Empat tahun Kevin Haris menjadi suami yang sah. Namun tidak pernah sekalipun mendapat giliran sebagai pria yang dipilih.
Ia menikah demi taruhan, lalu bertahan demi cinta. Sayangnya, istrinya hanya menjadikannya rumah, bukan tujuan. Di balik satu pintu tertutup, Kevin akhirnya paham. Kesetiaan yang terlalu lama ditunggu hanya akan menghabiskan harga diri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Vano mengusap tengkuknya pelan, bibir pucatnya tertarik samar seolah ingin mengatakan sesuatu. Namun sebelum ia sempat melanjutkan, suara perawat memanggil namanya. Pemeriksaan berlangsung tidak lama, dan setelah semuanya selesai, mereka berjalan keluar menuju parkiran.
Udara siang itu cukup menyengat. Iren lebih dulu membuka pintu penumpang untuk Vano.
“Ingat kata dokter, jangan terlalu capek dulu. Kurangi aktivitas yang nggak perlu,” ujarnya.
Vano tersenyum lemah sebelum duduk. “Kalau capeknya karena kamu sih, aku nggak keberatan.”
Iren mendesah kecil, antara geli dan malu. “Masih sempat bercanda.”
“Aku serius,” balas Vano, nada suaranya merendah. “Setidaknya sekarang aku tahu masih ada yang peduli.”
Ucapan itu membuat Iren terdiam sejenak. Ia menutup pintu mobil dengan hati-hati, lalu memutari kendaraan menuju sisi pengemudi.
Langkahnya melambat ketika pandangannya tanpa sengaja menangkap sosok yang begitu ia kenal. Beberapa meter dari sana, Kevin baru saja masuk ke dalam mobil yang dikemudikan seorang wanita. Gerakannya tenang, tanpa ragu, tanpa menoleh ke sekitar.
Iren berhenti. Ada sesuatu yang mengganjal di dadanya. Bukan kemarahan yang meledak, melainkan rasa asing yang sulit ia namai. Sejak kapan Kevin mulai terlihat… tak terjangkau?
Tangannya sudah meraih ponsel di dalam tas. Nama Kevin terpampang di layar. Ia hampir menekan tombol panggil.
Namun, klakson berbunyi dari dalam mobil. Iren tersentak dan menoleh. Vano menurunkan sedikit kaca jendela, wajahnya tampak lelah.
“Aku agak pusing kalau terlalu lama di luar,” katanya pelan.
Nada itu tidak memaksa, justru terdengar rapuh. Rasa bersalah lebih dulu muncul sebelum kecemburuan sempat tumbuh sempurna. Iren menatap kembali ke arah tadi, namun mobil Kevin sudah melaju keluar dari parkiran.
Ia menarik napas pelan, lalu memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas dan masuk ke kursi pengemudi.
“Aku antar kamu pulang dulu,” katanya sambil menyalakan mesin.
Di sampingnya, Vano menyandarkan kepala ke kursi, menutup mata dengan tenang. Sudut bibirnya terangkat tipis, nyaris tak terlihat.
***
Kevin yang awalnya berniat mencari apartemen kecil untuk sementara waktu terpaksa menunda rencananya saat Nurma menelepon. Percakapan itu singkat namun cukup untuk mengubah arah harinya. Tak lama kemudian ia sudah duduk di kursi penumpang, berdampingan dengan Lidya yang menyetir dengan santai.
Kevin sempat melirik ke arahnya, agak tercengang. Penampilan Lidya siang itu berbeda jauh dari malam sebelumnya. Rambutnya tergerai rapi, riasannya tipis namun tegas, dan cara berpakaiannya membuatnya terlihat lebih dewasa daripada yang ia ingat.
Tatapan Kevin rupanya terlalu jelas.
“Kenapa lihatnya begitu?” tanya Lidya tanpa menoleh, sudut bibirnya terangkat. “Baru sadar calon istrimu ini makin cantik?”
Kevin mendengus pelan. “Nyetir yang benar saja dulu. Kamu sudah ada SIM kan?”
Lidya terkekeh kecil. “SIM sudah ada. Kalau SIR belum.”
Kevin mengangkat alis. “SIR?”
Lidya melirik sekilas ke depan, memastikan jarak mobilnya dengan kendaraan lain cukup aman, lalu sedikit memiringkan kepala mendekat ke arahnya.
“SIR,” ucapnya pelan dengan nada menggoda, “surat izin ranjang.”
Kevin menatapnya datar selama beberapa detik sebelum akhirnya menggeleng kecil. “Konsentrasi ke jalan. Jangan sampai calon suamimu ini mati konyol.”
Lidya tertawa ringan lalu kembali fokus ke depan sebelum akhirnya bertanya dengan nada setengah bercanda yang terdengar seperti sedang memastikan sesuatu, “Jadi kita benar-benar nikah ini?”
Kevin tidak langsung menoleh, pandangannya tetap lurus ke jalan sementara jawabannya keluar tanpa banyak pertimbangan, “Memangnya ada cara lain?”
Kalimat itu sederhana namun cukup bagi Lidya untuk menangkap maknanya. Tidak ada antusiasme, tidak ada keyakinan penuh, hanya keputusan yang harus dijalani. Ia sempat ingin bertanya apakah pernikahan ini tidak bisa dimulai dengan rasa yang lebih dari sekadar kewajiban, namun ia sadar dirinya tidak berada di posisi untuk menuntut. Pada akhirnya ia memilih diam dan kembali memusatkan perhatian pada jalanan, membiarkan pertanyaan itu menguap begitu saja.
Beberapa saat kemudian mobil memasuki kawasan elite di sudut ibu kota dan berhenti di depan sebuah rumah besar yang berdiri megah dengan halaman luas terawat rapi. Kevin mengenal tempat itu tanpa perlu diberi tahu, karena di sanalah ia tumbuh, berlari di lorong-lorong panjangnya, dan mengenal banyak hal tentang hidup.
Ia memandang bangunan itu cukup lama sebelum bertanya pelan, “Ini?”
“Kakak tinggal di sini saja,” jawab Lidya sambil mematikan mesin, “sejak kakek meninggal rumah ini kosong, aku hanya meminta pelayan tetap mengurusnya.”
Kevin menoleh ke arahnya dengan sedikit heran dan bertanya apakah selama ini ia tidak tinggal di sana. Lidya menggeleng ringan sambil melepas sabuk pengaman dan menjelaskan bahwa rumah itu terlalu besar untuk ditempati sendirian, apalagi pemiliknya sudah tidak ada sehingga terasa hanya seperti bangunan luas tanpa penghuni.
Ia keluar lebih dulu dan Kevin segera menyusul. Begitu mereka melangkah masuk ke dalam halaman, beberapa pelayan menyambut dengan sopan. Kevin menyapu ruangan dengan pandangan yang perlahan berubah, karena wajah-wajah yang berdiri di hadapannya hampir semuanya asing.
Lidya yang menangkap tanda tanya di wajahnya segera menjelaskan, "Beberapa pelayan lama telah meninggal dunia dan ada pula yang memilih pulang kampung untuk mengurus keluarga mereka jadi aku terpaksa merekrut orang-orang baru agar rumah itu tetap terawat."
Kevin terdiam sejenak sebelum satu nama terlintas di benaknya dan ia bertanya dengan nada yang lebih dalam, "Lalu Mbok Sari?"
Senyum kecil muncul di sudut bibir Lidya seolah sudah menunggu pertanyaan itu, dan tak lama kemudian seorang wanita paruh baya berjalan tergesa dari dalam rumah dengan napas sedikit terengah namun mata yang penuh haru.
“Den Kevin,” sapanya lirih dengan suara yang bergetar karena menahan perasaan yang sudah lama disimpan.
Kevin menoleh cepat ke arah sumber suara itu dan untuk pertama kalinya sejak ia menginjakkan kaki di rumah tersebut, ekspresinya benar-benar berubah. Garis tegas di wajahnya melunak saat ia melihat sosok yang begitu akrab dalam ingatannya berdiri beberapa langkah darinya dengan mata yang sudah dipenuhi air.
“Mbok…” suaranya tertahan, lebih rendah dari biasanya.
Mbok Sari mendekat dengan langkah yang masih tergesa, tangannya terangkat ragu sebelum akhirnya benar-benar menyentuh lengan Kevin seolah memastikan lelaki itu bukan sekadar bayangan yang ia rindukan selama ini. “Den Kevin benar pulang… Mbok kira Den sudah lupa sama rumah ini.”
Kevin menggeleng pelan. “Mana mungkin aku lupa.”
Ada jeda yang tidak canggung di antara mereka, jeda yang dipenuhi kenangan. Mbok Sari tersenyum sambil menyeka sudut matanya dengan jari telunjuknya, lalu mempersilakan mereka masuk. Aroma khas kayu tua dan bunga melati yang samar masih sama seperti dulu, membuat Kevin tanpa sadar menarik napas lebih dalam.
Lidya memperhatikan dari samping dengan tenang. Ia berjalan beberapa langkah di belakang mereka tidak menyadari ujung karpet yang sedikit terlipat di ambang pintu. Hak sepatunya tersangkut dan tubuhnya kehilangan keseimbangan, membuatnya refleks meraih apa pun yang bisa dijangkau.
“Ah—”