NovelToon NovelToon
Taipan Abadi: Kebangkitan Menantu Terbuang

Taipan Abadi: Kebangkitan Menantu Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:8.9k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Arya, seorang pewaris sekte abadi yang dikhianati dan kehilangan kekuatannya, terperangkap dalam tubuh seorang "menantu benalu" yang dihina oleh keluarga istrinya di kota metropolitan modern. Dengan ingatan masa lalu dan sisa kekuatan spiritualnya, ia harus membangun ulang fondasi kekuatannya, menaklukkan dunia bisnis, melindungi wanita yang ia cintai, dan perlahan mengungkap rahasia alam semesta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32: Sayap yang Patah dan Keputusasaan Suci

​Gravitasi di dalam aula utama Kuil Suci Olympus terasa seratus kali lipat lebih berat dari biasanya. Karpet merah bersulam emas yang melapisi lantai telah hancur menjadi debu, tergantikan oleh rekahan batu gunung yang bergetar menahan tekanan spiritual Arya.

​Ratusan Paladin berbaju zirah paduan titanium—pasukan terkuat di dunia Barat yang pernah meruntuhkan kerajaan-kerajaan kecil di masa lalu—kini terkapar di tanah, tak mampu mengangkat satu jari pun. Tulang belulang mereka berderit mengerikan, beberapa bahkan memuntahkan darah segar dari balik helm mereka.

​Dua belas Grand Inquisitor, para petinggi yang selama ini mengendalikan arah politik dan ekonomi benua Barat dari balik layar, memaksakan diri untuk berlutut meski lutut mereka hancur.

​"I-Iblis! Serang dia dengan formasi suci!" teriak salah satu Grand Inquisitor, memuntahkan darah.

​Empat Inquisitor yang masih memiliki sisa tenaga merapal mantra secara serentak. Tombak-tombak cahaya putih raksasa yang membawa energi penghancur tingkat puncak bermanifestasi di udara, melesat serentak ke arah Arya dengan kecepatan kilat.

​Arya tidak menghentikan langkahnya. Tangannya masih nyaman berada di dalam saku jaketnya.

​Ia hanya menghela napas pelan.

​Wussshh!

​Bahkan sebelum tombak-tombak cahaya itu menyentuh jarak tiga meter dari tubuh Arya, benda-benda itu meleleh dan menguap layaknya es batu yang dilemparkan ke dalam kawah gunung berapi.

​Tidak berhenti sampai di situ, sisa energi dari embusan napas Arya melesat membalas serangan tersebut. Keempat Inquisitor itu terbelalak ngeri sebelum tubuh mereka meledak serentak menjadi kabut darah. Tanpa jeritan, tanpa sisa.

​Keheningan yang mematikan kembali mencekik ruangan. Sisa delapan Inquisitor mulai menangis tersedu-sedu, membuang tongkat sihir mereka. Arogansi berabad-abad telah dihancurkan dalam hitungan detik oleh langkah kaki santai seorang pemuda.

​"B-berhenti..." Sang Saint, pria tua buta yang memimpin kuil itu, merangkak mundur mendekati puing-puing altarnya. Kain penutup matanya telah basah oleh air mata darah. "Kami menyerah... Kuil Barat akan tunduk padamu! Kami akan menyerahkan seluruh aset duniawi kami, tolong ampuni nyawa kami!"

​Arya berhenti melangkah, berdiri di tengah-tengah aula yang hancur. Matanya yang keemasan menatap tajam sang Saint.

​"Menyerah?" Arya memiringkan kepalanya, suaranya sangat tenang namun memuat ejekan absolut. "Kalian mengotori lantainya, mengancam untuk menyalib istriku, dan sekarang kalian menawarkan sisa-sisa koin fana untuk membeli nyawa kalian?"

​Arya mengangkat tangan kanannya perlahan.

​Sang Saint tahu bahwa pemuda ini tidak akan meninggalkan satu pun makhluk hidup di gunung ini. Ketakutan di wajah pria tua itu perlahan berubah menjadi kegilaan yang membara.

​"JIKA KAMI HARUS MATI, MAKA DUNIA TIMUR JUGA AKAN HANCUR!" raung sang Saint histeris. Ia merogoh dadanya dan mengeluarkan sebuah belati hitam pekat, lalu menusukkannya tepat ke jantungnya sendiri.

​"DENGAN DARAHKU, DAN DARAH SELURUH PENGIKUTKU... BANGKITLAH, WAHAI LELUHUR BERSAYAP ENAM! HANCURKAN BIDAT INI!"

​BLAARRR!

​Begitu belati itu menembus jantung sang Saint, darahnya tidak tumpah ke lantai, melainkan melayang ke udara, menyedot seluruh darah para Paladin dan Inquisitor yang tewas maupun yang masih hidup. Jeritan mengerikan bergema saat ratusan nyawa dikorbankan secara paksa dalam satu detik untuk mengaktifkan formasi terlarang di bawah altar.

​Gunung Alpen berguncang hebat. Puncak gunung itu terbelah menjadi dua.

​Dari dalam rekahan bumi, seberkas cahaya merah darah yang sangat pekat menyembur ke langit, menelan sisa-sisa awan badai salju. Udara mendadak dipenuhi oleh nyanyian paduan suara yang tidak suci dan memekakkan telinga.

​Seekor makhluk raksasa setinggi sepuluh meter perlahan bangkit dari dalam cahaya merah tersebut. Ia memiliki wujud manusia yang sempurna namun berkulit sepucat pualam, dihiasi dengan baju zirah emas kuno. Di punggungnya, terbentang enam sayap raksasa yang terbuat dari api berwarna darah.

​Ini adalah Seraphim Darah, Malaikat Jatuh kuno yang tertidur di bawah pegunungan itu selama ribuan tahun. Fluktuasi energinya langsung melampaui batas Pembangunan Fondasi, nyaris menyentuh gerbang Inti Emas!

​Di seluruh benua Barat, para pejabat militer yang memantau melalui satelit jatuh terduduk melihat energi kemerahan yang menutupi langit. Dewa pelindung sejati mereka telah bangkit!

​"SIAPA MANUSIA FANA YANG BERANI MENGGANGGU TIDURKU?"

​Suara Seraphim itu menggema layaknya guntur ganda, menciptakan gelombang sonik yang meratakan tebing-tebing es di sekitarnya. Mata tanpa pupilnya menatap lurus ke arah pemuda kecil berjaket katun di bawahnya.

​Arya mendongak. Bukannya gemetar atau berlutut seperti yang diharapkan oleh makhluk kuno itu, Arya justru mengerutkan kening dengan tatapan kecewa.

​"Hanya Roh Sisa dari ras Manusia Burung tingkat rendah," gumam Arya, menggelengkan kepalanya. "Dan aku sempat berharap kalian menyembunyikan mainan yang lebih menarik."

​"KAU MENCARI MATI, SEMUT KOTOR!"

​Malaikat berdarah itu murka. Ia mengangkat tangan raksasanya, memanggil sebuah pedang cahaya raksasa sepanjang lima puluh meter, lalu menebaskannya dengan kekuatan yang cukup untuk membelah sebuah pulau menjadi dua. Udara terbakar, dan ruang di sekitar tebasan pedang itu retak.

​Menghadapi serangan yang bisa menghapus sebuah kota dari peta itu, Arya akhirnya melepaskan segel kekuatan aslinya.

​Inti Emas di Dantian-nya berputar satu kali.

​WUSSHHH!

​Pilar cahaya emas yang jauh lebih terang dari matahari meledak dari tubuh Arya, langsung menghancurkan aura merah darah milik sang Malaikat. Arya mengangkat tangan kanannya, menyatukan telunjuk dan jari tengahnya membentuk pedang jari.

​"Di Alam Atas," suara Arya bergema, namun kali ini dipenuhi oleh Otoritas Kaisar yang membuat jiwa dunia bergetar. "Bahkan Dewa Bersayap Sepuluh harus berlutut saat keretaku lewat. Kau, seekor burung mutan yang cacat, berani mengangkat senjatamu padaku?"

​Arya mengayunkan dua jarinya ke atas.

​Tebasan Naga Pembelah Surga!

​Sebuah lengkungan cahaya emas murni, setipis helai rambut namun memuat ketajaman absolut dari hukum ruang, melesat membelah langit.

​Pedang cahaya raksasa milik Malaikat itu terpotong menjadi dua tanpa suara, seolah itu hanyalah bayangan ilusi. Namun lengkungan emas itu tidak berhenti; ia terus melesat ke atas, menembus ruang dan waktu.

​ZRRAAAASH!

​Waktu seakan berhenti. Paduan suara gaib yang mengiringi Malaikat itu terputus mendadak.

​Seraphim Darah yang sombong itu membeku di udara. Matanya yang tak berpupil perlahan membelalak dalam ketidakpercayaan dan teror yang tak bisa dijelaskan.

​Perlahan-lahan, keenam sayap raksasanya tergelincir dari punggungnya, terpotong dengan sangat rapi. Detik berikutnya, tubuh raksasa setinggi sepuluh meter itu terbelah secara simetris dari kepala hingga ke ujung kaki.

​Hanya dengan satu ayunan jari, entitas kuno yang disembah sebagai dewa itu terbunuh.

​Darah emas menyembur menghujani reruntuhan kuil. Tubuh raksasa itu hancur menjadi serpihan cahaya yang kemudian diserap habis oleh pusaran energi Arya, menyisakan keheningan mutlak di puncak Pegunungan Alpen.

​Sang Saint, yang menggunakan sisa-sisa nyawanya untuk melihat hasil pertarungan itu dengan mata batinnya, memuntahkan darah hitam. Pikirannya hancur lebur. Dewa leluhur mereka, senjata pamungkas Kuil Barat, dipotong seperti unggas murahan.

​"M-monster... Kau... kau bukan manusia..." bisik sang Saint dengan napas putus-putus, sebelum akhirnya tubuh pria tua itu berubah menjadi debu, mati dalam penyesalan tak berujung.

​Arya menurunkan tangannya. Jaket katunnya bahkan tidak berkerut.

​Ia menatap reruntuhan Kuil Suci Olympus, altar-altar yang hancur, dan ribuan mayat pasukan Barat. Tidak ada belas kasihan di matanya. Ketika seseorang menyentuh sisik terbalik Sang Naga, pemusnahan adalah satu-satunya jawaban.

​Arya mengangkat telapak kakinya dan menghentakkannya sekali lagi ke tanah gunung tersebut.

​BOOM!

​Gelombang kejut yang mahadahsyat meruntuhkan fondasi Pegunungan Alpen di titik itu. Seluruh kompleks Kuil Barat, ruang bawah tanahnya, perpustakaan kunonya, dan sisa-sisa keberadaannya amblas ditelan bumi, terkubur di bawah jutaan ton salju abadi.

​Dalam satu hari, faksi terkuat di dunia Barat resmi dihapus dari sejarah planet ini.

​Arya melirik jam tangannya yang murah. Waktu menunjukkan pukul lima sore waktu Kota Emerald.

​"Selesai. Masih ada waktu untuk pulang dan membantu Nadia memanaskan makan malam," gumamnya santai.

​Ia berbalik, melangkah ke udara, dan melesat kembali ke ufuk timur, meninggalkan dunia militer Barat yang kini hanya bisa menangis ketakutan di depan layar radar mereka yang kosong.

1
Sofian Dzikrul Hidayah
kpn update
Sofian Dzikrul Hidayah
kpn update nya
Sofian Dzikrul Hidayah
lnjut thor
Sofian Dzikrul Hidayah
mlh gx update
Sofian Dzikrul Hidayah
lnjut thor
Sofian Dzikrul Hidayah
lnjut
Sofian Dzikrul Hidayah
lnjut thor
Sofian Dzikrul Hidayah
lnjut
Sofian Dzikrul Hidayah
up thor
Sofian Dzikrul Hidayah
lnjut
Sofian Dzikrul Hidayah
lnjut thor
Sofian Dzikrul Hidayah
up
Sofian Dzikrul Hidayah
lnjut thor
Dirman Ha
ih gk
Dirman Ha
hbk
Dirman Ha
hv gb bn
Dirman Ha
jg gb BBM
Dirman Ha
ig di
Dirman Ha
jg CV
Dirman Ha
ih gb np
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!