NovelToon NovelToon
Will You Marry Me

Will You Marry Me

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:211
Nilai: 5
Nama Author: Alif Cariza Nofiriyanto

seorang muda mudi yang lama berteman dan memulai dengan saling ada ikatan cinta Siska namanya paras cantik dan menawan mendapatkan masalah dari keluarganya dia adalah seorang tepandang namun ia harus menikah untuk mewarisi perusahaan keluarganya bertemulah Andi dan menjalin asmara dengan berbagai masalah namun di ujung mereka resmi menjalani pernikahan dengan bahagia

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

31

Di beranda kayu yang kini mulai tertutup lumut hijau alami, Andi menyesap kopi pahitnya sambil memandangi Liman yang merangkak di atas tikar rotan. Di sampingnya, Siska sedang sibuk menandai peta digital pada tablet transparan—sebuah proyek ambisus yang mereka sebut sebagai "Sabuk Hijau Khatulistiwa".

"Ndi," panggil Siska tanpa mengalihkan pandangan. "Elias dan Arla baru saja mengirim data dari laut Flores. Terumbu karang Reef-Genesis kita berhasil menarik kembali hiu karang dalam waktu kurang dari enam bulan. Itu lebih cepat dari prediksi algoritma Arlan OS."

Andi terkekeh, suara seraknya beradu dengan suara jangkrik hutan. "Algoritma itu buatan manusia, Sis. Tapi alam punya caranya sendiri untuk menyembuhkan diri kalau kita beri dia ruang. Elias benar, air punya frekuensinya sendiri."

Ekspansi Arlan ke Sektor Pendidikan dan Riset

Keberhasilan Arlan tidak lagi diukur dari nilai kontrak karbon, melainkan dari seberapa banyak "Arlan-Arlan kecil" yang tumbuh di tempat lain. Arla dan Elias memutuskan untuk mendirikan Arlan Academy, sebuah institusi terapung yang berpindah-pindah dari satu pesisir ke pesisir lain.

 * Beasiswa Penjaga Rimba:

   Anak-anak muda dari desa-desa terpencil diberikan akses teknologi sensor Arlan untuk memetakan wilayah mereka sendiri, menjadikan mereka garda terdepan melawan deforestasi.

 * Laboratorium Bio-Mimikri:

   Para ilmuwan dunia datang ke Arlan untuk mempelajari bagaimana struktur kayu ulin bisa menjadi inspirasi bangunan tahan gempa yang rendah emisi. Arlan kini bukan sekadar bisnis, tapi kiblat ilmu pengetahuan baru.

Tantangan Baru: Sang Raksasa yang Terusik

Namun, tidak semua pihak senang dengan dominasi Arlan. Munculnya "Arlan Way" yang mengutamakan keberlanjutan mulai mengancam industri ekstraktif konvensional. Arla mulai menerima tekanan diplomatik terkait standar audit karbon mereka yang sangat ketat.

"Mereka bilang kita memonopoli kebenaran lingkungan," ujar Arla melalui sambungan hologram dari kapal risetnya. Wajahnya tampak lelah namun matanya tetap tajam. "Beberapa perusahaan besar mencoba meretas Arlan OS untuk memalsukan data emisi mereka."

Andi, yang biasanya diam, angkat bicara. "Ingat apa yang kakek ajarkan, Arla. Jembatan yang kuat bukan yang paling kaku, tapi yang tahu kapan harus mengikuti arus tanpa kehilangan pijakan. Jika mereka menyerang teknologinya, lawan dengan integritas manusianya."

Pertemuan di Muara

Malam itu, seluruh keluarga besar berkumpul di titik pertemuan arus sungai dan laut—tempat Arla dan Elias menikah. Mahesa membawa kabar bahwa PBB ingin menjadikan Arlan sebagai model standar untuk Global Green Treaty.

"Ini adalah puncak dari semua kegilaan kita, Ma," ucap Siska sambil memeluk cucunya.

Mahesa mengangguk pelan. "Tapi ingat, Sis. Semakin tinggi pohon, semakin kuat angin yang menerpa. Kita harus memastikan akar kita—komunitas lokal di Arlan ini—tetap menjadi jantung dari segalanya."

Di bawah cahaya rembulan yang memantul di permukaan air yang jernih, Arla dan Elias berdiri di haluan kapal, menatap hutan Borneo di satu sisi dan samudera luas di sisi lain. Mereka tahu, perjalanan ini tidak akan pernah benar-benar selesai. Alam adalah sebuah proses, bukan tujuan.

"Untuk Liman," bisik Elias, mencium kening istrinya.

"Dan untuk semua anak yang akan lahir di dunia yang lebih hijau," jawab Arla.

Di kegelapan hutan, sensor-sensor Arlan OS berkedip lembut seperti kunang-kunang elektrik, menjaga detak jantung bumi yang kini mulai berdenyut stabil kembali. Arlan telah membuktikan bahwa ekonomi dan ekologi bukanlah dua kutub yang saling menghancurkan, melainkan sepasang kekasih yang saling membutuhkan.

Konflik itu akhirnya pecah bukan dalam bentuk senjata, melainkan dalam perang data. Sebuah korporasi raksasa bernama Omni-Terra meluncurkan kampanye global yang menuduh bahwa sensor Arlan OS mengalami bias dan melebih-lebihkan angka penyerapan karbon. Mereka ingin mengganti standar Arlan dengan sistem mereka sendiri yang lebih "longgar" terhadap industri berat.

Arla, yang saat itu berada di pusat riset terapung, memandang layar monitor yang menunjukkan serangan siber bertubi-tubi pada server pusat di Borneo. "Mereka tidak hanya menyerang kode kita, Elias. Mereka menyerang kepercayaan masyarakat pada alam," ujarnya dengan nada rendah.

Elias tidak menjawab dengan kata-kata. Ia mengajak Arla turun ke lambung kapal, tempat sebuah tangki besar berisi prototipe terbaru mereka berada. Di sana, ribuan mikro-organisme bioluminesensi berpendar biru indah.

"Algoritma bisa dimanipulasi, Arla. Tapi kehidupan tidak bisa berbohong," kata Elias. "Kita tidak akan membalas mereka dengan statistik di layar. Kita akan membalas mereka dengan bukti biologis yang bisa dilihat mata telanjang."

Strategi "Transparansi Organik"

Alih-alih menutup diri, Arlan justru membuka seluruh akses data mereka kepada publik. Mereka meluncurkan inisiatif "Open Heart Arlan", di mana siapa pun di dunia bisa mengakses siaran langsung frekuensi suara bawah air dan pertumbuhan seluler hutan secara real-time.

 * Verifikasi Rakyat:

   Petani di pegunungan dan nelayan di pesisir menjadi validator. Jika sensor Arlan mengatakan suhu air naik, nelayan bisa mengonfirmasinya langsung melalui aplikasi sederhana. Kesaksian manusia menjadi benteng terakhir melawan manipulasi korporasi.

 * Diplomasi Oksigen:

   Siska dan Mahesa melakukan perjalanan ke markas besar PBB. Mereka tidak membawa dokumen tebal, melainkan membawa bibit ulin yang sudah ditanami sensor biometrik kecil. "Pohon ini adalah akuntan kami," tegas Siska di depan para delegasi. "Ia tidak mencatat uang, ia mencatat napas kita."

Masa Transisi: Warisan untuk Liman

Waktu terus merambat seperti akar ulin yang tak kenal lelah. Liman tumbuh besar di antara dua aroma: bau tanah basah setelah hujan di hutan dan bau garam dari laut Mediterania. Ia menjadi anak yang unik; ia mampu membaca kode biner Arlan OS sefasih ia membaca gerak awan di langit.

Suatu sore, Andi yang sudah sangat sepuh mengajak Liman ke jembatan kayu pertama yang ia bangun puluhan tahun silam. Jembatan itu masih berdiri kokoh, meski kayu ulinnya sudah menghitam dimakan usia.

"Liman," panggil Andi, suaranya kini tinggal bisikan. "Teknologi ibumu bisa menjangkau bintang, dan pengetahuan ayahmu bisa menyelami palung. Tapi kau, kau harus tetap menjadi jembatan. Jangan pernah biarkan teknologi membuatmu lupa bagaimana rasanya menyentuh tanah dengan tangan telanjang."

Liman menggenggam tangan kakeknya yang kasar. Di pergelangan tangan bocah itu, melingkar sebuah gelang pintar yang memantau detak jantungnya sendiri—sebuah sinkronisasi sempurna antara manusia dan mesin yang dirancang oleh Arla.

Senja yang Abadi

Andi mengembuskan napas terakhirnya di kursi kayu ulin buatannya sendiri, tepat saat matahari terbenam di ufuk sungai Arlan. Ia pergi dengan senyum tipis, mengetahui bahwa jembatannya telah menjadi fondasi bagi sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar penyeberangan sungai.

Siska tidak menangis dengan pilu. Ia duduk di samping jenazah suaminya, menggenggam botol kecil berisi campuran air sungai dan laut yang dulu menjadi simbol pernikahan Arla. Ia tahu, di Arlan, kematian hanyalah cara lain bagi energi untuk kembali ke tanah dan menjadi nutrisi bagi tunas baru.

"Dia sudah kembali ke rumah, Sis," ujar Mahesa pelan sambil merangkul pundak sahabat lamanya itu.

Malam itu, seluruh hutan Arlan tampak berpendar lebih terang dari biasanya. Berjuta-juta sensor di pepohonan dan terumbu karang memancarkan cahaya biru lembut secara serentak, seolah memberikan penghormatan terakhir kepada sang pemahat jembatan.

Bisnis Arlan kini bukan lagi tentang mencari keuntungan. Ia telah menjadi ekosistem yang bernapas. Dari satu petak hutan yang hampir musnah, kini sebuah peradaban baru telah lahir—peradaban yang tidak lagi berperang melawan alam, melainkan menari bersama dalam simfoni yang abadi.

Arla, Elias, dan Liman berdiri di dermaga, menatap masa depan yang luas. Tantangan akan selalu ada, namun selama akar mereka tetap tertanam di kejujuran tanah Arlan, mereka tahu bahwa hari esok akan selalu punya alasan untuk tumbuh.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!