“Orang bilang, masakan Bara bisa bikin orang menangis, jatuh cinta, atau mati. Tergantung niat pemesannya.”
Bara Mahendra, koki pelit yang terjebak masa lalu, hanya ingin hidup tenang dan cuan. Namun, di *Bara's Kitchen*, ketenangan adalah mitos. Bersama Lintang, admin Gen Z gila konten, dan Mang Ojak dengan mobil bututnya, Bara harus menghadapi pesanan-pesanan tak masuk akal.
Siapkan nyali sebelum mencicipi. Karena di dapur ini, kenyang saja tidak cukup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon W. Prata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ARC 1 - CH 4 : BAYARAN TERMAHAL
Perjalanan pulang terasa jauh lebih sunyi daripada saat berangkat.
Tidak ada lagi celotehan Lintang soal konten FYP. Tidak ada lagi keluhan Bara soal jalan berlubang. Bahkan Mang Ojak membiarkan radio di dashboard Si Putih mati, membiarkan suara mesin tua yang ngos-ngosan menjadi satu-satunya musik pengiring malam itu.
Bara menatap jalanan kota yang mulai terang oleh lampu-lampu toko. Pikirannya masih tertinggal di gubuk pinggir rel tadi. Senyum Dani, air mata Pak Jamil, dan rasa donat yang katanya "seperti dipeluk Ibu".
Sial. Bara benci perasaan ini. Perasaan "manusiawi" ini cuma bikin dia lemah. Koki yang baperan nggak akan bisa kaya raya.
Kruyuuuk...
Suara perut yang minta diisi memecah keheningan sakral itu. Sumbernya jelas: perut buncit Mang Ojak.
"Eh... maaf, Den. Cacing perut Abah lagi demo minta jatah," Mang Ojak nyengir malu sambil mengelus perutnya.
Bara menghela napas panjang. Dia melirik jam di dashboard mobil (yang mati di angka 12:00 selamanya), lalu mengecek HP-nya. Jam 8 malam.
"Minggir dulu, Mang," perintah Bara tiba-tiba.
"Hah? Minggir ke mana, Den? Mogok lagi?" Mang Ojak panik.
"Itu, ada tukang Nasi Goreng Tek-tek di depan. Berhenti."
Mang Ojak dan Lintang saling pandang bingung. Tumben? Biasanya Bara bakal nyuruh mereka tahan lapar sampai ruko biar bisa masak mie instan yang stoknya masih banyak.
Si Putih menepi. Bara turun duluan, disusul dua kroconya yang masih bengong.
"Pesen gih. Jangan pake mahal. Nasi goreng biasa aja, nggak usah pake ati ampela," kata Bara sambil duduk di bangku plastik pinggir jalan.
"Mas Bara... serius?" Lintang menempelkan punggung tangannya ke jidat Bara. "Nggak demam kan? Nggak abis kepentok pintu mobil kan?"
"Berisik. Buruan pesen sebelum gue berubah pikiran jadi pesen angin doang," ketus Bara.
Mata Lintang langsung berbinar. "Mang Ojak! Pesen yang pedes! Mumpung Bos Besar lagi kerasukan roh dermawan!"
Malam itu, mereka makan di pinggir trotoar ditemani debu jalanan. Tapi entah kenapa, nasi goreng abang-abang itu rasanya jadi makanan paling enak sedunia. Mungkin karena dimakan bareng-bareng setelah melewati hari yang berat.
Sambil mengunyah kerupuk, HP Lintang berbunyi.
"Mas, si Anonim bales!"
Bara berhenti menyuap. "Bilang apa dia?"
Lintang membaca layar HP-nya dengan mulut penuh nasi.
User102938: Terima kasih, Mas & Mbak. Saya sudah dapat laporannya. Sisa uangnya ambil saja buat jajan tim dapur. Kalian orang baik.
"Anjay... apa dia punya mata-mata?" Mang Ojak keselek timun. "Jangan-jangan pengamen yang tadi di lampu merah itu intel?"
Bara mendengus. "Bodo amat. Yang penting case closed. Duit aman."
Tapi diam-diam, Bara mengulas senyum tipis. Tipis banget sampai nggak kelihatan kalau nggak diperhatiin pake mikroskop. Hari ini dia nggak untung banyak secara materi malah boncos traktir nasi goreng tapi rasanya... kenyang.
``
Sampai di ruko, jam sudah menunjukkan pukul 9.30 malam.
Rutinitas kembali berjalan. Mang Ojak memarkir Si Putih dengan penuh kasih sayang ("Tidur yang nyenyak ya, Cantik"). Lintang sibuk memindahkan file video dari HP ke laptop bututnya.
Bara masuk ke dapur, melepas bajunya yang bau asap dan debu. Dia mencuci tangan di wastafel stainless, menatap pantulan dirinya di cermin kecil di atas keran.
"Oke, Bara. Cukup drama kemanusiaannya," gumamnya pada diri sendiri. "Besok balik ke mode cari cuan. Target omzet bulan ini belum tembus."
Baru saja dia mau mematikan lampu dapur, telepon kabel di meja kasir berdering nyaring.
KRIIING! KRIIING!
Bara, Lintang, dan Mang Ojak (yang baru mau pamit pulang) langsung menoleh serentak.
Telepon kabel itu jarang bunyi. Kebanyakan orderan lewat aplikasi atau WA. Kalau telepon kabel bunyi, biasanya cuma dua kemungkinan: Salah sambung, atau orang tua minta sumbangan.
Bara mengangkat gagang telepon dengan malas.
"Halo, Bara's Kitchen. Maaf kami udah tutup."
"TOLONG! MAS! TOLONG SAYA!"
Suara seorang cowok panik terdengar dari seberang. Napasnya memburu kayak orang dikejar setan.
Kening Bara berkerut. "Mas, kalau dikejar begal, telepon polisi. Ini toko roti."
"BUKAN BEGAL! INI LEBIH PARAH!" Cowok itu berteriak histeris. "Saya butuh kue tart! Sekarang juga! Buat besok pagi! Tunangan saya ngancem batalin lamaran kalau nggak ada kue sesuai impian dia!"
Bara melirik jam dinding. Hampir jam 10 malam.
"Mas, kita Ghost Kitchen, bukan Sangkuriang. Pesen kue dadakan mana bisa," tolak Bara tegas. "Toko lain udah tutup semua?"
"Udah! Mas harapan terakhir saya! Saya bayar dua kali lipat! Nggak, TIGA KALI LIPAT! Asal kuenya jadi subuh nanti!"
Kata kunci ajaib itu terdengar. Tiga kali lipat.
Mata Bara yang tadi sudah layu karena ngantuk, mendadak terbuka lebar. Hijau. Bersinar. Kalkulator di kepalanya langsung berhitung cepat. Tiga kali lipat harga kue tart custom... bisa buat bayar listrik ruko dua bulan.
Bara menutup mouthpiece telepon, lalu menoleh ke Lintang dan Mang Ojak yang sudah siap-siap pulang tas dicangklong.
"Jangan pulang dulu," kata Bara sambil menyeringai lebar. "Kita lembur."
Lintang melongo. "Hah? Mas? Aku baru mau skincare-an!"
Mang Ojak lemas. "Encok Abah kumat, Den..."
Bara kembali bicara ke gagang telepon.
"Oke, Mas. Kirim desainnya. Siapin duitnya. Jangan kaget kalau harganya bikin serangan jantung."
Bara menutup telepon.
"Siapin mixer, Tang. Panasin oven, Mang." Bara mengikat rambut gondrongnya kencang-kencang. "Malam ini kita nggak tidur. Ada bucin tolol yang mau buang duit."
Arc 1 selesai. Masuk ke Arc 2: The Chaos of Love.