Serra Lune, seorang pembunuh bayaran, menemukan targetnya di tempat yang salah. Ethan Hale, seorang pemuda baik pembuat herbal asal desa, diburu hanya karena wajahnya mirip dengan orang lain. Saat Serra memastikan kebenarannya, ia dihadapkan pada pilihan: menyelesaikan misi, atau melindungi orang yang seharusnya mati.
Keputusannya membuat mereka diburu. Dalam pelarian dan hidup sembunyi-sembunyi, dua orang dari dunia yang bertolak belakang belajar bertahan bersama. Bukan hanya karena takdir, melainkan memilih satu sama lain di dunia yang kejam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aiyuki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sisi lain
Siang hari itu, Ethan baru sadar jika ponsel milik Serra tertinggal di atas meja ruang tamu saat ia sedang membereskan apartemen. Pemuda itu sempat menatap ke arah ponsel selama beberapa detik. Kemudian mengambil ponsel tersebut lalu memasukkannya ke dalam kantong celana.
Dengan cepat ia memakai hoodie miliknya, bergegas keluar pintu. Padahal ia tidak perlu sampai mengantarkan ponsel tersebut, namun entah mengapa, tubuhnya bergerak begitu saja.
...----------------...
Setelah bertanya ke beberapa orang di jalan, akhirnya Ethan pun sampai di tempat Serra bekerja. Gedung latihan taekwondo (Dojang) itu lebih ramai dari yang ia bayangkan. Dari luar gedung terdengar suara anak-anak yang sedang berlatih.
"Hap!"
Hyaaa!."
Ethan berhenti sebentar di depan pintu kaca, pemuda itu merasa penasaran. Lagipula ia belum pernah benar-benar melihat Serra mengajar. Ethan hanya pernah melihat Serra berlatih menggunakan alat-alat sederhana yang ia buat.
Suara tapak kaki di atas matras terdengar teratur. Anak-anak berseragam putih berbaris dengan rapi. Dan tepat di hadapan mereka, sudah ada Serra.
Rambut gadis itu diikat tinggi. Tanpa menggunakan seragam, hanya kaus sederhana. Wajahnya terlihat tegas, tapi tidak dingin.
"Fokus!, tumpuan bukan di tangan, tapi kaki," ia mulai mempraktikkan satu gerakan tendangan yang begitu cepat dan presisi. Anak-anak menatapnya dengan mata berbinar.
Ethan terpaku, mengamati setiap gerakan yang Serra praktikkan. Ia merasa jika gadis itu bukanlah orang yang tiba-tiba menangis lalu terjatuh dihadapannya. Kini ia tahu jika malam itu Serra memang sedang tidak sadar, sampai tak sengaja telah memperlihatkan satu kelemahan padanya.
Ditengah latihan, tiba-tiba salah satu anak kehilangan keseimbangan dan hampir jatuh. Dengan cepat, Serra langsung menangkapnya sebelum anak itu benar-benar terjatuh. "Hati-hati," katanya lembut.
Nada suaranya berubah total, Ethan merasakan sesuatu menghangat di dadanya, hingga tanpa sadar sampai tersenyum kecil. Salah satu orang tua murid yang baru saja datang untuk menjemput sampai meliriknya.
"Anda suaminya ya?," bisik seorang wanita paruh baya.
Ethan hampir tersedak udara, dengan refleks ia mengangguk kecil sembari tersenyum canggung.
...----------------...
Latihan pun selesai sekitar lima belas menit kemudian. Anak-anak berbaris memberi hormat sebelum bubar. Serra baru menyadari jika Ethan sudah berdiri di dekat pintu. Melihat situasi yang agak ramai, gadis itu mulai memainkan perannya.
"Sayang? sedang apa disini?," tegur Serra.
"Ah, ini tertinggal," balas Ethan canggung.
Serra mulai berjalan mendekat, "terimakasih."
Ethan hanya mengangguk pelan, namun tanpa ia sadari banyak dari beberapa orang tua murid yang memperhatikan mereka.
Seorang orang tua murid tersenyum ramah, "Wah kalian memang sangat serasi," ujarnya kagum.
Baik Serra maupun Ethan, hanya mengangguk sambil tersenyum, membuat si orang tua murid tertawa kecil kemudian berlalu pergi.
...----------------...
Dalam perjalanan pulang, mereka berjalan berdampingan. Sedikit berjarak, namun tidak terlalu menjauh. Mereka berhenti di sebuah mini market untuk membeli air mineral, kemudian duduk sejenak di kursi yang telah disediakan, hanya untuk melepas dahaga.
Serra mulai meneguk sebotol air di tangannya, hingga hampir tersedak setelah mendengar sebuah kalimat yang tercetus dari bibir pemuda itu.
"Aku ingin ikut berlatih."
Serra terkesiap seraya memutar kembali tutup botol air mineralnya, "Apa kau serius?, ehm.. maksudku mengapa tiba-tiba.." kalimat Serra terpotong.
"Waktu sedang melihatmu tadi.." Ethan berhenti sejenak, lalu melanjutkan kembali kalimatnya, "Aku sadar jika kau memang tangguh. Kau juga terlihat hebat saat bertarung melawan mereka pada malam itu, tapi karena terus-menerus melindungi ku, kau..hhh," Ethan menghela napas, mengingat kembali saat Serra hampir terbunuh karena berusaha melindunginya. "Intinya, aku hanya ingin jadi lebih kuat untuk bisa melindungi diri sendiri," jelas Ethan.
Sejenak Serra terdiam, kalimat itu membuatnya tidak bisa langsung menjawab. Sebenarnya ada keuntungan tersendiri jika Ethan memiliki kemauan untuk berlatih, namun ia tak yakin akan tetap fokus saat melatihnya.
Angin sore mulai berhembus pelan di antara mereka. Ethan yang menunggu jawaban dari Serra, hanya terdiam sembari meneguk sebotol air mineral miliknya.
"Jika ingin ikut latihan, aku tidak berjanji akan bersikap lembut," ujar Serra tiba-tiba.
Mendengar jawaban Serra, Ethan pun tersenyum,
"lalu kapan kita akan berlatih?," sahutnya.
Melihat ekspresi Ethan yang tampak polos namun antusias tanpa sadar membuat Serra tertawa kecil. Entah mengapa di matanya, sikap Ethan yang sekarang telah kembali sepenuhnya.
"Mengapa tertawa? aku serius, hey Serra," Ethan mulai menyenggol pelan lengan Serra, ia terlihat bingung melihat Serra yang tiba-tiba tertawa, yang padahal menurutnya tidak ada hal lucu yang mereka bahas.
...----------------...
Sementara itu di dalam ruangan khusus organisasi, terlihat seorang pria tinggi, dengan setelan jas serba emas. Pria tersebut sedang duduk santai di kursinya, sembari menyesap cerutu.
Tok tok!
"Hmm", sahut pria tersebut.
Tampak sosok Riven tengah berjalan mendekati meja, tubuhnya membungkuk dalam, tanda memberi hormat. "Duduklah," si pria mulai mempersilahkan duduk, "bagaimana perkembangan misi X?" si pria mulai bertanya tanpa banyak basa-basi.
"Ehm.. begini tuan besar, sebenarnya.." ucapan Riven terpotong. "Perlu waktu berapa lama lagi, sampai organisasi lain berhasil melakukannya?!" tegas si pria yang dipanggil tuan besar itu.
Riven hanya terdiam, raut wajahnya berusaha tenang, menahan rasa gelisah. Ia paham jika sang tuan besar pasti akan mempertanyakannya. Walau sudah banyak upaya yang ia keluarkan untuk mencari keberadaan Serra bersama target miliknya, tetap saja belum ada setitik tanda-tanda dari mereka.
"Apa karena pengkhianat itu?"
Kali ini pertanyaan tuan besar sungguh menyinggung perasaannya, "tidak tuan, beri waktu sedikit lagi, saya akan berusaha lebih keras," balas Riven.
"Dengar, jika sampai organisasi lain yang mendapatkannya, kau tahu akan berurusan dengan siapa?!," suara tuan besar penuh penekanan.
Riven menelan ludah, keringat dingin mulai menetes di pelipis wajahnya, "saya mengerti," timpal Riven.
Setelah dipersilahkan keluar ruangan, Mantan rekan Serra itu melangkahkan kaki dengan cepat, tangannya mengepal menahan perasaan gusar serta takut yang timbul secara bersamaan. Entah apa yang akan dilakukan Riven selanjutnya, tapi keinginannya untuk segera menghabisi semakin menyala.