Dilarang memplagiat karya!
"Dia memilih kakakku..." --Hawa--
"Dan aku memilihmu. Bukan karena tidak ada pilihan lain, Hawa. Tapi karena memang hanya kamu yang aku mau." --Ramadan--
Hawa terpaksa menelan kenyataan pahit saat Damar--sahabat sekaligus laki-laki yang dicintainya, justru melamar Hanum--kakak kandungnya.
Di tengah luka yang menganga, hadir Ramadan sebagai penyejuk jiwa. Tak sekadar menawarkan cinta, Ramadan juga menjadi kompas yang menuntun Hawa keluar dari gelapnya kecewa menuju cahaya ketulusan yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayuwidia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 1 Merapi
Happy reading
"Selamat bertambah usia, Hawaku..."
Speechless
Hawa terkesiap begitu syal yang menutupi sepasang mata indahnya dilepas oleh Damar--sahabat yang selalu excited menyiapkan surprise di hari ulang tahunnya.
Kali ini Damar memberi kejutan spesial. Bukan kue ulang tahun yang dikelilingi lilin-lilin kecil, atau balon huruf yang membentuk kalimat 'happy birthday', melainkan maha karya Tuhan yang teramat indah--panorama senja di kaki gunung.
Semburat jingga dan emas tumpah di cakrawala, membingkai siluet kegagahan Merapi yang menantang langit.
Di tempat ini, dinginnya angin gunung terkalahkan oleh hangatnya pemandangan yang tersuguh dan tawa khas Damar.
"Damar, ini..."
"Kejutan buat kamu." Damar menyahut pelan. Meraih jemari Hawa, lalu membawanya ke dalam genggaman.
"Makasih." Mata Hawa berkaca ketika mengucap kata itu. Terharu sekaligus bahagia.
Bagi Hawa, Damar bukan hanya sahabat, tapi seorang Adam yang diidamkan menjadi kekasih.
Paras tampan, kepribadian hangat, banyak gadis memuja. Tapi, Damar sosok lelaki yang tidak memiliki kegemaran tebar pesona. Hanya pada Hawa ia menunjukkan perhatian.
"Duduk, Wa." Damar memandu Hawa duduk di atas bangku kayu--berhadapan dengannya.
Tidak ada lagi kata terucap, terwakili dua pasang mata yang saling tertambat--menggali makna yang tersirat.
Keheningan yang sesaat menyelimuti, terpecahkan oleh suara deheman, memaksa Damar memutus tatap.
"Sugeng rawuh, Mas. Mau pesan apa?" sapa seorang pelayan Warung Merapi--ramah, sopan, dengan logat Jawanya yang sangat kental.
Sebut saja dia... Jatmika. Seorang pemuda bertubuh tinggi, berkulit sawo matang. Jika dilihat dari wajahnya, usia Jatmika sebaya dengan Hawa dan Damar--22 tahun.
Damar tak perlu melihat buku menu. Ia sudah hafal di luar kepala--minuman hangat yang disukai oleh Hawa.
"Kopi Robusta Merapi satu, Mas. Sama Wedang Ronde buat sahabatku--Hawa. Gulanya jangan banyak-banyak," ujar Damar, kemudian beralih pada Hawa.
"Mau mie rebus, Wa?" ia bertanya sekaligus menawari.
Hawa menanggapi dengan kejapan mata. "Mau, tapi cabe nya satu aja," jawabnya diiringi sunggingan senyum. Manis, bahkan... teramat manis. Membuat Jatmika sesaat terpana menatap pahatan indah yang tersaji di depan mata.
"Mendoan?"
"Boleh."
Atensi Damar berpindah cepat ke arah Jatmika. Begitu mendadak, hingga Jatmika terperanjat gugup, bak seorang pencuri yang mendapati dirinya terkepung para penegak hukum.
Gelagat Jatmika tak luput dari perhatian Damar. Meski demikian, raut wajahnya tetap datar, tak terbaca. Ia memilih bersikap wajar, membiarkan nada suaranya mewakili ketidaksukaan yang tertahan.
Damar memesan dua porsi mie rebus dan mendoan--tempe berselimut tepung dengan irisan daun bawang, camilan favorit Hawa.
"Sambal kecapnya jangan lupa!" cetusnya mengingatkan.
"Njih, Mas."
Dengan bahu yang sedikit merosot, Jatmika membungkuk, tak berani menatap lawan bicara secara penuh.
Sambil menunggu pesanan datang, Damar dan Hawa berbincang. Bukan soal tugas kuliah, tapi mengenai keindahan Gunung Merapi yang menjadi background tempat duduk mereka saat ini.
"Gunung Merapi itu... simbol cinta. Bukan sekadar romansa dua orang, melainkan harmoni antara alam semesta--mikrokosmos dan makrokosmos, serta hubungan cinta antara manusia dengan Penciptanya," sela Rama--pelayan Warung Merapi, sahabat Jatmika. Lelaki berparas tampan, pemilik hidung mancung, dan sepasang mata teduh.
Ia menyuguhkan secangkir Kopi Robusta Merapi dan semangkuk Wedang Ronde yang tadi dipesan oleh Damar.
Ucapan Rama sukses memantik rasa ingin tahu Hawa. Ia nyaris melontarkan pertanyaan tentang filosofi Merapi, namun niat itu segera surut--terbentur sorot mata Damar yang terlihat dingin dan tak bersahabat.
Jatmika datang menyusul. Ia membawa nampan berisi dua mangkuk mie rebus dan satu piring mendoan beserta semangkuk sambal kecap, lalu meletakkannya di atas meja.
"Monggo, Mas--Mbak, dipun rahapi!" ucapnya sambil membungkuk takzim dan menyodorkan jempolnya ke arah hidangan, lantas mengalihkan perhatiannya pada Rama yang tengah terpaku menatap Hawa.
"Ayo, Dab!" Tepukan pelan berlabuh di bahu, mengiringi suara bariton.
Rama terhenyak. Ia buru-buru mengalihkan pandangan, memutar tumit, lalu membawa kakinya terayun--mengikuti langkah Jatmika, meninggalkan kedua tamu mereka.
"Sok pinter!" Damar bergumam--meluapkan rasa tidak sukanya pada Rama. Menyesap perlahan kopi yang masih mengepulkan uap.
"Dia memang pintar." Hawa menyahut. Menatap Damar sekilas, lalu mencicipi kuah mie rebus. Kental dan gurih.
"Kamu kenal dia, Wa?" tuntut Damar, nadanya penuh selidik.
"Nggak terlalu kenal. Cuma pernah satu kelompok waktu ospek dulu."
"Owh, jadi... dia juga kuliah di Lentera Bangsa?"
Hawa mengangguk. Lidahnya asik menikmati mie rebus khas Warung Merapi. Abaikan ekspresi wajah Damar yang masam.
"Fakultas apa?" Lagi, Damar bertanya. Seperti seorang wartawan yang tengah menggali informasi dari narasumber.
"Fakultas... Humaniora & Peradaban, kalau nggak salah ingat."
"Ck, nggak lebih bagus dari kita. Kedok--"
"Semua fakultas bagus," potong Hawa cepat. Nada suaranya tidak meninggi. Santai--khas gaya bicaranya ketika berbincang dengan Damar.
"Kamu membelanya, Wa?"
"Aku nggak bermaksud membela."
"Lantas?"
"Menyampaikan fakta." Kalimat itu jatuh pelan, namun tegas.
"Nggak usah dibahas lagi. Buruan dimakan mie rebus nya, nanti keburu dingin," lanjut Hawa.
Damar menghela napas panjang. Mengindahkan perkataan Hawa, meski hatinya masih dongkol.
Hening turun.
Obrolan mereka digantikan oleh suara denting sendok dan garpu yang saling beradu di atas mangkuk, berpadu dengan lantunan adzan magrib.
Seusai menandaskan semangkuk mie rebus, Damar mengeluarkan kotak kado berwarna biru muda yang terhias pita berwarna kuning keemasan, lalu meletakkannya di atas meja--tepat di hadapan Hawa.
"Ini buat kamu, Wa. Semoga kamu suka."
Mata Hawa berbinar. Ia kembali dibuat speechless oleh Damar.
"Boleh aku buka sekarang?"
Damar mengangguk--mempersilahkan.
Jemari Hawa sedikit gemetar saat membuka kotak kado pemberian Damar.
Sepasang matanya berkaca, bibirnya tak kuasa mengucap kata ketika melihat isi kotak itu.
Cincin berwarna silver dan foto mereka berdua ketika berpose di puncak Gunung Lawu--satu tahun lalu.
"Ini..."
"Cincin tanda sayang aku ke kamu."
Kalimat yang mengalir pelan dari bibir Damar, melukis semburat merah di pipi Hawa.
Tersipu.
Gadis berparas manis itu menunduk, membiarkan Damar meraih jemarinya dan melingkarkan cincin di jari manis. Jantungnya bertalu indah, lidahnya kelu, dan bibirnya terkunci dalam bisu.
Hari ini, kebahagiaan mendekap erat. Menelan lelah yang dirasa tadi siang karena kegiatan di kampus. Terlebih, aktifitasnya sebagai anggota BEM Inti.
"Wa, foto ini... tolong disimpan. Kelak, kita perlihatkan pada anak-anak kita."
Hati Hawa menghangat. Ia meyakini, Damar tengah mempersiapkan masa depan yang indah untuk mereka jalani berdua.
Menanggalkan status sahabat, berganti hubungan yang lebih serius, meski tanpa kata 'jadian' atau... 'aku cinta kamu'.
"Besok lusa aku izin datang ke rumah, tapi nggak sendiri. Boleh kan?"
Tidak ada jawaban. Hawa mengangkat wajahnya perlahan, menatap lekat paras tampan yang selalu mewarnai hari-hari dan menghiasi mimpi indahnya setiap malam.
"Sama siapa?"
"Ayah dan Bunda."
Hawa mengejapkan mata. Menahan ledakan rasa yang membuncah.
"Boleh," bisiknya hampir tak terdengar--terkalahkan nyanyian ranting-ranting bambu yang saling bergesekan.
"Dingin nggak?"
"Banget."
"Pake jaketku." Damar melepas jaket yang membalut tubuhnya. Beranjak dari posisi duduk. Menyampirkan jaket tebalnya di bahu Hawa untuk memberi kehangatan.
"Makasih."
"Iya."
Melodi jazz lembut mengalun pelan, menjadi saksi bisu suasana romantis yang tengah tercipta.
Di balik meja kasir, ada hati yang sedang mati-matian meredam rasa. Ada doa yang dibisikan oleh benak.
Allah, jika dia jodohku... maka dekatkan. Namun jika bukan, beri aku kemampuan untuk melepas dan merelakan.
Malam turun diiringi rintik gerimis. Menghadirkan dingin yang kian memeluk erat.
Damar membawa Hawa pulang. Meninggalkan kenangan indah yang tertoreh di kaki Gunung Merapi. Melangkah bersama dengan saling menautkan jemari.
🌹🌹🌹
Bersambung
Ctt:
Mikrokosmos (Jagad Cilik)
Artinya: Dunia kecil.
Dalam Diri Manusia: Merujuk pada diri manusia itu sendiri, baik secara fisik, pikiran, maupun jiwa.
Makrokosmos (Jagad Gede)
Artinya: Dunia besar.
Alam Semesta: Merujuk pada alam semesta, jagad raya, atau kosmos secara keseluruhan, termasuk tata surya, energi alam, dan kekuatan Tuhan.
Dab: Bahasa Gaul Jogja, yang berarti Bro, Mas, atau teman.
Cmiiw
yg dikira perintis ternyata pewaris 😂😂
boleh lah kasih thr kami para pembacamu ini
upps..belum apa² dah komen