NovelToon NovelToon
TERJEBAK HASRAT LIAR KAKAK IPAR KU

TERJEBAK HASRAT LIAR KAKAK IPAR KU

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:6.7k
Nilai: 5
Nama Author: Las Manalu Rumaijuk Lily

Brakkk..!
"Apa yang kakak lakukan?" teriak Laura terkejut,pasalnya kakak iparnya,Lexi menerobos kamarnya lalu mengunci pintu dari dalam.
"Apa yang kulakukan? tentu saja menemui wanita yang berhasil membuatku berhasrat!" kekehnya tidak tahu malu.
"keluar kak!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Las Manalu Rumaijuk Lily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

8

​Setelah Alex pergi terbang ke luar kota, meninggalkan Laura sendiri di rumah besar itu, kesunyian yang menggantung terasa lebih berat daripada biasanya.

Kepergian Alex bukan lagi jeda, melainkan undangan.

​Tepat pukul 10 malam, ponsel Laura bergetar. Sebuah pesan teks, bukan dari Alex, melainkan dari nomor yang sudah ia hafal: Lexi.

​Lexi: Alex sudah mendarat. Dia akan sibuk sampai besok pagi. Ruang tamu terlalu terbuka. Aku akan menunggumu di ruangan kerjaku. Bawa kuncimu.

​Jantung Laura berdegup kencang. Ia menyentuh laci, mengeluarkan kalung kunci perak itu, dan menggantungkannya di lehernya. Kali ini, ia tidak berusaha menyembunyikannya di balik rambut. Ia mengenakan gaun tidur sutra tipis, sebuah penyerahan diri yang disengaja.

​Ia berjalan menuju kamar kerja Lexi yang terletak di sayap timur rumah. Ruangan itu kedap suara, berlapis kayu gelap, dan selalu terasa dingin—sebuah benteng kekuasaan Lexi.

​Pintu sudah tidak terkunci.

​Laura melangkah masuk. Ruangan itu hanya diterangi oleh lampu meja kecil di atas meja besar Lexi.

Lexi sedang duduk, bersandar santai di sofa kulitnya, dengan sebatang cerutu yang belum dinyalakan di tangannya.

Ia tidak membawa berkas pekerjaan, hanya segelas whisky di sampingnya.

​Lexi mendongak, matanya yang tajam langsung mengunci pandangan Laura. Ia tidak tersenyum. Ia hanya mengangguk kecil, sebuah gerakan yang menyampaikan pengakuan dan kepuasan.

​“Aku tahu kau akan datang, Laura,” suaranya berat, rendah, dan penuh otoritas. “Selamat datang di penjara pribadimu.”

​Lexi berdiri, dan ruangan itu terasa semakin kecil. Ia berjalan mengelilingi meja, langkahnya lambat dan terukur, mengelilingi mangsanya.

​“Kamu mengenakan kalung itu,” bisik Lexi, matanya tertuju pada kunci perak yang berkilauan di leher Laura. “Itu berarti kamu sudah memutuskan. Kau lebih memilih gairah yang jujur daripada kebohongan yang aman.”

"Kamu yang memaksa ku menerimanya,kalau kamu lupa!" Desis Laura membela diri.

"Tapi kamu suka kan?" Seringai Lexi tidak habis akal.

​Laura tidak menjawab. Ia hanya berdiri mematung, menahan napas. Ia tahu kata-kata tidak akan mengubah apa pun di ruangan ini.

​Lexi berhenti tepat di depannya. Aroma kayu, tembakau, dan whisky bercampur, menciptakan aura maskulin yang mengintimidasi.

​Ia mengangkat tangannya, bukan untuk menyentuh Laura, melainkan untuk menyentuh kunci itu lagi. Jari-jarinya yang besar menekan lembut logam dingin itu ke kulit Laura.

​“Alex sedang bekerja keras di luar sana, berjuang demi masa depan yang aku ciptakan untuknya,” kata Lexi, suaranya kini terdengar seperti teguran. “Dia tidak menyadari bahwa masa depannya, dan masa depanmu, ada di tanganku.”

​Lexi menarik kalung itu sedikit, membuat Laura refleks maju selangkah, mendekat ke tubuhnya.

​“Aku tahu apa yang kamu inginkan, Laura. Bukan hanya gairah. Tapi kendali. Kamu ingin seseorang yang bisa melihatmu, yang bisa membuatmu merasa hidup. Dan Alex, dia tidak pernah benar-benar melihatmu, kan?”

​Air mata Laura menetes. Bukan karena sedih, melainkan karena kebenaran yang kejam dari ucapan Lexi.

​“Aku adalah sipir penjara yang menawarkanmu kebebasan dari hidup yang membosankan itu,” Lexi melanjutkan. “Tapi harganya mahal, Sayang. Hati-hati. Karena setiap langkah yang kamu ambil di ruangan ini, akan mengikat Alex lebih erat padaku, dan dirimu lebih erat padaku.”

​Lexi tiba-tiba menyeringai, senyum yang mematikan. Ia menjatuhkan kalung kunci itu, membiarkannya terlepas.

​“Jangan buang waktu, tawanan cantikku,” bisik Lexi, menarik Laura mendekat, mendekapnya erat. “Mari kita buat kenangan yang akan kau bawa pulang ke kamar tidur Alex. Kenangan yang akan membuatmu memimpikanku setiap malam.”

​Lampu meja di ruangan itu berkedip, seolah menjadi saksi bisu, sebelum kemudian ruangan itu diselimuti oleh kegelapan yang tenang, hanya menyisakan suara bisikan dan janji terlarang di bawah atap yang seharusnya menjadi rumah aman.

​Di dalam kamar kerja yang diselimuti kegelapan itu, kata-kata Lexi menjadi satu-satunya cahaya, membakar sisa-sisa pertahanan Laura. Begitu Lexi menariknya mendekat, penolakan yang rapuh di hati Laura langsung runtuh.

​Ciuman Lexi berbeda. Bukan lagi ciuman tergesa-gesa yang mendesak, melainkan ciuman yang lambat, berkuasa, dan penuh pengakuan—pengakuan akan kepemilikan.

Setiap sentuhannya terasa disengaja, sebuah penegasan bahwa di dalam rumah ini, di bawah ketiadaan Alex, kendali sepenuhnya berada di tangannya.

​“Kamu pantas mendapatkan ini, Laura,” bisik Lexi di telinga Laura, suaranya serak. “Bukan sekadar perhatian yang lembut.

Tapi gairah yang jujur. Gairah yang membuktikan bahwa kamu adalah manusia, bukan sekadar pelengkap.”

​Lexi tidak terburu-buru. Ia bergerak dengan kesabaran seorang pemburu yang menikmati setiap langkah jebakan yang telah ia pasang.

Gaun tidur sutra Laura adalah rintangan yang mudah ia singkirkan. Kunci perak di leher Laura, yang kini menjadi simbol ketaatan, terasa hangat di bawah sentuhan Lexi yang panas.

​Di tengah keheningan, Lexi mengangkat Laura, membawanya ke sofa kulit yang besar dan mewah di sudut ruangan.

Sofa itu menjadi altar bagi pengkhianatan mereka, sebuah tempat di mana Laura menemukan pembebasan yang paling ia benci dan paling ia dambakan.

​Lexi membiarkan lampu meja tetap menyala remang-remang, cukup untuk melihat mata Laura. Ia ingin Laura melihat dan mengingat setiap detail dari penyerahan dirinya.

​Saat penyatuan itu terjadi, Laura tidak lagi melawan. Ia membiarkan dirinya tenggelam dalam pusaran kendali Lexi, membiarkan Lexi memimpin, membiarkan Lexi menjadi satu-satunya realitasnya di malam itu.

G4irah yang dilepaskan Lexi adalah banjir yang menghanyutkan rasa bersalah, hanya menyisakan kebutuhan primitif yang Laura sendiri tidak tahu ada di dalam dirinya.

​Lexi bergerak seperti ia memiliki segalanya—rumah ini, perusahaan Alex, dan kini, tubuh dan jiwa Laura.

​“Ingat ini, Sayang,” Lexi mendesis, suaranya berat karena kepuasan, saat gairah mereka mencapai puncak. “Ini adalah janji kita. Kamu adalah milikku. Kamu adalah tawanan yang hanya bisa aku lepaskan.”

​Laura hanya bisa mencengkeram bahu Lexi, suaranya tercekat. Di momen keintiman yang mengerikan itu, dia menyadari bahwa Lexi tidak hanya mendapatkan tubuhnya, tetapi juga mendapatkan kontrol atas emosi tersembunyi Laura.

​Setelah semuanya usai, Lexi tidak memeluk Laura. Ia kembali berdiri, merapikan kemejanya, kembali menjadi pria bisnis yang dingin dan berkuasa.

Sementara Laura masih terbaring di sofa, terengah-engah, tubuhnya terasa hangat, namun jiwanya beku.

​Lexi menuangkan sedikit whisky ke dalam gelasnya. Ia menatap Laura, tatapan yang tenang, tidak terpengaruh, seolah baru saja menutup kesepakatan bisnis yang menguntungkan.

​“Kamu harus segera kembali ke kamarmu,” perintah Lexi, nadanya mutlak. “Dan jangan pernah lupa apa yang sudah kita bicarakan.”

​Laura duduk, menarik jubah Lexi untuk menutupi dirinya. “Tentang apa?”

​“Tentang suamimu,” Lexi menegaskan, menyesap minumannya. “Aku serius, Laura. Kamu adalah properti yang harus dijaga kebersihannya.”

​Lexi meletakkan gelasnya, berjalan menuju Laura, dan membungkuk, menatapnya tajam.

​“Mulai sekarang, sampai kau datang bulan berikutnya, Alex tidak boleh menyentuhmu. Tidak ada keintiman. Aku ingin ada jarak. Jarak yang kamu ciptakan, bukan aku. Itu adalah tugasmu sebagai tawanan yang patuh.”

​“Bagaimana jika dia curiga?” tanya Laura, suaranya gemetar.

​“Itu urusanmu. Gunakan alasan sakit kepala, lelah, atau penyakit perut yang kamu gunakan tadi pagi. Aku tidak peduli,” Lexi mengangkat bahu, kejam. “Jika dia sampai mencurigai sesuatu, dan jika dia sampai menyentuhmu, kamu tahu konsekuensinya. Aku akan menarik semua dukungan darinya. Kamu tahu betapa rapuhnya posisinya tanpa aku.”

​Lexi menyentuh dagu Laura, mengangkat wajahnya. “Aku melakukan ini untuk kita berdua. Untuk Alex yang polos, agar ia tetap fokus pada pekerjaan yang aku berikan, dan untukmu, agar kamu tetap merindukanku. Kamu harus merindukanku, Laura. Kamu harus memimpikanku saat kamu tidur di sampingnya.”

​Lexi mengambil kunci perak dari leher Laura, dan memutarnya di tangannya, sebelum mengembalikannya.

​“Kunci ini adalah belenggumu. Kamu membawanya, kamu datang padaku. Sekarang, kunci ini adalah pengingat harianmu bahwa kamu sedang melayani dua tuan, dan salah satunya adalah musuh tuanmu yang lain.”

​“Pergilah. Aku tidak mau kamu ada di sini saat subuh.”

​Laura bangkit, mengenakan jubahnya dengan tergesa-gesa. Ia berjalan keluar dari kamar kerja Lexi, kembali ke kegelapan rumah.

Ia berjalan di lorong yang sunyi, dengan hati yang hancur berkeping-keping.

​Ia kembali ke kamar tidurnya. Kamar itu terasa dingin, kosong, dan dipenuhi oleh bau Lexi yang ia bawa pulang. Ia berbaring di tempat tidur, di sisi Alex yang kosong, dan ia tahu, malam ini, ia akan memimpikan sipir penjaranya.

​Bersambung...

1
Sarinah Quinn
kasian Laura Thor tolong lah Laura dari kebejatan lexi🙏🙏🙏
Sarinah Quinn
lanjut lagi thor 🙏
Fitria Syafei
waduh maju kena mundur kena nih 🙄 KK cantik kereen 😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!