Seharusnya Maximilian membiarkan gadis itu hancur. Logika mafianya berkata: jangan campuri urusan musuhmu. Namun, saat melihat Rebecca Sinclair yang nyaris kehilangan segalanya di sebuah gang gelap, Maximilian melanggar aturan emasnya sendiri.
Satu perkelahian brutal, beberapa tulang yang retak, dan tiga nyawa yang melayang di tangannya demi seorang gadis yang tidak ia kenal. Kini, Rebecca berhutang nyawa pada pria yang jauh lebih berbahaya daripada para penyerangnya.
Bagi Rebecca, Maximilian adalah penyelamat yang dingin dan mengerikan. Bagi Maximilian, Rebecca adalah kesalahan logika terbesar yang pernah ia buat. Namun, setelah darahnya tumpah demi gadis itu, Maximilian tidak akan pernah membiarkannya pergi.
"Aku menyelamatkanmu bukan untuk membebaskanmu, Rebecca. Kau milikku sekarang—sampai hutang nyawa ini lunas."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Belati di Balik Sutra
Pagi di kediaman pegunungan Maximilian Moretti tidak pernah diawali dengan kicauan burung yang menenangkan. Bagi Rebecca, pagi adalah pengingat bahwa ia sedang berada di dalam sangkar emas yang dilapisi baja dan mesiu. Di ruang latihan bawah tanah yang dingin dan kedap suara, bau minyak senjata dan mesiu yang terbakar menjadi aroma barunya.
Maximilian berdiri di belakang Rebecca, tubuhnya yang tegap menciptakan bayangan yang menelan tubuh gadis itu. Tangan Max yang besar dan kasar membungkus tangan Rebecca yang memegang Glock 17. Dinginnya logam senjata itu kontras dengan panas tubuh Maximilian yang menempel di punggungnya.
"Jangan hanya mengandalkan telunjukmu, Rebecca. Rasakan beratnya. Jika kau ragu, senjata ini akan memakanmu," bisik Maximilian. Suaranya rendah, bergetar tepat di dekat telinga Rebecca, lebih mematikan daripada ancaman mana pun yang pernah ia dengar.
"Aku takut jika aku menarik pelatuknya, aku tidak bisa kembali menjadi diriku yang dulu, Om," gumam Rebecca, suaranya sedikit gemetar.
Maximilian tidak memberikan simpati. Ia justru mengeratkan genggamannya, memaksa moncong senjata itu tetap lurus ke arah target siluet di depan mereka. "Kau sudah mati di gang itu, Rebecca Sinclair. Rebecca Moretti yang berdiri di sini tidak punya kemewahan untuk memiliki nurani yang lemah. Pilihannya hanya dua: menjadi serigala yang menggigit, atau tetap menjadi domba yang menunggu disembelih Valenti. Tembak."
DAARR!
Sentakan senjata itu membuat bahu Rebecca terlempar ke belakang, masuk ke dalam dekapan kokoh Maximilian. Pelurunya mengenai bahu sasaran. Maximilian tidak tersenyum, namun kilat puas muncul di matanya yang gelap. Ia melepaskan genggamannya, membiarkan Rebecca mengatur napas yang memburu.
"Cukup untuk hari ini. Vargo sudah menunggumu," kata Maximilian sambil mengambil senjata itu dari tangan Rebecca dengan gerakan anggun yang berbahaya. "Ingat, di Universitas St. Jude, kau adalah mahasiswi hukum yang elegan. Tapi di balik blazermu, kau adalah kepanjangan tanganku. Jangan biarkan siapa pun merobek sutramu untuk melihat belati di dalamnya."
Perjalanan menuju kampus terasa seperti menuju medan perang dengan kostum pesta. Rebecca mengenakan terusan sutra berwarna biru navy yang tertutup blazer putih tulang. Di pinggangnya, terselip pisau lipat taktis yang diberikan Vargo—sebuah jimat perlindungan yang terasa berat di kulitnya.
Universitas St. Jude tampak megah seperti biasa, namun kini Rebecca melihatnya dengan mata yang berbeda. Ia memperhatikan setiap mobil yang parkir, setiap pria berkacamata hitam yang berdiri terlalu lama di pojokan, dan setiap gerak-gerik yang mencurigakan. Vargo dan Liam mengikutinya dengan jarak sepuluh meter, seperti bayangan yang haus darah.
Di perpustakaan tua yang sunyi, di antara deretan buku hukum perdata yang tebal, Julian Valenti muncul kembali. Pria itu tampak seperti predator yang sedang bermain-main dengan mangsanya. Ia duduk di depan Rebecca, dengan sengaja menutup buku yang sedang dibaca gadis itu.
"Nama Moretti itu seperti perisai baja, ya?" Julian menyeringai. Matanya yang tajam seolah mencoba menguliti identitas Rebecca. "Tapi kau harus tahu, Moretti punya banyak musuh. Dan sejarah mencatat, cara tercepat menghancurkan pria seperti Maximilian adalah dengan mengambil apa yang dia anggap sebagai 'aset' paling berharga."
Rebecca merasakan adrenalin berdesir di nadinya. Ia teringat latihan pagi tadi. Ia tidak menunduk. Ia justru memajukan tubuhnya, menatap Julian tepat di manik matanya.
"Jika kau merasa cukup kuat untuk menembus baja itu, silakan coba, Julian," ucap Rebecca dengan nada suara yang meniru dinginnya Maximilian. "Tapi pastikan pamanmu, Enzo, sudah memesan tempat di pemakaman paling elit. Karena Maximilian tidak suka barangnya disentuh, apalagi oleh tangan kotor seperti keluargamu."
Julian terpaku. Keberanian Rebecca yang tiba-tiba ini di luar dugaannya. Namun, sebelum ia sempat membalas, ponsel di saku blazer Rebecca bergetar. Sebuah pesan singkat dari nomor yang tidak tersimpan, namun ia tahu siapa pemiliknya.
Max: Keluar lewat pintu belakang perpustakaan sekarang. Ada Audi hitam tanpa plat di gang kecil. Masuk ke sana. Vargo dan Liam akan memancing keluar para tikus di gerbang depan. Jangan menoleh ke belakang.
Jantung Rebecca berdegup kencang. Ia melirik ke arah jendela tinggi perpustakaan dan melihat dua mobil SUV hitam baru saja masuk ke area parkir, menghalangi Bentley milik Maximilian.
"Ada apa, Moretti? Wajahmu pucat. Apa pahlawanmu sedang sibuk?" ejek Julian, menyadari perubahan ekspresi Rebecca.
Rebecca berdiri, merapikan tasnya dengan tangan yang kini stabil—sebuah ketenangan yang lahir dari keputusasaan. "Nikmati sisa harimu, Julian. Karena kurasa, mulai besok kau akan merindukan saat-saat di mana kau hanya perlu berurusan dengan buku, bukan dengan peti mati."
Tanpa menunggu reaksi Julian, Rebecca berjalan cepat menuju rak buku bagian belakang. Ia mendorong pintu darurat yang menuju ke jalur servis. Udara dingin menyambutnya. Di sana, sebuah Audi hitam dengan kaca film yang sangat gelap sudah menunggu dengan mesin yang menderu halus.
Pintu belakang terbuka secara otomatis. Rebecca melompat masuk. Di dalam, bau parfum maskulin yang familiar menyambutnya.
Maximilian duduk di sana, memegang tablet yang menampilkan umpan kamera CCTV kampus. Ia tidak menoleh saat Rebecca masuk. "Dua menit sepuluh detik. Kau lambat, Rebecca."
"Ada Julian Valenti di sana," Rebecca mencoba membela diri sambil mengatur napasnya.
Maximilian akhirnya menoleh. Ia melihat peluh di dahi Rebecca dan bagaimana gadis itu menggenggam erat tasnya. Tanpa kata, Max mengulurkan tangan, menarik Rebecca ke dalam pelukannya. Bukan pelukan hangat yang menenangkan, melainkan pelukan posesif yang mengklaim.
"Julian hanyalah gangguan kecil," ucap Max pelan. Di luar, suara tembakan terdengar samar dari arah gerbang depan kampus—pengalihan yang dilakukan Vargo. "Tujuan sebenarnya hari ini adalah menunjukkan pada Enzo bahwa kau tidak tersentuh. Kau melakukannya dengan baik di dalam tadi. Aku mendengar setiap kata yang kau ucapkan pada Julian melalui penyadap di blazermu."
Rebecca tersentak. "Om menyadapku?"
"Aku menjagamu," koreksi Maximilian. Ia mengangkat dagu Rebecca, memaksa gadis itu menatap matanya yang sehitam malam. "Kau bilang kau tidak akan membuatku malu. Tadi adalah awal yang bagus. Tapi perang yang sesungguhnya baru saja dimulai. Malam ini, Enzo Valenti mengadakan perjamuan amal. Dan kau, Rebecca Moretti, akan datang bersamaku sebagai pernyataan perang yang paling indah."
Rebecca menelan ludah. Dari ruang kuliah ke medan perang mafia dalam satu hari. Ia menyentuh memar di rahang Maximilian yang mulai memudar—luka yang didapat pria itu saat menyelamatkannya.
"Jika aku pergi bersamamu malam ini, tidak akan ada jalan kembali, kan?"
Maximilian memberikan senyum tipis yang mematikan, lalu mengecup sudut bibir Rebecca. "Jalan kembalimu sudah terbakar habis sejak kau memegang senjataku pagi tadi, Rebecca. Sekarang, kita hanya punya jalan ke depan ... menuju puncak, atau menuju kehancuran bersama."
Audi itu melesat meninggalkan area kampus, membelah kemacetan kota dengan kecepatan yang menantang maut, membawa Rebecca semakin jauh dari dunia Sinclair yang hancur, menuju takdir Moretti yang berdarah dan penuh kuasa.
𝐥𝐞𝐧𝐠𝐤𝐚𝐩 𝐬𝐝𝐡 𝐬𝐥𝐡 𝐩𝐡𝐦 𝐢𝐧𝐢 🤣🤣🤣