Sepuluh tahun Aluna (20) hidup dalam "sangkar emas" milik Bramantyo (35), wali tunggal sekaligus sahabat mendiang ayahnya. Bagi Aluna, Bram adalah pelindung yang ia panggil "Daddy". Namun bagi Bram, Aluna adalah obsesi yang ia rawat hingga matang.
Saat Aluna mulai menuntut kebebasan, kasih sayang Bram berubah menjadi dominasi yang gelap. Tatapan melindunginya berganti menjadi kilat posesif yang membakar. Di antara rasa hormat dan hasrat terlarang, Aluna harus memilih: tetap menjadi putri kecil yang penurut dalam kuasa Bram, atau melarikan diri dari jerat pria yang takkan pernah melepaskannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14. Demam Bramasta
Memasuki hari kelima sejak debut perdana Bramasta di lobi Fakultas Ekonomi, suasana kampus tidak lagi bisa disebut sebagai institusi pendidikan. Tempat itu telah bermutasi menjadi arena histeria massal. Jika pada hari-hari awal Aluna merasa seperti seorang putri yang berjalan di atas karpet merah, kini ia merasa seperti mangsa yang sedang dikepung oleh kawanan pemangsa yang lapar akan perhatian.
"Demam Bramasta" telah mencapai titik didih yang membahayakan. Para mahasiswi tidak lagi sekadar berbisik di kejauhan; mereka mulai melakukan pengintaian terorganisir. Mereka menghafal jam kedatangan mobil Bram, jenis kemeja yang ia kenakan, hingga aroma parfum yang tertinggal di udara setelah pria itu pergi. Dan bagi mereka, Aluna adalah satu-satunya gerbang menuju pria idaman tersebut.
Pagi itu, Rolls-Royce hitam baru saja berhenti di titik penjemputan biasa. Namun, sebelum pintu benar-benar terbuka sempurna, kerumunan mahasiswi dari berbagai fakultas—bahkan ada yang sengaja datang dari fakultas seberang—sudah membentuk barikade manusia.
"Luna! Luna! Tolong berikan kotak ini pada Daddymu! Ini kue gandum organik, sangat sehat untuk pria aktif sepertinya!" teriak seorang mahasiswi tingkat akhir sambil menyodorkan bungkusan berpita emas.
"Aluna, ini surat dari kakakku! Dia model terkenal, dia sangat ingin mengundang Daddymu ke acara pembukaan butiknya!" seru yang lain, mencoba menyelipkan amplop wangi ke celah tas Aluna.
Aluna turun dari mobil dengan perasaan yang sangat jengah. Tangannya langsung dipenuhi oleh tiga buket bunga lili, lima tas kertas berisi parfum dan cokelat, serta tumpukan surat yang tak terhitung jumlahnya. Ia tidak lagi merasa bangga. Rasa euforia tempo hari telah menguap, digantikan oleh rasa sesak yang luar biasa. Ia merasa bukan lagi sebagai subjek, melainkan objek perantara—sebuah kantor pos berjalan yang tidak dibayar.
Anwar yang biasanya sigap dan tak tergoyahkan, kali ini tampak kewalahan. Kerumunan itu terlalu masif. Sebagai pengawal profesional, Anwar tidak bisa menggunakan kekerasan fisik pada mahasiswi yang "hanya" ingin menitipkan kado, namun jumlah mereka yang membludak membuat ruang gerak Aluna terkunci sepenuhnya.
"Nona, tetap di belakang saya! Jangan lepaskan tas Anda!" teriak Anwar, suaranya nyaris tenggelam dalam riuh teriakan para wanita yang berebut posisi paling dekat.
Saat mereka mencoba menembus lorong sempit menuju lift gedung fakultas, situasi menjadi tidak terkendali. Saling dorong terjadi. Seseorang tidak sengaja menyenggol bahu Aluna hingga gadis itu hampir terjatuh. Anwar mencoba membuka jalan dengan tubuh besarnya, namun dorongan dari barisan belakang mahasiswi yang sangat antusias membuat jarak antara Anwar dan Aluna merenggang.
Dalam kekacauan, bau parfum yang menyengat, dan suara bising yang memekakkan telinga, Aluna merasakan sebuah tangan yang kuat namun sangat lembut menyambar pergelangan tangan kanannya. Sebelum Aluna sempat berteriak, tangan itu menariknya keluar dari kerumunan dengan gerakan yang sangat tangkas, memanfatkan celah kecil di antara kerumunan menuju sebuah pintu kayu tua—pintu tangga darurat yang jarang digunakan karena letaknya yang tersembunyi di balik dispenser air.
BRAKK!
Pintu itu tertutup rapat, meredam suara riuh rendah di luar sana dalam sekejap. Suasana mendadak sunyi, hanya menyisakan suara mesin AC yang berdengung jauh.
Aluna terengah-engah, dadanya naik turun dengan cepat. Ia menyandarkan punggungnya ke dinding beton tangga darurat yang dingin, wajahnya memerah padam karena campuran antara lelah, malu, dan emosi yang meluap. Ia menatap ke depan dengan panik, mengira ia baru saja diculik oleh penggemar fanatik Bram.
Namun, di depannya berdiri Rio. Pemuda itu tampak tenang, meski napasnya juga sedikit memburu. Ia melepaskan pegangan tangannya pada pergelangan tangan Aluna, seolah menyadari bahwa sentuhannya mungkin membuat Aluna tidak nyaman.
"Aman, Luna. Tarik napas dulu. Mereka tidak akan masuk ke sini," ujar Rio dengan suara rendah yang menenangkan.
Aluna menatap Rio sejenak, lalu ia melihat tumpukan kado dan surat yang masih ia dekap di dadanya. Dengan perasaan muak yang tak tertahankan, Aluna menjatuhkan semua barang itu ke lantai tangga darurat. Buk! Buk! Buk! Kotak kue, bunga, dan puluhan surat itu berserakan seperti sampah tak berharga.
"Astaga... mereka gila, Rio. Benar-benar gila!" keluh Aluna sambil menyisir rambutnya yang berantakan dengan jari-jarinya. Ia mengerucutkan bibirnya dalam-dalam, pipinya menggembung seperti balon yang siap meledak. "Aku bukan mahasiswi lagi di kampus ini. Aku ini kurir! Semua orang mendekatiku hanya untuk menanyakan jadwal Daddy, atau menitipkan barang-barang aneh ini! Aku benci menjadi kantor pos!"
Melihat ekspresi Aluna yang sangat kesal—dengan bibir yang mencuat seperti anak kecil yang baru saja kehilangan mainan favoritnya—Rio tidak bisa menahan dirinya lagi. Pertahanannya runtuh. Ia meledak dalam tawa yang sangat tulus. Suara tawanya yang renyah menggema di seluruh lorong tangga darurat yang sunyi.
"Kenapa kau malah tertawa?!" seru Aluna, meski ia bisa merasakan sudut bibirnya sendiri mulai bergetar ingin ikut tersenyum.
"Maaf, maaf..." Rio mencoba meredakan tawanya, namun setiap kali ia melihat wajah Aluna yang merengut, ia tertawa lagi. "Lucu saja melihatmu, Luna. Kemarin kau tampak sangat bangga, berjalan seperti putri raja yang membawa trofi paling berharga di dunia. Tapi sekarang? Kau tampak ingin mengubur dirimu sendiri hidup-hidup di bawah tumpukan surat cinta itu. Ternyata menjadi 'anak emas' idola kampus itu melelahkan, ya?"
Aluna terdiam sejenak. Ia teringat betapa sombong dan percaya dirinya ia beberapa hari yang lalu saat membaca surat-surat itu bersama Sarah. Ia menyadari betapa ironisnya situasi ini. Detik berikutnya, semua rasa kesalnya menguap. Aluna ikut tertawa. Ia tertawa begitu lepas, menertawakan kebodohannya sendiri, menertawakan kegilaan mahasiswi di luar sana, dan menertawakan nasibnya.
Suara tawa mereka berdua bersahutan di ruangan yang sempit itu, menciptakan atmosfer yang ringan, jujur, dan bebas—sesuatu yang selama ini tidak pernah Aluna rasakan saat berada di bawah pengawasan ketat di dalam kediaman Bramasta. Bersama Rio, ia merasa menjadi Aluna yang biasa, bukan Aluna yang "dimiliki".
"Aku kapok, Rio. Sumpah, aku kapok," ujar Aluna di sela sisa tawanya, ia menghapus air mata kecil yang muncul karena terlalu banyak tertawa.
"Yah, itu risiko punya wali yang terlalu mencolok, kan?" goda Rio, matanya menatap Aluna dengan binar hangat yang sangat tulus. "Tapi setidaknya sekarang kau tahu, bahwa perhatian berlebihan itu bukan cinta, melainkan gangguan."
Di belahan kota yang lain, di dalam sebuah ruangan berlantai granit hitam yang dingin dan dipenuhi oleh deretan monitor canggih, suasana justru sangat mencekam. Bramasta berdiri mematung di depan meja kerjanya yang luas. Earpiece nirkabel terpasang di telinga kanannya, dan tangannya mencengkeram pinggiran meja hingga buku jarinya memutih, nyaris meretakkan kayu mahoni mahal tersebut.
Sejak sepuluh menit yang lalu, Anwar telah melaporkan melalui saluran darurat bahwa ia kehilangan jejak Aluna di tengah kerumunan massa yang membludak. Bram sudah berada dalam mode siaga penuh, siap memerintahkan seluruh tim keamanan untuk mengepung kampus jika perlu. Namun, ia menahan diri karena ia masih bisa mendengar suara dari gelang di tangan Aluna.
Awalnya ia mendengar suara napas Aluna yang memburu karena panik. Lalu suara pintu yang tertutup dengan keras. Dan kemudian... suara yang sanggup membakar kewarasan Bram hingga menjadi abu.
Suara tawa.
Bram mendengar Aluna tertawa. Begitu lepas, begitu ceria, begitu... intim. Dan ia mendengar suara pria yang sangat ia benci. Suara Rio.
“Kenapa kau malah tertawa?!”
“Lucu saja melihatmu... kau tampak ingin mengubur dirimu sendiri...”
Setiap kata yang keluar dari bibir Rio terdengar seperti silet yang mengiris-iris kesabaran Bram. Setiap getaran tawa yang mereka bagi di tangga darurat itu adalah sebuah penghinaan besar bagi otoritasnya sebagai "pemilik" Aluna. Bram telah memberikan segalanya untuk Aluna—kemewahan, perlindungan, kasih sayang—namun ia jarang melihat Aluna tertawa sebahagia itu bersamanya belakangan ini.
Bram menggeram rendah, sebuah suara guttural yang menyerupai geraman binatang buas yang melihat wilayahnya dikencingi oleh musuh. Matanya berkilat penuh amarah yang gelap dan posesif yang mengerikan. Ia tidak lagi memanggil Anwar untuk memberikan perintah. Baginya, Anwar telah gagal.
Bram meraih kunci mobil sport-nya—Lamborghini Aventador berwarna hitam dop yang terletak di atas meja. Dengan langkah lebar dan aura yang begitu dingin hingga sanggup membekukan napas siapa pun yang berpapasan dengannya di koridor kantor, ia keluar menuju lift pribadi.
"Siapkan unit pengawalan cadangan ke kampus sekarang juga! Tidak perlu sirine, tapi pastikan kalian sampai di sana dalam sepuluh menit!" perintahnya pada sekretarisnya tanpa menghentikan langkah. "Jika Anwar tidak bisa menjaga milikku dari lalat-lalat kecil, maka aku sendiri yang akan menyeretnya pulang dan mengurungnya di tempat yang tidak bisa dijangkau siapa pun."
Bram masuk ke dalam mobilnya, menyalakan mesin yang menderu dahsyat seperti raungan monster yang terbangun dari tidur. Ia menginjak gas sedalam mungkin, membelah kemacetan kota dengan kecepatan yang membahayakan nyawa. Pikirannya hanya terfokus pada satu titik: pintu tangga darurat itu.
Ia akan menemukan Aluna. Ia akan menghancurkan siapa pun yang berani membuat Aluna tertawa selain dirinya. Dan ia akan memastikan bahwa Rio menyadari, bahwa bermain-main dengan "barang berharga" milik Bramasta adalah tiket satu arah menuju kehancuran total.
Di tangga darurat kampus, Aluna masih asyik bercerita pada Rio tentang betapa anehnya kado-kado yang ia terima, sama sekali tidak menyadari bahwa "sang predator" sedang menuju ke arahnya dengan kecepatan penuh.