Pertemuan Elina dengan Alex seorang mafia kejam yang dikenal dengan julukan "Raja Iblis" memiliki kekuasaan diberbagai wilayah, Alex yang memiliki masa lalu kelam dan telah melakukan banyak kekejaman dalam mencapai kekuasaannya, tetapi ia memiliki prinsip untuk melindungi yang lemah dan tidak berdaya.
Ketika seorang wanita muda bernama Elina dikejar oleh geng rival, ia berlari menuju klub malam mewah yang terkenal dan ternyata merupakan milik Alex, untuk menghindari kejaran geng rival dan mencari perlindungan Elina pun memasuki klub malam tersebut.
Di dalam klub tersebut Elina tak sengaja bertabrakan dengan Alex, Alex yang terkejut mencoba untuk mencerna apa yang terjadi pada wanita yang menabraknya. Elina yang tak tau siapa itu Alex, langsung meminta pertolongan padanya. Pertemuan ini pun menjadi awal dari cerita yang akan penuh dengan aksi, romansa dan intrik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MY QUEEN ATRI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pilihan Menyakitkan
Malam berlalu dan pagi pun datang, hari begitu cerah hingga sinar matahari menembus tirai besar di kamar Alex, membentuk garis-garis cahaya di lantai yang dingin. Elina yang semalam tertidur di kamar Alex kini terbangun lebih dulu, ia masih berada dalam pelukan Alex, lengan pria itu melingkar di pinggang Elina, seolah bahkan dalam tidur pun ia tidak ingin melepaskannya.
Untuk beberapa saat Elina hanya diam mendengar detak jantungnya yang tidak stabil, mengingat malam tadi terasa seperti mimpi yang berisikan pengakuan, ketakutan, dan janji yang mungkin akan mengubah segalanya.
Namun dunia Alex tidak pernah membiarkan ketenangan bertahan lama, ketukan pelan terdengar di pintu. Alex membuka matanya, seketika naluri waspada nya aktif, tangannya secara naluriah meraih ponsel di meja samping tempat tidur. Elina langsung kembali berpura-pura tertidur.
"Masuk" ucap Alex dingin.
Andre masuk dengan wajah tegang dan terkejut melihat Elina berada di kamar Alex dan tertidur "Tuan… kita menerima pesan lagi" bisik Andre pelan, takut membangunkan Elina yang terlelap.
Alex perlahan bangkit dari tempat tidur memastikan Elina tidak terbangun dan tetap terselimuti "Dari siapa?" tanya Alex berbisik, ia menaruh jari telunjuk dimulutnya memberi isyarat pada Andre agar mengecilkan suaranya.
"Nomor tak dikenal.... tapi kami melacak sumbernya, ada indikasi kuat ini dari kelompok Rehan" ucap Andre. Nama itu membuat dada Alex terasa berat, namu dia tetap terlihat tenang.
Mendengar percakapan Alex dan Andre. Elina segera bangun dan duduk, meski bahunya masih terasa nyeri. "Ada Apa?" tanya Elina pelan. Menatap wajah Alex kemudian melihat Andre.
Andre merasa ragu sejenak sebelum menyerahkan ponsel pada Alex, di layar handphone tertulis kalimat singkat (Jika kau ingin dia tetap hidup, datanglah malam ini....... SENDIRI!!!!!) Alamat tertera di bawahnya.
Rahang Alex mengeras "Mereka sudah terlalu jauh" ucap Alex.
"Pastikan Elina tidak keluar rumah....... dan jangan biarkan pengawal meninggalkan Elina sendirian!!!!" perintah Alex cepat pada Andre
"Ini jelas jebakan untung memancingku" ucap Alex.
Elina menatap wajah Alex, dia bisa melihat badai di balik matanya, disana ada amarah, ketakutan, dan keputusan yang sedang bertarung di dalam pikirannya. Namun akhirnya Alex........
"Aku tidak akan datang" ucap Alex akhirnya.
Andre terdiam. "Tuan?"
"Aku tidak akan mengikuti permainan murahan seperti ini" ucap Alex.
"Tapi mereka menyebut Elina" Andre mengingatkan.
Alex menoleh pada Elina, tatapan mereka bertemu dan tanpa perlu kata-kata, Elina tahu apa yang sedang ia pikirkan.
"Mereka ingin memancingmu keluar. Jika kau datang sendiri, mereka bisa menghabisimu" ucap Elina lembut.
"Aku tidak peduli" jawab Alex cepat.
Elina tersenyum tipis "Aku peduli" ucap Elina pada Alex. Mereka saling menatap cukup lama.
Waktu sudah menunjukkan jam dua siang, suasana r di rumah Alex terasa lebih tegang dari biasanya, penjagaan diperketat dua kali lipat, beberapa orang Alex berjaga di luar pagar, sementara kamera pengawas terus dipantau tanpa henti.
Elina duduk di ruang kerja Alex yang menghadap taman. Ia mencoba membaca buku, tetapi pikirannya terus memikirkan pesan itu.
Elina mendengar langkah kaki mendekat, ternyata Alex berdiri di ambang pintu, wajahnya kembali dingin seperti topeng yang ia kenakan setiap hari.
"Kau seharusnya beristirahat" ucap Alex.
"Aku tidak bisa istirahat jika tahu......kau sedang mempertimbangkan sesuatu yang tidak ku sukai, sesuatu yang bisa membuatmu dalam bahaya" ucap Elina dengan raut wajah khawatir.
Alex menghela napas panjang lalu masuk dan menutup pintu "Aku memutuskan akan pergi malam ini" ucap Alex.
"Bukankah tadi kau bilang tidak memenuhi permintaannya dan tidak akan datang" ucap Elina serius, tubuhnya menjadi tegang.
"Aku berubah pikiran" ucap Alex.
"Kenapa?" tanya Elina.
"Karena jika aku tidak datang....... mereka akan terus mencari cara untuk menyakitimu dan aku tidak ingin itu terjadi" suaranya rendah namun tegas.
Elina berdiri dan berjalan mendekat pada Alex "Dan jika ini benar-benar jebakan?" tanya Elina.
"Memang ini pasti jebakan" jawab Alex.
"Lalu kenapa kau tetap memilih pergi?" tanyanya lagi.
Alex menatapnya Elina beberapa detik dan berkata "Karena aku tidak bisa hidup dengan kemungkinan bahwa sesuatu terjadi padamu hanya karena aku terlalu takut mengambil risiko." Kata-kata itu terasa seperti pisau yang perlahan menyayat
"Ini bukan hanya tentang keberanian, tapi ini tentang hidup dan mati” bisik Elina.
Alex mendekat, tangannya memegang kedua bahu Elina dengan hati-hati agar tak menyentuh lukanya.
"Dunia ini selalu tentang hidup dan mati bagiku, tapi untuk pertama kalinya… aku punya sesuatu yang lebih penting dari sekadar bertahan, yaitu agar kau tetap aman"
"Dengarkan aku....... aku tidak ingin kau ikut campur malam ini" tegas Alex.
"Aku tidak bisa hanya tinggal diam saja di sini" balas Elina cepat.
"Kau harus!!!! Dengarkan perkataanku" ucap Alex.
"Tidak" tegas Elina.
Percakapan itu bukan lagi tentang ego, tetapi tentang siapa yang lebih rela berkorban.
"Jika sesuatu terjadi padamu..... Apa kau pikir aku bisa hidup dengan tenang?" suara Elina bergetar, matanya berkaca-kaca.
Alex terdiam, ia terbiasa menghadapi musuh dengan senjata, bukan dengan perasaan seperti ini.
"Aku akan mengirim tim lebih dulu" lanjutnya akhirnya.
"Aku tidak benar-benar datang sendirian, aku hanya akan terlihat sendirian" ucap Alex yang ingin menghilangkan sedikit kekhawatiran Elina.
Elina menatap wajah Alex, mencoba membaca apakah ini keputusan final atau sekadar kompromi.
"Kau berjanji akan kembali?" tanya Elina pelan.
Alex terdiam sejenak, ia tidak langsung menjawab pertanyaan Elina dan justru diam itu yang paling menghawatirkan.
Siang berganti malam, waktu berlalu begitu cepat, langit gelap tanpa bintang, seolah ikut menyembunyikan niat jahat yang bersembunyi di balik bayangan kota.
Mobil hitam milik Alex berhenti beberapa meter dari gudang tua yang tertera di pesan anonim, angin malam berhembus membawa bau besi dan debu ditempat itu.
Di dalam mobil, Alex mengenakan jas hitam sederhana, wajahnya tanpa ekspresi. Andre berbicara melalui alat komunikasi kecil di telinganya.
"Tim sudah di posisi...... Bos, kami melihat beberapa orang bersenjata di dalamnya" ucap Andre.
"Rehan?" tanya Alex.
"Belum terlihat" jawab Andre.
Alex kemudian membuka pintu mobil dan turun perlahan "Tuan...... ini terlalu beresiko" suara Andre terdengar tegang. Alex hanya menjawab singkat.
"Tetap siaga" ucap Alex singkat.
Alex berjalan masuk ke dalam gudang, lampu-lampu redup menggantung di langit-langit, menciptakan bayangan panjang di lantai beton, tepuk tangan terdengar pelan dari sudut ruangan.
"Lama tak bertemu, Alex" ucap pria itu.
Sosok itu keluar dari balik tumpukan tong besi, Rehan. Senyumnya tipis penuh ejekan.
"Kau benar-benar datang sendiri?" tanya Rehan yang berpura-pura heran.
"Apa yang kau inginkan?" tanya Alex yang berdiri tegap.
"Sederhana saja. Pilihan!!!" ucap Rehan, ia mengangkat tangannya dan dua pria menyeret seseorang dari belakang. Bukan Elina, melainkan Andre, tangan Andre terikat dan wajahnya sudah memar.
"Maaf...... Tuan…" gumam Andre pelan. Jantung Alex berdegup keras, tapi wajahnya tetap datar.
"Lepaskan dia" tegas Alex.
"Ah..... tidak semudah itu. Kau hanya memiliki dua pilihan" jawab Rehan santai, ia mengangkat dua jari.
"Pertama........ kau serahkan seluruh jalur bisnis pelabuhan padaku. Semuanya..... Tanpa syarat apapun" ucap Rehan yang terdengar tidak tau diri.
"Dan apa yang kedua? Cepat katakan" tanya Alex dingin.
"Yang kedua…... Aku akan mulai dengan membunuh bawahanmu ini" Rehan tersenyum lebar, suasana menjadi tegang bagi Alex.
"Dan setelah itu, aku akan perlahan mendekati gadismu itu" lanjut Rehan.
Nama Elina tak perlu disebut, tapi ancaman itu sudah cukup jelas. Alex menatap Andre lalu kembali ke Rehan, ini bukan hanya tentang kekuasaan, namun ini tentang memilih siapa yang harus ia lindungi lebih dulu.
Bisnis pelabuhan adalah jantung kekuasaannya, jika menyerahkannya, ia akan kehilangan setengah dari pengaruhnya, musuh lain akan bermunculan dan kekacauan akan terjadi.
Namun jika ia tidak menyerah, Andre bisa mati malam ini dan Elina tetap dalam bahaya. Untuk pertama kali dalam hidupnya, Alex merasa benar-benar terpojok, pilihan yang menyakitkan, namun Ia teringat wajah Elina pagi tadi.
Tetaplah kembali....... Alex menutup mata beberapa detik tidak lama lalu membukanya kembali dengan tatapan yang berbeda.
"Baik" ucap Alex dengan sikap tenang.
"Baik?" tanya Rehan, ia terheran dan mengangkat salah satu alisnya.
"Aku akan menyerahkan pelabuhan" ucap Alex dingin.
"Tuan......JANGAN!!!" mata Andre membelalak
"Diam" potong Alex tegas.
"Keputusan bijak" ucap Rehan, ia tertawa puas dengan keputusan yang diambil Alex.
Tiba- tiba alex memberikan syarat kepada Rehan "Dengan satu syarat" lanjut Alex.
"Apa itu?" tanya Rehan.
"Kau lepaskan dia sekarang.... dan jangan pernah menyentuh Elina" jawab Rehan tegas.
"Kau benar-benar berubah...... Dan utu hanya karena seorang wanita" ucap Rehan tersenyum miring.
Alex tidak membalas perkataan Rehan dan hanya diam dengan wajah dinginnya. Karena ia tahu satu hal...... ia memang berubah.
Dan perubahan itu mungkin akan menghancurkan segalanya, atau justru menyelamatkan satu-satunya hal yang benar-benar berarti baginya. Di kejauhan, suara tembakan tiba-tiba datang, anak buah Alex bergerak lebih cepat dari rencana, gudang berubah menjadi medan peran, namun pilihan telah dibuat dan konsekuensinya baru saja dimulai.
kak lanjut epsd 3 dong 🔥🔥