Kerajaan Mushaf… tidak lagi bergerak.
Awan menggantung.
Udara berat.
Dan di tengah kehancuran yang perlahan meluas
satu sosok berdiri… tanpa terganggu oleh apa pun.
Acedia.
Ia tidak menyerang.
Tidak berlari.
Tidak menghancurkan secara langsung.
Namun kehadirannya saja… cukup.
Bangunan retak satu per satu.
Batu yang kokoh mulai runtuh seperti rapuh.
Dan di antara reruntuhan itu
Para petualang berdiri.
Puluhan.
Mungkin ratusan.
Namun tidak ada yang maju.
“…masih hidup?”
Suara Acedia terdengar pelan.
Datar.
Tanpa emosi.
Beberapa petualang menelan ludah.
Seseorang mencoba mengangkat pedang.
Namun tangannya gemetar.
“Serang…!”
Satu teriakan pecah.
Beberapa langsung bergerak.
Sihir dilepaskan.
Panah melesat.
Pedang mengayun.
Namun hasilnya sama seperti sebelumnya.
Semua itu…
Menghilang.
Tidak mengenai apa pun.
Tidak meninggalkan bekas.
Dan dalam beberapa detik
Beberapa dari mereka jatuh.
Bukan karena luka.
Namun karena sesuatu yang tidak terlihat.
Tekanan itu.
“Ah-”
Salah satu petualang mencoba bernapas.
Namun tubuhnya menyerah.
Ia jatuh.
Diam.
Yang lain mundur.
Panik.
“Ini… ini bukan musuh!”
Acedia hanya menatap.
“…lemah.”
Di luar gerbang
Masih berdiri.
Masih sadar.
Namun tidak bisa bergerak
Galdros Varnheim.
Tubuhnya kaku.
Matanya terbuka.
Ia melihat semuanya.
Warganya.
Petualangnya.
Kerajaannya.
Runtuh.
“…bergerak…”
Suaranya hanya dalam pikiran.
“…bergerak…!”
Namun tubuhnya tidak merespon.
Tanah
Yang selalu menjawabnya
Kini diam.
Untuk pertama kalinya
Grandmaster Batu itu…
Merasa tidak berdaya.
Dan itu
Lebih menyakitkan dari luka apa pun.
Di dalam istana
Ragnar Varnheim berdiri dengan wajah tegang.
Matanya tidak lepas dari kehancuran di luar.
“…cukup.”
Ia berbalik.
“Evakuasi warga.”
Para pengawal terdiam.
“Semua yang masih hidup selamatkan mereka.”
“Yang lain…”
Ia menarik napas.
“…tahan dia selama mungkin.”
Perintah itu…
Bukan untuk menang.
Namun untuk bertahan.
Jauh di utara
Di dalam hutan lebat
Malam terasa jauh lebih tenang.
Desa Kurohana tertidur.
Lampu-lampu redup.
Angin berhembus pelan.
Namun di dalam sebuah penginapan kecil
Suasana tidak setenang itu.
Liora Raizen berdiri di dekat jendela.
Tatapannya mengarah ke selatan.
“…datang lagi.”
Suaranya pelan.
Namun jelas.
Di belakangnya
Shiranui Akihara yang sedang duduk… langsung mengangkat kepala.
Ia juga merasakannya.
Energi itu.
Kosong.
Namun menekan.
Sama seperti saat di Hinomura.
“…dia.”
Liora mengangguk pelan.
Hening beberapa detik.
Lalu
Ia menoleh.
Menatap Akihara.
Tidak perlu kata-kata panjang.
Tatapan itu sudah cukup.
Akihara mengerti.
Teman mereka.
Grandmaster lain.
Mungkin sedang menghadapi itu sekarang.
Ia menunduk.
Berpikir.
Kenangan lama muncul.
Pertempuran besar.
Api.
Petir.
Tanah.
Air.
Angin.
Dan satu musuh
Raja Iblis.
Ia pernah bertarung bersama mereka.
Dan sekarang…
“…aku akan pergi.”
Kalimat itu keluar.
Tanpa ragu.
Liora langsung bereaksi.
“Jangan.”
Akihara menoleh.
“Aku bisa-”
“Jangan sendirian.”
Nada suara Liora berubah.
Lebih tegas.
Akihara terdiam.
Namun masih belum sepenuhnya memahami.
“Kalau itu seperti yang waktu itu…”
Ia melanjutkan.
“…aku harus ke sana.”
Liora mengepalkan tangannya.
“…Noa bagaimana?”
Hening.
Kalimat itu
Mengenai.
“…dan kamu?”
Nada suaranya sedikit bergetar.
Untuk pertama kalinya
Akihara benar-benar melihatnya.
Bukan sebagai rekan.
Namun sebagai seseorang…
Yang khawatir.
Ia terdiam beberapa detik.
Lalu
Ekspresinya berubah.
Sedikit.
Ia tersenyum kecil.
“…kita pergi.”
Liora sedikit terkejut.
“Dua hari.”
Akihara melanjutkan.
“Kita kembali ke Hinomura dulu.”
“Setelah itu…”
Ia menatap ke selatan.
“…kita bantu.”
Hening.
Liora menghela napas pelan.
“…bodoh.”
Namun pipinya sedikit memerah.
Ia tidak membantah lagi.
Malam semakin dalam.
Di dalam kamar
Liora sudah tertidur.
Noa berada di sampingnya.
Kecil.
Tenang.
Tidak tahu apa pun.
Akihara berdiri di dekat pintu.
Menatap mereka.
Wajah Liora
Terlihat jauh lebih lembut saat tidur.
Tidak dingin.
Tidak tegas.
Hanya… manusia biasa.
Akihara terdiam.
Ada sesuatu di dadanya.
Aneh.
Hangat.
Namun juga membingungkan.
“…apa ini…”
Ia bergumam pelan.
Ia memalingkan wajah.
Lalu
Perlahan membuka pintu.
Keluar.
Menutupnya kembali.
Di luar
Malam sunyi.
Hutan gelap.
Angin berhembus pelan.
Akihara berdiri.
Menarik napas.
Mencoba menenangkan pikirannya.
Namun
Instingnya…
Berteriak.
Seketika
Matanya berubah.
“…ada sesuatu.”
Ia menoleh.
Di ujung jalan gelap
Sebuah bayangan berdiri.
Tinggi.
Besar.
Perlahan
Bayangan itu melangkah maju.
Cahaya bulan menyentuhnya.
Dan wujudnya terlihat.
Seekor Orc.
Namun
Berbeda.
Tingginya sekitar dua setengah meter.
Tubuhnya besar.
Ototnya kasar.
Di tangannya
Kapak besar.
Namun yang paling aneh
Tidak ada apa-apa.
Tidak ada mana.
Tidak ada aura.
Kosong.
Seperti sesuatu yang tidak hidup.
Akihara menyipitkan mata.
“…tidak ada mana…”
Kesadarannya langsung tajam.
Makhluk seperti ini…
Sama seperti yang menyerang Hinomura.
Matanya langsung berubah.
“…targetnya…”
Ia melirik ke arah kamar.
“…Noa.”
Dalam satu detik
Semua jelas.
Orc itu tidak berburu.
Ia datang.
Dengan tujuan.
Orc itu berhenti.
Menatap lurus ke arah Akihara.
Tidak menggeram.
Tidak bersuara.
Hanya…
Diam.
Lalu
Perlahan mengangkat kapaknya.
Akihara langsung bersiap.
Namun
Pedangnya…
Ada di dalam kamar.
Di belakangnya
Liora.
Noa.
Jaraknya dekat.
Terlalu dekat.
Ia mengepalkan tangannya.
Api kecil mulai muncul.
Namun ia menahannya.
Kalau dia salah
Kamar itu bisa hancur.
Orc itu melangkah.
Tanah berderit pelan.
Langkahnya berat.
Dan semakin dekat.
Akihara menurunkan pusat gravitasi tubuhnya.
Tanpa senjata.
Namun siap.
Matanya fokus.
Satu kesalahan
Dan semuanya berakhir.
Orc itu mengangkat kapaknya tinggi.
Udara terasa terbelah.
Dan dalam satu detik
Serangan akan jatuh.