NovelToon NovelToon
THE SEER'S VISION..Pacarku Sang Peramal

THE SEER'S VISION..Pacarku Sang Peramal

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Idola sekolah / Tamat
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Nia Rmdhn

Rian, cowok populer ber-skill indigo, effort banget ngejagain Arini yang amat dicintainya lewat penglihatan masa depan yang nggak pernah fail.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nia Rmdhn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

WAR SIOMAY DAN TATAPAN MAUT

Bel istirahat berdentang nyaring, "Ting! Ting!", memecah keheningan jam pelajaran terakhir yang bener-bener bikin brain fog.

Koridor SMA Tunas Bangsa mendadak chaos lagi, lautan siswa berhamburan seolah baru aja dapet remisi bebas.

Tapi di dalem kelas XI-2, suasananya kerasa beda, ada aura awkward yang menyelimuti meja sudut.

Arini lagi slow respon ngerapiin alat tulisnya pas sesosok bayangan tinggi muncul di ambang pintu.

Rian melangkah masuk dengan gaya cool Matanya langsung locked ke satu titik.

Di sana, duduk Yusa. Mereka lagi ngobrol soal urusan kelas, dan posisi duduk Yusa kelihatan condong banget ke arah Arini, ekspresinya bener-bener antusias—atau mungkin terlalu antusias.

Rian nyamperin meja mereka. Tatapannya mendadak tajam, niat terselubung cowok di depan Arini itu. Insting "peramal"-nya mulai memberikan sinyal warning.

"Rian?" sapa Arini kaget pas sadar cowok itu udah di samping mejanya.

Rian ngelirik Yusa bentar, terus balik ke Arini dengan senyum tipis yang kerasa agak dipaksain. "Sori ganggu kalian. Ada yang lihat Gery nggak?" tanya Rian singkat, suaranya datar banget.

Yusa yang ngerasa obrolannya di-cut menjawab tanpa nengok sepenuhnya, "Gery sudah keluar tadi. Katanya mau langsung ke kantin."

"Oh," jawab Rian pendek. Matanya balik natap Arini, intensitasnya berubah melembut. "Rin, mau ke kantin bareng?"

Sebelum Arini sempet buka mulut, Yusa langsung motong pembicaraan. "Arini nanti bareng gue ke kantin. Kita lagi nunggu Siska dulu, ada urusan kelas yang belum kelar."

Rian natap Yusa dalem, Ada tensi yang nggak kelihatan tapi kerasa panas banget di antara mereka. Kepekaan Rian nangkep kilasan emosi Yusa—sebuah perasaan protektif yang udah mulai masuk kategori over.

"Oke, kalau gitu aku pergi dulu ya," ucap Rian ke Arini tanpa mau memperpanjang drama di depan si ketua kelas. Dia langsung puter balik dan jalan keluar kelas dengan langkah lebar.

"Yan, tunggu!" Arini berteriak pelan sambil berdiri, tangannya refleks mau nahan Rian.

Rian cuma nengok sekilas tanpa berhenti, terus ngilang di balik tembok koridor.

"Sudah, di sini aja sama aku ya, Rin," ucap Yusa sambil narik lembut lengan seragam Arini biar duduk lagi.

Arini duduk dengan perasaan nggak tenang. Hatinya kacau banget. Aku sebenarnya mau banget ke kantin bareng Rian, batinnya kecewa berat.

Nggak lama, Siska dateng sambil ngos-ngosan. "Eh, sori ya gue lama di kamar mandi, Yuk, ke kantin sekarang Perut gue udah demo minta jatah nih."

"Yuk, Rin," ajak Yusa. Dia mau coba gandeng tangan Arini pas mereka berdiri, tapi Arini langsung nepis tangan yusa dengan cara ngebetulin letak tasnya.

"Kamu jalan duluan aja, Yus," tolak Arini lembut tapi tegas.

Mereka bertiga jalan ke kantin yang udah full booked dan berisik parah. Sambil nunggu antrean pesanan, Yusa semangat banget bahas soal Arini yang bakal jadi sekretaris kelas.

Dia bener-bener usaha buat monopoli perhatian Arini, seolah nggak mau kasih celah buat Arini mikirin hal lain.

Pas Arini baru aja mau beranjak buat pesen makanan karena antrean mulai longgar, tiba-tiba piring berisi siomay hangat diletakkan di depannya. Aroma bumbu kacangnya bener-bener tempting, gurih banget menusuk hidung.

"Nggak usah pesan ya, aku sudah beliin buat kamu," suara itu milik Rian. Dia muncul tiba-tiba dengan senyum misterius yang udah balik lagi di wajahnya.

Yusa terdiam, mukanya langsung berubah. Matanya natap Rian dengan rasa cemburu yang kelihatan jelas banget. Arini langsung senyum lebar, rasa kesalnya tadi langsung healing seketika.

"Dari mana kamu tahu aku mau pesan siomay? Lagian Rian, aku bisa pesan sendiri tahu," tanya Arini heran tapi seneng.

"Nggak boleh nolak rezeki, Rin. Nanti cantiknya hilang loh," goda Rian sambil ngedipin sebelah matanya,

"Ih, apa sih Nggak ada hubungannya tahu, Rian," Arini tertawa kecil, pipinya auto blushing parah.

Yusa yang ngerasa jadi obat nyamuk di situ segera motong dengan suara tegas. "Sudah yuk, Rin. Fokus bahas masalah sekretaris ini dulu. Waktu istirahat nggak banyak, jangan buang waktu buat hal nggak penting."

Arini ngerasa awkward. "I-iya... ya udah. Rian, makasih ya siomaynya."

Rian natap Yusa dengan tatapan penuh kemenangan. Dia cemburu banget aku mengobrol dengan Arini, batin Rian. Insting peramalnya nangkep emosi negatif yang meluap dari Yusa, sesuatu yang kerasa gelap.

"Ya udah, kalau gitu aku duluan ya. Selamat makan, Rin," ucap Rian sambil berlalu dengan langkah santai.

"Ciee... ciee..." Siska langsung beraksi begitu Rian menjauh. "Fix, itu cowok suka sama lu, Rin Masa iya dia sepeka itu? Belum lu pesan makan, eh dia udah tahu apa yang lu mau. Kapan lagi kan lu ditaksir sama peramal sakti?"

"Ih, kamu itu tahu dari mana kalau Rian suka sama aku, Sis?" tanya arini

"Duh, Rin! Lu itu masih nggak peka atau pura-pura polos sih? Mana ada cowok yang effort-nya seromantis itu kalau dia nggak ada rasa? Iya nggak, Yus?" Siska nyenggol lengan Yusa.

Yusa nutup bukunya dengan kasar, suaranya kedengeran kesel banget. "Sudah, Siska! Bisa nggak kita bahas urusan kelas dulu? Nggak usah bahas yang nggak penting."

Siska ketawa ngejek. "Dih, kok lu ngamuk? Jangan-jangan lu juga suka ya sama Arini? Haha! Rin, lu itu beruntung banget, disukai dua cowok sekaligus!"

"Siska! Kamu itu apa sih, ngaco deh!" seru Arini, meski hatinya mulai bimbang nggak karuan.

Dari kejauhan, Rian masih mantau meja Arini. Gery tiba-tiba muncul dan nepuk bahunya kenceng banget. Plak!

"Dari mana aja lu? Gue cariin ke mana-mana sampai ke gudang belakang!" keluh Rian,

"Justru gue yang nyariin lo! Gue ke lapangan tadi, gue kira lo lagi pemanasan. Ternyata malah di kantin lagi hunting bidadari,"

Gery ngikutin arah pandang Rian. "Haha! Lagi liatin Arini ya?"

Rian menghela napas berat, wajahnya mendadak serius. "Penerawangan gue mengatakan... cowok itu bener-bener suka sama Arini. Dan itu masalah."

"Maksud lu Yusa cowok culun itu?" tanya Gery

"Ya siapa lagi cowok di situ? Cuma dia," jawab Rian ketus.

Gery ketawa kenceng sampai beberapa siswa nengok. "Yan, Yan! Ayolah, masa lu cemburu sih sama cowok culun begitu? Gue ngerasa aneh aja, masa orang kayak dia bisa kepilih jadi ketua kelas? Padahal lebih cocok gue kan, secara gue lebih tegas tampan friendly."

Rian nggak nanggapin candaan Gery. Dia ngerasa ada yang off. Sesuatu tentang Yusa kerasa "gelap" dan manipulatif dalam penglihatannya. "Udah, ayo kita ke lapangan. Mending gue main basket daripada lihat mereka di sini. Gue butuh buang energi."

Rian dan Gery baru aja ganti jersey basket. Rian, dengan nomor punggung andalannya, nyoba buat stress release dengan dribble bola secara agresif. Gerakannya gesit banget, keringat mulai membasahi dahinya.

Sementara itu, di lorong kelas yang berbatasan langsung dengan lapangan, Siska, Yusa, dan Arini baru aja keluar dari kantin.

Mereka masih bahas jadwal organisasi, dengan Yusa yang terus jalan mepet di samping Arini seolah-olah jadi bodyguard pribadi.

Tiba-tiba, sebuah bola futsal melesat kenceng dari arah lapangan samping. Bola itu membelah udara dengan kecepatan tinggi, melesat liar keluar jalur permainan.

Brak!

"Aw!" Arini menjerit kesakitan pas bola itu ngehantam bagian samping kepalanya. Benturannya keras banget, Arini hampir aja tersungkur ke lantai kalau Yusa nggak gercep nahan bahunya.

"Rin! Kamu nggak apa-apa?" Yusa panik, mukanya pucat pasi liat Arini memegangi kepalanya. Arini cuma bisa ngeringis, nyoba buat tetep sadar di tengah rasa sakit yang menghujam.

Dari tengah lapangan basket, bola yang ada di tangan Rian terjatuh. Matanya membelalak. Penerawangannya terlambat sedetik, tapi instingnya langsung meledak. Dia lari sekencang mungkin menuju lorong, nggak peduli sama Gery yang teriak manggil namanya.

1
Jade Meamoure
mampir thor ☺️
Nurdin Hamzah
mantap thor
Nurdin Hamzah
semangat thor 😄 suka banget sama drama percintaan nya🤣
Niarmdhn: tengcu
total 1 replies
saniscara patriawuha.
saya lebih seneng dimsum mentai....
Niarmdhn: boleeee
total 1 replies
saniscara patriawuha.
lanjottttt deuiiii.....
Niarmdhn: gassss
total 1 replies
saniscara patriawuha.
gasssss polllllll mbokk minnn
Niarmdhn: maaciw ganteng 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!