novel dengan universe berbeda dari novel
"hazel lyra raven", dimana pharma dan Lyra bisa bersama tanpa ada ledakan
Dokter Lyra (27), spesialis anak, dipindahtugaskan ke Rumah Sakit Delphi di London. Di sana, ia harus berhadapan dengan Pharma Andrien, kepala rumah sakit sekaligus spesialis saraf yang dijuluki "Ice King" karena sifatnya yang sangat cuek, dingin, dan perfeksionis di depan staf medis.
Namun, segalanya berubah saat mereka sedang berduaan. Di balik pintu tertutup, Pharma berubah drastis menjadi sosok yang sangat clingy dan manja hanya kepada Lyra. Kini, Lyra harus berjuang menjaga profesionalitas di rumah sakit sambil menghadapi tingkah "muka dua" atasannya yang tidak bisa jauh darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AEERA-ALEA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13
Lyra melangkah masuk ke dalam ruangan kantor yang luar biasa luas. Lantainya dilapisi karpet bulu yang sangat tebal, dan dindingnya dipenuhi rak buku setinggi langit-langit. Namun, pandangan Lyra langsung tertuju pada sebuah kursi kerja besar berbahan kulit hitam yang menghadap ke arah jendela besar London Eye.
Kursi itu kosong.
"Tuh kan! Kosong!" Lyra langsung berbalik badan, berkacak pinggang di depan Pharma yang baru saja menutup pintu. "Gara-gara lo nih kelamaan debat di depan pintu, Bos CMO-nya mungkin lagi keluar atau ke toilet! Puas lo ngerusak momen pertama gue?!"
Pharma hanya berdiri bersandar di pintu, melipat tangan di depan dadanya yang masih dibalut jas bedah. "Mungkin dia cuma malas melihat dokter yang datang dengan rambut acak-acak seperti habis kena angin puting beliung."
"Heh, Pharma Andriend!" Lyra maju satu langkah, menunjuk dada Pharma dengan telunjuknya. "Gue ingetin ya, lo itu statusnya sama kayak gue, cuma perwakilan dokter! Lo nggak ada hak buat ngehina penampilan gue terus-terusan. Tadi lo nolongin gue di gudang, oke gue makasih. Tapi bukan berarti lo bisa jadi bodyguard nyebelin yang ngikutin gue sampai ke ruang privasi atasan!"
"Saya tidak merasa menjadi bodyguard-mu," sahut Pharma datar, matanya menatap telunjuk Lyra yang menempel di jasnya. "Saya hanya memastikan kamu tidak tersesat atau melakukan hal bodoh di ruangan ini."
"Hal bodoh apa?!" Lyra makin meradang. "Gue ini dokter berprestasi dari Indonesia! Gue ke sini mau ketemu 'The Best', orang paling pinter di rumah sakit ini yang katanya cakepnya nggak masuk akal. Dan sekarang dia nggak ada karena lo ganggu jalan gue!"
Pharma berjalan perlahan melewati Lyra, mendekati meja kerja besar yang terbuat dari kayu mahoni itu. "Oh, jadi kamu ke sini cuma mau cari yang cakep? Saya kira kamu ke sini untuk belajar bedah toraks."
"Dua-duanya lah! Kerja jalan, cuci mata juga harus!" seru Lyra tanpa sadar. "Eh, lo ngapain deket-deket meja itu? Jangan lancang ya, nanti kalau Bosnya dateng terus lo dikira mau nyolong dokumen gimana? Balik sini nggak!"
Pharma malah mengabaikan teriakan Lyra. Ia meletakkan tangannya di sandaran kursi kulit yang kosong itu, lalu menoleh ke arah Lyra dengan senyum miring yang sangat tipis jenis senyum yang bikin Lyra merasa ada sesuatu yang sangat salah.
"Kamu mau ketemu si 'The Best' itu, Dokter Raven?" tanya Pharma, suaranya mendadak berubah menjadi sangat rendah dan penuh wibawa.
"Iya lah! Ngapain gue di sini?!"
"Sayangnya..." Pharma menarik kursi itu perlahan, lalu duduk di sana dengan gerakan yang sangat tenang dan elegan. Ia menyandarkan punggungnya, menatap Lyra dari balik kacamata tipisnya yang berkilat. "Dia sedang tidak ada di toilet."
Lyra membeku. Mulutnya sedikit terbuka. "L-lo... ngapain duduk di situ? Pharma, turun nggak?! Lo mau dipecat di hari pertama?!"Lyra mematung di tengah ruangan. Jantungnya serasa merosot sampai ke jempol kaki. Ia melihat Pharma duduk di kursi kekuasaan itu dengan cara yang sangat alami seolah kursi itu memang diciptakan khusus untuk lekuk tubuhnya.
"Pharma... turun. Gue serius, ini nggak lucu!" bisik Lyra, suaranya mulai gemetar antara panik dan nggak percaya. "Kalau ada CCTV dan Bos liat lo lancang begitu, gue nggak mau ya diseret-seret jadi komplotan lo! Turun atau gue laporin ke security sekarang?!"
Pharma tidak bergerak seinci pun. Ia justru merogoh saku jas bedahnya, mengeluarkan sebuah name tag magnetik yang sedari tadi ia sembunyikan, lalu menempelkannya di dada kiri dengan bunyi klik yang sangat mantap.
Lyra menyipitkan mata, mencoba membaca tulisan di lencana perak itu.
[ Pharma Andriend, M.D., Ph.D. ]
[ Chief Medical Officer & Head of Surgery ]
Dunia Lyra seakan berputar 180 derajat. Suasana ruangan yang tadinya bising karena adu mulut mendadak sunyi senyap sampai suara detak jam dinding pun terdengar seperti dentuman bom.
"Duduk, Dokter Raven," ucap Pharma datar, tanpa sedikit pun nada bercanda. "Atau kamu mau saya bantu duduk dengan cara yang sama seperti saya menangani preman di gudang tadi?"
> MAMPUS! Batin Lyra menjerit sejadi-jadinya. Mati gue! Dokter syalan! Jadi selama ini si "The Best" itu dia?! Si pirang nyebelin yang gue katain kancingnya miring?! Yang tadi gue dorong-dorong di depan pintu?! Yang barusan gue bilang mau cuci mata liat CMO ganteng?! Ya Allah, telan Ai sekarang juga, bumi! Telan Ai sekarang!!
Lyra merosot duduk di kursi di depan meja Pharma dengan kaki yang terasa seperti jeli. Wajahnya yang tadi merah karena marah, kini berubah menjadi merah padam karena malu tingkat dewa. Ia menunduk dalam-dalam, tidak berani menatap mata biru di baliknya kacamata tipis itu.
"Tadi... tadi Dokter bilang... Dokter perwakilan juga..." cicit Lyra pelan, nyaris tak terdengar.
"Saya memang perwakilan," sahut Pharma sambil membuka map laporan medis milik Lyra. "Perwakilan tertinggi dari rumah sakit ini untuk menguji apakah dokter tamu seperti kamu layak bekerja di bawah pimpinan saya atau tidak."
Pharma mengetuk-ngetukkan pulpen mahoninya di atas meja. Setiap ketukan itu terasa seperti vonis mati bagi Lyra.
"Tadi kamu bilang saya apa? Mandor pirang? Dokter syalan? Dan oh... kamu ke sini mau 'cuci mata'?" Pharma sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan, membuat Lyra makin menciut. "Sejauh ini, kesan pertama kamu adalah: terlambat, berantakan, dan sangat... berisik."
> Aduh, Lyra! Mulut lo emang perlu disekolahin lagi! Lyra menggigit bibir bawahnya, merutuki nasibnya yang apes kuadrat. Gimana ini?! Karier gue di London berakhir bahkan sebelum gue sempet pake ID card! Mana dia cakep banget lagi pas duduk di kursi itu, makin bikin gue pengen nangis karena udah ngerusak semuanya!
"Maaf, Sir... maksud saya, Dokter Pharma..." Lyra mencoba membela diri dengan suara gemetar. "Saya benar-benar tidak tahu kalau itu Anda. Saya kira Anda dokter tamu juga yang mau pamer mobil..."
Pharma menutup map laporan itu dengan suara keras. "Cukup. Saya tidak butuh alasan. Saya butuh kompetensi."