NovelToon NovelToon
JENIUS RENDAHAN

JENIUS RENDAHAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Murid Genius / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Slice of Life
Popularitas:130
Nilai: 5
Nama Author: Yusuf Fikri

Melihat begitu banyak orang hebat di sekitarku membuatku merasa rendah di mata mereka. Bagi dunia ini, nilai akademis adalah segalanya. Namun bagiku, kreativitas merupakan hal terpenting sebagai pengubah karya imajinasi menjadi kenyataan. Apakah diriku, seorang siswa yang dianggap memiliki "kemampuan rendah", dapat membuktikan bahwa cara pandang mereka salah? Ini adalah kisah tentang membuktikan diri di tengah gempuran para jenius akademik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yusuf Fikri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13 : Persiapan Hari Pekan Olahraga

Suasana kelas X-A siang itu terasa berbeda. Biasanya, jam terakhir di hari Jumat diisi dengan wajah-wajah mengantuk yang merindukan kasur. Tapi kali ini, udaranya dipenuhi ketegangan bercampur antusiasme.

Di depan kelas, Pak Bambang, guru olahraga kami yang memiliki postur tubuh tegap mantan atlet militer, berdiri sambil memegang papan jalan. Dia baru saja menuliskan sebuah pengumuman besar di papan tulis putih.

PEKAN OLAHRAGA SMA CENDEKIA

"Dengarkan baik-baik," suara bariton Pak Bambang menggema, membuat 15 siswa di kelas super elit ini terdiam.

Ya, hanya 15 siswa. Kelas X-A memang didesain khusus. Jumlah siswanya sedikit agar fokus pembelajarannya maksimal. Tapi bagiku, ini hanya berarti satu hal: tidak ada tempat untuk bersembunyi. Jika ini kelas biasa dengan 40 murid, aku mungkin bisa menyelinap jadi cadangan abadi. Tapi di sini? Mustahil.

"Dua minggu lagi," lanjut Pak Bambang, matanya menyapu seisi kelas. "Sekolah dan OSIS akan mengadakan acara tahunan terbesar kita. Pekan Olahraga. Ini bukan sekadar main-main. Ini adalah tradisi harga diri Cendekia."

Dia mengetuk papan tulis dengan spidol.

"Ada beberapa cabang yang dibuka tahun ini: Lari 200 dan 400 meter, Sepak Bola, Basket, Badminton, Karate, Catur, Lompat Jauh, Tenis Meja, Memanah, Lomba Menembak Senapan Angin, dan terakhir... Roller Skate."

Hening sejenak. Aku bisa mendengar Kevin di bangku depan berbisik semangat pada teman sebangkunya. Kevin adalah kapten tim basket SMP-nya dulu, jadi matanya sudah berbinar seolah melihat piala.

"Aturannya sederhana," Pak Bambang menjelaskan sistemnya. "Kalian semua, 15 siswa di kelas ini, wajib berpartisipasi. Minimal satu cabang per orang. Tidak ada alasan sakit kecuali kalian bawa surat dokter dari rumah sakit yang menyatakan kalian koma."

Aku menghela napas panjang, menyandarkan punggung ke kursi. Sialan.

"Lombanya tidak sehari selesai. Kita bicara soal turnamen satu minggu penuh," tambah Pak Bambang. "Empat hari pertama adalah babak penyisihan. Lawan kalian adalah sesama anak kelas 10 dari kelas B, C, dan seterusnya. Itu fase mudahnya."

Dia menyeringai tipis, seringai yang menjanjikan rasa sakit.

"Kalau kalian lolos ke semifinal di hari ke-5 dan ke-6... lawan kalian bukan lagi anak baru. Kalian akan berhadapan dengan kakak kelas. Kelas 11 dan 12. Dan di hari ke-7, Final, kalian akan memperebutkan gelar juara umum sekolah."

Suasana kelas mendadak riuh. Lawan kakak kelas? Itu artinya melawan monster-monster fisik yang sudah lebih dulu makan asam garam di SMA ini. Tapi bagi siswa ambisius seperti Kevin dan Rafan, itu justru tantangan yang mereka cari.

"Karena masih ada waktu dua minggu," tutup Pak Bambang sambil membereskan berkasnya. "Silakan kalian diskusi, tentukan strategi, dan pilih cabang kalian. Ingat, jaga kesehatan. Jangan sampai cedera konyol sebelum bertanding. Kelas olahraga hari ini selesai. Selamat siang."

Begitu Pak Bambang keluar, kelas langsung pecah.

Kevin langsung berdiri, menghampiri meja Rafan. Mereka berdua terlihat berdiskusi serius. Aku bisa menebak, Kevin pasti mengambil Basket, dan Rafan... entahlah, anak itu serba bisa. Mungkin dia akan mengambil sesuatu yang elegan seperti Memanah atau Tenis.

Di sudut lain, aku melihat Zea sedang mengobrol dengan Faya—teman sebangkunya yang berkacamata bulat. Zea tertawa renyah menanggapi sesuatu, tapi kemudian matanya melirik ke arahku.

Tatapan kami bertemu.

Zea tersenyum tipis. Senyum yang... entah kenapa, terasa seperti dia sedang merencanakan sesuatu. Dia menaikkan alisnya sedikit, seolah menantangku.

Aku buru-buru memutus kontak mata dan membereskan tas.

Pulang, batinku. Aku butuh nasi hangat dan ayam goreng buatan koki rumah. Perutku sudah demo.

Aku bangkit berdiri, menyandang tas di satu bahu, dan berjalan menuju pintu keluar. Aku tidak mau terlibat dalam euforia pemilihan lomba ini sekarang.

Namun, baru saja aku melangkah dua meter, sebuah tangan menepuk bahuku.

"Hey, Cal."

Aku menoleh. Rafan. Dia tersenyum santai, tangannya dimasukkan ke saku celana.

"Mau ikut lomba apa?" tanyanya, suaranya pelan agar tidak didengar Kevin yang masih sibuk di belakang. "Kita bisa diskusi kalau kamu bingung."

Rafan tahu persis kemampuanku. Dia tahu aku mantan juara karate. Dia tahu aku bisa menembak dengan presisi mengerikan karena Papa sering mengajakku berburu dulu. Dia juga tahu staminaku di atas rata-rata.

Aku menatapnya datar. "Belum kepikiran. Yang pasti bukan yang bikin keringetan berlebihan."

Rafan terkekeh. "Sayang banget. Padahal kalau kamu ikut Karate atau Menembak, pialanya udah pasti di tangan kita."

"Nggak tertarik," potongku cepat. "Udah ya, Raf. Aku mau pulang duluan. Laper."

Rafan mengangguk maklum. "Yaudah, hati-hati. Nanti kalau sempet, sore atau malem aku main ke rumahmu ya? Mau nyoba PlayStation baru yang kamu bilang kemarin."

"Dateng aja. Pintu selalu terbuka buat Pangeran Sekolah," sindirku.

Aku melambaikan tangan sekilas, lalu keluar dari kelas yang bising itu.

Koridor sekolah mulai sepi karena sebagian besar siswa sudah pulang atau mampir ke kantin. Langkah kakiku menggema pelan di lantai keramik. Pikiranku melayang ke menu makan siang di rumah. Sop buntut? Atau mungkin steak?

Tiba-tiba, suara langkah kaki cepat terdengar dari arah belakang.

"Cal!"

Suara lembut namun tegas itu memanggil. Suara yang belakangan ini mulai sering menghantui hari-hariku.

Aku tidak perlu menoleh untuk tahu siapa pemiliknya. Tapi kakiku berhenti melangkah secara otomatis.

Aku berbalik badan perlahan.

Benar saja. Tidak jauh di belakangku, Zea berdiri. Napasnya sedikit terengah seolah habis mengejarku. Rambut pendeknya bergoyang pelan tertiup angin koridor. Dia menatapku dengan mata cokelatnya yang berbinar penuh rasa ingin tahu.

"Bilang padaku," ucapnya tanpa basa-basi, melangkah mendekat hingga jarak kami hanya tinggal satu meter. "Kau mau ikut lomba apa, Cal?"

Aku menatapnya, lalu menghela napas. Kenapa gadis ini selalu ingin tahu urusanku?

"Kenapa memangnya?" tanyaku balik.

Zea tersenyum manis, sangat manis. "Karena apa pun lomba yang kamu pilih... aku mau jadi suporter nomor satumu. Jadi, cepet bilang. Kamu pilih apa?"

Aku terdiam. Di balik kacamata ini, mataku menatap Zea lekat-lekat.

Pekan Olahraga ini sepertinya akan menjadi jauh lebih merepotkan dari yang kuduga.

1
Zumrotul Mukaromah
semangatt update kakk🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!