bangkit kembali di dunia game, nama Arka adalah puncak dari segala kekuatan. Sebagai pemain peringkat satu berjuluk Void King, ia memiliki segalanya, namun terjebak dalam realitas game yang kini menjadi nyata setelah game tutup server.
Demi mewujudkan impian hidup tenang dengan menyembunyikan kekuatannya, Arka secara "tidak sengaja" memungut tiga petualang pemula. Elara, Kael, dan Jiro. Dengan niat egois agar ada orang lain yang bisa mengerjakan "tugas sulit" dan urusan merepotkan lainnya, Arka melatih mereka dengan metode neraka hingga mereka melampaui batas manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dhanis rio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20.BAYANGAN YANG MULAI BERBICARA
Pagi itu, Aula Guild Petualang Ovelia tidak lagi dipenuhi oleh tawa kasar atau dentingan gelas bir. Keheningan yang mencekam menggantikannya, sebuah atmosfer yang biasanya hanya muncul saat pengumuman perang. Semua mata terpaku pada papan misi peringkat tinggi yang biasanya berdebu dan diabaikan.
Satu per satu, misi Peringkat A dan S yang telah membeku selama bertahun-tahun—misi yang dicap sebagai "tiket satu arah menuju liang lahat"—kini tertutup stempel merah bertuliskan: SELESAI.
Di sudut ruangan yang remang, sosok-sosok misterius berdiri mematung. Mereka mengenakan jubah abu-abu gelap dengan tudung lebar dan masker hitam yang menutup rapat seluruh wajah, menyisakan hanya celah sempit untuk mata yang memancarkan ketenangan predator. Tidak ada zirah berkilau, tidak ada simbol keluarga bangsawan. Mereka hanya bayangan yang membawa kematian bagi monster-monster legendaris.
"Siapa mereka?" bisik seorang petualang veteran, tangannya gemetar saat melihat salah satu sosok itu meletakkan kantong berisi taring Twin-Headed Wyvern di meja resepsionis. "Mereka bergerak tanpa suara... dan bau mereka bukan bau keringat, tapi bau kematian."
Baros, sang Ketua Guild, berdiri di balik mejanya dengan peluh dingin yang membasahi kerah kemejanya. Ia melihat lima sosok bertudung itu memberikan laporan misi dengan efisiensi yang mengerikan, lalu usai menerima imbalan misi mereka menghilang ke dalam kerumunan seolah-olah mereka terserap oleh bayangan dinding. Baros tahu siapa mereka. Mereka adalah 'aset' Arka. Dan kehadiran mereka baru saja merobek peta kekuatan di Ovelia hanya dalam satu malam.
...
Sementara Ovelia sedang dihantam badai rumor, di halaman belakang Mansion Arka, "neraka" yang sebenarnya sedang dipentaskan.
Brak!
Tubuh Jiro melesat dan menghantam batang pohon ek kuno hingga kulit kayunya retak hebat. Pemuda itu terengah-engah, pedang kayunya sudah patah menjadi dua bagian yang tak berguna. Di depannya, dua orang pelayan bertudung ,'Shadow Servants' berdiri dalam posisi siaga rendah, masing-masing menggenggam tongkat kayu tumpul seolah itu adalah perpanjangan tangan mereka.
"Lagi," suara Arka terdengar malas, menggantung di udara dari balkon lantai dua. Ia duduk di kursi goyang dengan satu kaki menyilang, menyesap teh hijau yang uapnya sudah hilang.
Di sisi lain lapangan, Kael sedang dihujani panah tumpul dari tiga arah berbeda. Para pelayan itu bergerak di atas dahan pohon dengan kelincahan yang mustahil bagi manusia biasa. Sementara itu, Elara terpaksa mengerahkan seluruh konsentrasinya untuk mempertahankan perisai mana dari serangan sihir beruntun yang dilepaskan oleh tiga pelayan penyihir secara bergantian.
Ini bukan latihan. Ini adalah simulasi pembantaian terstruktur.
Dua belas pelayan yang telah mendapatkan kembali martabatnya berkat Elixir Reconstruction kini bertarung dengan koordinasi yang menakutkan. Mereka menyerang ketiga murid secara bergantian, menutup setiap celah udara untuk bernapas.
"Jika kalian masih mengandalkan mata untuk melihat serangan, kalian sudah mati seribu kali," gumam Arka. "Lyra, tunjukkan pada mereka apa itu kecepatan yang sebenarnya."
Lyra, yang kini bergerak dengan teknik Void Walk tingkat dasar, muncul secara instan di belakang Elara. Dengan satu ketukan jari yang dialiri tekanan mana murni, ia menghancurkan perisai mana Elara hingga pecah menjadi ribuan fragmen cahaya.
...
Di tengah kekacauan itu, gerbang besi Mansion terbuka perlahan. Sebuah kereta kuda megah dengan lambang Ksatria Suci Kerajaan memasuki pelataran. Alaric turun dari sana, namun kali ini ia membawa "beban" tambahan. Di belakangnya, seorang pemuda atletis dan seorang gadis remaja mengikuti dengan langkah yang dibuat-buat gagah, meski mata mereka tak bisa menyembunyikan rasa ngeri.
Alaric terpaku di pinggir lapangan. Matanya yang kini berada di tingkat SS bisa menangkap detail yang terlewatkan oleh orang biasa. Ia melihat para pelayannya, orang-orang yang sebelumnya ia buang sebagai 'sampah perang' kini bergerak dengan kelincahan yang bahkan melampaui ksatria elit divisi pertama kerajaan.
"Demi leluhur..." bisik Alaric. Ia melihat Jiro bangkit kembali dengan mata yang menyala, menahan serangan sinkron dari tiga pelayan sekaligus. "Ini... ini bukan lagi sekadar latihan."
Arka turun dari balkon, melayang jatuh tanpa suara dan mendarat tepat di samping Alaric tanpa menimbulkan riak debu sedikit pun. "Kau membawa kebisingan ke rumahku, Alaric. Aku sudah bilang aku benci keributan."
Alaric segera membungkuk hormat, sebuah gestur yang membuat kedua anaknya, Valen dan Seraphina, tersentak seolah tersengat listrik. Ayah mereka, Komandan Tertinggi SS, tunduk pada pria yang tampak seperti pengangguran yang baru bangun tidur?
"Maafkan kelancangan saya, Tuan Arka," ucap Alaric dengan nada rendah dan penuh hormat. "Saya hanya ingin menyaksikan keajaiban yang Anda bangun... dan saya membawa putra-putri saya. Mereka adalah murid terbaik di Akademi Kerajaan Aethelgard."
Alaric melirik ke arah lapangan, di mana Jiro baru saja dijatuhkan lagi untuk yang ke-50 kalinya. "Tuan Arka... jika saya harus jujur, membandingkan akademi kerajaan dengan tempat ini... akademi jadi seperti tempat anak-anak bermain rumah-rumahan menggunakan mainan plastik."
Valen, putra Alaric yang memiliki ego setinggi menara ibukota, mengerutkan kening. "Ayah, itu penghinaan bagi kami. Mereka hanya menggunakan senjata kayu—"
Wush!
Sebuah anak panah tumpul melesat hanya seujung rambut dari telinga Valen, memotong beberapa helai rambutnya, dan menancap sedalam sepuluh inci di tembok beton di belakangnya. Valen membeku, kakinya gemetar. Ia bahkan tidak melihat dari mana arah datangnya serangan itu.
...
"Tuan Arka," Alaric melangkah maju, wajahnya memancarkan permohonan yang tulus. "Kompetisi Antar Guild akan segera dimulai. Aturannya sangat ketat: lima partisipan per tim. Anda hanya memiliki tiga fajar—Jiro, Kael, dan Elara. Tim Anda tidak akan sah tanpa dua orang lagi."
Alaric memberi isyarat agar kedua anaknya berlutut di tanah yang berdebu. "Tujuan saya datang adalah memohon agar Anda menerima mereka berdua. Bukan sebagai bangsawan, tapi sebagai tanah yang siap Anda bentuk."
Arka menghela napas panjang, jarinya memijat pelipisnya. "Alaric... melatih tiga bocah bodoh itu saja sudah membuatku ingin pensiun dari kehidupan. Menambah dua lagi? Itu terdengar seperti pekerjaan yang sangat merepotkan. Jawabannya adalah tidak."
Harapan di mata Valen dan Seraphina padam seketika. Namun, Arka belum selesai.
"Tapi," lanjut Arka, "aku butuh Ajudan Tiga Fajar untuk membantu pertarungan ketiga muridku. Aku bisa memberikan instruksi dasar dan menunjukkan beberapa teknik bertarung untuk kalian. Aku tidak akan mengajar mereka secara intensif. Semua tergantung pada bakat kalian sendiri. Jika kalian cukup tajam, kalian mungkin bisa mencapai tinggi yang tidak bisa kalian bayangkan suatu saat nanti."
Arka menatap kedua remaja itu dengan mata yang seolah-olah bisa melihat setiap helai saraf di tubuh mereka. "Ingat, kalian bukan bagian dari Tiga Fajar. Kalian adalah Murid Bayangan. Jika kalian tidak tahan, pintu gerbang itu selalu terbuka."
Alaric merasa jantungnya berdegup kencang karena kegembiraan. Meskipun bukan murid inti, mendapatkan bimbingan dari pria yang merupakan sumber dari kekuatan SS miliknya adalah berkah yang tak terlukiskan. Alaric tahu, meskipun ia sudah di puncak dunia, ia hanyalah seorang siswa yang sedang mengintip ke dalam samudra pengetahuan Arka.
...
"Lyra!" panggil Arka, suaranya tidak keras namun membelah kebisingan latihan di lapangan seperti pisau panas membelah mentega.
Dalam sekejap, Lyra sudah berdiri di samping Arka. Ia tidak lagi tampak seperti pelayan yang membawakan teh, ia adalah bayangan yang siap menerkam. Tudungnya tersampir rendah, namun aura tajamnya membuat Valen dan Seraphina refleks melangkah mundur.
"Bawa dua anak ini ke tepi lapangan," perintah Arka sambil menunjuk ke arah pusat pertempuran antara Tiga Fajar dan para Shadow Servants. "Tugas pertama kalian sederhana: Jangan berkedip. Amati dan rasakan langsung aura pertarungan itu dari jarak dekat. Jika kalian lari sebelum latihan selesai, silakan pulang ke ibukota dan lupakan tempat ini."
Lyra tersenyum tipis, sebuah senyum yang tidak mencapai matanya. "Mari, Tuan Muda, Nona Muda. Ikuti saya jika kalian ingin belajar cara bertahan hidup."
Lyra membawa mereka hingga ke garis batas latihan, jarak di mana dentingan senjata kayu terdengar seperti ledakan dan aliran mana yang dilepaskan murid-murid Arka terasa seperti badai yang menampar wajah.
"Lihat mereka," bisik Lyra di tengah deru angin mana. "Jangan hanya melihat gerakannya. Rasakan niat membunuh yang mereka pancarkan. Di sini, jika kalian hanya melihat dengan mata, kalian akan kalah. Kalian harus merasakan tekanan di udara."
Valen mencoba mempertahankan postur tubuhnya, namun lututnya bergetar. Ia melihat Jiro melepaskan serangan beruntun yang menciptakan tekanan udara begitu masif hingga debu-debu di sekitar mereka terlempar. Seraphina, di sisi lain, menahan napas, ia bisa merasakan hawa dingin yang menusuk kulitnya setiap kali seorang pelayan bertudung melesat melewati mereka dengan cepat.
"Ini... ini bukan latihan ksatria," bisik Valen dengan suara parau. "Ini adalah pembantaian yang terkendali."
"Benar," sahut Lyra tanpa menoleh. "Tuan Arka tidak mengajarkan cara bertarung dengan cantik. Beliau mengajarkan cara untuk tidak mati. Amati baik-baik, karena besok, kalianlah yang akan berada di tengah-tengah neraka itu."
Dari kejauhan, Arka memperhatikan kedua anak Alaric yang kini tampak pucat pasi. Ia tahu, langkah pertama untuk menjadi kuat adalah menyadari betapa lemahnya diri mereka saat ini. Pelajaran pertama tentang 'Rasa Takut' telah dimulai, dan Ovelia akan segera menyaksikan lahirnya Ajudan Tiga Fajar yang tidak akan pernah ditemukan di buku sejarah akademi mana pun.