Bela tidak pernah berniat mencari masalah. Ia hanya ingin melarikan diri sejenak dari rumah yang penuh pertengkaran, dari hidup yang terasa terlalu berat untuk dipikul sendiri. Bersama dua temannya, ia masuk ke sebuah klub malam—tanpa tahu bahwa malam itu telah disiapkan untuknya.
Kepercayaan berubah menjadi pengkhianatan.
Kesadaran berubah menjadi kehilangan kendali.
Sementara itu, seorang pria yang tak dikenalnya juga sedang lari dari hidupnya sendiri—dari tekanan keluarga, tuntutan pernikahan, dan masa depan yang terus dipaksakan. Malam itu hanyalah pengalihan baginya. Bagi Bela, malam itu adalah awal dari segalanya.
Takdir mempertemukan dua orang asing dalam cara yang salah.
Dan dari kesalahan itu, lahir konsekuensi yang tak bisa dihindari.
Sebuah kisah tentang pilihan, manipulasi, dan bagaimana satu malam dapat mengikat dua jiwa—hingga bertahun-tahun kemudian, ketika rahasia itu kembali menuntut jawaban.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Auvy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 : (WARNING!!! 21+) Susu yang Enak
Raka melangkah masuk ke dalam apartemen Bela dengan aura dominan yang sulit diabaikan. Ia segera duduk di sofa ruang tamu yang empuk, menyandarkan punggungnya sembari menyisir pandangan ke setiap sudut ruangan. Matanya yang tajam menangkap betapa rapinya setiap barang di sana, semuanya diletakkan pada tempatnya dengan presisi yang menunjukkan kepribadian pemiliknya yang teratur.
Bela yang masih merasa sedikit pening, mencoba memecah kecanggungan.
"Oh, mumpung kebetulan di sini... Boleh tolong pasangin gas gak? Pak Raka, hehehe..." ucap Bela dengan nada meminta tolong yang sedikit jenaka. Karena tidak terbiasa tinggal sendiri di tempat baru, ia memang sering mengalami kesulitan teknis seperti ini.
"Udah gue bilang bakalan direpotin lagi ama lu," gumam Raka pelan, namun ia tetap berdiri dan mengikuti Bela dari belakang menuju area dapur.
"Biasanya gue manggil tetangga, sih. Ada ibu-ibu tinggal berdua ama putrinya doang, tapi mereka lagi gak ada kayaknya," tambah Bela sembari menunjukkan tabung gas di bagian bawah penutup.
Raka mulai berlutut, tangannya yang kekar dengan cekatan memasang regulator. Sementara itu, Bela memperhatikannya sembari duduk santai di atas meja kayu ukuran sedang yang terletak di tengah dapur. Meja itu tampak mewah, kontras dengan kesederhanaan apartemennya.
"Lu bisa hidup mandiri?" tanya Bela tiba-tiba, rasa penasarannya tak terbendung melihat pria berseragam itu tampak mahir melakukan pekerjaan domestik.
"Menurut lu? Bahkan gue jago masak kalau lu mau tahu," sahut Raka tanpa menoleh, masih sibuk memastikan tidak ada kebocoran gas.
"Serius? Alah, bohong pasti! Masa sih?" pancing Bela dengan wajah sumringah. Ada rasa kagum yang menyelinap di hatinya mengetahui bahwa pria sekaku Raka ternyata serba bisa.
"Di rumah, mau pagi, siang, atau malam... kalau gue laper, ya gue masak sendiri," ucap Raka sembari berdiri setelah menyelesaikan tugasnya. Ia kini berdiri tepat di hadapan Bela, membuat jarak di antara mereka terpangkas habis. Mata mereka saling mengunci.
"Emang itu hobi lu atau gimana?" tanya Bela lagi, mencoba menjaga percakapan tetap mengalir.
"Gak juga. Soalnya memang gak ada pembantu. Gue emang gak suka ada orang lain di rumah gue, kurang nyaman aja kalau privasi keganggu," papar Raka dengan nada bicara yang lebih lunak dari biasanya.
"Jadi... hobi lu apaan?"
Raka menyunggingkan senyum tipis yang penuh teka-teki. "Mau saling tebak? Yang salah nebak, dia harus minum," tawar Raka sembari meraih botol anggur yang kebetulan ada di rak tepat di belakang Bela.
"Oh, nggak. Gue lagi gak minum alkohol," jawab Bela cepat. Ia teringat akan kondisinya yang sedang mengandung. Ia segera bergerak maju, membuka lemari bagian atas yang terpasang mengelilingi dapur tersebut, lalu mengeluarkan satu kotak susu besar.
"Bagaimana kalau gantinya ini?" tawar Bela sembari menggoyang-goyangkan susu itu dengan ringan.
"Sure!" ucap Raka singkat. Sebenarnya, ia juga penasaran dengan latar belakang Bela. Mungkin karena... jauh di dalam hatinya, Bela adalah tipe wanita idealnya.
Mereka beralih kembali ke sofa ruang tamu. Duduk bersampingan dengan susu kotak besar dan dua gelas kaca kecil di atas nakas sebelah mereka. Suasana berubah menjadi lebih santai, namun ada tegangan listrik yang mulai terasa di udara.
"Oke, gue duluan," ujar Raka semangat.
Permainan dimulai.
"Lu berasal dari keluarga kaya dan memilih hidup sendiri, kan? Mungkin punya masalah besar, atau... malah kabur dari rumah?"
Pernyataan itu meluncur seperti peluru yang tepat sasaran. Jantung Bela berdegup kencang. Ia tidak menyangka dirinya begitu mudah dibaca oleh Raka. Karena merasa kalah dalam tebakan pertama, Bela menuangkan susu ke gelasnya, lalu meneguknya hingga habis dalam sekali telan.
Raka terbelalak melihat reaksi Bela. "Serius? Lu beneran punya masalah atau kabur?" tanya Raka dengan rasa penasaran yang meluap. Ia menghapus jarak di antara mereka, kini keduanya duduk bersila di atas sofa empuk itu, saling berhadapan.
Bela hanya meletakkan telunjuk di bibirnya, isyarat agar Raka diam. "Satu orang, satu tebakan. Sekarang giliran gue," ucap Bela. Karena serangan Raka terlalu pribadi, Bela merasa harus membalas dengan hal yang sama.
"Lu nikah sama Ibu Melani karena perjodohan, tapi sampai sekarang kayaknya kalian belum ada rasa ketertarikan satu sama lain."
Bela teringat kejadian di basement hotel Bandung. Ia yakin tidak ada ikatan hati antara Raka dan Melani, itulah sebabnya Melani berani berkhianat. Jika dugaannya salah dan ternyata Raka mencintai istrinya, maka perbuatan Melani benar-benar keji di mata Bela.
Raka tidak menjawab dengan kata-kata. Ia meraih gelas, menuangkan susu, lalu meminumnya dengan tenang. "Bukannya itu sudah kelihatan jelas?" ucapnya pahit.
Bela terdiam, menyimak pengakuan tersirat itu. Pandangannya beralih pada seragam biru khas Angkatan Laut yang dikenakan Raka. "Cita-cita lu jadi TNI Angkatan Laut?" tanya Bela lagi, mencoba menggali sisi lain.
Raka meletakkan telunjuk di bibirnya persis seperti Bela tadi, memberi isyarat agar Bela diam.
"Oh, okay! Satu-satu," seru Bela sembari tertawa malu saat menyadari ia melanggar aturan main dengan bertanya dua kali.
Namun, beberapa detik kemudian Raka justru mulai bercerita.
"Cita-cita gue dulu jadi pilot," jawab Raka akhirnya. Tatapannya menerawang ke dinding di belakang Bela, mengulik kenangan lama yang terkubur. "Gue rasa cuma punya satu mimpi itu, sampai-sampai gue beli semua mainan pesawat, gambar pesawat, bahkan bikin kerajinan pesawat," ujar Raka dengan senyum yang tulus.
Saat ia kembali menatap Bela, senyum itu belum memudar.
'Deg, deg, deg.'
Jantung mereka berdua berdebar sangat kencang dalam kesunyian. Semakin lama mereka bertatapan, semakin kuat daya tarik yang muncul. Bela menatap bibir Raka yang sedang tersenyum, dan pikirannya mulai liar. Lengannya yang kekar, dada bidang di balik seragam itu, aroma parfum yang maskulin... bisakah ia mencicipinya sedikit saja?
Rasa kagum mendorong Bela melampaui batas kewarasannya. Ia memajukan wajahnya, dan....
'Cup'
Bela mengecup bibir Raka dengan lembut selama beberapa detik. Raka membulatkan mata, terkejut dengan keberanian asisten istrinya itu.
Sedetik kemudian, Bela tersadar. Ia menarik diri dengan panik, memegangi mulutnya sendiri. "Oh astaga! Sorry! Maaf maaf!" pekiknya dengan wajah merah padam. Ia memundurkan posisi duduknya, tertunduk malu karena menyesali naluri gilanya.
Nyatanya, ruangan tertutup yang sunyi dengan sepasang pria dan wanita memang berbahaya.
Melihat reaksi Bela, Raka justru menyunggingkan senyum nakal. Dengan satu gerakan cepat, ia menarik lengan Bela hingga wanita itu jatuh ke dalam pelukannya, tepat di pangkuan Raka.
"Giliran gue," bisik Raka berat. Ia menuangkan susu ke gelas kecilnya. Bela meneguk ludah, ia bisa merasakan panas tubuh Raka dan sesuatu yang menonjol di bawah sana.
"Lu ada rasa tertarik sama gue, kan? Sejak awal?" tanya Raka sembari menatap manik mata Bela begitu dalam.
Bela membisu. Napasnya terasa sesak, tangannya mendadak dingin karena gugup yang luar biasa. Raka tidak menunggu jawaban verbal. Ia meraih gelas susu, meminumnya, namun tidak langsung menelannya. Ia meraih kedua pipi Bela, memaksa mulut wanita itu terbuka, dan mengalirkan susu itu dari mulutnya ke mulut Bela hingga tertelan habis.
Naluri liar mengambil alih. Begitu susu habis, Raka melepaskan pertautan sejenak untuk mengelap sisa susu di bibir Bela, sebelum akhirnya kembali mengulum bibir itu dengan lebih dalam.
'Sial! Kenapa gue nikmatin semua ini!' Bela memaki dirinya sendiri di dalam hati, tetapi tubuhnya justru merespons dengan hangat. Ia tidak menolak. Ia justru menginginkannya. Mereka hanyut dalam cumbuan panas, sampai tangan Raka mulai bergerak liar meremas gundukan milik Bela.
Bela mendesah ringan, tubuhnya tersentak kaget. Raka berhenti sejenak, menatap manik mata Bela yang berbinar penuh gairah. "Boleh gak?" tanya Raka meminta izin, meski terlambat.
Bela hanya mengangguk kecil dengan senyum malu. Tanpa berlama-lama, Raka kembali menyerang bibirnya sembari meremas bagian sensitif Bela dengan ritme yang mengikuti tautan mulut mereka. Suara decapan dan napas yang memburu memenuhi ruang tamu.
'Tring... Tring....'
Dering telepon memecah suasana. Keduanya kompak menoleh ke arah nakas. Nama yang tertera di layar ponsel Bela membuat jantungnya seakan mau copot.
'Ibu Melani'
"Angkat," perintah Raka dengan suara serak, sembari menyerahkan ponsel itu kepada Bela.
Dengan tangan gemetar, Bela menggeser layar. "Halo... Bu... ahh..!" Bela mendesah kaget. Alih-alih berhenti karena telepon istrinya, Raka justru bertindak lebih gila. Pria itu membuka paksa baju Bela, menyibak branya, dan mulai menyusu layaknya anak kecil yang haus.
"Kamu di mana, Bel? Ini sudah jam sepuluh, kamu belum datang juga. Saya sudah di lobi kantor," suara Melani terdengar dari seberang telepon, diiringi suara langkah kaki yang bergema.
Bela menutup mulutnya dengan tangan sebelah, mencoba sekuat tenaga menahan desahan nikmat yang hampir lolos. Lalu beralih menjambak rambut Raka, mencoba memberikan peringatan namun tubuhnya justru merasa keenakan.
"Ah... Bu, maaf. Saya lagi sakitttt... jadi hari ini gak masuk-hh," ucap Bela dengan suara yang tertahan dan bergetar.
"Oh gitu ya, kamu kecapean habis dari Bandung kayaknya. Dari suaramu saja sudah ketebak, lemes banget. Kamu istirahat saja dulu kalau gitu, usahakan besok masuk ya, Bel," ucap Melani tanpa curiga sedikit pun.
"Hmmmhhh... iyahh... Bu," lenguh Bela di akhir kalimat. Bukan karena sakit, melainkan karena kenikmatan yang diberikan oleh suami dari wanita yang sedang berbicara dengannya di telepon. Bela sampai harus mengigit bibir bawahnya untuk menahan kenikmatan itu.
Begitu sambungan terputus, Bela melempar ponselnya sembarang arah, membiarkan dirinya tenggelam lebih dalam pada pengkhianatan yang terasa begitu manis bersama Raka.