Gerard adalah seorang pria yang hidupnya jatuh hingga ke titik terendah. Saat ia nyaris mati kelaparan dan menjadi korban serangan tak dikenal, sebuah Sistem misterius tiba-tiba muncul, menyelamatkan nyawanya dan memulihkan tubuhnya sepenuhnya.
Dibawa ke dalam hutan yang asing, Gerard kini diberi tantangan oleh Sistem: bertahan hidup semalam untuk mendapatkan hadiah luar biasa—uang seratus juta dan sebuah rumah. Namun, di balik janji masa depan cerah itu, ancaman dari masa lalu dan identitas penyerangnya yang gelap masih mengintai, membuat setiap detik menjadi pertaruhan nyata.
Siapakah itu? Dan seberapa rumit masa lalunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Loorney, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 - Seperti Tutorial
Tawaran Linda memang sulit ditolak, dan tanpa banyak pertimbangan, Gerard pun menerimanya. Namun ia berkeras untuk membayar semua biaya sendiri. "Ini kebutuhan saya, biarkan saya yang menanggungnya," ujarnya dengan tegas, membuat Linda hanya bisa mengalah.
Setelah itu, percakapan berlangsung singkat sebelum Gerard berpamitan pulang. Terlalu lama tinggal hanya akan membuat suasana semakin canggung, dan mereka pun tak ingin menahannya—meski sebenarnya agak disayangkan.
Saat Gerard berbalik untuk pergi, Mawar mengikutinya dari belakang, atas permintaan Linda dan juga keinginannya sendiri. Di depan rumah, sebenarnya Gerard hanya perlu mendorong motornya beberapa langkah ke arah rumahnya, namun ia memilih menunggu Mawar dengan kantung kecil masih tergenggam di tangannya.
"Terima kasih untuk hari ini, ya?" ucap Gerard dengan senyum tipis.
Ditatap seperti itu, Mawar merasa darahnya mengalir panas karena malu. Tapi ia berusaha menahannya dan mengangguk. "Aku juga senang… jalan-jalan sama Kakak," jawabnya lembut, tanpa semangat berapi-api seperti sebelumnya. Sikapnya yang lebih tenang ini justru memberinya kesan anggun.
Gerard turut merasa lega mendengarnya. "Syukurlah…" gumamnya, lalu teringat sesuatu. Ia mengangkat tangan yang memegang kantung kecil berisi sepatu. "Oh iya, ini…"
Mawar melihatnya, senyumannya merekah lebar, matanya berbinar penuh semangat. "Itu sepatu tadi, ya? Semoga adiknya suka dengan pilihanku!" serunya, masih belum menyadari keraguan di mata Gerard.
"Ah, soal itu…" Gerard hampir terkekeh mengingat alasan palsunya. Tapi ia segera mengumpulkan keberanian, lalu dengan lembut menaruh kantung itu di tangan Mawar. "Sebenarnya, aku nggak punya adik perempuan," ujarnya sambil tersenyum, membuat kata-katanya terasa samar di telinga Mawar.
"Maksud Kakak?"
Mawar bingung, matanya bolak-balik menatap kantung dan wajah Gerard yang terlihat tulus. Maksudnya masih menggantung, sebelum Gerard menaikkan alisnya sambil menunjuk ke arah kantung, memberi isyarat yang langsung membuat wajah Mawar merah padam.
"E-eh!?" Mawar terlihat terkejut, tapi hatinya berusaha mencari penjelasan lain—takut semua ini hanya kesalahpahaman. Tapi Gerard tetap diam, menarik tangannya perlahan setelah menyerahkan kantung itu. "Kak…?"
"Iya," akhirnya Gerard bersuara, sambil berjalan mundur ke arah motornya tanpa pernah benar-benar memalingkan pandangan. "Itu sebenarnya buat kamu. Maaf ya udah bohong tadi…" Suaranya terdengar berlapis—ada sesal, tapi juga harap.
Mawar kembali terdiam, tangannya membuka kantung itu pelan dan melihat kotak sepatu yang baru saja ia pilih sendiri. Pikirannya berputar, mencari kemungkinan lain yang bisa membuktikan ini hanya kekeliruan. Beneran? Ini buat aku…?
Saat ia menatap Gerard lagi, tak ada tanda penyesalan atau kebohongan di wajahnya. Ia hanya mengacungkan jempol, lalu melambai sambil mendorong motornya pergi. "Sampai jumpa!" katanya, mengakhiri momen singkat yang masih menggantung tanpa penjelasan lengkap.
Tanpa sadar, Mawar ikut melambai. Kesadarannya kembali saat mendengar bunyi pagar di rumah sebelah berderit—tanda Gerard telah pulang. Wajahnya yang sempat kosong tiba-tiba memerah membara. Tubuhnya gemetar ringan dipenuhi semangat yang meluap.
Kak Gerard ngasih ini buat aku? Dia bilang nggak punya adik perempuan. Jadi… Pikirannya melayang jauh, membuat darahnya semakin panas. Ia tak lagi memedulikan keraguan—karena sekarang, ia punya spekulasi sendiri.
Kali ini, tak ada kesalahpahaman. Spekulasi yang diyakini Mawar adalah kebenaran—meski beberapa bagian mungkin belum tentu tepat. Tapi apa artinya itu semua, jika kebahagiaan bisa diraih hanya dengan mempercayainya? Baginya, selama peluang itu belum benar-benar nol, harapan sekecil apa pun tetap layak diperjuangkan.
...*•*•*...
Di dalam rumahnya yang masih kosong, Gerard duduk di atas kursi kayu bekas, menatap panel transparan yang baru saja memberikan konfirmasi penyelesaian misi. Rasanya lega sekaligus memuaskan—tidak hanya mendapatkan pengalaman berharga, tetapi juga hadiah yang melimpah.
[Pergi Bersama Mawar]
[Status: Selesai]
[Hadiah Didapatkan: 400.000.000 IDR + 1 unit mobil]
“Kupikir bakal lebih sulit,” gumam Gerard sambil tersenyum, mengingat kesan pertama yang sempat membuatnya waspada. “Ternyata dia baik. Aku hampir salah menilai.”
Mawar telah berhasil membentuk citra positif dalam benak Gerard setelah serangkaian pertemuan tak terduga yang mereka lalui. Kini, mereka akan hidup bertetangga, dan pertemuan di masa depan tampaknya tak terhindarkan. Dengan kemungkinan itu, Gerard merasa sudah siap.
Setelah sekilas melihat hadiah bonus, ia memberi perintah kecil, dan panel baru muncul dengan rincian mobil yang ia terima. Ekspresi Gerard berubah menjadi terkejut—hadiahnya melebihi ekspektasi.
[Detail Hadiah:]
• Mobil: 1 unit Toyota Camry sedan, warna silver.
• Posisi: terparkir di depan rumah.
• Catatan: semua surat-surat kendaraan telah diletakkan di dalam mobil.
Sebuah mobil!
Setelah sekian lama hanya mengandalkan motor butut, lalu beralih ke matic, akhirnya tiba juga momen di mana Gerard memiliki mobil sendiri. Meski ini pertama kalinya ia memilikinya, ia sudah cukup berpengalaman mengemudi berkat pekerjaan lamanya sebagai supir.
Namun, memiliki mobil pribadi rasanya jauh berbeda—lebih personal, lebih membanggakan. Tanpa menunggu lebih lama, Gerard bergegas ke depan rumah. Di sana, mobil silver itu terparkir dengan gagah, tepat di depan matanya. Kondisinya mulus, benar-benar baru, berdampingan dengan motor Vario yang baru dua hari menemaninya.
“Ini nyata…” Gerard tersenyum lebar sambil mendekat, lalu mengulurkan tangan untuk menyentuh bodi mobil dengan hati-hati. Ia mengambil kunci mobil dari inventori sistem, membuka pintu, dan menatap interiornya yang elegan.
Baru saja Gerard duduk di kursi pengemudi, menikmati sensasi nyaman yang menyelimutinya, tiba-tiba panel transparan muncul lagi di depan matanya. Kali ini, bukan konfirmasi hadiah—melainkan misi baru.
Alih-alih senang, Gerard justru mengernyit. Ia berusaha memastikan apa yang dilihatnya, tetapi panel itu seakan menantangnya dengan sebuah kenyataan yang tak terduga.
[Test Drive]
[Status: Sedang Berlangsung]
[Hadiah: 800.000.000 IDR + Kemampuan Baru]
Gerard berkedip cepat, lalu menghela napas panjang dan bersandar pada jok empuk. Tatapannya tertuju pada kaca depan mobil, memandang halaman rumahnya yang rapi dan bersih. Tapi pikirannya melayang ke tempat lain.
Aneh. Rasanya seperti lagi menjalani tutorial di game. Bahkan cuma test drive saja dapat hadiah segini. Pikirannya merenung, bingung harus bereaksi seperti apa. Tapi akhirnya ia menghela lagi. Ya sudahlah, ini menguntungkan buatku!
Semangatnya kembali membara. Ia segera menyalakan mesin mobil, berniat menyelesaikan misi secepat mungkin dan meraup hadiahnya. Namun, senyumnya tiba-tiba memudar ketika matanya tertuju pada kaca spion—sebuah realisasi sederhana datang menghampiri.
“Aduh,” gumamnya pelan, lalu terkekeh kosong. “Pagar rumahku masih tertutup!”