NovelToon NovelToon
Sang Legenda Telah Kembali

Sang Legenda Telah Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: ilwa nuryansyah

Albus adalah puncak evolusi manusia—seorang jenius yang mampu membedah hukum alam tanpa bantuan doa.

Di dunia yang dikuasai oleh dogma agama, keengganannya untuk bersujud kepada para dewa membuatnya dicap sebagai **"Iblis Tanpa Langit."** Lima puluh tahun lalu, ia dikhianati dan diburu oleh aliansi kerajaan suci, hingga akhirnya tewas dalam kepungan ribuan ksatria dan pendeta.

Namun, maut hanyalah jeda bagi inteleknya.

Albus terbangun kembali 50 tahun kemudian di tubuh ilwa Eldersheath putra dari keluarga bangsawan agung yang dikenal memiliki sirkuit mana yang cacat. Dunia kini telah berubah menjadi teokrasi yang kaku, di mana sains dianggap sihir terlarang. Dengan ingatan yang menyimpan ribuan formula magis kuno dan dendam yang dingin, Albus mulai memperbaiki tubuh barunya dari dalam bayang-bayang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilwa nuryansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

chapter 32

Roda kereta kuda berhenti dengan sentakan halus di atas jalanan batu pualam yang mengilap.

Di hadapan Ilwa, menjulang sebuah struktur megah dengan arsitektur gotik yang mendominasi cakrawala ibu kota.

Gereja ini bukan sekadar tempat ibadah; ini adalah monumen kesombongan kerajaan yang dibangun dari kepingan emas pajak rakyat dan donasi para bangsawan yang mencari pengampunan instan.

Martha turun terlebih dahulu, wajahnya tampak berseri-seri seolah-olah ia baru saja melangkah ke gerbang surga.

"Mari, Tuan Muda. Udara di sini sangat suci hari ini. Dewa pasti akan mendengar permohonan kita."

Ilwa menatap pilar-pilar raksasa yang dihiasi ukiran malaikat bersayap dengan tatapan malas.

Baginya, kemegahan ini terasa menyesakkan. Namun, dengan tarikan napas panjang, ia melangkah turun, membiarkan Martha menuntunnya masuk ke dalam keheningan yang dingin.

---

Begitu melangkah melewati pintu kayu ek raksasa, aroma kemenyan yang tajam dan lilin lebah langsung menyerbu indra penciuman Ilwa.

Cahaya matahari menerobos masuk melalui kaca patri berwarna-warni, menciptakan bayangan pelangi yang menari-nari di atas lantai marmer yang sangat bersih hingga Ilwa bisa melihat pantulan wajah pucatnya sendiri.

Ilwa terdiam sejenak.

Pemandangan ini memicu sebuah memori kelam yang terkubur jauh di dasar jiwanya.

Ia ingat terakhir kali ia berada di tempat seperti ini—50 tahun yang lalu. Saat itu, ia tidak datang untuk berdoa.

Ia datang dengan jubah yang bersimbah darah, pedangnya masih mendesis panas.

Ia melangkah ke altar, dan tanpa sepatah kata pun, ia memenggal kepala sang Pendeta Agung di depan jemaatnya yang histeris.

Kejadian itulah yang memicu perang suci besar-besaran terhadap dirinya, menjadikannya musuh nomor satu bagi mereka yang memegang teguh iman buta.

"Tuan Muda? Anda melamun?" tanya Martha lembut.

"Hanya... teringat sesuatu yang jauh," jawab Ilwa datar.

Mereka bergerak maju, mengantre di jalur menuju altar utama.

Di pusat aula, berdiri sebuah patung raksasa yang terbuat dari perunggu berlapis emas. Itu adalah sosok **Ares**, Dewa Perang.

Sang dewa digambarkan sedang memegang tombak panjang dengan ekspresi yang penuh amarah dan kejayaan.

Di kerajaan ini, pemujaan terhadap kekuatan militer menjadikan Ares sebagai salah satu dewa utama yang paling disembah.

Tiba giliran mereka.

Martha segera berlutut dengan khusyuk, menyatukan kedua tangannya dan memejamkan mata, menggumamkan doa-doa panjang untuk kesehatan Ilwa.

Di samping mereka, seorang pendeta dengan jubah putih bersulam benang perak mulai mengayunkan wadah kemenyan, mulutnya berkomat-kamit merapalkan mantra pemberkatan yang menurut Ilwa hanyalah manipulasi mana tingkat rendah yang tidak berguna.

Ilwa pun terpaksa berlutut.

Ia menundukkan kepalanya, namun matanya tetap terbuka, menatap dingin ke arah kaki patung Ares.

---

Setelah sesi doa pribadi selesai, para jemaat diminta duduk di bangku-bangku kayu panjang untuk mendengarkan khotbah.

Pendeta itu naik ke mimbar tinggi, suaranya mulai menggema ke seluruh aula, mengagungkan keagungan dewa yang menurutnya mampu membelah lautan dan memenangkan peperangan hanya dengan satu kedipan mata.

Satu jam berlalu. Ilwa merasa sendi-sendinya mulai kaku.

Khotbah itu semakin lama semakin berlebihan.

Sang pendeta mulai menceritakan mukjizat-mukjizat yang terdengar seperti bualan murah bagi seseorang yang pernah melihat realitas sihir yang sebenarnya.

"Dewa Ares adalah pelindung kita! Tanpa izin-Nya, tak satu pun bilah pedang akan mampu menembus kulit musuh!" seru sang pendeta dengan dramatis.

Ilwa menghela napas berat. "Omong kosong," pikirnya.

tidak tahan lagi.

Ia menyenggol lengan Martha perlahan. "Martha, aku harus ke toilet. Perutku sedikit tidak enak," bisiknya dengan alasan klise yang selalu berhasil.

Martha tampak khawatir sejenak, namun kemudian mengangguk. "Jangan lama-lama, Tuan Muda. Khotbahnya hampir mencapai bagian pemberkatan akhir."

---

Ilwa segera melangkah keluar dari aula gereja yang menyesakkan itu.

Begitu sampai di area halaman samping yang lebih sepi, ia menghirup udara segar sedalam-dalamnya.

Ia meregangkan pinggul dan bahunya yang pegal akibat duduk terlalu lama dalam posisi tegak yang dipaksakan.

"Hah... mereka benar-benar terlalu berlebihan," gumam Ilwa sambil menatap puncak menara gereja dari kejauhan.

"Menyembah patung logam seolah-olah itu adalah sumber kehidupan... benar-benar pemandangan yang heran sekaligus menjijikkan."

"Aku juga heran," sebuah suara datar dan dingin menyahut dari arah samping.

Ilwa tersentak kecil, refleks tempurnya bangkit sesaat sebelum ia berhasil menekan energinya.

Ia menoleh ke arah sumber suara. Di sana, duduk di atas undakan batu rendah di bawah bayangan pohon cedar yang rindang, terlihat seorang gadis kecil yang seumuran dengannya.

Gadis itu mengenakan gaun biru tua yang elegan namun simpel.

Rambutnya tertata rapi, namun tatapan matanya sangat kontras dengan anak-anak seusianya—mata itu jernih, datar, dan menyimpan kedewasaan yang tidak wajar.

Ilwa langsung mengenalinya dari memori klan bangsawan yang pernah ia pelajari. "Clara... **Clara Eldersheath**?" bisik Ilwa dalam hati.

Clara, putri dari keluarga Eldersheath salah seorang sepupunya dan juga dia salah satu orang yang berhasil ikut ke training inti juga.

"Kau juga bosan mendengar dongeng tentang besi tua itu?" tanya Clara tanpa menoleh, suaranya dingin dan tenang, matanya menatap lurus ke arah gerbang gereja dengan pandangan yang kosong.

Ilwa terdiam sejenak.

------

Angin sepoi-sepoi berhembus di pelataran gereja, membawa aroma pinus yang menenangkan, jauh dari bau kemenyan yang menyesakkan di dalam aula.

Ilwa berdiri tak jauh dari Clara, menatap profil samping sepupunya itu.

Meskipun mereka berasal dari garis darah yang sama, klan Eldersheath, posisi mereka bagaikan langit dan bumi di mata keluarga besar.

Clara adalah permata berbakat yang dipuja, sementara Ilwa hanyalah bayangan yang dianggap rusak.

"Kenapa kau mengatakan hal seperti itu?" tanya Ilwa, suaranya tenang, memecah keheningan di antara mereka.

Matanya menatap Clara dengan rasa penasaran yang murni. "Di tempat sesuci ini, kata-katamu bisa dianggap sebagai penghinaan besar."

Clara tidak segera menjawab. Ia memetik sehelai daun yang jatuh di pangkuannya, memutarnya perlahan dengan jari-jemarinya yang lentik.

Tatapannya tetap datar, seolah-olah dunia di sekitarnya tidak memiliki warna.

"Aku rasa dewa itu tidak ada sama sekali," ucap Clara akhirnya, suaranya jernih namun dingin.

"Mungkin mereka hanyalah cerita yang dikarang oleh orang-orang tua agar kita tetap patuh. Sebuah dongeng pengantar tidur yang terlalu panjang."

Ilwa sedikit tertegun. Ia merasa ketertarikan yang tak terduga muncul dalam benaknya.

Di masa lalu, sebagai Albus, ia sering dianggap sebagai iblis karena menolak berlutut pada dewa, dan kini, di kehidupan barunya, ia menemukan seorang bocah perempuan yang memiliki pemikiran serupa.

"Kau tahu, Clara... keluarga kita, Eldersheath, adalah penganut setia Dewa Perang Ares," Ilwa melangkah lebih dekat, bersandar pada batang pohon cedar yang kasar.

"Jika Kakek atau paman-pamanmu mendengar apa yang baru saja kau katakan, kau bisa dihukum berat. Mereka tidak menoleransi ketidakimanan dalam garis darah pejuang."

Clara hanya diam, wajahnya tidak menunjukkan ketakutan sedikit pun.

Ia melepaskan daun itu hingga terbang terbawa angin.

"Aku tidak peduli pada hukuman," jawab Clara lirih.

"Jika ada yang bertanya kenapa aku tidak percaya bahwa dewa-dewa itu ada, jawabanku sangat sederhana. Kalaupun mereka memang ada dan sekuat yang dikatakan pendeta gemuk di dalam sana... lalu kenapa mereka tidak turun? Kenapa mereka hanya diam di singgasana awan mereka saat umatnya menderita, berperang, dan memohon bantuan?"

Ilwa terdiam sejenak, mencoba mengikuti alur logika sepupunya. "Mungkin mereka sedang ada urusan yang jauh lebih besar dari urusan manusia. Mungkin skala waktu mereka berbeda dengan kita."

"Sepenting itukah urusan mereka hingga harus melupakan orang-orang yang memberikan nyawa dan harta untuk menyembah mereka?" Clara menoleh, menatap tepat ke arah mata abu-abu Ilwa.

"Dewa yang hanya ada saat dipuja namun menghilang saat dibutuhkan... bagiku, itu bukan dewa. Itu hanyalah ilusi."

Ilwa merasa sedikit kagum.

Keimanan—atau lebih tepatnya, ketidakimanan—Clara memiliki dasar yang sangat kuat untuk anak seumuran itu.

Gadis ini melihat dunia dengan cara yang sangat realistis, tanpa bumbu-bumbu mistis yang membutakan.

Clara kemudian memperbaiki posisi duduknya, menatap Ilwa dengan tatapan menyelidik. "Lalu, bagaimana denganmu, Ilwa? Kau selalu diam dan terlihat patuh. Menurutmu, bagaimana sebenarnya tentang para dewa tersebut? Apakah kau juga bagian dari mereka yang menaruh harapan pada patung logam itu?"

Pertanyaan itu membuat Ilwa tertegun sesaat. Ia memutar otaknya, mencari kata-kata yang tepat.

Ia tidak bisa menjawab sebagai Albus namun ia juga tidak ingin berbohong secara total.

Ia harus memberikan jawaban yang cukup filosofis namun tetap masuk akal bagi seorang bocah yang skeptis.

Ilwa menarik napas panjang, menatap langit biru yang membentang luas di atas ibu kota.

"Untuk percaya pada dewa atau tidak, itu sebenarnya tergantung pada pilihan pribadimu saja, Clara," ucap Ilwa pelan, suaranya terdengar jauh lebih dewasa dari usahanya.

"Dunia ini luas, dan banyak kekuatan yang tidak bisa dijelaskan hanya dengan logika. Namun, jika kau bertanya padaku siapa yang paling memiliki kasih sayang sejati di tengah kekacauan ini..."

Ilwa berhenti sejenak, memberikan penekanan pada kata-kata selanjutnya.

"...aku pikir, sang 'Pencipta' adalah jawabannya. Bukan dewa perang yang haus darah, bukan dewa cahaya yang angkuh, tapi esensi awal yang menciptakan segalanya tanpa menuntut untuk disembah."

Clara mengerutkan keningnya, wajah datarnya kini menampakkan kebingungan yang nyata. "Sang Pencipta? Apa bedanya dengan dewa? Bukankah itu hanya nama lain?"

Ilwa hanya memberikan senyum misterius yang sulit diartikan. Ia tahu bahwa konsep "Pencipta" yang ia maksud jauh lebih dalam dari agama manapun yang ada di dunia saat ini.

**BERSAMBUNG.**

1
Orimura Ichika
oke sih
Ilwa Nuryansyah
terimakasih banyak 😄😄
black_rose
Karyamu masterpiece teruskan dan semagattt(っ´▽`)っ
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!