DI LARANG MENJIPLAK CERITA INI!!!
"Jangan pernah berpikir buat bisa keluar dari dunia gue! Kalau sampai lo nekat kabur, berantakan hidup lo.
Ngerti?"
"Who are you? Siapa lo berani ngancam gue?"
"Kalau lo nggak amnesia, gue suami lo sekarang. Gue cuma mau lo nurut. Gampang, kan?"
_____________________________________
Fattah Andara Fernandez-badboy utama SMA Taruna Jaya Prawira yang memegang bidak king. Di kenal kasar dengan karisma menindas.
Fattah memiliki segalanya. Membuat dia dengan mudah mengikat sesuatu dan menghancurkan apapun yang dia mau.
Kecuali satu...
Aqqela Calista.
Karena pembalasan dendam atas kematian Sandrina -kekasihnya, ayah Aqqela tewas. Tidak puas, Fattah justru menarik Aqqela dan menjeratnya dalam ikatan pernikahan yang sama sekali tidak dia inginkan.
Membawa Aqqela ke Jakarta Selatan dan meninggalkan segalanya di Jakarta Pusat termasuk Oliver Glenn Roberts-pacarnya sekaligus musuh Fattah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kapten cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 Fattah Sakit
Anak-anak yang memadati koridor gedung lantai satu terkejut saat Oliver dan Aqqela berlarian kecil melewati mereka sambil bergandengan tangan.
"Oliver, kita mau kemana sebenarnya?"
"Kita perlu ngobrol, sebelum aku pulang."
Setelah berhasil menemukannya lagi, Oliver berjanji kepada dirinya sendiri untuk menata puing-puing yang pondasinya sempat di runtuhkan karena kebodohannya sendiri.
Jika dari awal dia tidak gengsi untuk mengakui bahwa dia sudah menyukai Aqqela, mungkin, Aqqela tidak akan sehancur ini.
Setelah tau bahwa ayah Aqqela meninggal, Oliver memang selalu ada untuknya, menemaninya, tapi Langit tidak mencoba mencari tau, apa saja yang di lakukan Aqqela selama tidak sedang bersamanya.
Ternyata gadis itu...bekerja di club, hanya demi memenuhi kebutuhan dan tinggal di kos kumuh.
Oh Gosh...dia sangat menderita dan Oliver sangat terlambat tau.
"Gimana soal tawaran aku tadi? Kamu mau kan pulang ke Jakarta Pusat?" tanya Oliver saat mereka di halaman belakang sekolah.
Aqqela mendongak sepenuhnya, "Aku nggak tau. Tapi kayaknya, aku belum bisa buat sekarang."
Oliver melemaskan bahunya, "Kenapa? Di sana bakalan ada aku yang rawat kamu. Papa juga pasti setuju karena dia sayang kamu."
Ayahnya memang menyayangi Aqqela, terlepas dari kasus yang menimpa mantan istrinya.
Iya, mantan istri. Karena sebelum kasus ibunya muncul, mereka sudah lama bercerai dan hak asuh Oliver berpindah ke papanya.
"Boleh aku pikir-pikir dulu, nggak? Ini bakalan susah buat aku bisa balik ke sana. Masih ada hal yang harus aku lakuin di sini."
Iya, sangat susah baginya untuk terlepas dari Fattah Fernandez.
"Aku berharapnya kamu mau. Tapi aku nggak bakalan maksa, kalau di sini kamu seneng. Soal uang, kamu mau kan aku kirim-"
"No. Di sini, biaya hidup aku udah di tanggung. Kamu nggak usah khawatir soal itu."
Oliver mengerutkan kening, "Oh, ya? Kamu tinggal dimana sekarang?"
Aqqela mendadak gelagapan saat di beri pertanyaan itu.
"A-anu, asrama sekolah. Yang gedung tinggi paling kanan."
"Oh, gitu..."
Oliver manggut-manggut percaya, membuat Aqqela menatapnya dengan perasaan bersalah.
"Tapi aku boleh sering-sering main ke Jakarta Selatan, kan?"
Aqqela reflek tersenyum, "Boleh. Tapi jangan berantem sama Fattah, ya!"
Oliver terkekeh, mengusap puncak kepala Aqqela, "Iya, enggak. Eh, aku boleh tanya lagi?"
"Apa?" Mata bulat Aqqela menatap Oliver, membuat Oliver mengalihkan wajah gugup.
"Kamu kenal Fattah?"
Aqqela melebarkan mata, "Y-ya?"
"Kayaknya aneh aja dia ikut campur dan marah-marah kayak tadi."
Aqqela meringis kecil, "Mungkin karena aku anak sekolah sini kali ya, jadinya dia kesel karena aku pacaran sama musuhnya?"
"Iya juga, ya?" Oliver menegak baru sadar.
Aqqela terkekeh, "Emang kamu mikir apa?"
"Kirain aku, dia suka kamu. Hampir aja mau aku ajak tawuran lagi."
"Nggak, lah. Ya kali." Langit tersenyum, merunduk melihat jam tangannya.
"Aku harus balik sekarang. Anak-anak udah nungguin. Maaf nggak bisa lama!"
"Iya." Aqqela mengangguk cepat, "Kamu hati-hati pulangnya!"
"Iya. Tapi peluk dulu!"
Oliver memajukan tubuhnya, lalu memeluk tubuh mungil Aqqela dan menaruh dagunya di bahu kiri gadis cantik itu.
"Kamu juga hati-hati di sini! Jangan deket-deket sama cowok lain, apalagi Fattah Fernandez! Aku cemburu."
Aqqela mengangguk, walau entah kenapa hatinya terasa sakit sekarang.
"Iya. Kamu juga."
Oliver mengangguk pelan dan melepaskan pelukan mereka.
"Aku pulang, ya! Bye!" Dia melambaikan tangan dan berbalik pergi.
"Dadahhh!" Aqqela melambaikan tangan juga.
Oliver menggigit bibir di sela langkahnya. Sesekali melirik ke belakang dengan perasaan memberat.
lagi. Dia berhenti melangkah dan berbalik badan "Aqqela!" panggilnya lantang.
"Ya?" Aqqela tersentak kaget.
Oliver melengkungkan tangannya ke depan bibir menyerupai corong.
"Aku sayang banget sama kamu! Kamu harus tau itu."
Aqqela terkekeh pelan dan mengangguk, "Iya. Hati-hati ya pulangnya! Jangan bandel lagi!"
Oliver jadi tertawa, "Dadahh Aqqela! Besok kita ketemu lagi. Jangan sampai sakit!"
Dan...maafin aku! Maaf karena udah mainin kamu sebelumnya.
Cowok itu berlari pergi, meninggalkan Aqqela yang terpaku diam dengan mata memerah.
Walau tak lama setelahnya, gadis itu merunduk dan mulai terisak pelan dengan bahu bergetar.
Aku harap, kita bertiga nggak terlalu lama menderita.
Kamu...aku dan juga Fattah.
***
Aqqela melangkahkan kakinya keluar dari lift apartemen yang berhenti di lantai 5, sambil menggendong ransel maroon-nya.
Berhenti di depan pintu unit apartemen Fattah, gadis itu diam sebentar sambil menggigit bibir.
Dia menarik napas panjang dan menghembuskannya pelan. Barulah menekan tombol password.
Ceklek!
Pintu di buka. Dia mengintip sedikit.
Sepi.
"Non Aqqela!" panggil bibi Tya.
"Iya, bi?"
"Bibi pamit pulang, ya! Udah mau malam. Bibi udah siapin makan buat non sama den Fattah."
Aqqela mengangguk sambil tersenyum, "Oh ya, Fattah belum pulang ya, bi?"
"Bibi dari tadi nggak ada lihat den Fattah pulang sih, non."
Aqqela melirik jam dinding yang menunjukkan pukul setengah 6 sore.
"Oh, gitu. Makasih ya, bi!"
Bibi Tya langsung pergi meninggalkan apartemen setelah berpamitan, sementara Aqqela segera masuk ke dalam kamarnya.
Dia membuka tirai kamarnya yang memperlihatkan gedung-gedung pencakar langit di depannya.
Netra coklat itu mendongak, melihat langit mendung pertanda akan turun hujan.
***
Fattah menarik gas motornya kencang.
Meliuk-liuk licin melewati jalanan lenggang bersamaan dengan hujan deras mengguyur tubuhnya, membuat luka bekas tawuran di wajah dan tangan yang belum dia obati, terasa perih dan ngilu.
Matanya tampak menajam, rahangnya mengetat di balik helm fullface-nya, dengan cengkraman tangan keras pada setir kemudi.
Tidak...tidak...
Seharusnya dia tidak perlu kecewa dan tersinggung seperti ini.
"Brengsek Aqqela, brengsek!" umpatnya pelan.
Motor itu berbelok memasuki basement apartemen.
Dengan seragamnya sudah basah kuyup, dia melepaskan helm-nya dan turun dari motor menuju ke lift.
Fattah bersandar ke dinding lift, mengeryitkan kening, merasakan kepalanya berdenyut sakit dengan deru napas terasa panas. Tubuhnya juga melemas, mungkin efek alkohol, luka karena tawuran, di tambah kehujanan.
Ting!
Dia melangkahkan kakinya keluar lift menuju ke unit apartemennya dengan langkah pelan dan masuk ke dalam setelah pintu terbuka.
Langkahnya berhenti saat bertemu dengan Aqqela yang lagi menonton TV dan menoleh ke arahnya.
"Eh, K-ka?" Aqqela menggigit bibir, cukup canggung sebenarnya.
"Kenapa hujan-huj-"
Brak!
Aqqela memejamkan mata kaget saat suara pintu kamar Fattah di banting keras.
Dia mendesah panjang, menatap pintu itu dengan dengan sorot mata sulit di artikan.
Sementara di dalam kamarnya, Fattah terduduk lemas di lantai dengan perasaan berkecamuk. Dia meraih sebuah foto di atas nakas dan menatapnya dalam-dalam.
Foto dirinya dan Sandrina yang berpose ceria di sana sambil mengenakan seragam SMA dengan dua logo sekolah berbeda.
"Odit, aku harus apa sekarang?" Serak, Fattah bersuara dengan mata memerah.
"Aku nggak tau kenapa harus se-kecewa ini.
Aku minta maaf!" lanjutnya parau.
***
Aqqela berguling di atas tempat tidur.
Menutupi kepalanya pakai selimut, mencoba memejamkan mata.
"Tuh cowok kenapa pundungan banget, sih?" gerutunya.
Aqqela kembali melirik jam dinding.
Jam 7 lewat 10 menit.
Dia menyibak selimutnya dan melangkah keluar kamar.
Sepi.
"Fattah, lo udah tidur, ya? Kok makanan di dapur nggak di makan?" Aqqela mengetuk pintu kamarnya.
Tidak ada jawaban.
Dia pasti masih marah.
"Ya Tuhan!" erang Aqqela frustasi, lalu mengambil baskom yang di isi air hangat dan juga kotak P3K.
Ceklek!
Aqqela membuka pintu kamar Fattah dan tersentak melihat cowok itu duduk di lantai-dengan kelopak mata menyayu dan melamun diam.
Makin tidak habis pikir lagi karena Fattah masih memakai seragamnya yang basah tadi.
"Elo kok belum mandi? Minimal ganti bajunya, lah. Elo mau sakit, ya?" Aqqela mengomel. Dia menaruh baskom air dan kotak P3K di nakas, lalu menghampiri Fattah.
"Elo juga belum makan. Kalau ngambek sama gue, nggak gini juga caranya," kata Aqqela meraih lengan Fattah dan tersentak karena suhu tubuhnya terasa panas.
"Elo demam?" tanya Aqqela.
"Ck, nggak..." Fattah menepis tangan Aqqela.
"Enggak gimana, orang badan lo demam gini.
Nggak usah sok jagoan, deh! Emang berandalan nggak boleh sakit apa?" omel Aqqela sambil menyentuh kening dan leher Fattah membuat cowok itu tertegun.
Tapi kepalanya sudah benar-benar terasa pusing sekarang. Mengambil napas saja dia sudah kelelahan.
Aqqela melangkah ke lemari dan mengambil kaos serta celana pendek.
"Ayo ganti baju dulu! Habis itu makan terus minum obat."
"Nggak mau."
Aqqela mendelik kecil, "Kok nggak mau? Elo makin sakit nanti, ck."
Lagi-lagi Fattah menepis tangan Aqqela, "Nggak usah sok peduli!" timpalnya dingin.
Aqqela mendesah berat, "Elo marah soal yang tadi? Ya udah iya, maaf! Harusnya gue nggak tampar elo kayak gitu. Mana pipinya yang gue tampar tadi?" tanyanya meraih pipi Fattah, membuat cowok itu pasrah mendongakkan wajah memandang Aqqela.
"Sakit?" tanyanya sambil mengusap pipi Fattah yang memar.
Fattah menelan ludah tercekat, tapi mengalihkan wajah cepat dengan raut wajah dingin.
"Ck, nggak papa," balasnya singkat.
"Elo ganti baju dulu, ya! Gue mau ke dapur, buatin bubur buat lo. Ya?"
Aqqela berdiri, lalu melirik Fattah yang masih diam, "Gue balik ke sini harus udah ganti baju," katanya serius.
Fattah tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya berdiri meraih celana dan kaosnya, kemudian masuk ke dalam kamar mandi.
Aqqela awalnya hendak keluar, tapi tatapannya tak sengaja jatuh ke foto yang tergeletak di lantai. Dia lalu mengambilnya.
"Ini yang namanya Sandrina?" gumamnya memperhatikan gadis yang meringis lucu di foto itu, bersama Fattah yang menaruh dagu di atas kepala gadis itu sambil tersenyum.
Mereka terlihat sangat bahagia.
"Cantik."
Aqqela menghembuskan napasnya panjang dan menaruh foto itu di atas nakas, lalu bergegas keluar.
***
Aqqela menaruh mangkuk berisi bubur hangat, air minum dan obat demam di atas nampan, lalu bergegas menuju ke kamar Fattah.
Ternyata cowok itu sedang tidur sambil memeluk gulingnya.
"Fattah, ayo makan!"
Hening.
Fattah tetap membuang muka, memunggungi Aqqela dan memeluk gulingnya.
Aqqela mendesah berat dan naik ke atas kasur, "Coba sini lihat, mana aja tadi yang sakit, biar di obatin juga!" katanya, mencoba mengalah.
"Nggak usah," jawab Fattah serak tanpa melihat Aqqela yang lagi duduk di belakangnya.
"Nanti malah sakit semua badannya kalau nggak di obatin," bujuk Aqqela.
Fattah melirik sesaat, "Ngapain lo peduli sama suami lo? Urusin aja cowok lo sana!"
Aqqela mendelik, "Gue marah karena elo keroyokan. Makanya gue urusin Oliver. Luka dia lebih parah."
Fattah menoleh sengit, "Bukan gue yang nyuruh mereka," balasnya tak mau kalah dan balik membuang muka sambil memeluk gulingnya, khas merajuk.
Aqqela tidak tau jika Fattah punya sisi kekanakan seperti ini.
"Ya udah iya. Besok-besok kalau kalian berantem lagi, gue langsung obatin dua-duanya, biar lo nggak iri."
"Gue nggak iri, ck." Wajah Fattah langsung keruh.
Aqqela terkekeh kecil, "Ayo sini, gue obatin lukanya!"
Fattah tidak menggubris dan menggeser tubuhnya menjauhi Aqqela, "Nggak perlu."
Aqqela tidak tahan untuk tak mengumpat. Dia meraih kotak P3K dan berpindah posisi di depan Fattah.
Melihat itu, Fattah mendecak dan berguling untuk menghindari Aqqela. Walau diam-diam Fattah meringis karena kepalanya makin berdenyut sakit.
"Heh, apa sih lo? Lo beneran ngambek sama gue? Itu lukanya di obatin biar nggak infeksi."
"Nggak mau. Gue nggak butuh," jawabnya singkat sambil memejamkan mata.
YA TUHANNNNNN!
Aqqela mengerang pelan.
"Udah, nggak usah ngebantah!" Dengan cepat, Aqqela menarik lengan Fattah agar terlentang.
Fattah mendecak, walau tak punya tenaga lagi untuk menolak.
"Jangan ngambek terus!" kata Aqqela mengobati luka Fattah di bagian wajah.
Aqqela perlu membungkuk di atas tubuh Fattah dan mengobatinya dengan telaten.
Fattah diam-diam membeku sendiri saat berada di jarak sedekat ini dengan wajahnya.
"Awh." Fattah meringis kecil saat lukanya di tekan pakai kapas yang di beri pembersih luka,
"Jangan keras-keras, sakit semua..."
"Makanya, nggak usah banyak tingkah!"
Fattah mendecak geram.
"Gue kasih plester demam juga, ya!"
Fattah mengangguk pelan-menurut.
Aqqela menjulurkan tangannya menyentuh kening dan leher Fattah membuat cowok menatapnya.
Barulah Aqqela mengambil plester demam dan menaruhnya di kening Fattah.
"Ayo duduk! Makan terus minum obat."
Aqqela membantunya untuk duduk dengan hati-hati. Fattah bersandar ke kepala ranjang sambil menatap Aqqela yang lagi mengaduk bubur.
"Elo masak?" tanya Fattah serak, membungkus tubuhnya pakai selimut karena kedinginan.
"Kenapa? Anak konglomerat kayak lo nggak bisa masak, ya?"
Fattah menatapnya malas.
"Buka mulutnya, aaaa!"
Menahan kesal, Fattah tetap membuka mulutnya menerima suapan Aqqela.
Gadis itu menatap Fattah yang mengunyah dengan ekspresi menunggu.
"Kenapa? Elo berharap gue muji masakan lo?" tanya Fattah datar membuat Aqqela mengumpat.
"Nggak usah, makasih!" katanya judes.
Padahal Aqqela cuma pengen tau, buburnya udah pas belum di lidah Fattah yang lagi sakit.
Gadis itu terus menyuapinya dengan telaten.
"Mau minum," pinta Fattah membuat Aqqela menyodorkan gelas.
"Sekalian sama obat, ya!"
"Pahit, Ca. Gue nggak suka," katanya serak.
"Tinggal di telan, bukan di kunyah."
"Ogah, gede banget tablet-nya." Fattah menggeleng, menutup mulutnya pakai punggung tangan.
"Ayo buka mulut! Mau sembuh nggak?" kata Aqqela melotot membuat Fattah menurut pasrah dan memasukkan obat ke dalam mulutnya sambil memejamkan mata rapat-rapat, lalu buru-buru meneguk air sambil mengeryit kepahitan seperti anak TK.
Aqqela terkekeh geli.
"Nah gitu dong pinter," kata Aqqela tanpa sadar menyentuh kepala Fattah dan mengacak-acak rambutnya membuat Fattah tertegun dan menatapnya polos.
Aqqela tersentak menyadari hal yang dia lakukan barusan, membuatnya buru-buru menurunkan tangan.
"Tidur, sana! Udah malam," katanya jutek sambil berdiri.
"Mau kemana?" Fattah menahan tangannya cepat.
"Gue mau balikin ini ke dapur, terus tidur."
Fattah mengulum bibir dan mengangguk.
Dia mulai merebahkan tubuhnya kembali, membuat Aqqela membungkuk, menarik selimut hingga menutupi leher Fattah, lalu keluar kamar.
Mau bilang makasih, tapi dia gengsi.
***
Jam 12 kurang 15 menit.
Aqqela keluar dari dalam kamarnya hendak ke dapur mengambil minum. Tapi langkahnya terhenti ketika melewati kamar Fattah.
"Dia udah tidur belum, ya?"
Ceklek!
Pintu di buka pelan. Aqqela mengintip kecil, melihat Fattah yang sudah tidur. Tetapi tidur Fattah tampak gelisah sambil menggumam-gumam pelan.
"Fattah...?" panggilnya menyentuh leher Fattah yang semakin panas.
Aqqela makin kaget saat melihat Fattah menggigil kedinginan dan bibir pucatnya tampak bergetar. Deru napas Fattah terdengar tak beraturan.
Sampai suara Fattah terdengar makin jelas.
"Mami..." gumam Fattah lirih dengan tubuh menggigil dan matanya terpejam rapat.
Aqqela hendak beranjak mengambil selimut, tetapi tangannya di cengkram cepat cowok itu, tetapi matanya belum terbuka.
"Di sini aja, jangan kemana-mana..." pintanya serak dan parau membuat Aqqela tertegun.
Pada akhirnya, dia memilih berbalik, menatap Fattah yang terlelap.
Aqqela duduk di lantai dingin di bawah ranjang, menemaninya dan melihat wajah lelap Fattah dengan tangannya di genggam, hingga dia tidak sadar mulai ikut tertidur.
***
Aqqela mengerjap-ngerjap tepat saat pukul 2 pagi. Mendongak melihat Fattah yang makin menggigil dan panasnya tidak turun-turun.
"Ka, jangan bikin gue panik gini dong," katanya khawatir sambil naik ke atas kasur.
Bibir Fattah bergerak menggumam pelan.
"Jangan sakit-sakit lagi! Nggak cocok sama muka jahat lo," ucap Aqqela dengan tangan kirinya menyelinap ke belakang leher Fattah, menariknya mendekat sambil mendekap kepala pemuda itu.
Aqqela merunduk melihat Fattah mencerukkan wajahnya ke ceruk leher Aqqela, mencuri kehangatan.
Rasa hangat seketika menerpa kulit leher gadis itu, karena deru napas Fattah.
Wajahnya yang seperti ini, membuatnya terlihat polos seperti bayi. Tidak seperti Fattah yang menyeramkan saat bangun.
"Mi...."
"Sshhh, udah-udah!" Aqqela menepuk-nepuk punggung Fattah menenangkan.
Entah sadar atau tidak, Fattah justru memeluk tubuh Aqqela dan menenggelamkan wajahnya di dada gadis itu, merasakan hangat yang mulai menyerbu, dengan Aqqela menarik selimut menutupi tubuh keduanya.
"Tidur ya, udah malam!" bisik Aqqela lembut sambil mengoleskan minyak kayu putih ke leher Fattah supaya lebih hangat.
"Peluk...!" serak, dia bersuara seiring dengan dekapan tangannya ke tubuh Aqqela makin erat. Dia mengigau lagi.
"Ini udah di peluk," katanya mengusap kepala Fattah.
"Bukan gue pembunuhnya..." gumam Fattah.
Aqqela tersentak dan melebarkan mata kaget.
Entah kenapa tubuhnya jadi terasa menegang sekarang.
"Jangan marah..." katanya kembali bergumam lirih dalam tidurnya.
Kedua bahu Aqqela langsung menurun. Dia membeku dengan wajah memucat.
Aqqela merunduk sedikit, menatap Fattah yang terlelap mulai nyenyak.
"Iya, habis ini nggak marah lagi," jawab Aqqela pelan.
Hujan malam itu kembali turun.
Dinginnya udara membuat Aqqela ikut memejamkan mata saat rasa kantuk menguasai dengan pipi kirinya menempel di kening Fattah, sementara pelukan Fattah pada tubuhnya kian mengerat.
***