Satu tahun lalu, Michael—sang pewaris SM Corporation—diselamatkan oleh wanita bertopeng misterius berjuluk "Si Perempuan Gila". Terpaku pada mata indahnya, Michael berjanji akan memberikan apa pun sebagai balasan hutang nyawa.
Kini, Michael dipaksa menikahi Shaneen, putri konglomerat manja yang ia anggap membosankan dan lemah. Michael tidak tahu bahwa di balik sikap manja dan keluhan konyol istrinya, Shaneen adalah sang legenda bertopeng yang selama ini ia cari.
Permainan kucing dan tikus dimulai. Di siang hari ia menjadi istri yang merepotkan, namun di malam hari, ia adalah ratu kegelapan yang memegang nyawa suaminya sendiri. Akankah Michael menyadari bahwa wanita yang ia tidak sukai adalah wanita yang paling ia gilai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Luka yang Menganga dan Amarah Si Perempuan Gila
Mansion Utama Tizon yang biasanya tenang kini berubah menjadi medan ketegangan. Garis polisi tidak ada, karena ini adalah wilayah kekuasaan Tizon, namun aroma gas bius sisa penculikan tadi masih tercium di lorong menuju kamar utama.
Pemeriksaan medis rutin yang dilakukan setiap bulan pada Sera bukanlah tanpa alasan. Sejak kematian Orlando lima tahun lalu, jiwa Sera seolah tertahan di masa lalu. Ia didiagnosis menderita Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) yang berat.
Bagi dunia, Sera adalah janda terhormat dari Orlando Tizon. Namun bagi dirinya sendiri, ia hanyalah seorang wanita yang setiap malam masih menunggu suara langkah kaki suaminya di koridor. Ia selalu terlihat kuat dan tersenyum di depan Shaneen, namun di balik pintu kamar, ia sering berbicara pada kursi kosong dan menolak memindahkan barang-barang Orlando. Kondisi mentalnya yang rapuh inilah yang mengharuskannya menjalani terapi hormon dan saraf secara rutin melalui tim medis—celah yang dimanfaatkan dengan sangat licik oleh Don.
...–Mension Utama–...
Mobil Michael mengerem mendadak di depan teras Mansion. Michael dan Shaneen turun dengan langkah cepat. Di ruang tengah, mereka menemukan Nenek Marta terbaring di sofa dengan wajah pucat.
"Nenek!" Shaneen langsung menghampiri Marta.
Kondisi Marta cukup memprihatinkan. Akibat dorongan kasar anak buah Don, Marta jatuh terduduk dengan keras yang menyebabkan cedera pada tulang belakang bagian bawah. Untuk beberapa waktu ke depan, ia dipastikan tidak akan bisa berjalan.
"Mereka... mereka membawa Sera, Shaneen..." Rintih Marta sambil memegang tangan cucunya. "Nenek tidak bisa menahannya. Maafkan Nenek..."
Mendengar itu, pertahanan mental Shaneen runtuh, bukan menjadi kesedihan, melainkan ledakan amarah yang mengerikan. Ia berdiri dan berbalik menatap jajaran kepala keamanan Mansion yang tertunduk lesu di ruang tengah.
"KALIAN SEMUA DIBAYAR UNTUK APA?!" Teriak Shaneen, suaranya menggelegar memenuhi ruangan, membuat para penjaga yang bertubuh kekar itu gemetar.
Shaneen berjalan mendekati kepala keamanan, matanya berkilat mematikan—kilat yang sama saat ia membantai orang-orang di apartemen. "Hanya karena ayahku sudah tidak ada, kalian pikir kalian bisa bersantai? Kalian membiarkan satu-satunya orang yang aku miliki dibawa pergi tepat di depan hidung kalian!"
Shaneen menyambar sebuah vas bunga kristal dan membantingnya ke lantai hingga hancur berkeping-keping. "Aku kehilangan Ayah! Aku tidak akan mau kehilangan Ibuku hanya karena ketololan kalian! Jika dalam satu jam tidak ada info valid, aku sendiri yang akan mematahkan leher kalian satu per satu!"
Shaneen meraih senjatanya yang terselip di balik jaket, siap melakukan aksi gila sendirian ke markas Don tanpa strategi.
Sebelum Shaneen melangkah keluar dengan amarah yang membabi buta, sebuah tangan kekar menarik bahunya dan memutar tubuhnya. Michael memeluk Shaneen dengan sangat erat, mengunci kedua tangan Shaneen agar tidak bisa melakukan gerakan berbahaya.
"Shaneen! Tenanglah!" Bentak Michael, namun suaranya tetap lembut di telinga istrinya.
"Lepaskan aku, Michael! Mereka membawa Ibuku! Don akan menyakitinya!" Shaneen meronta dalam dekapan Michael, air mata kemarahan mulai jatuh di pipinya.
"Aku tahu! Aku tidak akan membiarkan itu terjadi!" Michael menangkup wajah Shaneen, memaksa gadis itu menatap matanya yang stabil dan penuh keyakinan. "Dengarkan aku. Jika kau pergi sekarang dengan kepala panas, kau hanya akan masuk ke perangkap mereka. Itu yang Don inginkan. Dia ingin kau hancur karena emosi."
Michael mengecup dahi Shaneen dengan dalam, menyalurkan ketenangan. "Ibumu adalah ibuku juga sekarang. Rans dan Damian sudah melacak koordinatnya. Kita akan berangkat bersama, sebagai satu tim. Tapi aku butuh kau menjadi orang yang cerdas, bukan orang yang hanya bisa membakar tanpa arah. Bisa?"
Shaneen perlahan mengatur napasnya. Kehadiran Michael yang kokoh perlahan meredam api di dadanya. Ia mengangguk pelan, kepalanya bersandar di dada bidang Michael.
"Bagus," bisik Michael. Ia menoleh ke arah Rans dengan tatapan yang sangat dingin. "Rans, Damian, siapkan unit penghancur. Kita tidak akan melakukan negosiasi. Siapa pun yang menyentuh Ibu Sera... Jangan biarkan mereka melihat matahari besok pagi."
Sementara itu dilain tempat. Kesadaran Sera perlahan kembali. Kepalanya terasa berat akibat sisa gas bius, namun instingnya sebagai istri seorang mafia besar segera mengambil alih. Ia menyadari dirinya berada di dalam sebuah ruang tahanan bawah tanah yang dingin dan lembap. Di depan jeruji besi itu, sesosok bayangan berdiri menjulang.
"Kau sudah bangun, nyonya Sera?" Suara serak itu memecah kesunyian.
Sera menatap kedepan, matanya yang tajam menatap langsung ke arah pria di depannya. Di bawah cahaya lampu yang temaram, ia melihat wajah Don. Namun, ada sesuatu yang berbeda. Sebuah luka parut mengerikan yang masih memerah, menggores pipi Don dari bagian atas hingga menjulang ke bawah, hampir menyentuh tulang rahangnya.
Sera tersenyum sinis, sebuah senyuman yang penuh dengan ejekan. "Luka itu... tampak sangat bagus di wajahmu, Don. Itu adalah tulisan tangan suamiku, bukan?"
Don terdiam, namun rahangnya mengeras. Luka itu didapatkannya enam tahun lalu saat Orlando yang murka mengepungnya di tengah kobaran api Mansion pribadi Tizon. Orlando hampir menghabisinya, namun Don berhasil kabur seperti tikus pengecut. Sejak saat itu, Don tetap bungkam, menyembunyikan Dokumen asli "The Golden Phoenix" sebagai kartu as untuk menghancurkan nama baik Orlando selamanya.
"Suamimu yang kau banggakan itu sudah jadi abu, Sera! Dan dokumen itu tetap menjadi milikku!" Ejek Don, tangannya mencengkeram jeruji besi hingga buku jarinya memutih.
Sera tertawa rendah, suara tawanya terdengar merdu namun menusuk. "Kau boleh memegang dokumennya, Don. Tapi luka di wajahmu itu adalah kenangan abadi. Selamanya, setiap kali kau bercermin, kau akan diingat bahwa kau hanyalah pengecut yang pernah hampir mati di tangan Orlando Tizon. Luka itu adalah tanda kepemilikan suamiku atas kegagalanmu."
"DIAM!" Teriak Don, matanya memerah karena amarah yang memuncak. Ia mengangkat tangannya, seolah ingin melayangkan pukulan melalui celah jeruji.
Namun, Sera tidak berkedip sedikit pun. Ia justru melangkah maju, mendekatkan wajahnya ke arah Don. "Kau tahu, Don? Jika kau berani menyentuhku, akan ada seseorang yang datang dan tidak akan segan-mematahkan tanganmu itu menjadi serpihan."
Sera menatap Don dengan tatapan dingin yang belum pernah Don lihat sebelumnya. "Dulu, suamiku Orlando masih punya sedikit hati nurani untuk melepaskanmu karena kau pernah tinggal di rumah kami. Tapi kali ini yang sedang mencarimu sekarang... dia berbeda. Dia tidak memiliki hati nurani untuk tikus sepertimu. Dia tidak akan pernah memaafkanmu."
Sera merujuk pada Shaneen, putrinya. Walau dulu dia melarang keras suaminya untuk berhenti menyuruh Shaneen melakukan pelatihan militer. Tetap saja Orlando tidak mau mendengar, baginya Shaneen adalah perempuan kuat harus kuat. Karena dirinya sendiri tidak bisa menjamin akan selalu menjaga dan mengawasi putri semata wayangnya itu dalam 24 jam.
Tapi sepertinya Don salah menangkap ucapan Sera. Dia mengira bahwa ciri-ciri yang Sera sebut adalah Michael Miguel.
"AKU BILANG DIAM!" Don berteriak histeris, suaranya bergema di seluruh ruangan bawah tanah. Ia memukul jeruji besi itu berkali-kali untuk menutupi rasa takut yang tiba-tiba merayap di dadanya. Ia tahu siapa yang dimaksud Sera, dan ia tahu Michael Miguel bukanlah lawan yang bisa diajak bernegosiasi.
Sera hanya menatapnya dengan tenang, seolah Don hanyalah anak kecil yang sedang mengamuk. "Hitung mundur waktumu, Don. Suara langkah kakinya sudah semakin dekat."