NovelToon NovelToon
SENJA TAK BERTUAN

SENJA TAK BERTUAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Dokter / Penyelamat
Popularitas:115
Nilai: 5
Nama Author: Essa Amalia Khairina

Yasmin selalu percaya bahwa kerapuhannya adalah kutukan, hingga Arya datang membawa kepastian di bawah senja. Di sana, mereka mencuri satu petak langit untuk saling memiliki. Namun, ketika ikrar telah terucap dan senja mulai meredup, semesta seolah menagih kembali kebahagiaan yang mereka dapatkan.

Dan, ketika kegelapan itu datang...

Yasmin tersadar satu hal, mereka tidak sedang memiliki senja, hanya sedang meminjamnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

HIDANGAN SARAPAN PAGI

​Pagi itu, cahaya matahari yang menembus jendela kaca setinggi langit-langit di ruang makan kediaman besar itu terasa begitu menyilaukan bagi Yasmin. Di tengah meja kaca yang panjang dan dipoles mengilat, Yasmin duduk dengan punggung kaku. Ia merasa seperti noda kecil di atas taplak meja linen yang putih sempurna.

​Di hadapannya, berbagai hidangan lezat tertata rapi—mulai dari roti panggang yang harum, omelet lembut dengan taburan peterseli, hingga buah-buahan segar yang dipotong presisi. Namun, perut Yasmin terasa melilit, bukan karena lapar, melainkan karena rasa kikuk yang menyesakkan di dada.

​"Silakan dinikmati, Non," ucap seorang asisten rumah tangga muda yang baru saja meletakkan segelas jus jeruk segar di samping piring Freya. Ia bukan Mbok Sari yang hangat, melainkan sosok yang baru di lihat Yasmin—tampak begitu cekatan.

​"Bik Erna," panggil Freya tiba-tiba, suaranya memecah keheningan yang tegang saat wanita itu hendak berbalik. Ia bahkan tidak melirik ke arah Yasmin, seolah gadis di hadapannya itu hanyalah perabot tambahan. "Tolong siapkan sepatu high heels saya, atau sudah siap?"

​"Sudah, Non Freya. Sudah saya semir dan letakkan di rak depan," jawab pembantu bernama Bik Erna itu dengan sopan.

​"Bagus. Soalnya hari ini aku mau pergi. Ada pertemuan penting yang tidak boleh tertunda hanya karena urusan rumah yang... kacau," sindir Freya, menekankan kata terakhir sambil melirik sinis ke arah piring Yasmin.

Yasmin hanya menelan saliva.

Sementara itu, Maura duduk di ujung meja dengan anggun, menyesap kopi hitamnya tanpa suara. Kehadirannya memberikan aura intimidasi yang membuat Yasmin bahkan takut untuk sekadar denting sendoknya terdengar. Di sisi lain, Arya duduk dengan kemeja santainya yang rapi, tampak fokus pada tablet di tangannya, meski sesekali matanya melirik ke arah Yasmin yang hanya menunduk dalam.

​"Makan, Yasmin. Jangan hanya dilihat," tegur Arya dengan nada yang tenang namun tegas. "Itu bukan pajangan. Setelah ini... aku akan ajak kamu buat beli pakaian untuk kamu pakai sehari-hari."

​Yasmin tersentak kecil, jemarinya yang gemetar meraih garpu. "I-iya, Mas."

​"Ya, bagus. Belikan dia baju agar tak lagi meminjam lagi baju mahal punyaku, sangat sekali tidak pantas untuk ia kenakan!" celetuk Freya lagi sambil mengoleskan selai ke rotinya dengan gerakan elegan.

Arya hanya mengeram menahan kesal.

"Rumah ini mendadak jadi panti asuhan darurat..." tambah Maura. "... padahal jadwal kita minggu ini sangat padat dengan acara charity. Apa tidak aneh kalau ada orang asing yang ikut sarapan di meja kita dengan baju yang... yah, setidaknya lebih baik dari kain pel kemarin."

​Freya hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak sampai ke mata. "Biarkan saja, Ma. Arya merasa punya kewajiban moral yang tinggi. Kita lihat saja sampai kapan 'tamu' ini betah berada di sini sebelum dia sadar bahwa tempat ini bukan dunianya."

​Yasmin menelan potongan roti yang terasa seperti pasir di kerongkongannya. Ia ingin sekali lari kembali ke kamar, namun tatapan Arya seolah menahannya untuk tetap tegar di kursi itu.

Braaaak!

Suasana meja makan yang sedingin es itu mendadak pecah oleh suara pintu dan langkah kaki yang terburu-buru, beradu dengan lantai marmer yang mengilat. Belum sempat Yasmin menelan potongan omeletnya yang terasa hambar, sebuah teriakan melengking menggema dari arah ruang tamu, menembus sekat-sekat kemewahan rumah itu.

​"Mas Tamaaaaaa!"

​Suara itu begitu nyaring, penuh semangat sekaligus tuntutan, membuat denting sendok perak di tangan Maura terhenti di udara. Sedangkan, Freya tersentak, bahunya refleks menciut karena kaget, sementara Arya hanya menghela napas panjang, mematikan tabletnya yang sedari tadi tergeletak di atas meja, tepat di sampingnya, seolah sudah tahu siapa dalang di balik keributan ini.

"Ma." Kata Freya. "Itu pasti Mbak Sheila lagi nyariin Mas Tama kesini!"

Maura segera beranjak dari kursi kebesarannya di ujung meja bertepatan saat suara langkah sepatu hak tinggi yang beradu dengan marmer terdengar semakin dekat, ritmenya cepat dan penuh percaya diri.

Yasmin, yang sejak tadi berusaha menenggelamkan diri dalam tundukannya, refleks mendongak. Matanya yang bulat dan masih menyimpan sisa trauma itu kini menatap seorang wanita muda yang muncul di ambang pintu ruang makan dengan gaya yang sangat mencolok.

Wanita itu tampak seperti baru saja keluar dari sampul majalah fashion. Rambutnya yang berwarna cokelat madu tertata dalam gelombang yang sempurna, membingkai wajah yang dipulas riasan tajam namun elegan. Ia mengenakan setelan formal berwarna krem pastel yang sangat elegan—sebuah atasan dengan potongan kerah silang yang diikat manis di pinggang, memberikan kesan profesional namun tetap sangat feminin.

​"Mau apa kamu ke sini?!"

​Suara Maura meledak, memutus segala ketegangan yang sempat menyelimuti ruangan. Nada suaranya tidak lagi dingin atau sarkas seperti saat ia bicara pada Yasmin, melainkan kasar, meninggi, dan penuh dengan kebencian yang terang-terangan. Matanya yang tajam seolah menghunus langsung ke arah Sheila, memancarkan api kemarahan yang membuat suasana meja makan seketika menjadi panas.

"Kalau kamu cuma mau cari ribut... disini bukan tempatnya." Sambung Maura.

"Ma!" Nada Sheila tak kalah tinggi. Bulat bola mata coklatnya bahkan berani menatap tajam ke arah Ibu mertuanya itu. "Mama pasti tahu kan dimana Mas Tama, sekarang?! Mama gak usah main rahasia di belakang aku."

​Suasana ruang makan yang semula beku oleh keangkuhan, kini mendidih oleh kebencian yang meledak-ledak. Freya, dengan keanggunan yang dipaksakan, berdeham lembut meski gurat muak tak bisa disembunyikan dari wajahnya. Ia tetap tenang mengoleskan selai ke atas rotinya, seolah drama di depannya hanyalah gangguan kecil.

​"Mbak Sheila, dengar ya..." Ia menoleh perlahan, bibirnya mengukir senyum tipis yang meremehkan. "Mas Tama itu tidak ada di sini. Kalaupun dia pulang kemari, dia pasti mengabari kami. Lagian... punya suami itu dijaga baik-baik, Mbak. Sudah lari ke apartemen saja masih ribut. Rumah tangga macam apa itu?"

​Kata-kata Freya seperti bensin yang menyambar api. Sheila menggeram, matanya berkilat penuh amarah. Suara hak sepatunya beradu mantap dengan lantai marmer saat ia melangkah lebar menghampiri Freya. Tanpa ragu, Ia meraih dagu Freya dengan kasar, memaksa gadis itu menatap langsung ke arah matanya.

​Freya tersentak, tangannya yang memegang pisau roti membeku di udara.

​"Kamu bilang apa?!" desis Sheila dengan suara rendah yang mengancam. "Kamu pikir aku tidak berani? Aku... bukan Sheila yang dulu bisa kalian injak-injak!"

​"Sheila!" pekik Maura, suaranya melengking memenuhi ruangan.

​Plaaaakkk!

​Sebuah tamparan telak mendarat di pipi Sheila, gema suaranya seolah menghentikan aliran udara di ruang makan itu. Yasmin terkesiap, tangannya menutup mulut karena terkejut melihat kekerasan yang terpampang nyata di depan matanya. Ia melirik ke arah Arya, namun pria itu tetap bungkam—seperti patung es yang tak tersentuh konflik, menutup diri dalam keheningan yang menyakitkan.

​"KALIAN ITU MEMANG JAHAT!" Teriak Sheila, suaranya pecah oleh isak tangis yang tertahan. "Rumah tangga kami nyaris hancur juga semua karena kalian!"

​"Jaga bicara kamu!" balas Maura dengan telunjuk menuding tajam. Nadanya rendah, namun penuh penekanan. "Rumah tangga kamu hancur itu karena ulah kamu sendiri!"

​Sheila mendesis pahit, tawa hambar keluar dari bibirnya yang bergetar. Ia kemudian berpaling, matanya yang nanar kini tertuju lurus pada Yasmin. Di saat itu juga, Yasmin tersentak dan membeku di kursinya, merasa seperti kelinci yang tertangkap sorot lampu pemburu.

​"Kamu..." Sheila menatap Yasmin, lalu beralih menatap Arya yang masih tak bergeming. "Sudah menjadi bagian dari keluarga ini?"

​Yasmin hanya membisu, kerongkongannya terasa tersumbat.

​Sheila mendesis lagi, kali ini nadanya terdengar seperti sebuah kutukan yang tulus. "Saya ingatkan ya sama kamu... jangan sampai mereka menyakiti kamu. Mereka itu iblis, bukan manusia. Jangan sampai nasib kamu sama seperti saya. Jaga hubungan kamu dengan suami kamu. Jangan mudah percaya pada mereka."

​Yasmin hanya bisa menelan saliva, tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun. Sungguh, peringatan wanita itu terasa seperti dingin yang merayap di punggungnya.

​"Dasaaaar Sheilaaaaa! Pergi kamu dari rumah saya!" Pekik Maura untuk terakhir kalinya, dadanya naik turun menahan amarah yang meluap.

​Sheila tidak membalas lagi. Dengan satu sentakan kasar, ia berbalik. Bunyi hak sepatunya yang beradu dengan marmer terdengar seperti rentetan tembakan yang menjauh, cepat dan penuh kemurkaan. Tak lama kemudian, dentum keras pintu depan yang dibanting menutup drama pagi itu dengan menyisakan kesunyian yang mencekam.

"Dasar wanita gak waras!" Gumam Freya memuncak kesal.

​Arya yang sedari tadi hanya diam segera beranjak dari kursi makannya sambil menarik lengan Yasmin tanpa permisi. Gerakannya begitu tiba-tiba dan bertenaga, seolah ia ingin segera memutus rantai ketegangan yang nyaris mencekik ruang makan itu.

​"Mas..." Yasmin terkesiap, nyaris kehilangan keseimbangan karena tarikan mendadak itu.

​Sentuhan jemari kokoh itu melingkar erat di pergelangan tangannya, terasa panas dan dominan di atas kulitnya yang dingin.

Genggaman Arya tidak menyakitkan, namun sangat tegas—sebuah klaim bisu bahwa pria itu tidak akan membiarkan Yasmin menjadi sasaran empuk bagi lidah tajam ibu dan kakaknya lebih lama lagi.

****

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!