NovelToon NovelToon
Mencintai OM Mafia

Mencintai OM Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Seiring Waktu / Roman-Angst Mafia
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

Seharusnya Maximilian membiarkan gadis itu hancur. Logika mafianya berkata: jangan campuri urusan musuhmu. Namun, saat melihat Rebecca Sinclair yang nyaris kehilangan segalanya di sebuah gang gelap, Maximilian melanggar aturan emasnya sendiri.

​Satu perkelahian brutal, beberapa tulang yang retak, dan tiga nyawa yang melayang di tangannya demi seorang gadis yang tidak ia kenal. Kini, Rebecca berhutang nyawa pada pria yang jauh lebih berbahaya daripada para penyerangnya.

​Bagi Rebecca, Maximilian adalah penyelamat yang dingin dan mengerikan. Bagi Maximilian, Rebecca adalah kesalahan logika terbesar yang pernah ia buat. Namun, setelah darahnya tumpah demi gadis itu, Maximilian tidak akan pernah membiarkannya pergi.

​"Aku menyelamatkanmu bukan untuk membebaskanmu, Rebecca. Kau milikku sekarang—sampai hutang nyawa ini lunas."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Belati di Balik Sutra

Pagi di kediaman pegunungan Maximilian Moretti tidak pernah diawali dengan kicauan burung yang menenangkan. Bagi Rebecca, pagi adalah pengingat bahwa ia sedang berada di dalam sangkar emas yang dilapisi baja dan mesiu. Di ruang latihan bawah tanah yang dingin dan kedap suara, bau minyak senjata dan mesiu yang terbakar menjadi aroma barunya.

Maximilian berdiri di belakang Rebecca, tubuhnya yang tegap menciptakan bayangan yang menelan tubuh gadis itu. Tangan Max yang besar dan kasar membungkus tangan Rebecca yang memegang Glock 17. Dinginnya logam senjata itu kontras dengan panas tubuh Maximilian yang menempel di punggungnya.

"Jangan hanya mengandalkan telunjukmu, Rebecca. Rasakan beratnya. Jika kau ragu, senjata ini akan memakanmu," bisik Maximilian. Suaranya rendah, bergetar tepat di dekat telinga Rebecca, lebih mematikan daripada ancaman mana pun yang pernah ia dengar.

"Aku takut jika aku menarik pelatuknya, aku tidak bisa kembali menjadi diriku yang dulu, Om," gumam Rebecca, suaranya sedikit gemetar.

Maximilian tidak memberikan simpati. Ia justru mengeratkan genggamannya, memaksa moncong senjata itu tetap lurus ke arah target siluet di depan mereka. "Kau sudah mati di gang itu, Rebecca Sinclair. Rebecca Moretti yang berdiri di sini tidak punya kemewahan untuk memiliki nurani yang lemah. Pilihannya hanya dua: menjadi serigala yang menggigit, atau tetap menjadi domba yang menunggu disembelih Valenti. Tembak."

DAARR!

Sentakan senjata itu membuat bahu Rebecca terlempar ke belakang, masuk ke dalam dekapan kokoh Maximilian. Pelurunya mengenai bahu sasaran. Maximilian tidak tersenyum, namun kilat puas muncul di matanya yang gelap. Ia melepaskan genggamannya, membiarkan Rebecca mengatur napas yang memburu.

"Cukup untuk hari ini. Vargo sudah menunggumu," kata Maximilian sambil mengambil senjata itu dari tangan Rebecca dengan gerakan anggun yang berbahaya. "Ingat, di Universitas St. Jude, kau adalah mahasiswi hukum yang elegan. Tapi di balik blazermu, kau adalah kepanjangan tanganku. Jangan biarkan siapa pun merobek sutramu untuk melihat belati di dalamnya."

Perjalanan menuju kampus terasa seperti menuju medan perang dengan kostum pesta. Rebecca mengenakan terusan sutra berwarna biru navy yang tertutup blazer putih tulang. Di pinggangnya, terselip pisau lipat taktis yang diberikan Vargo—sebuah jimat perlindungan yang terasa berat di kulitnya.

Universitas St. Jude tampak megah seperti biasa, namun kini Rebecca melihatnya dengan mata yang berbeda. Ia memperhatikan setiap mobil yang parkir, setiap pria berkacamata hitam yang berdiri terlalu lama di pojokan, dan setiap gerak-gerik yang mencurigakan. Vargo dan Liam mengikutinya dengan jarak sepuluh meter, seperti bayangan yang haus darah.

Di perpustakaan tua yang sunyi, di antara deretan buku hukum perdata yang tebal, Julian Valenti muncul kembali. Pria itu tampak seperti predator yang sedang bermain-main dengan mangsanya. Ia duduk di depan Rebecca, dengan sengaja menutup buku yang sedang dibaca gadis itu.

"Nama Moretti itu seperti perisai baja, ya?" Julian menyeringai. Matanya yang tajam seolah mencoba menguliti identitas Rebecca. "Tapi kau harus tahu, Moretti punya banyak musuh. Dan sejarah mencatat, cara tercepat menghancurkan pria seperti Maximilian adalah dengan mengambil apa yang dia anggap sebagai 'aset' paling berharga."

Rebecca merasakan adrenalin berdesir di nadinya. Ia teringat latihan pagi tadi. Ia tidak menunduk. Ia justru memajukan tubuhnya, menatap Julian tepat di manik matanya.

"Jika kau merasa cukup kuat untuk menembus baja itu, silakan coba, Julian," ucap Rebecca dengan nada suara yang meniru dinginnya Maximilian. "Tapi pastikan pamanmu, Enzo, sudah memesan tempat di pemakaman paling elit. Karena Maximilian tidak suka barangnya disentuh, apalagi oleh tangan kotor seperti keluargamu."

Julian terpaku. Keberanian Rebecca yang tiba-tiba ini di luar dugaannya. Namun, sebelum ia sempat membalas, ponsel di saku blazer Rebecca bergetar. Sebuah pesan singkat dari nomor yang tidak tersimpan, namun ia tahu siapa pemiliknya.

Max: Keluar lewat pintu belakang perpustakaan sekarang. Ada Audi hitam tanpa plat di gang kecil. Masuk ke sana. Vargo dan Liam akan memancing keluar para tikus di gerbang depan. Jangan menoleh ke belakang.

Jantung Rebecca berdegup kencang. Ia melirik ke arah jendela tinggi perpustakaan dan melihat dua mobil SUV hitam baru saja masuk ke area parkir, menghalangi Bentley milik Maximilian.

"Ada apa, Moretti? Wajahmu pucat. Apa pahlawanmu sedang sibuk?" ejek Julian, menyadari perubahan ekspresi Rebecca.

Rebecca berdiri, merapikan tasnya dengan tangan yang kini stabil—sebuah ketenangan yang lahir dari keputusasaan. "Nikmati sisa harimu, Julian. Karena kurasa, mulai besok kau akan merindukan saat-saat di mana kau hanya perlu berurusan dengan buku, bukan dengan peti mati."

Tanpa menunggu reaksi Julian, Rebecca berjalan cepat menuju rak buku bagian belakang. Ia mendorong pintu darurat yang menuju ke jalur servis. Udara dingin menyambutnya. Di sana, sebuah Audi hitam dengan kaca film yang sangat gelap sudah menunggu dengan mesin yang menderu halus.

Pintu belakang terbuka secara otomatis. Rebecca melompat masuk. Di dalam, bau parfum maskulin yang familiar menyambutnya.

Maximilian duduk di sana, memegang tablet yang menampilkan umpan kamera CCTV kampus. Ia tidak menoleh saat Rebecca masuk. "Dua menit sepuluh detik. Kau lambat, Rebecca."

"Ada Julian Valenti di sana," Rebecca mencoba membela diri sambil mengatur napasnya.

Maximilian akhirnya menoleh. Ia melihat peluh di dahi Rebecca dan bagaimana gadis itu menggenggam erat tasnya. Tanpa kata, Max mengulurkan tangan, menarik Rebecca ke dalam pelukannya. Bukan pelukan hangat yang menenangkan, melainkan pelukan posesif yang mengklaim.

"Julian hanyalah gangguan kecil," ucap Max pelan. Di luar, suara tembakan terdengar samar dari arah gerbang depan kampus—pengalihan yang dilakukan Vargo. "Tujuan sebenarnya hari ini adalah menunjukkan pada Enzo bahwa kau tidak tersentuh. Kau melakukannya dengan baik di dalam tadi. Aku mendengar setiap kata yang kau ucapkan pada Julian melalui penyadap di blazermu."

Rebecca tersentak. "Om menyadapku?"

"Aku menjagamu," koreksi Maximilian. Ia mengangkat dagu Rebecca, memaksa gadis itu menatap matanya yang sehitam malam. "Kau bilang kau tidak akan membuatku malu. Tadi adalah awal yang bagus. Tapi perang yang sesungguhnya baru saja dimulai. Malam ini, Enzo Valenti mengadakan perjamuan amal. Dan kau, Rebecca Moretti, akan datang bersamaku sebagai pernyataan perang yang paling indah."

Rebecca menelan ludah. Dari ruang kuliah ke medan perang mafia dalam satu hari. Ia menyentuh memar di rahang Maximilian yang mulai memudar—luka yang didapat pria itu saat menyelamatkannya.

"Jika aku pergi bersamamu malam ini, tidak akan ada jalan kembali, kan?"

Maximilian memberikan senyum tipis yang mematikan, lalu mengecup sudut bibir Rebecca. "Jalan kembalimu sudah terbakar habis sejak kau memegang senjataku pagi tadi, Rebecca. Sekarang, kita hanya punya jalan ke depan ... menuju puncak, atau menuju kehancuran bersama."

Audi itu melesat meninggalkan area kampus, membelah kemacetan kota dengan kecepatan yang menantang maut, membawa Rebecca semakin jauh dari dunia Sinclair yang hancur, menuju takdir Moretti yang berdarah dan penuh kuasa.

1
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐧𝐚𝐡 𝐠𝐢𝐭𝐮 𝐝𝐨𝐧𝐠 𝐦𝐚𝐱 😘😘😘 𝐥𝐧𝐣𝐭 𝐭𝐡𝐨𝐫
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐜𝐨𝐧𝐠𝐨𝐫 𝐁𝐢𝐚𝐧𝐜𝐚 𝐥𝐠𝐬𝐧𝐠 𝐤𝐢𝐜𝐞𝐩 𝐝𝐢𝐬𝐞𝐥𝐚𝐦𝐚𝐭𝐢𝐧 𝐬𝐦 𝐑𝐞𝐛𝐞𝐜𝐜𝐚, 𝐤𝐥𝐨 𝐧𝐠𝐠𝐚𝐤 𝐮𝐝𝐡 𝐦𝐨𝐝𝐲𝐚𝐫 𝐥𝐨 𝐛𝐢𝐚𝐧 😡😡😡
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐥𝐧𝐣𝐭 🦾🦾🦾
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐤𝐚𝐬𝐢𝐡𝐚𝐧 𝐑𝐞𝐛𝐞𝐜𝐜𝐚 𝐛𝐢𝐦𝐛𝐚𝐧𝐠 😭😭😭
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐤𝐨𝐤 𝟏𝐛𝐚𝐛 𝐝𝐨𝐚𝐧𝐠 𝐤𝐚𝐤 𝐨𝐭𝐡𝐨𝐫 😭😭😭
EsKobok: waduh🤣
total 3 replies
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐥𝐚𝐧𝐣𝐮𝐭 😘😘😘
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐠𝐨𝐨𝐝 𝐣𝐨𝐛 𝐛𝐞𝐜𝐜𝐚 𝐚𝐲𝐨 𝐛𝐚𝐧𝐭𝐮 𝐦𝐚𝐱😘😘😘
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐛𝐨𝐧𝐮𝐬 𝐤𝐞𝐦𝐛𝐚𝐧𝐠 𝐤𝐫𝐧 𝐡𝐫 𝐢𝐧𝐢 𝐮𝐩 𝟑𝐛𝐚𝐛 𝐨𝐭𝐡𝐨𝐫 😘😘😘
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐛𝐚𝐡𝐚𝐬𝐚 𝐧𝐲𝐚 𝐢𝐧𝐢 𝐦𝐚𝐟𝐢𝐚 𝐈𝐭𝐚𝐥𝐢𝐚/𝐒𝐩𝐚𝐧𝐲𝐨𝐥 𝐭𝐩 𝐒𝐩𝐚𝐧𝐲𝐨𝐥 𝐦𝐚𝐟𝐢𝐚 𝐭𝐝𝐤 𝐭𝐞𝐫𝐥𝐚𝐥𝐮 𝐭𝐫𝐤𝐧𝐥, 𝐥𝐛𝐡 𝐤𝐞 𝐦𝐚𝐟𝐢𝐚 𝐈𝐭𝐚𝐥𝐢𝐚 𝐬𝐢𝐡 𝐲𝐠 𝐬𝐞𝐫𝐢𝐧𝐠 𝐚𝐪 𝐥𝐡𝐭 𝐝𝐢 𝐟𝐢𝐥𝐦𝟐 😘😘😘🦾🦾🦾
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐚𝐡 𝐬𝐞𝐫𝐮 𝐤𝐞𝐫𝐞𝐧 𝐭𝐡𝐨𝐫 🦾🦾😘😘
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐢𝐬𝐭𝐫𝐢 𝐛𝐞𝐜𝐜𝐚 𝐛𝐤𝐧 𝐩𝐞𝐥𝐚𝐲𝐚𝐧, 𝐦𝐚𝐱 𝐦𝐞𝐦𝐩𝐞𝐫𝐥𝐚𝐤𝐮𝐤𝐚𝐧 𝐦𝐮 𝐛𝐞𝐠𝐢𝐭𝐮 𝐢𝐬𝐭𝐢𝐦𝐢𝐰𝐢𝐫 😘😘😘
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐐 𝐤𝐬𝐡 𝐤𝐞𝐦𝐛𝐚𝐧𝐠 𝐲𝐚 𝐭𝐡𝐨𝐫 𝐛𝐢𝐚𝐫 𝐬𝐞𝐦𝐚𝐧𝐠𝐚𝐭 𝐧𝐮𝐥𝐢𝐬𝐧𝐲𝐚 🦾🦾🦾
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥: 𝐬𝐚𝐦𝐚𝟐 𝐬𝐞𝐦𝐚𝐧𝐠𝐚𝐭 𝐧𝐮𝐥𝐢𝐬𝐧𝐲𝐚 𝐲𝐚 𝐤𝐚𝐤 𝐨𝐭𝐡𝐨𝐫 😘😘😘
total 2 replies
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐤𝐫𝐧 𝐑𝐞𝐛𝐞𝐜𝐜𝐚 𝐌𝐫𝐬 𝐭𝐝𝐤 𝐩𝐚𝐧𝐭𝐚𝐬, 𝐝𝐚𝐧 𝐌𝐚𝐱𝐢𝐦𝐢𝐥𝐢𝐚𝐧 𝐭𝐝𝐤 𝐛𝐢𝐬𝐚 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐠𝐨𝐦𝐛𝐚𝐥 𝐝𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐮𝐧𝐠𝐤𝐚𝐩𝐤𝐚𝐧 𝐩𝐞𝐫𝐚𝐬𝐚𝐚𝐧 𝐧𝐲𝐚 𝐥𝐰𝐭 𝐤𝐭𝟐 𝐤𝐫𝐧 𝐝𝐢𝐚 𝐭𝐝𝐤 𝐩𝐫𝐧𝐡 𝐦𝐞𝐥𝐚𝐤𝐮𝐤𝐚𝐧 𝐢𝐭𝐮, 𝐤𝐫𝐧 𝐝𝐢 𝐝𝐮𝐧𝐢𝐚 𝐦𝐚𝐟𝐢𝐚 𝐭𝐝𝐤 𝐚𝐝𝐚 𝐜𝐢𝐧𝐭𝐚 𝐲𝐠 𝐚𝐝𝐚 𝐡𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐚𝐫𝐚𝐡😭😭😭

𝐥𝐞𝐧𝐠𝐤𝐚𝐩 𝐬𝐝𝐡 𝐬𝐥𝐡 𝐩𝐡𝐦 𝐢𝐧𝐢 🤣🤣🤣
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐚𝐤𝐡𝐢𝐫𝐧𝐲𝐚 𝐮𝐩 𝐣𝐠, 𝐛𝐚𝐜𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐬𝐚𝐦𝐛𝐢𝐥 𝐧𝐚𝐡𝐚𝐧 𝐧𝐚𝐩𝐚𝐬 😁😁😁👍👍👍
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐡𝐞𝐫𝐚𝐧 𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐚𝐫𝐲𝐚 𝐬𝐞𝐛𝐚𝐠𝐮𝐬 𝐢𝐧𝐢 𝐫𝐞𝐚𝐝𝐞𝐫𝐬 𝐝𝐚𝐧 𝐥𝐢𝐤𝐞 𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐢𝐤𝐢𝐭 𝐛𝐧𝐠𝐭😭😭😭
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐧𝐢𝐤𝐚𝐡𝐢𝐧 𝐑𝐞𝐛𝐞𝐜𝐜𝐚 𝐦𝐚𝐱 𝐛𝐢𝐚𝐫 𝐣𝐞𝐥𝐚𝐬 😁😁😁
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐢𝐧𝐢 𝐛𝐚𝐫𝐮 𝐦𝐚𝐟𝐢𝐚😁😁😘😘
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐚𝐲𝐨 𝐑𝐞𝐛𝐞𝐜𝐜𝐚 𝐣𝐠𝐧 𝐥𝐞𝐦𝐚𝐡 😘😘😘
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐤𝐞𝐫𝐞𝐧 😘😘
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐛𝐚𝐠𝐮𝐬 👍👍👍 𝐢𝐧𝐢 𝐥𝐚𝐭𝐚𝐫 𝐛𝐞𝐥𝐚𝐤𝐚𝐧𝐠 𝐝𝐢 𝐧𝐞𝐠𝐚𝐫𝐚 𝐦𝐚𝐧𝐚 𝐭𝐡𝐨𝐫😁😁😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!