Asiyah Musfiroh adalah fenomena di Pondok Pesantren Ar-Rahma. Kecerdasannya melampaui logika; mengkhatamkan 30 juz Al-Qur'an hanya dalam setahun hingga dijuluki sang "Permata". Namun, cahaya itu justru mengundang takdir yang tak pernah ia pilih.
Ustadz Ahmad Zafran Al Varo, pengajar muda yang karismatik, terpikat pada kedalaman ilmu dan adab Asiyah. Tanpa menunggu lama, di depan wali santri, Zafran mengutarakan khitbahnya. Tanpa diskusi, apalagi restu sang putri, orang tua Asiyah langsung menerima lamaran sang Ustadz.
Bagi semua orang, ini adalah pernikahan impian. Namun bagi Asiyah, ini adalah penjara. Ia terjepit di antara pengabdian kepada orang tua dan kejujuran hatinya yang menolak sosok Zafran yang dianggapnya terlalu "sempurna".
"Bagaimana mungkin aku bisa menjaga wahyu Tuhan di dalam dadaku, jika hatiku dipenuhi kepura-puraan terhadap imam yang tidak pernah kupinta?"
Saat ketaatan berbenturan dengan rasa, mampukah cinta tumbuh di sela-sela ayat suci...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khaassyakira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DIALOG DI BALIK TABIR
Resepsi pernikahan telah usai. Kebisingan suara rebana dan ucapan selamat dari ribuan santri kini berganti dengan sunyi yang mencekam di dalam kamar baru mereka. Kamar itu tertata rapi dengan hiasan bunga melati yang aromanya memenuhi ruangan, namun bagi Asiyah, wangi itu terasa menyesakkan. Ia masih mengenakan kebaya pengantinnya, duduk di tepi ranjang dengan punggung tegak, sementara Zafran baru saja selesai melaksanakan shalat sunnah dua rakaat di sudut kamar.
Zafran melipat sajadahnya dengan gerakan yang sangat tenang. Ia melirik istrinya yang tampak seperti patung lilin yang indah namun dingin. Zafran memahami bahwa malam ini bukanlah malam untuk menuntut hak, melainkan malam untuk membangun jembatan di atas jurang perbedaan yang terbentang luas.
"Asiyah, apakah kau tidak ingin mengganti pakaianmu? Kau tampak sangat kelelahan," ujar Zafran sembari duduk di kursi kayu, menjaga jarak agar istrinya tidak merasa terancam.
Asiyah menoleh, matanya yang tajam menatap Zafran tanpa ragu. "Pakaian ini adalah simbol dari kontrak yang baru saja saya tanda tangani secara paksa, Ustadz. Melepasnya berarti saya mengakui bahwa tugas saya sebagai pajangan di pelaminan telah selesai, namun tugas saya sebagai tawanan baru saja dimulai."
Zafran tersenyum tipis, ia mengagumi cara Asiyah tetap menggunakan diksi yang kuat bahkan dalam kondisi tertekan. "Kontrak itu bernama akad nikah, Asiyah. Dan di dalam Islam, tidak ada tawanan dalam sebuah pernikahan yang sah. Yang ada hanyalah mitra dalam ketaatan."
"Ketaatan yang mana? Ketaatan yang dibangun di atas pengabaian aspirasi seorang wanita?" tanya Asiyah dengan nada menantang.
"Asiyah, mari kita bicara sebagai dua orang penuntut ilmu. Kau menyebut aspirasi. Apakah menurutmu pernikahan ini secara otomatis menghapus cita-citamu ke Al-Azhar?" tanya Zafran balik dengan tenang.
Asiyah berdiri, berjalan menuju jendela yang menatap langit malam Ar-Rahma. "Secara empiris, banyak perempuan cerdas di pondok ini yang akhirnya hanya berakhir di dapur setelah menikah dengan pengurus pesantren. Mereka kehilangan tajamnya logika karena terlalu sibuk dengan urusan domestik. Saya tidak mau menjadi statistik kegagalan itu."
Zafran bangkit dari duduknya, namun ia tetap berdiri di tempatnya. "Maka jadilah pengecualian. Aku tidak memintamu berhenti belajar. Justru aku ingin menjadi teman diskusimu setiap malam. Apakah kau pikir aku melamarmu hanya untuk menjadikanku pelayan di rumah ini?"
"Lalu untuk apa? Untuk menunjukkan pada dunia bahwa Anda berhasil menaklukkan santriwati paling cerdas di sini?" cecar Asiyah.
"Aku melamarmu karena aku butuh seseorang yang mampu mengoreksi hafalanku saat aku lupa, seseorang yang mampu mendebat argumenku saat aku keliru dalam mengambil keputusan hukum, dan seseorang yang mampu menjaga cahaya Al-Qur'an bersamaku," jawab Zafran dengan nada yang sangat tulus.
Asiyah terdiam sejenak. Kalimat Zafran masuk ke dalam celah logikanya, namun egonya masih menolak untuk luluh. "Jika benar begitu, buktikan. Berikan saya jaminan bahwa Anda tidak akan menghalangi saya untuk berangkat ke Mesir tahun depan."
Zafran berjalan mendekati meja belajar yang ada di kamar itu. Ia mengambil sebuah map berwarna hijau yang ternyata sudah ia siapkan. "Buka ini, Asiyah."
Asiyah melangkah ragu, lalu membuka map tersebut. Matanya terbelalak saat melihat isinya. Itu adalah draf formulir pendaftaran pascasarjana di Universitas Al-Azhar, lengkap dengan surat rekomendasi yang sudah ditandatangani oleh kiai sepuh dan Zafran sendiri sebagai penjamin.
"Apa ini?" tanya Asiyah lirih, suaranya sedikit bergetar.
"Itu adalah buktiku. Aku sudah mengurusnya jauh sebelum hari akad ini. Aku tidak pernah berniat memasungmu. Aku justru sedang menyiapkan landasan agar kau bisa terbang lebih tinggi," jelas Zafran.
Asiyah menatap lembaran kertas itu dengan perasaan yang berkecamuk. Ada rasa haru yang ingin membuncah, namun ia segera menekannya. "Kenapa Anda melakukan ini? Kenapa tidak memberitahu saya sejak awal?"
"Karena aku ingin kau tahu bahwa ketaatanmu kepada orang tua tidak akan pernah menyia-nyiakan masa depanmu. Allah selalu punya jalan bagi hamba-Nya yang bersabar," ucap Zafran.
"Tapi ada satu syarat," lanjut Zafran lagi, yang membuat Asiyah kembali waspada.
"Sudah saya duga. Apa syaratnya? Apakah saya harus menjadi istri yang penurut dan melupakan kemandirian saya?" tanya Asiyah sinis.
Zafran menggelengkan kepala. "Tidak. Syaratnya adalah kau harus mengizinkanku pergi bersamamu. Aku sudah mengajukan beasiswa penelitian di sana. Aku ingin kita belajar bersama, berjuang bersama di tanah para nabi itu. Aku tidak ingin kita terpisah oleh jarak yang hanya akan menimbulkan fitnah."
Asiyah tertegun. Ia tidak menyangka Zafran akan melangkah sejauh itu. Lelaki ini tidak hanya mendukung mimpinya, tapi juga ingin menjadi bagian dari mimpi tersebut. Namun, tetap saja, ada rasa sesak karena ia merasa segalanya telah diatur oleh Zafran tanpa keterlibatannya.
"Anda mengatur segalanya seolah-olah hidup saya adalah bidak catur dalam permainan Anda, Ustadz. Apakah Anda pernah bertanya apakah saya ingin pergi bersama Anda?" tanya Asiyah.
"Lalu, apakah kau lebih suka pergi sendiri dan meninggalkan suamimu di sini? Dalam hukum safar, seorang wanita membutuhkan mahram, Asiyah. Aku hanya mencoba menjalankan peran itu dengan sebaik mungkin," jawab Zafran.
Asiyah duduk kembali di tepi ranjang, merasa kalah dalam perdebatan kali ini. "Anda sangat pandai bersilat lidah. Anda menggunakan dalil dan fasilitas untuk mengunci saya agar tidak punya alasan lagi untuk membenci pernikahan ini."
"Aku tidak ingin menguncimu, Asiyah. Aku hanya ingin kita mulai membangun kepercayaan. Malam ini, aku tidak akan menuntut hak biologisku sebagai suami jika kau belum siap. Aku ingin kita memulai malam ini dengan tadarus bersama. Bagaimana?" tawar Zafran.
Asiyah mendongak, merasa sedikit lega namun juga heran. "Tadarus?"
"Ya. Surah Al-Imran. Kita mulai dari ayat pertama. Aku ingin mendengar suaramu yang membuatku yakin bahwa kau adalah wanita yang tepat untuk menjagaku," ujar Zafran sembari mengambil dua buah mushaf dari atas meja.
Malam itu, di balik tabir kamar yang seharusnya dipenuhi kemesraan fisik, justru dipenuhi dengan gema ayat suci. Asiyah membaca dengan tartil yang luar biasa, sementara Zafran menyimak dengan mata terpejam, sesekali memberikan catatan tentang kedalaman tafsir ayat yang mereka baca.
Di tengah pembacaan ayat, Asiyah menyadari sesuatu. Suara Zafran saat membenarkan tajwidnya terdengar sangat bergetar, seolah lelaki itu sedang menahan emosi yang besar. Asiyah mulai menyadari bahwa di balik sosok Zafran yang tampak otoriter dan sempurna, ada seorang lelaki yang sedang berjuang keras untuk dicintai oleh istrinya sendiri.
"Ustadz," panggil Asiyah setelah mereka menyelesaikan satu juz.
"Ya, Asiyah?"
"Kenapa Anda begitu sabar menghadapi saya? Padahal saya sudah bersikap sangat tidak sopan sebagai seorang istri," tanya Asiyah, kali ini tanpa nada ketus.
Zafran menatap Asiyah dengan tatapan teduh. "Karena kau adalah amanah. Dan aku tahu, hati yang cerdas tidak bisa dipaksa dengan kekerasan. Ia hanya bisa disentuh dengan kelembutan yang lebih tajam dari logika."
Asiyah terdiam, hatinya sedikit bergetar. Ia belum mencintai Zafran, namun malam ini, tembok kebencian yang ia bangun mulai menunjukkan retakan kecil. Ia menyadari bahwa ia tidak sedang menghadapi seorang penguasa yang tiran, melainkan seorang guru yang sedang mencoba menjadi sahabat.
"Terima kasih atas bukunya, dan terima kasih atas formulir ini," ucap Asiyah pelan sembari menunduk.
"Sama-sama. Sekarang, beristirahatlah. Kau butuh tenaga untuk menghadapi kenyataan baru mulai besok pagi," ujar Zafran.
Zafran kemudian mengambil bantal dan selimut tambahan, lalu merebahkan dirinya di atas karpet tebal di samping ranjang. Ia memberikan ranjang itu sepenuhnya untuk Asiyah, menghormati ruang pribadi istrinya yang masih belum sepenuhnya menerima kenyataan.
Asiyah menatap suaminya yang kini memejamkan mata di lantai. Ada rasa bersalah yang menyelinap di dadanya, namun ia tetap memilih untuk diam. Ia merebahkan dirinya di ranjang yang luas itu, menatap langit-langit kamar dengan pikiran yang masih menerawang jauh ke Kairo.
"Mahkota ini mungkin masih terpasung," batin Asiyah sebelum terlelap. "Tapi setidaknya, sang pemegang kunci tidak seburuk yang aku bayangkan."
Malam pertama mereka berlalu tanpa sentuhan fisik, namun jiwa mereka mulai bersentuhan melalui ayat-ayat suci yang mereka lantunkan bersama. Sebuah awal yang tidak biasa bagi pasangan yang tidak biasa.