Abram adalah pemuda yang baik hati dan suka membantu, tapi sejak ia mengalami penyakit kulit, semua masyarakat menjauh. Hingga akhirnya ia di usir dari tempat tersebut dan pingsan di pinggir jalan setelah kesandung sebuah batu krikil aneh.
Tapi hari itu, ada seseorang menemukannya dan ia di bawa ke rumah sakit, sayangnya nyawanya tak tergolong lagi.
Tapi batu kerikil itu terkena darah Abram dan menjadikan Abra sehat kembali dan menjadi dia tabib dewa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29
...⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️...
...Happy Reading...
...⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️...
"Buk Sri… Pak Adi… Buk Lina… bahkan Kak Soleh dan keluarga mereka?” Bisik Abram pelan, matanya membelalak melihat sebanyak tujuh orang yang semuanya adalah tetangga dari kampung halamannya yang pernah ia tolong saat mereka kesusahan.
Ia masih ingat betul bagaimana ia pernah memberikan sebagian uang ang sedikitnya padanya kepada Buk Sri yang sedang kesulitan biaya makan, bagaimana ia membantu Pak Adi memperbaiki atap rumahnya yang bocor saat musim hujan, dan bagaimana ia sering mengantarkan anak-anak Buk Lina yang sakit ke rumah sakit.
Namun ketika ia sendiri terserang penyakit kulit yang dianggap menular dan memalukan oleh warga kampung, mereka yang pernah ia bantu itu justru yang menghinanya.
Mereka menyebarkan kabar bahwa ia terkena kutukan karena melakukan perbuatan jahat, membakar rumahnya yang mendiang orang tuanya, dan mengusirnya hingga ia terpaksa melarikan diri dari kampung dengan kondisi tubuh yang lemah.
"Dokter! Tolong Dokter! Kulitku gatal sekali dokter, aku sudah tak bisa tidur selama tiga hari”teriak Buk Sri hampir menangis menjerit kesakitan, tangannya terus menggaruk lengan dan punggungnya dengan kekuatan yang cukup membuat kulitnya mulai sobek.
"Aku juga dokter! Tubuhku semua bagian gatal dan sakit, kalau digaruk rasanya seperti terbakar, tapi kalau tidak digaruk aku bisa saja gila karena gatal!” Teriak Pak Adi dengan wajah memerah karena kesakitan, tangannya bahkan mulai menggaruk bagian lehernya hingga muncul bekas luka baru.
“Iya dokter! Tolong segera beri kami obat yang bisa menyembuhkan kami secepatnya!” Buk Lina, dengan nada kesakitan. Ia mencoba terus menggaruk punggungnya yang tidak bisa dicapai.
Dokter Rahmat, salah satu dokter muda yang menangani pasien di rumah sakit ini, mendekat dengan wajah penuh kesulitan.
Ia membawa beberapa lembar kertas hasil pemeriksaan yang baru keluar dari laboratorium.
“Maaf Bapak dan Ibu sekalian… setelah diperiksa di laboratorium, ternyata penyakit kulit yang kalian derita memang bersifat menular, dan tidak seperti penyakit kulit biasa yang pernah kami temui. Oleh karena itu, kami perlu memindahkan kalian ke bangunan khusus yang sudah disiapkan untuk pasien dengan penyakit menular agar tidak menulari pasien lain yang sedang dalam perawatan," kata Dokter Rahmat merasa khawatir dengan penyakit yang di serial mereka.
"Dokter! Yang kami butuhkan bukan pindah-pindah tempat! Kami butuh obat yang bisa menyembuhkan kami sekarang juga!” Buk Lina menjerit kesal, matanya merah karena menangis dan kesakitan.
"Betul, Kita sudah pergi ke banyak rumah sakit dan klinik, tapi tidak ada yang bisa menyembuhkan kita! Hanya obat yang kuat saja yang bisa menghentikan rasa gatal ini!”kata Buk Sri
Abram melihat semua itu dengan hati yang bercampur aduk. Ia menekuk alisnya.
"Hm… apa penyebab mereka sampai kena penyakit seperti diriku dulu ya? Apa ini memang azab karena perlakuan mereka padaku? Ataukah ada sesuatu yang lain yang menjadi sumber masalahnya?”tanya Abram.
...⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️...
di tunggu kelanjutannya