NovelToon NovelToon
Disayangi Anak Mantan

Disayangi Anak Mantan

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cintapertama / Duda
Popularitas:16.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ayumarhumah

Bagaimana jadinya, jika seorang gadis terjebak dengan masalalu yang sudah lama ia kubur. Ya kisah ini dialami oleh Andini seorang gadis dewasa yang sehari-harinya sebagai penjaga kantin sekolah.
Andini memutuskan untuk tidak menikah karena dulu sempat gagal menjalin hubungan dengan seorang pria.
pada suatu ketika Andini dipertemukan dengan bocah kecil yang cukup aktif dan bisa dibilang nakal, semua guru yang ada sudah kawalahan, anehnya si bocah itu justru nurut dengan Andini?

Penasaran dengan kisah berikutnya. jangan lupa tetap pantengin terus hanya di Novel Toon

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Mobil melaju pelan membelah jalanan sore yang mulai dipadati lalu lalang. Di dalam mobil, suasana begitu hening dan canggung. Padahal, di luar sana suara bising kendaraan terdengar jelas.

Nathan sesekali melirik ke arah perempuan di sampingnya. Namun Andin sejak tadi hanya menatap keluar jendela, seolah dunia di dalam mobil itu tidak lagi melibatkannya.

Nathan terdiam. Ingin rasanya ia membuka percakapan… tapi suaranya seolah tertelan oleh rasa bersalahnya sendiri.

'Ndin… maafkan aku. Aku tahu ini tidak akan mudah… tapi aku akan tetap menunggu sampai kamu benar-benar memaafkan,' ucapnya dalam hati.

Mobil akhirnya berhenti di depan rumah sakit.

Nathan turun lebih dulu, lalu membukakan pintu untuk Andin. Namun wanita itu langsung melangkah lebih dulu tanpa menoleh sedikit pun.

Seolah ada satu hal yang lebih penting.

Darrel.

Nathan hanya bisa terpaku sejenak, menatap punggung Andin yang semakin menjauh.

“Heemb…” Ia menghembuskan napas pelan.

Tanpa berkata apa-apa lagi, ia segera menyusul dari belakang. Beberapa jam saja tapi rasanya ia benar-benar telah kehilangan Andin. Perempuan yang dulu hangat, penuh tawa, dan perhatian. Kini berubah menjadi dingin dan begitu jauh darinya.

Keduanya berjalan menyusuri lorong rumah sakit yang lengang. Tidak ada percakapan. Hanya suara langkah kaki yang beradu dengan lantai keramik, menciptakan gema kecil yang terasa menyesakkan.

Sesampainya di depan kamar inap Darrel, Andin tanpa ragu langsung membuka pintu.

Klik.

Begitu pintu terbuka, suara dari dalam sana terdengar begitu semangat.

“Mbak Andin!”

Seruan itu langsung terdengar. Darrel yang semula berbaring langsung bangkit dengan wajah ceria. Raut lega begitu jelas terlihat di wajah kecilnya.

Andin tersenyum tipis. Ia segera menghampiri. Tangannya refleks menyentuh wajah Darrel, memastikan kondisi anak itu.

“Sayang, kamu baik-baik saja?” tanyanya lembut.

“Aku baik-baik saja… karena Mbak Andin datang,” sahut Darrel polos.

Deg.

Hati Andin menghangat… sekaligus mencelos, anak sekecil itu begitu tulus dan menyayanginya tanpa syarat, berbeda dengan orang dewasa yang selalu memandang seseorang dari segi buruknya.

“Iya…” bisiknya pelan. “Mbak Andin di sini.”

Darrel langsung memegang tangan Andin erat, seolah takut perempuan itu pergi lagi.

“Kok lama?” tanyanya lagi.

Andin mengusap rambutnya pelan. “Maaf ya… Mbak Andin tadi ada urusan sedikit."

Darrel mengangguk, lalu tersenyum puas. Yang penting… orang yang ia tunggu sudah ada di hadapannya dan suasana di dalam kamar mulai terasa hangat.

Tawa kecil Darrel sesekali terdengar. Andin dengan sabar menemaninya, menanyakan ini-itu, bahkan membenarkan posisi bantalnya dengan penuh perhatian.

Nathan berdiri tidak jauh dari sana. Ia hanya diam menatap semua itu dengan dada yang terasa semakin sesak.

Ia melihat, betapa tulusnya Andin pada anaknya dan betapa nyaman Darrel berada di dekat perempuan itu.

Tatapan teduh Andin… senyum kecil itu… dulu pernah menjadi miliknya. Namun, tidak untuk saat ini. Nathan mengusap wajahnya perlahan, seolah memastikan bahwa semua ini bukan mimpi.

Ini nyata.

Dan mungkin… inilah balasan atas apa yang selama ini telah ia lakukan pada Andin.

Nathan menghela napas berat, ingin sekali ia memanggil perempuan itu, tapi belum apa-apa suara ketukan pintu susah mulai terdengar.

Tok.

Tok.

Suara ketukan pintu memecah suasana. Seorang dokter dan perawat masuk ke dalam ruangan.

“Selamat sore,” sapa dokter itu ramah.

Andin segera sedikit bergeser memberi ruang, namun tangannya masih digenggam oleh Darrel.

Dokter mulai memeriksa kondisi Darrel—mengecek infus, suhu tubuh, hingga menanyakan beberapa hal ringan.

Darrel menjawab dengan lebih bersemangat dari sebelumnya.

“Sekarang rasanya gimana?” tanya dokter.

“Lebih enak, Dok. Soalnya Mbak Andin sudah datang,” jawabnya jujur.

Dokter tersenyum kecil, lalu mengangguk puas. “Bagus. Perkembangannya cukup baik. Sepertinya memang butuh semangat tambahan, ya.”

Perkataan itu membuat Nathan terdiam.

Sementara Andin hanya tersenyum tipis, meski ada sesuatu yang kembali mengaduk perasaannya.

Setelah memastikan semuanya baik, dokter pun pamit keluar.

  "Ya sudah kalau begitu saya pamit dulu, jangan lupa, makan dan minum obat teratur," pesan dokter itu yang diangguki oleh Darrel.

Kamar itu kembali hening, namun hening yang begitu hangat, Darrel kembali bermanja, seolah menemukan rumah yang sejak dulu tidak pernah ia dapatkan. Bocah itu tidak mau melepaskan tangan Andin, walau hanya sebentar.

“Mbak Andin di sini aja ya,” pintanya pelan.

Andin menatapnya lembut.

“Iya… Mbak Andin di sini,” jawabnya sambil mengusap kepala anak itu dengan lembut. Nada suaranya begitu hangat, penuh kasih, seolah semua luka yang pernah ada tidak pernah menyentuh perasaannya—setidaknya untuk anak kecil itu.

Namun, kehangatan itu seketika berubah saat ia menoleh ke arah Nathan.

Tatapan mereka bertemu, hanya dalam hitungan detik yang terasa begitu singkat, sebelum Andin kembali memalingkan wajahnya. Dingin. Tanpa kata. Tanpa ekspresi.

Seolah… tidak ada lagi ruang untuk Nathan di dalam dunianya.

Nathan menelan ludah. Dadanya terasa perih, seperti ditekan sesuatu yang tak terlihat. Ia ingin berbicara, ingin mendekat, ingin memperbaiki semuanya yang telah ia hancurkan dengan tangannya sendiri.

Namun melihat cara Andin memperlakukannya sekarang, ia akhirnya menyadari satu hal—

kesempatan itu… mungkin sudah lama ia buang, bahkan sebelum ia sempat menyadari betapa berharganya.

☘️☘️☘️☘️☘️

Malam semakin larut. Lampu kamar inap hanya menyisakan cahaya temaram yang lembut.

Darrel akhirnya tertidur pulas setelah cukup lama bercerita dengan Andin. Untuk pertama kalinya bocah itu melepaskan genggaman tangannya dari tangan Andin, seolah sudah merasa cukup tenang.

Andin menatap wajah anak itu dengan senyum tipis. Ada rasa lega di dadanya. Setidaknya malam ini Darrel terlihat jauh lebih tenang dibanding sebelumnya.

Perlahan ia mencoba menarik tangannya yang tadi digenggam erat. Ia bergerak sangat hati-hati agar tidak membangunkan anak itu.

Namun saat tubuhnya sedikit bergeser dari kursi di samping ranjang, suara pelan tiba-tiba terdengar dari arah belakang.

“Terima kasih…”

Langkah Andin langsung terhenti.

Ia tahu suara itu.

Nathan.

Andin tidak langsung menoleh. Ia hanya berdiri diam beberapa detik sebelum akhirny berbicara.

“Tidak perlu berterima kasih,” jawabnya singkat.

Nathan yang berdiri beberapa langkah dari sana menundukkan kepala. Jawaban itu tidak mengejutkannya, tapi tetap saja terasa menusuk.

Andin akhirnya menoleh sekilas, hanya sebentar. “Kalau tidak ada lagi yang perlu aku lakukan… aku akan pulang.”

Nathan langsung mengangkat kepalanya. “Sudah malam.”

“Aku terbiasa,” jawab Andin datar.

Nathan terdiam. Ia tahu perempuan di depannya ini memang selalu kuat… bahkan sejak dulu.

Namun justru karena itulah, rasa bersalahnya terasa semakin besar.

“Aku bisa mengantarmu,” ucap Nathan pelan.

Andin menggeleng tanpa ragu. “Tidak perlu.”

Jawaban itu cepat. Tegas.

Nathan ingin berkata sesuatu lagi, tapi Andin sudah kembali menatap Darrel yang tertidur di ranjang.

Perempuan itu mengusap pelan rambut anak itu sebelum berbisik lirih,

“Tidur yang nyenyak ya, Dek."

Lalu Andin berdiri tegak. Tanpa menatap Nathan lagi. Ia melangkah menuju pintu kamar inap itu.

Nathan hanya bisa berdiri di tempatnya. Menatap punggung perempuan yang dulu pernah menjadi seluruh dunianya.

Dan kini… bahkan untuk sekadar berdiri lebih lama di ruangan yang sama pun terasa seperti sebuah penolakan.

Bersambung ....

1
Soraya
lanjut
Lisa
Lembutkan hatimu Andin..Nathan sekarang sudah berubah..
kaylla salsabella
lanjut
ria rosiana dewi tyastuti
luka andin msh menganga ya.....
kaylla salsabella
syukur
Oma Gavin
sukurin rasakan kamu nathan makanya jgn goblok dipelihara percaya sama fitnah ibu mu makan itu derajat dan nama baik
Bunda Bagaz
bagus tpi syg up ny dikit.
Lisa
Nathan skrg menyesal tp itu tdk dpt mengembalikan nama baiknya Andin..gmn y hubungan mrk selanjutnya
Nar Sih: moga mereka clbk aja kak
total 1 replies
kaylla salsabella
penyesalan mu tiada artinya nathan🤣🤣
Soraya
lanjut thor
Nar Sih
ahir nya semua terungkap kan ,dan ibu mu dalang dri semua mslh mu dgn andin ,semagat nathan💪
Nar Sih
,saat nya ngk bisa ngelak lgi vivian🤣
kaylla salsabella
lanjut
kaylla salsabella
nah lo vivian🤣🤣
Lisa
Good job Nathan..biar kebenaran terungkap..bahwa ibumu yg memfitnah Andin..
Lisa
Pasti wanita itu disuruh oleh ibunya Nathan..ayo Nathan kamu harus bertindak tegas terhadap ibumu..
Oma Gavin
mampusss kamu vivian kali ini kepercayaan nya nathan terhadap diri mu sudah musnah
Mira Hastati
bagus
kaylla salsabella
eh kemana tuh ular betina tadi...... enak aja main pergi
Ayumarhumah: gak pergi cuma mundur
total 1 replies
Oma Gavin
nah diusut juga kejadian pagi ini pasti juga ulah ibumu jgn terus bodoh dikadalin ibumu kamu nathan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!