NovelToon NovelToon
Suami Tanpa Giliran

Suami Tanpa Giliran

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / CEO / Balas Dendam / Penyesalan Keluarga / Kebangkitan pecundang / Percintaan Konglomerat
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Puji170

Empat tahun Kevin Haris menjadi suami yang sah. Namun tidak pernah sekalipun mendapat giliran sebagai pria yang dipilih.

Ia menikah demi taruhan, lalu bertahan demi cinta. Sayangnya, istrinya hanya menjadikannya rumah, bukan tujuan. Di balik satu pintu tertutup, Kevin akhirnya paham. Kesetiaan yang terlalu lama ditunggu hanya akan menghabiskan harga diri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

Vano mengusap tengkuknya pelan, bibir pucatnya tertarik samar seolah ingin mengatakan sesuatu. Namun sebelum ia sempat melanjutkan, suara perawat memanggil namanya. Pemeriksaan berlangsung tidak lama, dan setelah semuanya selesai, mereka berjalan keluar menuju parkiran.

Udara siang itu cukup menyengat. Iren lebih dulu membuka pintu penumpang untuk Vano.

“Ingat kata dokter, jangan terlalu capek dulu. Kurangi aktivitas yang nggak perlu,” ujarnya.

Vano tersenyum lemah sebelum duduk. “Kalau capeknya karena kamu sih, aku nggak keberatan.”

Iren mendesah kecil, antara geli dan malu. “Masih sempat bercanda.”

“Aku serius,” balas Vano, nada suaranya merendah. “Setidaknya sekarang aku tahu masih ada yang peduli.”

Ucapan itu membuat Iren terdiam sejenak. Ia menutup pintu mobil dengan hati-hati, lalu memutari kendaraan menuju sisi pengemudi.

Langkahnya melambat ketika pandangannya tanpa sengaja menangkap sosok yang begitu ia kenal. Beberapa meter dari sana, Kevin baru saja masuk ke dalam mobil yang dikemudikan seorang wanita. Gerakannya tenang, tanpa ragu, tanpa menoleh ke sekitar.

Iren berhenti. Ada sesuatu yang mengganjal di dadanya. Bukan kemarahan yang meledak, melainkan rasa asing yang sulit ia namai. Sejak kapan Kevin mulai terlihat… tak terjangkau?

Tangannya sudah meraih ponsel di dalam tas. Nama Kevin terpampang di layar. Ia hampir menekan tombol panggil.

Namun, klakson berbunyi dari dalam mobil. Iren tersentak dan menoleh. Vano menurunkan sedikit kaca jendela, wajahnya tampak lelah.

“Aku agak pusing kalau terlalu lama di luar,” katanya pelan.

Nada itu tidak memaksa, justru terdengar rapuh. Rasa bersalah lebih dulu muncul sebelum kecemburuan sempat tumbuh sempurna. Iren menatap kembali ke arah tadi, namun mobil Kevin sudah melaju keluar dari parkiran.

Ia menarik napas pelan, lalu memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas dan masuk ke kursi pengemudi.

“Aku antar kamu pulang dulu,” katanya sambil menyalakan mesin.

Di sampingnya, Vano menyandarkan kepala ke kursi, menutup mata dengan tenang. Sudut bibirnya terangkat tipis, nyaris tak terlihat.

***

Kevin yang awalnya berniat mencari apartemen kecil untuk sementara waktu terpaksa menunda rencananya saat Nurma menelepon. Percakapan itu singkat namun cukup untuk mengubah arah harinya. Tak lama kemudian ia sudah duduk di kursi penumpang, berdampingan dengan Lidya yang menyetir dengan santai.

Kevin sempat melirik ke arahnya, agak tercengang. Penampilan Lidya siang itu berbeda jauh dari malam sebelumnya. Rambutnya tergerai rapi, riasannya tipis namun tegas, dan cara berpakaiannya membuatnya terlihat lebih dewasa daripada yang ia ingat.

Tatapan Kevin rupanya terlalu jelas.

“Kenapa lihatnya begitu?” tanya Lidya tanpa menoleh, sudut bibirnya terangkat. “Baru sadar calon istrimu ini makin cantik?”

Kevin mendengus pelan. “Nyetir yang benar saja dulu. Kamu sudah ada SIM kan?”

Lidya terkekeh kecil. “SIM sudah ada. Kalau SIR belum.”

Kevin mengangkat alis. “SIR?”

Lidya melirik sekilas ke depan, memastikan jarak mobilnya dengan kendaraan lain cukup aman, lalu sedikit memiringkan kepala mendekat ke arahnya.

“SIR,” ucapnya pelan dengan nada menggoda, “surat izin ranjang.”

Kevin menatapnya datar selama beberapa detik sebelum akhirnya menggeleng kecil. “Konsentrasi ke jalan. Jangan sampai calon suamimu ini mati konyol.”

Lidya tertawa ringan lalu kembali fokus ke depan sebelum akhirnya bertanya dengan nada setengah bercanda yang terdengar seperti sedang memastikan sesuatu, “Jadi kita benar-benar nikah ini?”

Kevin tidak langsung menoleh, pandangannya tetap lurus ke jalan sementara jawabannya keluar tanpa banyak pertimbangan, “Memangnya ada cara lain?”

Kalimat itu sederhana namun cukup bagi Lidya untuk menangkap maknanya. Tidak ada antusiasme, tidak ada keyakinan penuh, hanya keputusan yang harus dijalani. Ia sempat ingin bertanya apakah pernikahan ini tidak bisa dimulai dengan rasa yang lebih dari sekadar kewajiban, namun ia sadar dirinya tidak berada di posisi untuk menuntut. Pada akhirnya ia memilih diam dan kembali memusatkan perhatian pada jalanan, membiarkan pertanyaan itu menguap begitu saja.

Beberapa saat kemudian mobil memasuki kawasan elite di sudut ibu kota dan berhenti di depan sebuah rumah besar yang berdiri megah dengan halaman luas terawat rapi. Kevin mengenal tempat itu tanpa perlu diberi tahu, karena di sanalah ia tumbuh, berlari di lorong-lorong panjangnya, dan mengenal banyak hal tentang hidup.

Ia memandang bangunan itu cukup lama sebelum bertanya pelan, “Ini?”

“Kakak tinggal di sini saja,” jawab Lidya sambil mematikan mesin, “sejak kakek meninggal rumah ini kosong, aku hanya meminta pelayan tetap mengurusnya.”

Kevin menoleh ke arahnya dengan sedikit heran dan bertanya apakah selama ini ia tidak tinggal di sana. Lidya menggeleng ringan sambil melepas sabuk pengaman dan menjelaskan bahwa rumah itu terlalu besar untuk ditempati sendirian, apalagi pemiliknya sudah tidak ada sehingga terasa hanya seperti bangunan luas tanpa penghuni.

Ia keluar lebih dulu dan Kevin segera menyusul. Begitu mereka melangkah masuk ke dalam halaman, beberapa pelayan menyambut dengan sopan. Kevin menyapu ruangan dengan pandangan yang perlahan berubah, karena wajah-wajah yang berdiri di hadapannya hampir semuanya asing.

Lidya yang menangkap tanda tanya di wajahnya segera menjelaskan, "Beberapa pelayan lama telah meninggal dunia dan ada pula yang memilih pulang kampung untuk mengurus keluarga mereka jadi aku terpaksa merekrut orang-orang baru agar rumah itu tetap terawat."

Kevin terdiam sejenak sebelum satu nama terlintas di benaknya dan ia bertanya dengan nada yang lebih dalam, "Lalu Mbok Sari?"

Senyum kecil muncul di sudut bibir Lidya seolah sudah menunggu pertanyaan itu, dan tak lama kemudian seorang wanita paruh baya berjalan tergesa dari dalam rumah dengan napas sedikit terengah namun mata yang penuh haru.

“Den Kevin,” sapanya lirih dengan suara yang bergetar karena menahan perasaan yang sudah lama disimpan.

Kevin menoleh cepat ke arah sumber suara itu dan untuk pertama kalinya sejak ia menginjakkan kaki di rumah tersebut, ekspresinya benar-benar berubah. Garis tegas di wajahnya melunak saat ia melihat sosok yang begitu akrab dalam ingatannya berdiri beberapa langkah darinya dengan mata yang sudah dipenuhi air.

“Mbok…” suaranya tertahan, lebih rendah dari biasanya.

Mbok Sari mendekat dengan langkah yang masih tergesa, tangannya terangkat ragu sebelum akhirnya benar-benar menyentuh lengan Kevin seolah memastikan lelaki itu bukan sekadar bayangan yang ia rindukan selama ini. “Den Kevin benar pulang… Mbok kira Den sudah lupa sama rumah ini.”

Kevin menggeleng pelan. “Mana mungkin aku lupa.”

Ada jeda yang tidak canggung di antara mereka, jeda yang dipenuhi kenangan. Mbok Sari tersenyum sambil menyeka sudut matanya dengan jari telunjuknya, lalu mempersilakan mereka masuk. Aroma khas kayu tua dan bunga melati yang samar masih sama seperti dulu, membuat Kevin tanpa sadar menarik napas lebih dalam.

Lidya memperhatikan dari samping dengan tenang. Ia berjalan beberapa langkah di belakang mereka tidak menyadari ujung karpet yang sedikit terlipat di ambang pintu. Hak sepatunya tersangkut dan tubuhnya kehilangan keseimbangan, membuatnya refleks meraih apa pun yang bisa dijangkau.

“Ah—”

1
Ariany Sudjana
kevin kamu juga bodoh, sudah tahu pelacur murahan seperti Irene, punya beribu macam cara untuk menjebak kamu, dan kamu dengan bodohnya percaya sama omongan pelacur murahan itu
Ariany Sudjana
Kevin kamu jangan terjebak dengan perkataan Irene, kalau kamu percaya dengan omongan Irene, kamu bodoh
Ariany Sudjana
Irene kamu bodoh, kamu menyalahkan Kevin untuk semua masalah kamu, padahal kamu sendiri sumber masalahnya, kamu saja yang jadi perempuan gatal 🤭🤭
Ridwani
👍👍👍
falea sezi
lanjut g sabar nunggu kehancuran iren
Ariany Sudjana
hahaha dua orang pecundang, yang satu pelacur murahan, yang satu pebinor 🤣🤣😂😂 silakan menikmati kejatuhan kalian
Ariany Sudjana
hahaha ada lagi perempuan , yang katanya CEO, tapi bodoh, dan bisa dimanipulasi sama laki-laki yang licik dan culas 😂😂🤣🤣
𝐇⃟⃝ᵧꕥ📴𝓗𝓪𝔂𝓾𝓻𝓪𝓹𝓾𝓳𝓲: hahhaha katanya si paling beruntung kak
total 1 replies
Ridwani
👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
Yuliana Tunru
sdh di tinggalkan baru nyari2 kevin dulu dijadikan banu iren kau pikir kevin buta tau kau yg tak punya malu gmn selalu dgn vano pegang2an dll ngapain jd bodoh kevin buang istri tak tau diri itu
Ridwani
semoga cepat cerai,iren semoga menyesal
Ridwani: iy kita liat nanti apa iren nangis histeris kebahagiaan kevin
total 2 replies
Yuliana Tunru
akhir x kau bicara sosl cerai jg benar2 iren tak punya malu dan otak..msh kurang keras kevin biar iren shock
Yuliana Tunru
ya ampun.iten.punya kaca ndk lha kamu dgn.vano bkn x lebih dr selingkuh kebin cm.makan kamu malah tiap.saat dgn vano gandrngan aplh fatwa mak lampir matre berani mau nampar ...tampar balik biar sadar
𝐇⃟⃝ᵧꕥ📴𝓗𝓪𝔂𝓾𝓻𝓪𝓹𝓾𝓳𝓲: merasa paling benar dia kak
total 1 replies
Ridwani
👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
Yuliana Tunru
bahus kevin ingatkan pisisi masing2 knp jg eelama ini kevin jd babu di rmh sendiei dan.istri yg tak tau diri jg klga x jd penguasa jd lupa status 😡
Yuliana Tunru
bagus kevin iren siap2 kau jd sampah buangan kevin kau wanuta miskin ahlak dan harta semena2 krn kevin takluk tinggu balsan karma yg sebenar x
Ridwani
👍👍👍👍👍
Yuliana Tunru
kenapa alki2 arogan mulut beracun kalah dgn wanita bekas teman kau bkn kere kevintp bagai pengemis hancurkan iren ambil kembali sahqm vano dgn bayaran perceraian yg di mibta iren nurma bkn musush turuti kata 2 x dan jadilqh raja hancurkqn keangjuhan.dan lenghiatan vano dan iren mrk manusia sampqh
Yuliana Tunru
vano dan iren brnar teman lucnut ..ayo kevin ambil hak mu mlm ini dan jika iren ingin cerai suruh kembalikan saham itu jgn buarkan penghianat itu mengambil bayaran atas lukamu jika saham sdh kembali buang iren pd vano bagai sampah 😡😡
𝐇⃟⃝ᵧꕥ📴𝓗𝓪𝔂𝓾𝓻𝓪𝓹𝓾𝓳𝓲: biarkan Vano dan Iren bersatu lagi ya, masalah Iren jatuh biarkan saja
total 1 replies
Ma Em
Iren kamu pasti akan menyesal karena sdh menyia nyiakan Kevin dan malah memilih Vano yg tdk pernah mencintaimu , mampir Thor aku suka , ceritanya seru .
𝐇⃟⃝ᵧꕥ📴𝓗𝓪𝔂𝓾𝓻𝓪𝓹𝓾𝓳𝓲: terimakasih kakak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!