Adelia, asisten produksi yang gigih, harus menghadapi Arlan, sutradara perfeksionis berjuluk "Naga dari Selatan" yang gemar mengamuk. Di balik kopi 80 derajat dan caci maki di lokasi syuting, Adelia menemukan luka masa lalu Arlan yang mendalam. Saat konspirasi keluarga dan sabotase mengancam karier mereka, keduanya bersatu melawan manipulasi sang ayah. Melalui keberanian dan kejujuran, mereka membuktikan bahwa di balik layar kemarahan, terdapat cinta yang mampu mengubah ambisi menjadi mahakarya sejati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mila Dunka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Studio Baru, Musuh Lama
Enam bulan telah berlalu sejak konferensi pers yang menggemparkan itu. Arlan dan Adelia kini menjalankan “A&A Pictures”, sebuah studio independen yang sedang naik daun. Namun, kemandirian ternyata jauh lebih melelahkan daripada menjadi karyawan agensi besar.
Pagi itu, kantor baru mereka yang bergaya industrial di kawasan Jakarta Selatan tampak kacau.
"Adelia! Di mana memory card cadangan untuk syuting hari ini?!" teriak Arlan dari ruang kamera. Suaranya masih sama—bariton, tegas, dan penuh tekanan—meskipun sekarang ia meneriaki pacarnya sendiri.
Adelia masuk sambil membawa tiga gelas kopi (dua untuk tim, satu untuk si tuan pemarah). "Di laci kedua, Arlan. Di bawah tumpukan naskah yang kemarin kamu lempar karena 'kurang dramatis'. Dan tolong, berhenti berteriak. Kita punya klien baru yang sangat sensitif hari ini."
Arlan muncul dari balik pintu, rambutnya berantakan, namun tatapannya langsung melunak saat melihat Adelia. Ia mengambil kopinya, menyesapnya, dan seketika bahunya rileks. "80 derajat. Kamu memang penyelamat hidupku."
Namun, ketenangan itu hanya bertahan lima menit. Pintu depan studio terbuka, dan seorang wanita dengan gaya sangat chic serta kacamata hitam besar melangkah masuk tanpa diundang.
"Jadi, di sini tempat persembunyian si jenius yang sekarang jadi 'independen'?"
Arlan dan Adelia membeku. Itu adalah Sandra, mantan kekasih Arlan sekaligus produser eksekutif yang dulu pernah menghina Adelia. Namun kali ini, Sandra tidak datang untuk marah. Ia datang dengan sebuah map tebal di tangannya.
"Aku punya tawaran yang tidak bisa kalian tolak," ujar Sandra sambil melepaskan kacamatanya. "Proyek film layar lebar. Adaptasi novel best-seller. Investasinya triliunan rupiah."
Arlan mendengus sinis. "Sejak kapan kamu peduli pada studio kecil kami, Sandra?"
"Sejak aku tahu bahwa sutradara pilihan utama investor mengundurkan diri," Sandra menatap Adelia dengan tatapan yang sulit diartikan. "Dan investor itu... dia bukan ayahmu, Arlan. Dia adalah pesaing bisnis ayahmu yang ingin menjatuhkan reputasi keluargamu dengan cara membiayai studionu sampai sukses besar."
Adelia merasakan firasat buruk. "Apa syaratnya?"
Sandra tersenyum tipis, jenis senyum yang membuat bulu kuduk Adelia berdiri.
"Syaratnya sederhana. Arlan harus menyutradarai film ini di Paris selama delapan bulan. Tanpa asisten produksi pilihan pribadinya. Pihak investor sudah menyiapkan tim profesional mereka sendiri."
Ruangan itu mendadak sunyi. Arlan menatap Adelia, lalu kembali ke Sandra. "Maksudmu, aku harus pergi tanpa Adelia?"
"Tepat. Ini adalah ujian, Arlan. Apakah kamu seorang profesional yang bisa berdiri sendiri, atau kamu hanya seorang pria yang bergantung pada asistennya untuk tetap tenang?" tantang Sandra.
Adelia merasakan jantungnya mencelos. Paris. Delapan bulan. Itu adalah kesempatan emas bagi karier Arlan, impian yang selalu Arlan bicarakan saat mereka terjebak badai di studio dulu. Namun, itu juga berarti memisahkan mereka tepat di saat hubungan mereka baru saja stabil.
"Saya tidak butuh—" Arlan hendak menolak, namun Adelia memotongnya.
"Kami butuh waktu untuk berpikir," ujar Adelia tegas, meski suaranya sedikit bergetar.
Setelah Sandra pergi, Arlan langsung menghampiri Adelia. "Adel, aku tidak akan mengambilnya. Delapan bulan itu terlalu lama."
"Arlan, ini film layar lebar. Impianmu," Adelia menatap mata Arlan. "Tapi aku tahu Sandra. Dia tidak hanya menawarkan proyek. Dia sedang menanam bom waktu di antara kita."
Tiba-tiba, ponsel Adelia berdering. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal masuk, berisi foto Arlan dan Sandra yang sedang berbicara berdua di sebuah kafe, tertanggal dua hari yang lalu.
Adelia tertegun. Kapan mereka bertemu? Kenapa Arlan tidak bercerita?
Adelia menatap Arlan dengan tatapan bertanya. Si Tukang Marah yang biasanya jujur itu tiba-tiba memalingkan wajah, menghindari kontak mata.
"Arlan... ada yang kamu sembunyikan dariku?"
Babak baru dimulai. Bukan lagi soal kabel yang putus atau skandal media, melainkan soal kepercayaan yang mulai retak di tengah ambisi yang memuncak.
Catatan Penulis Bab 14:
Bab ini membuka konflik baru yang lebih dewasa. Saya ingin menguji apakah hubungan mereka cukup kuat menghadapi jarak dan godaan karier. Munculnya Sandra kembali bukan sebagai musuh terang-terangan, melainkan sebagai pembawa peluang yang manipulatif, menciptakan tensi baru yang lebih seru dan emosional.